Orang Muda Multitasking
Diolah dari ilustrasi Sketchify/Canva
Artikel oleh: Elliah Ayu
Orang muda multitasking. Begitulah aku menyebut diriku. Di usiaku yang masih belasan, aku memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Melihat kerutan di wajah perempuan yang setiap hari tangannya kucium membuatku mengambil keputusan ini.
Multitasking memiliki makna tersendiri di kehidupanku yang tumbuh besar dengan seorang ibu yang berperan sekaligus sebagai ayah. Ini bukanlah hal yang mudah. Terkadang aku berpikir bahwa aku terpaksa melakukan semuanya dalam satu waktu dengan cepat untuk bertahan hidup. Memiliki “sejuta keinginan” kemudian menjadi kedokku untuk berperan sebagai orang muda multitasking. Aku adalah orang muda dengan sejuta keinginan dan aku telah membayangkan sedari dulu bahwa pasti akan ada banyak pengorbanan untuk keinginan-keinginan ini.
Tapi, tanpa disadari, berperan menjadi orang muda multitasking memiliki resiko. Salah satunya adalah beban stres yang lebih dari orang sepantaranku pada umumnya. Misalnya, dalam pengalamanku menjalani dua kegiatan berbeda bertahun-tahun, menjaga mood merupakan tuntutan yang besar dan berat. Ketika bekerja dari pagi sampai sore, aku mengalami banyak hal yang seringkali tidak sesuai ekspektasi dan berpengaruh besar pada energiku. Namun, terlepas dari apa saja yang terjadi selama bekerja, pada sore sampai malam hari, aku harus siap dengan mood yang baik untuk bisa menjalankan kuliah. Hal-hal yang terjadi dan tidak sesuai ekspektasi selama kuliah merupakan satu hal lain lagi yang menambah beban hari itu.
Kita tidak seharusnya memaksa diri untuk selalu baik-baik saja. Namun, siapa yang sempat untuk “tidak baik-baik saja” ketika waktu untuk rehat dan memulihkan mood saja sangat sulit didapat di keseharianku yang padat? “Tidak apa-apa melakukan dua hal dalam satu waktu, nanti pasti kamu akan terbiasa,” ujar seseorang kepadaku. Dan nyatanya, aku memang mulai terbiasa. Namun, ini tetap saja tidak membuat perjalanan multitasking-ku mudah. Ketika kamu melakukan kegiatan berat dalam satu waktu secara berturut-turut, beban di punggungmu jadi terasa jauh lebih berat.
Bertemu dengan teman-teman menjadi cara yang biasa aku lakukan jika sedang tidak baik-baik saja–entah karena bekerja atau kuliah. Mungkin ini mengherankan karena aku bisa saja menggunakan waktu ini untuk istirahat di rumah, mengingat besok harus beraktivitas lagi. Nyatanya, bertemu dengan teman-teman seringkali memulihkan rasa lelah dan bahkan mood-ku. Aku juga menyadari bahwa bertemu dengan orang yang sama-sama sedang “berjuang” justru menambahkan semangat tersendiri. Kami bahkan kerap saling membantu kesulitan satu sama lain ketika bertemu.
Bagaimanapun, di balik semua hal yang berat, kamu pasti akan menemukan makna yang luar biasa. Aku bisa merasa bangga dan hebat atas segala perjuanganku. Begitulah aku. Lagipula, hal berat itu akan terasa lebih mudah jika kamu melakukannya dengan senang hati. Yah, walaupun pada awalnya aku merasa kalau aku ‘terpaksa keadaan’ untuk berperan sebagai orang muda multitasking, nyatanya aku tetap bisa menikmati semuanya. Toh, bekerja sambil kuliah merupakan keputusan mutlak ku untuk bisa mencapai keinginanku.
Buat kamu orang muda yang sedang berjuang mengejar keinginan–ataupun sedang dipaksa oleh keadaan–jangan menyerah, yah. Multitasking bukanlah hal yang buruk. Jika kamu merasa lelah, tidak apa-apa. Beristirahat terlebih dahulu adalah jawabannya. Tapi, kamu harus selalu berpegang teguh pada keinginan yang selalu kamu semoga-kan. Selamat merayakan menjadi orang muda untukmu yang sedang berjuang!
