Beragam Cara Memaknai ‘Sumpah Pemuda’
89 tahun lalu, pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan kongres, bukan Sumpah Pemuda yang selama ini kita kenal. Kata Sumpah Pemuda justru muncul pertama kali 29 tahun setelah Kongres Pemuda II dilaksanakan. Saat itu, Soekarno melaksanakan peringatan Sumpah Pemuda dalam skala yang cukup besar. Sumpah Pemuda kemudian dimanfaatkan menjadi alat kampanye Soekarno untuk meredam berbagai pemberontakan di daerah.
Beragam Cara Memaknai ‘Sumpah Pemuda’
89 tahun lalu, pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan kongres, bukan Sumpah Pemuda yang selama ini kita kenal. Kata Sumpah Pemuda justru muncul pertama kali 29 tahun setelah Kongres Pemuda II dilaksanakan. Saat itu, Soekarno melaksanakan peringatan Sumpah Pemuda dalam skala yang cukup besar. Sumpah Pemuda kemudian dimanfaatkan menjadi alat kampanye Soekarno untuk meredam berbagai pemberontakan di daerah.
Hoax yang Baik
“No pic hoax!”
Kalimat di atas bisa jadi merupakan salah satu kalimat yang paling sering kita dengar di berbagai forum online. Namun sesunggunya, apakah hoax itu? Apa bedanya dengan kebohongan?
Ketika sebuah berita yang menyiarkan bahwa akan ada bom di sebuah mall ditemukan bohong, maka berita tersebut biasa dibilang merupakan sebuah hoax. Hoax sering digunakan dengan tujuan lelucon, mempermalukan, atau memprovokasi sebuah isu sosial dan politik. Meski kerap disamakan dengan prank (jahil), namun menurut penulis cerita rakyat Jan Harold Brunvand, hoax cenderung berupa kebohongan yang dibuat dalam skala besar dan kompleks, sebuah muslihat yang lebih dari sekadar lelucon dan “bisa menyebabkan kerugian bagi sasarannya”.
Lalu, apa bedanya hoax dan penipuan? Menurut Alex Boese, pembuat website Museum of Hoaxes, perbedaannya berada pada reaksi masyarakat. Sebuah penipuan dapat disebut hoax jika berdampak pada masyarakat atau mampu menyabotase imajinasi massa. Sementara menurut ahli bahasa Inggris Robert Nares, istilah hoax pertama kali dicetuskan ada akhir abad ke-18 sebagai singkatan dari kata kerja ‘hocus’ yang artinya ‘menipu’, ‘memaksakan sesuatu’ atau ‘membingungkan dengan biusan minuman keras’. Sementara ‘hocus’ juga kependekan dari sebuah mantra magis, ‘hocus pocus’.
6 Film Alternatif tentang Peristiwa 1965
Akhir September lalu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya dan mengimbau masyarakat untuk menyetel kembali film Pengkhianatan G-30 S/PKI. Alasannya, supaya generasi muda belajar sejarah bangsanya. Sebetulnya, film yang disponsori oleh pemerintahan Orde Baru itu bukanlah sumber tunggal untuk mengetahui lapisan-lapisan kebenaran tentang kejadian sejarah di masa 1965 dan setelahnya, lho. Pamflet punya daftar film terkait kejadian itu yang bisa kalian tonton sebagai sarana memahami sejarah. Kalau ingin tahu lebih lanjut, baca daftar film di bawah ini yuk.
Shadow Play: Indonesia’s Year of Living Dangerously (2003)
Sudut pandang penyintas dan keluarga penyintas penangkapan dan pembunuhan setelah kejadian 1965 ditampilkan di Shadow Play. Termasuk seorang dokter bernama dr. Sumiyarsi, mantan tahanan politik, dan Joyo Santoso, adik kandung Ibnoe Santoro yang dieksekusi dan dibuang ke sebuah lubang di Klaten karena ikut organisasi perhimpunan sarjana.
Berbeda dengan Pengkhianatan G-30 S/PKI yang berpusat pada pembunuhan jenderal yang dinilai sebagai upaya kudeta, Shadow Play memasukkan unsur geopolitik masa itu, yakni situasi perang dingin yang melibatkan blok barat dan blok timur. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat diduga mengetahui secara penuh adanya pembantaian massal di Indonesia setelah Gerakan 30 September 1965 pecah. Namun karena diduga memiliki kepentingan dalam kejatuhan rezim Soekarno, Amerika Serikat tidak berbicara banyak soal kejadian mengerikan itu.
