Perjalanan Pamflet Generasi

Milestone dari tahun ke tahun: konteks yang melatarbelakangi, capaian kunci, dan pembelajaran yang kami bawa.

Pamflet didirikan pada masa ketika pelibatan orang muda secara bermakna belum menjadi fokus dalam gerakan sipil. Pada saat itu, ruang masyarakat sipil Indonesia banyak diisi oleh aktivis Reformasi 1998 dan masih minim orang muda dari generasi setelahnya yang tumbuh setelah tahun 2000. Walau demikian, inisiatif orang muda untuk merespons isu sosial telah berjamuran meski belum banyak kesempatan untuk berkolaborasi lintas isu. Fenomena ini khususnya dibaca oleh para pendiri Pamflet dalam konteks Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), yang memiliki kedekatan khusus dengan para pendiri Pamflet.

Pamflet berupaya merespons kekosongan peran fasilitator kolaborasi interseksional antara komunitas orang muda di Indonesia, sekaligus minimnya representasi organisasi masyarakat sipil yang sepenuhnya dipimpin oleh orang muda.

Capaian kunci

Program YICE (Youth Initiative and Civic Engagement) yang didukung UNESCO, studi perdana di Indonesia tentang gerakan dan kebijakan orang muda pasca-Reformasi.

Penerbitan buku saku pendidikan HKSR yang berangkat dari pertanyaan nyata orang muda dan remaja, “Semua yang Mau Kamu Tahu tapi Tabu”.

Proyek edukasi politik untuk pemilih muda, “Mata Muda”.

Program fasilitasi orang muda dalam menyebarkan pengetahuan tentang pelanggaran HAM masa lalu, “Re(i)novasi Memori”.

Dimulainya program “SEPERLIMA” (Seputar Kesehatan dan Hak Reproduksi dan Seksualitas Remaja), yang terus berkembang menjadi program “Suka Ria Remaja” hingga 2026.

Pembelajaran

Meski secara struktur sudah sebisa mungkin mendorong regenerasi internal, hal itu tidak serta-merta menjamin keberlanjutan generasi. Perlu usaha yang lebih giat dan strategis untuk merawat serta mendampingi tim dan jaringan Pamflet.

Berani mempertahankan kepentingan dan nilai yang dipegang Pamflet. Lembaga donor maupun anggota konsorsium akan menguji konsistensi Pamflet dalam mengamalkan prinsipnya, dan tidak mudah bagi aktor paling muda di ruangan untuk tidak terseret pada kepentingan yang tidak sejalan.

Perbaikan tata kelola, termasuk administrasi, tidak mudah tetapi harus selalu jadi prioritas. Yang terpenting adalah menginternalisasi prinsip dan nilai ke dalam praktik administrasi. Semua staf Pamflet perlu terbiasa mengerjakan tugas administrasi agar tidak membebani tim lain dan organisasi.

Konteks lengkap

Dalam ranah organisasi masyarakat sipil (OMS), pada masa itu fokus pada pelibatan orang muda masih minim. Aktor OMS didominasi angkatan aktivis ’98.

Advokasi HKSR menjadi ranah yang paling banyak melibatkan orang muda. Pamflet salah satunya lahir dari kedekatan para pendirinya dengan isu HKSR.

Pamflet dibentuk untuk merespons gejala “kebangkitan” gerakan sipil yang didorong orang muda, yang banyak tumbuh di luar kampus maupun organisasi lawas dan mapan seperti HMI.

Para pendiri melihat inisiatif orang muda tumbuh di banyak tempat tetapi belum saling bersilang pembelajaran antarisu. Pamflet didirikan salah satunya untuk menjembatani fragmentasi isu dan pendekatan agar bisa berkolaborasi.

Karena itu, Pamflet sejak awal tidak berfokus pada satu isu. Alih-alih bergerak berdasarkan satu lini isu, Pamflet dituju menjadi fasilitator atau “pencatat gerakan”, peran yang dirasa belum diisi di tengah banyaknya inisiatif orang muda lintas isu.

Meski banyak inisiatif orang muda berbasis komunitas, belum banyak kelompok masyarakat sipil orang muda yang terintegrasi secara formal dan dikelola dalam bentuk organisasi.

Pamflet didirikan dengan mempertimbangkan kritik orang muda terhadap pengelolaan OMS yang prinsip demokrasinya kerap tidak diturunkan ke kebijakan internal organisasi. Merujuk praktik pengelolaan organisasi feminis, Pamflet sejak awal bertanya: bagaimana mengambil keputusan dengan mekanisme yang lebih demokratis? Bagaimana memberi penghargaan yang layak kepada tim kerja meski masih muda dan banyak yang baru lulus?

Dorongan eksternal bagi pembentukan dan formalisasi Pamflet adalah keberhasilan proposal Pamflet untuk UNESCO pada 2013, untuk merancang riset dan lokakarya pemetaan gerakan orang muda dan kebijakan terkait orang muda.