Postulat Manusia Dewasa
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Artikel oleh: Mochammad Aldy Maulana Adha
I
mungkin begitulah manusia dewasa
gemar mengutuk manusia lainnya
& dirinya sendiri. sedang jantungnya
terus berdetak. sebuah jarum jam,
diam-diam niscaya berdetik;
& kepalanya menjadi bandara
paling sibuk. yang tak mengenal
apa itu titik. setelah koma. setelah
kata kerja kabur dari tawaran untuk
cuti. & pikirannya memilih kerja lembur.
setelah ingatan-ingatan subtil
lepas landas menuju langit lamunan.
menghantui langit-langit kamar mandi.
tanpa jawaban akan hujan. meski
pada gilirannya akan tercecer di trotoar,
di selokan, di kantor, di kampus, di tempat makan,
di dalam hatinya ia merasa makan hati—tapi
matahari pada pembuluh darahnya belum
memberi lampu hijau untuk segera mampus
& ia memilih untuk menyeduh kopi dengan
tambahan omong kosong hidup, lagi.
II
mungkin begitulah manusia dewasa
punya tendensi untuk melukis nostalgia.
dengan warna paling nyentrik. dengan
sentuhan majas-majas hiperbola.
sebab tak ada lagi yang menarik
dalam hidupnya. selain naik gaji,
naik jabatan & turun gunung mencari
tanggal paling seksi untuk liburan.
sedang ceruk-ceruk masa lalu pada
korpus memori masih menolak pergi.
seperti eksil masa kini;
hasrat paling purba untuk mengisi
kesadaran sebuah malam dengan
botol-botol alkohol pun mencuat
ke permukaan. bersembunyi di
batas-batas antara realitas & hiperealitas.
berusaha untuk tetap mabuk. semalam
suntuk. bunuh diri pikiran. lari, berlari
mencari pelarian. lari dari dunia yang berlari
lebih kencang. dari ruang waktu yang tak
memberi ruang bagi anak kecil dalam dirinya.
untuk barang sejenak bertanya-tanya:
apakah menunda kekalahan hidup
pada mati seperti ini sepadan dengan
kebahagiaan yang mungkin akan didapatkan?
III
mungkin begitulah manusia dewasa
setiap malam, ia mengheningkan cipta
pada cita-citanya. yang sudah membias
bersama bendera putih: ya sudahlah
mau bagaimana lagi, ucap hatinya lirih.
tapi resign pun bukan pilihan, kata otaknya
ikut menimpali. seperti sebuah konvensi
antara pikiran & perasaan. yang tak pernah
memiliki jalan tengah untuk menampung
kata kesepakatan yang hampir selalu resah.
: konon, di dalam kamus maupun tesaurus
bahasa mana pun di muka bumi yang jelek
ini manusia dewasa pantang hukumnya
mengeja kata lelah dengan suara lantang.
tiba-tiba manusia dewasa teringat
buku absurd yang pernah ia baca
& hati kecilnya pun berdoa agar suatu
pagi ia terbangun dalam tubuh seekor kecoak.
ingatan itu seperti bekerja untuk memperluas
konteks sebuah teks kanon abad yang tak
pernah ia alami seumur hidupnya:
konon, ia masih berlari. demi mengaburkan
kesadaran tentang betapa menyedihkan
hidupnya sekarang. agar hatinya bisa
melupakan kenyataan bahwa saat ini
ia ingin menjungkirbalikkan waktu
yang bahkan sebelum purbakala
telah berubah jadi lautan lepas
yang tak dapat diselami manusia.