Jembatan Bacem (2012)
Lho, namanya kok terdengar seperti makanan khas Jawa Tengah? Benar, kamu tak salah duga. Nama jembatan ini memang Jembatan Bacem dan letaknya di Solo, Jawa Tengah. Sedang, sungai yang mengalir di bawahnya adalah sungai Bengawan Solo yang terkenal itu. Mungkin terdengar lucu ya, tapi sebenarnya ada apa sih di jembatan itu hingga dijadikan nama film?
Ternyata, lima puluh tahun lalu ada kejadian tragis yang disaksikan jembatan tersebut, yakni pembunuhan dan pembuangan mayat terduga anggota PKI. Tubuh mereka dibuang ke sungai terbesar di Jawa Tengah itu. Cerita ini dituturkan oleh seorang korban salah tangkap yang selamat dari pembunuhan itu. Jembatan Bacem ini bisa membuka pengetahuan bahwa sebenarnya banyak tempat-tempat di Indonesia yang menjadi saksi bisu sejarah pembantaian yang ditotal mencapai ratusan ribu orang.
Plantungan (2011)
Di film Plantungan kita akan diajak menjelajah ke sebuah bekas penjara khusus perempuan yang diasingkan karena diduga terlibat dan mengetahui adanya gerakan 30 September 1965. Terletak di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Kendal, Jawa Tengah, penjara Plantungan menampung sekira 500 tahanan politik perempuan. Mereka harus bertahan hidup selama bertahun-tahun di tempat yang dulunya bekas rumah sakit bagi penderita lepra yang diisolasi padaa masa pendudukan Belanda itu.
Dalam film dokumenter ini mantan tapol perempuan yang kebanyakan sudah berusia lanjut napak tilas ke Plantungan. Perjalanan ini mengingatkan mereka bahwa dulu para tahanan pernah mengalami kekerasan fisik, psikologis bahkan seksual dari tentara dan petugas penjara.
Karena propaganda Orba yang lekat di benak masyarakat, awalnya, para tahanan dianggap sebagai orang-orang yang kejam. Namun, setelah banyak berkontribusi dan membantu masyarakat sekitar, sebagai tenaga kesehatan, bidan dan dokter serta lewat keahlian yang mereka miliki, perlahan pandangan masyarakat pun berubah. Sayangnya, meskipun sudah bebas stigma itu tetap melekat pada mereka.
Pulau Buru Tanah Air Beta (2016)
Kalau kamu pernah baca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer, pasti tahu bahwa ia pernah diasingkan ke Pulau Buru. Seperti Pram, Hersri Setiyawan yang jadi tokoh sentral di film ini juga pernah ditahan di pulau ketiga terbesar Maluku itu. Hersri dulunya sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA).
Lewat film dokumenter ini kita bisa menyaksikan potongan sejarah kehidupan para tahanan politik lewat perjalanan Hersri dan kawannya Tedyabayu Sudjojono waktu kembali ke Pulau Buru setelah lebih dari tiga dekade dibebaskan. Hersri turut mengajak anaknya yang ingin tahu lebih jelas sejarah ayahnya selama diasingkan. Perjalanan itu membuka ingatan bahwa selama di Pulau Buru para tahanan mengalami kerja paksa dan hidup dalam keadaan yang sulit. Pulau Buru Tanah Air Beta bisa menjadi pemantik bagi anak muda untuk mempertanyakan sejarah bangsanya.
Jagal, The Act of Killing (2012)
Jagal berpusat pada pengalaman sejumlah orang yang kala 1965-1966 dipercaya militer menghilangkan nyawa mereka yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Mereka bahkan bersedia melakukan reka adegan dan visualisasi pembunuhan. Dari titik ini, kita bisa melihat alam pikiran para penjagal yang sebenarnya tak mengetahui duduk perkara yang terjadi secara jelas, namun berusaha sekuat mungkin menyalurkan kemarahannya pada terduga anggota PKI.
Meski sering kali disebut tindakan spontan warga di berbagai daerah, kita bisa menilai dari penuturan para penjagal bahwa penculikan dan pembunuhan itu sudah direncanakan. Sejak kemunculannya, pembicaraan soal pembantaian massal di Indonesia semakin sering terdengar, walaupun memang pemutaran Jagal masih terbatas jika dibandingkan dengan Pengkhianatan G30S/PKI.