Pamflet juga ditujukan untuk menyempitkan kesenjangan antargenerasi antara aktivis Reformasi 1998 dan generasi setelahnya yang tumbuh sejak 2000-an. Memperkuat keterhubungan ini bertujuan agar gerakan hari ini tidak tercerabut dari konteks sejarahnya.

Misi lain Pamflet adalah menjadi semacam “inkubator” yang menyiapkan orang muda yang hendak terjun ke gerakan sosial tetapi masih ragu dan bingung, lewat peningkatan kapasitas dalam metode pengorganisasian maupun pemahaman perspektif.

Pemilu 2014 menyisakan sejumlah fenomena sosial yang menonjol: menguatnya konservatisme dan intoleransi antarmasyarakat, serta meningkatnya skeptisisme orang muda terhadap politik elektoral. Merespons isu ini, Pamflet pada 2015–2017 memberi perhatian khusus pada pendidikan politik alternatif, pendidikan tentang keberagaman, dan hak berekspresi di ruang digital.

Pada pertengahan periode ini, Pamflet sempat mengalami krisis pendanaan yang kemudian mendorong penyusunan strategi pendanaan jangka panjang. Meski begitu, tim Pamflet tetap meneruskan perannya sebagai jembatan antara orang muda dan perjuangan HAM yang lebih luas, salah satunya dengan menjadi satu-satunya organisasi orang muda yang tergabung dalam KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran). Pamflet juga meluaskan pertemanan ke lebih banyak organisasi HAM di Indonesia dan komunitas akar rumput dalam isu HAM.

Capaian kunci

Meneruskan semangat program “Re(i)novasi Memori” ke dalam program “MemaHAMi Indonesia” yang mendapat dukungan Yayasan TIFA.

Menjadi satu-satunya anggota KKPK yang merupakan organisasi yang dipimpin orang muda.

Terlibat aktif dalam jejaring perjuangan HAM yang lebih luas di Indonesia.

Pembelajaran

Pentingnya visibilitas dan rekognisi terhadap Pamflet sebagai organisasi orang muda yang berperan menerjemahkan kampanye HAM kepada komunitas orang muda.

Konteks lengkap

Bertepatan dengan menguatnya konservatisme pada Pemilu 2014, Pamflet berfokus pada isu toleransi dan keberagaman, dengan sub-tema hak kelompok minoritas agama dan kepercayaan, seksualitas, kekerasan antarkelompok masyarakat, dan literasi digital. Di penghujung periode ini, Pamflet untuk pertama kalinya bersentuhan dengan isu disabilitas, lewat Gerkatin Kepemudaan.

Secara jaringan, Pamflet meluaskan pertemanan ke lebih banyak organisasi HAM dan komunitas akar rumput dalam isu HAM.

Fokus kedua adalah partisipasi politik orang muda. Pamflet merespons skeptisisme orang muda terhadap instrumen politik formal lewat pendidikan politik alternatif.

Secara internal, Pamflet banyak berfokus pada kultur saling belajar dan peningkatan kapasitas tim, khususnya dalam

kemampuan memfasilitasi pendidikan politik alternatif, keberagaman dan kebebasan beragama, serta literasi digital;

visibilitas kerja organisasi dan kampanye digital lewat situs web dan media sosial;

riset dan observasi.

Menjelang 2017, Pamflet menaruh perhatian khusus pada strategi penggalangan dana (fundraising). Pada 2016, Pamflet mengalami krisis sumber pendanaan.

Selepas sintas dari krisis pendanaan sebelumnya, Pamflet pada 2017–2019 berfokus memulihkan sumber daya organisasi dan menyusun strategi pengelolaan pendanaan jangka panjang. Pada periode ini, Pamflet banyak memberi fokus pada pembangunan internal dan penjaminan kesejahteraan pekerja.

Capaian kunci

Membuka diversifikasi strategi pendanaan.

Mendukung advokasi hak-hak disabilitas Tuli lewat program “Ini Cerita Kita”, yaitu peningkatan kapasitas bagi orang muda Tuli untuk mengampanyekan pengalaman dan pengetahuannya.

Konteks lengkap

Pamflet baru saja sintas dari periode kesulitan finansial. Karena itu, fokus utama periode ini adalah “bangkit kembali”, merancang strategi pendanaan jangka panjang, dan mengelola sumber daya.

Pamflet mencoba berbagai strategi pendanaan, dari pendanaan konvensional nonprofit lewat donor hingga mengambil peran konsultansi.

Dalam konteks pengelolaan sumber daya yang sama, Pamflet berfokus memastikan kesejahteraan para pekerjanya meski dilanda krisis finansial.

Pamflet mendapat pembelajaran seputar menjaga kesejahteraan pekerja, termasuk jaminan akses perawatan kesehatan mental. Ini menjadi cikal bakal pengelolaan organisasi yang memberi jaminan khusus bagi kesejahteraan mental (mental wellbeing).

Babak 2019 hingga sekarang akan kami lengkapi di halaman ini.