(2022)
Tentang Penulis
Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Seorang Pengarang; Penerjemah; Ilustrator; Redaktur Omong-Omong Media; & Periset Baitul Falsafah. Dapat dihubungi melalui: Email-genrifinaldy@gmail.com; Instagram-@genrifinaldy; Twitter-@mochaldyma
Kolaborasi Lintas Generasi
Diolah dari ilustrasi alphavector/Canva
Artikel oleh: Neka Rusyda Supriatna
“Ah, millennials tuh apa-apa healing, kerja sebentar udah mau healing.”
“Duh boomers, masa update Instagram story aja gak bisa, sih.”
Mungkin kamu sering mendengar kata-kata seperti itu. Beradu pandangan saling membanggakan generasinya dan menjelek-jelekan generasi lainnya. Tapi, apakah memang seharusnya seperti itu?
***
Aku baru saja lulus dari perguruan tinggi sekitar dua bulan lalu, tanpa menunggu terlalu lama aku akhirnya diterima bekerja di sebuah media. Hari ini aku mendapat tugas untuk membuat sebuah berita karena beberapa hari lagi ada perayaan 16 HAKtP (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan). Seperti biasa jika ada hari besar atau perayaan, media harus menjadi garda terdepan untuk memberikan informasi. Tentu sudah sepatutnya berita yang diulas adalah data dan fakta terpercaya, bukan hanya hoax belaka.
Untuk mencari sebuah data dan fakta, salah satu bahan referensiku kali ini adalah sebuah booklet berjudul “Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021” milik sebuah lembaga bernama IJRS. Bisa dibilang booklet ini tidak terlalu tebal, mudah dipahami juga untuk orang awam sepertiku karena banyak sekali ilustrasi di dalamnya. Dalam riset tersebut dikatakan bahwa 72,1% korban kekerasan seksual adalah anak muda dan anak-anak berusia 6-18 tahun. Fakta ini sungguh miris!
Selain itu, ada informasi menarik yang baru aku ketahui di dalam booklet ini. Ada istilah 5D’s Bystander Intervention. Sepertinya aku pernah mendengar sekilas ulasan ini di Instagram Mbak Nana (Najwa Shihab) bersama dengan USS Her. Ternyata aku mendapatkan penjelasan lebih lengkap dalam booklet milik IJRS ini. Ada 5 cara yang dapat kita lakukan ketika kita melihat pelecehan seksual terjadi di depan kita, yaitu:
- Direct (merespon/menegur langsung)
- Distract (melakukan distraksi atau interupsi ke pelaku)
- Delay (menenangkan korban)
- Document (merekam atau mendokumentasikan kejadian)
- Delegate (meminta bantuan pada pihak ketiga)
Selesai membaca booklet ini aku mendapat ide. Selain membuat sebuah liputan berita, aku ingin membuat sebuah infografis tentang fakta dan data kekerasan seksual. Infografis ini nantinya akan menjadi pelengkap dari liputan beritaku. Aku berencana menghubungi Bu Sarah (tokoh fiktif belaka), pemimpin redaksi di kantorku, untuk meminta persetujuan beliau atas ide membuat infografis. Semua liputan berita beserta ide-ide terkait visual, harus atas persetujuan beliau.
Ku kirimkan pesan WhatsApp kepada Bu Sarah.
“Selamat siang, Bu Sarah. Saya ingin mengajukan ide untuk liputan kegiatan 16 HAKtP nanti. Rencananya selain membuat liputan berita, saya juga ingin membuat infografis. Kira-kira bagaimana pendapat, Ibu?”
Setelah 15 menit berlalu, pesanku baru dibalas.
“Gak usahlah pakai infografis begitu, buat apa? Yang penting itu data-data!”
Aku terkejut dan agak sedikit kecewa dengan respons dari Bu Sarah. Maklum, beliau ini boomers sehingga beliau tidak mengerti bahwa zaman sekarang infografis itu menjadi salah satu daya tarik supaya tulisan atau informasi yang kita sampaikan bisa dibaca oleh kalangan anak muda. Biasanya kan anak muda lebih menyukai melihat gambar atau ilustrasidibandingkan membaca teks saja.