Senyap, The Look of Silence (2014)
Digarap oleh sutradara yang sama dengan Jagal, kali ini Senyap mengambil sudut pandang dari sisi keluarga korban. Seorang adik yang kakak kandungnya menjadi korban pembantaian 1965, memecah kesunyian dengan bertandang ke beberapa pelaku pembunuhan dan menanyakan perihal kejadian tersebut. Bertahun-tahun setelah pengalaman menyakitkan itu keluarga korban dan pelaku pembunuhan tinggal di lingkungan yang sama tanpa pernah membicarakannya secara terbuka.
Meski Senyap memenangkan berbagai penghargaan dan dinominasikan dalam Oscar, pemutaran filmnya di Indonesia biasanya terbatas dan belum pernah digelar untuk publik seperti nonton bareng di pusat-pusat keramaian. Lewat Senyap anak muda bisa mulai mempertanyakan mengapa kesenyapan justru terjadi ketika banyak orang yang tidak pernah diadili atau tahu apa salahnya justru dihilangkan nyawanya.
Jadi, apakah kamu sudah menonton salah satu film alternatif di atas?
6 Film Alternatif tentang Peristiwa 1965
Akhir September lalu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya dan mengimbau masyarakat untuk menyetel kembali film Pengkhianatan G-30 S/PKI. Alasannya, supaya generasi muda belajar sejarah bangsanya. Sebetulnya, film yang disponsori oleh pemerintahan Orde Baru itu bukanlah sumber tunggal untuk mengetahui lapisan-lapisan kebenaran tentang kejadian sejarah di masa 1965 dan setelahnya, lho. Pamflet punya daftar film terkait kejadian itu yang bisa kalian tonton sebagai sarana memahami sejarah. Kalau ingin tahu lebih lanjut, baca daftar film di bawah ini yuk.
Shadow Play: Indonesia’s Year of Living Dangerously (2003)
Sudut pandang penyintas dan keluarga penyintas penangkapan dan pembunuhan setelah kejadian 1965 ditampilkan di Shadow Play. Termasuk seorang dokter bernama dr. Sumiyarsi, mantan tahanan politik, dan Joyo Santoso, adik kandung Ibnoe Santoro yang dieksekusi dan dibuang ke sebuah lubang di Klaten karena ikut organisasi perhimpunan sarjana.
Berbeda dengan Pengkhianatan G-30 S/PKI yang berpusat pada pembunuhan jenderal yang dinilai sebagai upaya kudeta, Shadow Play memasukkan unsur geopolitik masa itu, yakni situasi perang dingin yang melibatkan blok barat dan blok timur. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat diduga mengetahui secara penuh adanya pembantaian massal di Indonesia setelah Gerakan 30 September 1965 pecah. Namun karena diduga memiliki kepentingan dalam kejatuhan rezim Soekarno, Amerika Serikat tidak berbicara banyak soal kejadian mengerikan itu.
Jembatan Bacem (2012)
Lho, namanya kok terdengar seperti makanan khas Jawa Tengah? Benar, kamu tak salah duga. Nama jembatan ini memang Jembatan Bacem dan letaknya di Solo, Jawa Tengah. Sedang, sungai yang mengalir di bawahnya adalah sungai Bengawan Solo yang terkenal itu. Mungkin terdengar lucu ya, tapi sebenarnya ada apa sih di jembatan itu hingga dijadikan nama film?
Ternyata, lima puluh tahun lalu ada kejadian tragis yang disaksikan jembatan tersebut, yakni pembunuhan dan pembuangan mayat terduga anggota PKI. Tubuh mereka dibuang ke sungai terbesar di Jawa Tengah itu. Cerita ini dituturkan oleh seorang korban salah tangkap yang selamat dari pembunuhan itu. Jembatan Bacem ini bisa membuka pengetahuan bahwa sebenarnya banyak tempat-tempat di Indonesia yang menjadi saksi bisu sejarah pembantaian yang ditotal mencapai ratusan ribu orang.