Tekadku sudah bulat, aku akan tetap membuat infografis untuk liputan beritaku. Aku berencana bertemu langsung dengan Bu Sarah dan memberikan beliau referensi infografis itu seperti apa serta data traffic pengunjung portal berita yang menggunakan infografis. Semoga dengan cara ini Bu Sarah yang boomers itu bisa memahami urgensi pembuatan infografis ini.
Keesokan harinya aku memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk masuk ke ruangan Bu Sarah. Jantungku berdegup kencang, rasanya mirip seperti memasuki ruangan sidang waktu sidang skripsi. Aku pun mengetuk pintu ruangan Bu sarah.
“Silahkan masuk!” Ucap Bu Sarah.
“Permisi, Bu. Saya ingin diskusi soal infografis kemarin, Bu. Saya ingin menunjukan beberapa referensi serta data, Bu.”
“Mana sini coba saya lihat!”
Aku mulai mempresentasikan berbagai macam bentuk infografis, tujuan infografis, serta menunjukan data traffic pengunjung portal berita kepada Bu Sarah. Wajah Bu Sarah yang tadinya terlihat agak “dingin” kini sudah berubah, ku lihat ada sedikit senyuman di wajahnya.
“Wah, bagus ya ini. Bisa ini dibuat ke dalam berita kita nanti. Nanti kamu banyakin data-data kekerasan seksualnya. Grafiknya nanti dibuat bentuk unik, misalnya bentuk siluet anak perempuan, atau semacamnya.”
“Iya betul, Bu. Wah idenya menarik, Bu.”
Aku cukup terkejut, Bu Sarah yang tadinya menolak mentah-mentah infografis ini malah memberikan masukan visual infografis. Tidak hanya itu, Bu Sarah juga memberikan masukan terkait warna infografisnya seperti apa, serta data apa yang perlu masuk ke infografis aku nanti.
“Nanti kalau infografis dan beritanya sudah rampung, saya bantu sebar nanti di grup supaya traffic kamu tinggi. Biar dapat bonus kamu.”
“Ya ampun, Bu Sarah. Terima kasih banyak, Bu,” jawabku terharu.
Betapa baiknya Bu Sarah ini. Aku tahu beliau mempunyai jaringan pertemanan yang luas. Sekali dia menyebarkan tautan berita, pasti banyak rekan-rekannya yang langsung merespon dan mengunjungi tautantersebut. Secara tidak langsung, pembuatan infografis ini menjadi kolaborasi pertamaku dengan Bu Sarah. Selama satu bulan aku bekerja, beliau sebagai pemimpin redaksi hanya mengoreksi tulisanku. Kini kami saling berdiskusi dan saling berkolaborasi menyusun pembuatan dan penyebarluasan sebuah infografis. Selesai diskusi, aku pamit untuk segera menuju ke meja kerjaku.
Ternyata bekerja sama dengan boomers tidak sesulit itu. Kita hanya perlu memberikan penjelasan secara rinci kepada mereka dengan bahasa yang sopan juga tentunya supaya mudah dimengerti. Kita sebagai millennials harus bisa menjadi jembatan untuk mendukung terjadinya sebuah kolaborasi lintas generasi. Baik millennials dan juga boomers harus bisa saling membuka hati dan pikiran untuk saling menerima masukan dan kelebihan dari masing-masing generasi. Contohnya seperti Bu Sarah, meskipun boomers, beliau mau menerima ide kreatifkudan memiliki kelebihan tersendiri, yaitu punya jaringan pertemanan yang luas.
Selesai diskusi dengan Bu Sarah, aku kembali ke meja kerjaku. Sebelum mulai membuat infografis dan berita, terpikir olehku untuk menuliskan cerita yang aku alami hari ini ke dalam blog pribadiku. Aku lanjut membuka laptopku, dan mulai ku ketikkan sebuah kalimat pembuka: “Kolaborasi Lintas Generasi”.