Plantungan (2011)
Di film Plantungan kita akan diajak menjelajah ke sebuah bekas penjara khusus perempuan yang diasingkan karena diduga terlibat dan mengetahui adanya gerakan 30 September 1965. Terletak di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Kendal, Jawa Tengah, penjara Plantungan menampung sekira 500 tahanan politik perempuan. Mereka harus bertahan hidup selama bertahun-tahun di tempat yang dulunya bekas rumah sakit bagi penderita lepra yang diisolasi padaa masa pendudukan Belanda itu.
Dalam film dokumenter ini mantan tapol perempuan yang kebanyakan sudah berusia lanjut napak tilas ke Plantungan. Perjalanan ini mengingatkan mereka bahwa dulu para tahanan pernah mengalami kekerasan fisik, psikologis bahkan seksual dari tentara dan petugas penjara.
Karena propaganda Orba yang lekat di benak masyarakat, awalnya, para tahanan dianggap sebagai orang-orang yang kejam. Namun, setelah banyak berkontribusi dan membantu masyarakat sekitar, sebagai tenaga kesehatan, bidan dan dokter serta lewat keahlian yang mereka miliki, perlahan pandangan masyarakat pun berubah. Sayangnya, meskipun sudah bebas stigma itu tetap melekat pada mereka.
Pulau Buru Tanah Air Beta (2016)
Kalau kamu pernah baca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer, pasti tahu bahwa ia pernah diasingkan ke Pulau Buru. Seperti Pram, Hersri Setiyawan yang jadi tokoh sentral di film ini juga pernah ditahan di pulau ketiga terbesar Maluku itu. Hersri dulunya sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA).
Lewat film dokumenter ini kita bisa menyaksikan potongan sejarah kehidupan para tahanan politik lewat perjalanan Hersri dan kawannya Tedyabayu Sudjojono waktu kembali ke Pulau Buru setelah lebih dari tiga dekade dibebaskan. Hersri turut mengajak anaknya yang ingin tahu lebih jelas sejarah ayahnya selama diasingkan. Perjalanan itu membuka ingatan bahwa selama di Pulau Buru para tahanan mengalami kerja paksa dan hidup dalam keadaan yang sulit. Pulau Buru Tanah Air Beta bisa menjadi pemantik bagi anak muda untuk mempertanyakan sejarah bangsanya.
Jagal, The Act of Killing (2012)
Jagal berpusat pada pengalaman sejumlah orang yang kala 1965-1966 dipercaya militer menghilangkan nyawa mereka yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Mereka bahkan bersedia melakukan reka adegan dan visualisasi pembunuhan. Dari titik ini, kita bisa melihat alam pikiran para penjagal yang sebenarnya tak mengetahui duduk perkara yang terjadi secara jelas, namun berusaha sekuat mungkin menyalurkan kemarahannya pada terduga anggota PKI.
Meski sering kali disebut tindakan spontan warga di berbagai daerah, kita bisa menilai dari penuturan para penjagal bahwa penculikan dan pembunuhan itu sudah direncanakan. Sejak kemunculannya, pembicaraan soal pembantaian massal di Indonesia semakin sering terdengar, walaupun memang pemutaran Jagal masih terbatas jika dibandingkan dengan Pengkhianatan G30S/PKI.
Senyap, The Look of Silence (2014)
Digarap oleh sutradara yang sama dengan Jagal, kali ini Senyap mengambil sudut pandang dari sisi keluarga korban. Seorang adik yang kakak kandungnya menjadi korban pembantaian 1965, memecah kesunyian dengan bertandang ke beberapa pelaku pembunuhan dan menanyakan perihal kejadian tersebut. Bertahun-tahun setelah pengalaman menyakitkan itu keluarga korban dan pelaku pembunuhan tinggal di lingkungan yang sama tanpa pernah membicarakannya secara terbuka.
Meski Senyap memenangkan berbagai penghargaan dan dinominasikan dalam Oscar, pemutaran filmnya di Indonesia biasanya terbatas dan belum pernah digelar untuk publik seperti nonton bareng di pusat-pusat keramaian. Lewat Senyap anak muda bisa mulai mempertanyakan mengapa kesenyapan justru terjadi ketika banyak orang yang tidak pernah diadili atau tahu apa salahnya justru dihilangkan nyawanya.
Jadi, apakah kamu sudah menonton salah satu film alternatif di atas?