Referensi
- Najwa Shihab X USS Her: https://www.instagram.com/reel/CfTY1aCjDyV/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
- Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021: https://ijrs.or.id/data-dan-fakta-kekerasan-seksual-di-indonesia-2021/
Tentang Penulis
Neka Rusyda Supriatna merupakan seorang pustakawan dan staf media komunikasi di salah satu NGO. Neka memiliki hobi menulis dan sudah mempublikasikan beberapa karyanya.
Curang dan Telanjang
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Ditulis oleh: Tsamarah Atikah Nurdiyanah
aku adalah anak ibuku yang tidak suka curang
aku lebih suka menanam kepahitan
lalu menelannya menjadi kenyataan
maka dari itu, aku selalu telanjang
sambil memasang peringatan
mayat hidup di rumah ini hafal ayat-ayat televisi
mana yang sumbang
mana yang jalang
ibuku sangat senang sampai
ia merancang perayaan paling pahit
yang disajikan di depan kitab anti-totalitarianisme
“biar saja anakku telanjang
tapi dia kan tidak curang, Pak!”
aku diantarkan pada suatu tempat aman
dimana aku hanya bisa berfirman
dan telanjang
tanpa harus curang
“aku abadi
dan kau
adalah dunia yang tidak mampu
membeli kemerdekaanku
selayaknya manusia”
(2022)
Tentang Penulis
Tsamarah Atikah Nurdiyanah, atau biasa dipanggil Rara, adalah seorang penulis puisi dan mahasiswa ilmu hukum dari Universitas Terbuka.
Tolong Ajari Aku
Diolah dari ilustrasi sparklestroke/Canva
Ditulis oleh: Vanny
Seorang puan duduk termenung di kursi belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan online yang tak kunjung selesai. Banyak kritik dan tak ada apresiasi keluar dari setiap senior yang telah membaca naskah puan. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, puan hanya bisa menangis dan menangis. Serasa segala upaya telah dikeluarkan lewat setiap dialog yang benar-benar ia pikirkan tidak sebanding dengan ekspektasi para seniornya. Seruan dan perintah untuk berupaya lebih keras sudah berkali-kali puan dengar. Puisi di tisunya menjadi kesedihan yang abadi:
Aku seorang yang bodoh mengharap pembelajaran
Anda seorang yang mahir berharap kesempurnaan
Tak bisakah ajari aku dengan perlahan
Aku tidak membutuhkan cerita kerja kerasmu
Aku hanya butuh ajaranmu
Memang benar, zamanmu segalanya tak pasti
Tapi tolong untuk kali ini jangan bandingkan dengan zamanku
Jangan mencela orang-orang di dalamnya
Aku sudah berusaha keras
Seluruh imajinasi menjadi buram
Hargai aku, hargai karyaku, hargai kerja kerasku
Tentang penulis
Vanny adalah seorang puan yang berusaha mencari makna hidup. Setiap pelajaran dalam hidup akan ia abadikan dalam diarynya.
Menengok Sejarah Perempuan: Menggugat Sentimen Dapur, Sumur, Kasur
Artikel oleh: Lani Mokonio
“Perempuan dan dapur, sumur, kasur”, kata ini pertama kali saya dengar dari Ibu Satria, 64 tahun. Saya bertemu Ibu Satria dalam sebuah pertemuan kelas Sekolah Perempuan yang diorganisir komunitas tempat saya bergiat, Institut Mosintuwu.
Belakangan saya tahu, kata dapur, sumur, kasur yang dilekatkan pada perempuan sudah ada sejak ibu saya masih remaja. Istilah ini ternyata diberikan untuk mendefinisikan ruang gerak perempuan yang hanya di wilayah dapur, sumur, dan kasur. Kata dapur mengidentifikasi peran perempuan untuk memasak dan menyiapkan kebutuhan makan keluarga. Sumur menggambarkan tugas perempuan untuk bertanggung jawab pada kebersihan dan keindahan serta menyiapkan kebutuhan laki-laki dan anak-anak dalam rumah. Sementara, kasur memosisikan perempuan untuk melayani kebutuhan biologis laki-laki atau suaminya.
Tiga kata pendek ini punya konsekuensi yang luas dan menyejarah dalam ruang hidup perempuan.
Sejak kecil saya melihat bagaimana perempuan di sekitar saya menjalani hidup dengan berlapis beban karena tuntutan yang dihidupkan oleh ketiga kata ini. Saat perempuan menjadi istri, pada dirinya melekat identitas lainnya sebagai ibu dari anak-anaknya, sebagai anak mantu dari keluarga suaminya. Pada identitas ini melekat tanggungjawab untuk patuh, pintar mengatur rumah tangga, bijaksana mengurus anak, membanggakan suami dan keluarga, berkelakuan baik jika perlu sempurna.
Saya membayangkan betapa melelahkan tanggung jawab itu.
Mama saya, misalnya. Sejak kecil saya mengagumi bagaimana usaha keras mama saya untuk menghidupi saya dan adik-adik. Sambil berjualan sejak pagi hingga sore, mama diwajibkan mengerjakan tugas lainnya dalam rumah, termasuk melayani papa dan keluarga papa saya. Saya beberapa kali mendengar, jika ada kekeliruan dalam menjalankan tugasnya, entah karena capek atau kehilangan fokus karena banyaknya pekerjaan, mama saya akan mendapatkan kritik tajam bukan hanya dari papa saya tapi juga dari keluarga, dan masyarakat. Mama akan menerimanya dalam diam dan memperbaikinya. Dulu, saya mengagumi kemampuan mama mengatasi dan menjalani semua tanggung jawab itu tanpa mengeluh. Lalu, saya menyadari, hal yang dialami mama saya adalah gambaran diskriminasi berlapis pada perempuan
Mama saya hanyalah satu dari jutaan perempuan dari istilah dapur, sumur, kasur. Sebuah istilah dari cara pikir patriarki, dimana perempuan ditempatkan sebagai warga negara kelas dua.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan berada di dapur, di sumur atau di kasur. Tetapi, membatasi ruang hidup perempuan di tiga tempat itu adalah hal yang keliru.
Sejarah perempuan di Poso digambarkan melampaui batasan yang dilekatkan pada kata dapur, sumur, kasur. Dalam buku Perempuan, Konflik dan Perdamaian, penelusuran tentang sejarah perempuan Poso menemukan bagaimana perempuan Poso dalam sejarahnya memiliki peran sebagai pemimpin spiritual, pemimpin komunitas, seorang negosiator dan tabib. Dalam peran tersebut, pengetahuan dan pengalaman perempuan menjadi sumber bergeraknya sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan masyarakat.Buku ini mencatat tulisan Nikholaus Adriani tentang peran imam dimiliki oleh perempuan karena perempuan-perempuan imam adalah lubuk ilmu pengetahuan.
“Jadi kiranya boleh dikatakan bahwa masyarakat Toraja hanya mengenal ‘sarjana-sarjana’ wanita saja. Jikalau pengertian sarjana ini hanya diberi ruang lingkup yang sempit saja, kata-kata di atas itu memang benar. Ilmu pengetahuan yang dikenal oleh orang-orang Toraja hanya ilmu ketuhanan dan dalam hal ini hanya wanita saja yang tahu. Bahkan suami imam wanita pun tidak lebih tahu dari pria-pria lain mengenai hal itu.”
Menurut Adrian, pada masa masyarakat masih mempraktikkan kegiatan mengayau, perempuan yang berperan sebagai imam merupakan sumber pengetahuan tentang ketuhanan. Imam perempuan dalam sejarah Poso disebut tadumburake.
Ini mengingatkan saya salah satu sekuel film Pirates Of The Carribean: Dead Man Tell No Tales (2017). Carina Smyth yang diperankan oleh Kaya Scodelario, dipenjara bahkan dihukum gantung karena dituduh sebagai penyihir. Tuduhan sebagai penyihir dilekatkan pada Carina karena kemampuannya dalam membaca benda-benda langit, sekarang kita mengenalnya sebagai ilmu astronomi. Kemampuan atau pengetahuan yang dimiliki perempuan dalam film ini dianggap sebagai hal yang berbahaya dan tidak sepantasnya. Pertama-tama bukan karena pengetahuan itu dianggap berbahaya, tapi karena pengetahuan itu dimiliki oleh perempuan.