Dalam Penjara Tetap Ada Asa
Ada narasi yang tidak diketahui banyak orang saat membicarakan tragedi 1965. Biasanya yang ada di benak orang adalah peristiwa pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira yang terjadi di penghujung bulan September. Tapi, banyak orang yang lupa bahwa setelah kejadian tersebut ada tragedi lebih besar yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Pemerintah dan militer lewat tangan-tangan warga sipil juga paramiliter menangkapi, menghilangkan, memenjarakan tanpa peradilan serta membunuh jutaan orang yang diduga berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Di sebuah sore beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman bertemu dengan penyintas 65 dan keluarga korban pelanggaran HAM lainnya. Saya berkesempatan mengobrol dengan Utati Koesalah, istri dari Koesalah Subagyo Toer. Ia adalah salah satu korban penangkapan dan pemenjaraan tanpa pengadilan yang terjadi setelah peristiwa G30S.
Di usianya yang sudah menginjak 73 tahun ia terlihat masih bersemangat mengikuti pertemuan dengan para penyintas 1965/66 lain. Padahal dari rumahnya yang berada di luar Jakarta, ia harus naik kereta kemudian disambung dengan metromini. Ia menyebut diri masuk dalam kategori 3N. Waktu saya tanya apa kepanjangannya, ia menjawab “nenek-nenek nekat,” sambil tersenyum.
Utati pindah dari daerah kelahirannya Purworejo dan pergi ke Jakarta karena ingin mengejar keinginannya untuk berkesenian. Jika anak muda generasi sekarang mengasah kemampuan seninya lewat klub kesenian, les melukis, menyanyi, menari, dan sebagainya, tak berbeda jauh dengan saat Utati remaja yang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Waktu itu ia memilih ikut organisasi pemuda bernama Pemuda Rakyat. Organisasi ini sering mengadakan kegiatan kesenian dan teater. Sayangnya, saat aktif dalam organisasi itu, tepatnya pada 1967 ia ditangkap dengan alasan Pemuda Rakyat berafiliasi dengan PKI.
Hari-hari remajanya harus berhenti karena penangkapan itu. Sampai saat ini kesan yang sangat kuat tentang masa-masa di penjara masih tersimpan di dalam hatinya. Ia ingat sesama penghuni penjara perempuan biasanya saling menguatkan. Perempuan-perempuan dalam rumah tahanan Bukit Duri tempat Utati menghabiskan 11 tahunnya tetap punya mimpi untuk melanjutkan hidup. Kehidupan di penjara sangat membosankan, satu-satunya hiburan adalah bernyanyi. Beberapa teman termasuk dirinya menciptakan lagu selama masa tahanan.
Di penjara, bacaan tahanan sangat dibatasi. Hanya buku bertema keagamaan yang boleh dibaca. Mereka bahkan tidak dapat menulis. Maka ia harus sembunyi-sembunyi ketika berusaha mengumpulkan syair dan lirik lagu-lagu yang sering dinyanyikan di penjara. Sebelumnya, ia hanya mengingatnya dalam kepala.
Ia mulai menyembunyikan bekas bungkus teh yang bagian belakangnya polos, juga mencari pensil. Kadang ia menemukan pensil yang hanya tinggal seujung jari. Dengan dua benda itu ia menulis lirik dan partitur lagu. Supaya tidak ketahuan, ia menyembunyikannya di dalam sapu ijuk. “Walaupun berada di bawah tekanan kita harus mencari cara,” ujarnya. Hal ini membuat tahanan menjadi lebih kreatif untuk bertahan.
Berpuluh tahun setelah bebas ia tak pernah meninggalkan kecintaannya pada kesenian. Pada 2011, ia turut mendirikan kelompok paduan suara Dialita. Namanya merupakan kependekan dari ‘Di atas Lima Puluh Tahun’. Saat ini aggota Dialita berjumlah 20 orang yang terdiri dari penyintas ‘65 yang rata-rata berusia di atas lima puluh tahun dan sebagian anggota lainnya keluarga korban serta mereka yang bersimpati dengan kejadian tersebut.
Dialita menyanyikan lagu yang sebagian besar diciptakan komponisnya saat berada di penjara dan pengasingan. Ada yang ditulis di rumah tahanan Plantungan, Bukit Duri, kamp Ambarawa, maupun penjara Salemba. Kehadiran Dialita sering dianggap sebagai salah satu upaya untuk merekonsiliasi secara kultural beban masa lalu—terutama tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia di tahun 65/66.