Pengetahuan, jika dimiliki oleh perempuan dianggap tidak layak bahkan berbahaya dalam konteks Poso bisa ditelusuri dari sejarah peminggiran peran perempuan. Masuknya agama Kristen yang membuka sekolah guru yang diikuti oleh laki-laki, memegang peranan penting dalam mengubah peran perempuan dalam komunitas. Sekolah guru ini membawa serta kebudayaan Belanda.
Diceritakan bahwa, didikan dalam sekolah guru ini menyertakan gaya hidup Belanda, misalnya seorang suami harus menggunakan dasi kupu-kupu ditemani oleh istrinya di sampingnya. Sementara itu calon istri dari seorang calon guru diajarkan kebudayaan Belanda dalam tata cara penggunaan sendok dan garpu yang benar di meja makan, termasuk penataan meja. Perempuan dalam budaya ini diarahkan untuk memiliki kesopanan dalam pengaturan rumah tangga, terutama di meja makan. Pada saat bersamaan, peran perempuan sebagai pemimpin spiritual dalam komunitas dianggap sebagai sebuah ritual berhala. Disinilah domestikasi peran perempuan diperkenalkan dan dimulai. Para perempuan diberikan pendidikan keterampilan untuk merajut, menata meja, menanam bunga, menyetrika pakaian, menentukan gizi makanan, membuat kue, menatanya dengan manis dan duduk dengan sopan.
Pendidikan yang demikian membudaya dalam sejarah Poso, melekat pada setiap nadi kehidupan rumah tangga, karenanya dianggap sebagai sebuah hal yang sah, layak dan wajar. Di sini, kata dapur, sumur dan kasur dilegalkan oleh setiap orang, termasuk perempuan, juga mama saya.
Namun, Ibu Satria yang saya temui, menceritakan dapur, sumur, kasur dalam sebuah kritik yang tajam. Kritik atas penempatan perempuan hanya dalam batasan dapur, sumur, kasur didapatkannya dalam kelas sekolah perempuan. Sekolah perempuan yang diorganisir Institut Mosintuwu menjadi ruang pengetahuan yang menggali kembali sejarah milik perempuan dan menguatkan pengetahuan perempuan. Alhasil, Ibu Satria menjadi salah satu perempuan di desanya yang memimpin perubahan signifikan. Menjadi ketua kelompok tani, memimpin perdebatan tentang bagaimana membangun desa, serta mendorong kerja-kerja perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Cerita Ibu Satria menjadi gambaran tentang ruang-ruang pengetahuan kritis atas sejarah dan pengalaman perempuan sebagai sebuah ruang untuk menggugat berbagai bentuk penindasan, diskriminasi yang dialami perempuan. Termasuk pada sentimen dapur, sumur dan kasur.
Referensi
Lian Gogali, Asni Yati Hamidi, Martince Baleona, dalam Perempuan, Konflik dan Perdamaian , bab Perempuan Poso Bertutur (JPIT, 2021).
N. Adrian, “Wanita Toraja Sebagai Imam,” dalam Peranan dan Kedudukan Wani- ta Indonesia, eds. Maria Ulfa Subadio dan T. O. Ihromi (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994).
Tentang penulis
Lani seorang anak muda (yang ingin menjadi anak kecil) yang bergiat sebagai pekerja sosial di Institut Mosintuwu, sebuah LSM lokal di Poso, Sulawesi Tengah yang bekerja di isu Ekonomi, Sosial, dan Budaya masyarakat rumput.
Lani bekerja bersama anak-anak muda di Poso dalam menggali kembali ingatan dan nilai-nilai kebudayaan yang sempat terlupakan karena terputus dengan sejarah konflik di Poso. Menulis untuk Lani adalah bentuk pemberontakan yang indah, bentuk bakti yang abadi dan pelarian dari dunia yang makin ngadi-ngadi.