Setahun yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus Dialita merilis album berjudul Dunia Milik Kita di bawah label Yes No Wave Music. Sampul albumnya didominasi warna biru muda dan hijau. Ada gambar berbagai tanaman hijau yang ternyata adalah sayur yang sering dimakan tahanan selama di penjara, seperti tanaman genjer, pegagan, dan sebagainya.
Di sela-sela obrolan kami tentang lagu-lagu di dalam penjara, Utati bergumam sambil mengingat-ingat sebuah lirik lagu. Ia ingin memperdengarkan pada saya lagu yang dinyanyikan bagi tahanan perempuan saat berulang tahun. Biasanya para tahanan berkumpul di depan sel orang yang berulang tahun itu dan bernyanyi bersama. Judul lagu itu ‘Tetap Senyum Menjelang Fajar’.
Harapanku padamu teman / Semoga kau tetap tegar / tertimpa sinar maupun hujan / Tetap senyum menjelang fajar
Utati adalah salah satu penyintas ‘65 yang pernah saya temui dan ajak mengobrol bersama. Saya beruntung bisa bertatap muka dan mendengar cerita mereka langsung. Waktu masih duduk di bangku sekolah, saya tak pernah berpikir bagaimana kehidupan mereka di masa-masa yang penuh penderitaan itu. Bahkan sebelum pikiran saya ‘terbuka’ di awal-awal masa kuliah, saya tidak tahu kalau kejadian seperti itu ada. Kepala waktu itu saya masih dipenuhi kengerian G30S dan kebencian terhadap mereka yang dianggap bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut. Sekarang, sebagai generasi muda yang melek informasi, tentu saya ingin lebih banyak membaca narasi-narasi lain tentang kejadian sejarah di masa lalu.
Tidak Ada September Ceria di Indonesia
Sebelum saya menginjakan kaki di perguruan tinggi, bulan September selalu saya asosiasikan dengan bulan penuh kecerian, sesuai lagu Vina Panduwinata yang berjudul September Ceria. Tapi setelah saya berkuliah dan membaca banyak buku, pikiran saya berubah. Meskipun saya tetap mengidolakan Mbak Vina, tapi saya tidak lagi sepakat dengan judul lagunya.
Mungkin kalo judul lagu itu diubah bulannya saya masih bisa bersepakat, tapi tidak dengan bulan September. Bagaimana mungkin bulan yang banyak menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan bisa di anggap penuh dengan keceriaan? Berdasarkan laman masihingat.kontras.org, setidaknya ada empat tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan September. Bahkan, sungguh disayangkan hingga hari ini keempat tragedi tersebut belum menemui titik terang terkait siapa dalang dibaliknya.
Pertama, kasus pembunuhan Munir Said Thalib, aktivis HAM dan salah satu pendiri Kontras. Ia meninggal diracun oleh pilot Garuda Indonesia yang sedang dalam masa cuti, Pollycarpus. Kejadian itu berlangsung ketika Cak Munir dalam perjalanan pesawat menuju Amsterdam, 7 September 2004 silam. Pollycarpus memang sudah dihukum penjara, namun siapa dalang dibalik pembunuhan Cak Munir masih menjadi tanda tanya besar. Sungguh ironis apabila melihat berkas-berkas yang dikumpulkan untuk mengungkap kasus ini mangkrak begitu saja di Mahkamah Agung.
Kedua, tragedi Tanjung Priok yang terjadi pada tahun 1984. Tragedi kemanusiaan ini dilakukan oleh militer kepada sekelompok jemaaah tabliq, karena memprotes asas tunggal Pancasila yang coba dipaksakan oleh Orde Baru. Setidaknya terdapat 80 warga sipil yang tewas dan masih banyak lainnya yang hilang. Bahkan yang menjadi korban kekerasan oleh militer tidak hanya orang dewasa, tapi anak-anak di bawah 15 tahun pun menjadi korban. Meskipun pengadilan HAM telah digelar pada tahun 2004, namun para pelaku diberikan vonis bebas.
Ketiga, tragedi Semanggi II pada tahun 1999. Dan tragedi ini lagi-lagi dilakukan oleh militer. Korbannya adalah sejumlah mahasiswa yang melakukan demonstrasi atas rencana pembentukan undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya yang disinyalir akan semakin memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar HAM. Dalam tragedi ini, seorang mahasiswa meninggal karena terkena tembakan oleh oknum militer. Selain itu, setidaknya puluhan mahasiswa yang dilaporkan dianiaya dan diculik. Dan tentu saja tidak
diketahui siapa dalang dibalik tindakan represif yang dilakukan militer.
Keempat, tragedi berdarah yang terjadi pada 1965. Meskipun tragedi pembunuhan besar-besaran pada anggota, simpatisan hingga yang hanya dituduh PKI tidak terjadi di bulan September. Tapi bara apinya tersulut di bulan ini atau dikenal dengan G30S (Gerakan 30 September) Saya tentu bersimpati dengan para Jenderal yang terbunuh dalam tragedi yang terjadi pada 30 September, tapi apapun alasannya, hal tersebut bukanlah pembenaran untuk membunuh, menculik dan memenjarakan orang-orang yang “dianggap” PKI bahkan orang yang tidak tahu menahu tentang peristiwa tersebut.
Melihat empat tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan September, tentu saja sama sekali tidak ada unsur keceriaan di bulan ini. Tidak seperti lirik Mbak Vina “..September ceria.. milik kita bersama..”. justru september yang kita rasakan adalah bulan penuh darah dan air mata bagi orang- orang yang haknya dirampas dan bagi mereka yang mencoba mencari kebenaran.
5 Hal yang Nggak Boleh Dilakukan Saat Orde Baru
Pernahkah kamu melihat meme Jenderal Soeharto sambil tersenyum bilang: “Piye Kabare? Masih Enak Zamanku toh?” Nah, kamu salah banget kalau mengira era Orde Baru lebih enak dibandingkan saat ini, terutama dalam kebebasan berekspresi bagi anak muda. Karena, ada banyak hal yang seru dan asik yang justru nggak boleh dilakukan anak muda di era itu. Apa saja misalnya?
Nggak Boleh Gondrong!
Budaya hippies yang lahir pada era 1960-an membawa pengaruh yang tidak sedikit ke Indonesia. Banyak anak muda kala itu yang berusaha meniru perilaku dengan menggunakan simbol-simbol dari budaya hippies, seperti berambut gondrong atau menggunakan busana longgar dengan warna-warna yang mencolok. Melihat tren tersebut, pemerintah kemudian menganggap rambut gondrong bertentangan dengan kepribadian nasional. Akhirnya, dilakukan razia hingga denda pada anak muda yang berambut gondrong. Bahkan, saking paranoidnya dengan rambut gondrong, pemerintah membentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong)!
Kegiatan Mahasiswa Dibatasi
Pada 1978, pemerintah menetapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang lebih dikenal dengan NKK/BKK. Melalui NKK/BKK, pemerintah Orde Baru mengarahkan mahasiswa hanya pada kegiatan akademik dan menjauhkan mereka dari aktivitas politik karena dinilai dapat membahayakan posisi Orba. Tak cukup sampai di situ, pemerintah juga memberi keleluasaan Rektorat untuk menentukan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa.
Cuma Boleh Baca Buku Tertentu
Tahukah kamu bahwa selama 32 tahun berkuasa, rezim Orde Baru telah melarang lebih dari 2.000 judul buku! Larangan ini banyak terjadi pada buku-buku bertema gerakan kiri. Novel tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yang bercerita tentang sejarah awal pergerakan nasional dan pers di Indonesia, juga turut dilarang. Ada banyak juga buku-buku dan publikasi lainnya yang dilarang oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap ‘mengancam ketertiban umum’.
Kritis sama Pemerintah
Bersikap kritis sama kebijakan pemerintah di era Orde Baru bakal bikin kita berhadapan langsung sama aparat, tak hanya itu kita juga bisa tiba-tiba diculik dan dihilangkan paksa seperti yang terjadi pada Wiji Thukul atau aktivis lain.
Tatoan? Awas Ditembak!
Pada periode tahun 1981-1985 diadakan operasi pembasmian gali (gabungan anak liar) atau preman. Operasi ini menyasar para preman yang saat itu dengan cara menembak mati dan membiarkan mayatnya sampai ditemukan warga, agar menimbulkan efek jera. Operasi ini juga menyasar orang bertato karena dianggap identik dengan preman, sehingga banyak dari mereka yang bersembunyi hingga menghapus tato yang mereka miliki.
Mau tahu lebih banyak tentang apa-apa saja yang dilarang di era Orde Baru? Kamu bisa baca lebih banyak di bab “Beda Itu (Tidak) Biasa” di buku Yang Kelewat di Buku Sejarah, di sini.
Jejak Peristiwa 65 di Gua Jomblang
Hampir dua tahun lalu, pada 14 – 18 Agustus 2015, saya melakukan perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk menelusuri keindahan alam di provinsi tersebut. Tadinya hanya ingin berwisata saja, tidak ada niat khusus untuk merayakan hari kemerdekaan dengan mengibarkan bendera atau kegiatan simbolis lain di suatu tempat di Jogja. Namun, sayang juga jika momen ulang tahun negeri ini tidak dirayakan dengan petualangan.
Jadilah saya berangkat sendiri ke Goa Jomblang dengan motor dari pusat kota Jogja. Tahun 2014 lalu, terdapat upacara bendera di dalam Goa Jomblang yang dihadiri para pecinta alam seluruh Indonesia untuk merayakan hari kemerdekaan, jadi siapa tahu tahun ini ada kegiatan yang sama.
Rute perjalanan saya pada tanggal tersebut sebenarnya tidak hanya Goa Jomblang. Saya juga mengunjungi Kebun Buah Mangunan, Air Terjun Sri Gethuk, dan Pantai Parang Tritis. Tidak saya sangka saat melakukan perjalanan dari Air Terjun Sri Gethuk ke Goa Jomblang, saya melewati rute gerilya Jendral Sudirman yang dulu dilewati oleh beliau dan kelompok tentara kecilnya selama tujuh bulan dengan jarak sekitar 100 km. Jalurnya berbukit, berkelok, dan kadang dilengkapi jalan rusak berbatu.
Sesampainya di Goa Jomblang, ternyata daerah ini sudah tidak lagi seterbuka dulu di mana setiap pecinta alam dapat mengunjunginya tanpa segan. Tak ada peringatan hari kemerdekaan se-spesial tahun lalu, dan kini komersialisasi Goa Jomblang sudah cukup gencar dan dikuasai oleh satu agen, yang kemudian saya datangi untuk mengantar saya ke dalam goa. Dengan sedikit negosiasi harga, saya berhasil sampai di dalam Goa Jomblang bersama wisatawan lainnya.
Goa Jomblang merupakan goa vertikal yang berhubungan dengan Goa Grubug. Tempat di mana wisatawan dapat menikmati cahaya ‘surga’ yang masuk ke dalam gua dapat disaksikan di Goa Grubug, dihubungkan dengan jalur gelap, becek dan berbatu sepanjang 60 m. Merupakan pengalaman luar biasa menyaksikan cahaya yang masuk dari atas ke dalam gua, tapi ketika guide saya bercerita secara pribadi pada saya, ada rasa takut dan sedih yang menyelubung.
Pada masa penumpasan ‘anggota’ PKI pada tahun 1965 dulu, ternyata gua ini menjadi jurang maut bagi mereka yang dianggap anggota PKI. ‘Anggota’ PKI dijejerkan di bibir gua dengan tangan saling terikat satu sama lain di saat tentara mulai menembaki satu per satu anggota yang sudah berjajar hingga semuanya jatuh ke dalam gua. Saat itu juga, saya berdoa bagi mereka yang direnggut hak hidupnya oleh tentara.
Tidak terlalu jelas mana lokasi yang tepat saat pembunuhan massal terjadi. Guide saya berkata bahwa Goa Grubug menjadi lokasi penembakan, namun salah satu situs wisata mengatakan hal tersebut terjadi di Goa Jomblang pada tahun 1970 – 1980. Tapi menurut saya, sepertinya kedua gua tersebut menjadi saksi bisu peristiwa pelanggaran HAM yang pernah menodai sejarah Indonesia.
Peringatan kemerdekaan negeri ini tak disangka menambah wawasan sejarah saya meski sedikit dan membuat saya merenung pada kelamnya sejarah Indonesia. Peristiwa tahun 1965 sampai sekarang belum selesai, tidak jelas siapa yang salah, dan pelajaran sejarah di sekolah justru membohongi siswanya dengan menceritakan kisah fiktif berjudul G30S/PKI. Meski pikiran saya terlalu berlebihan, namun dengan momen kemerdekaan dan renungan yang saya dapat di perjalanan singkat saya di Jogja, saya yakin saya memperjuangkan hal yang benar.
Mengenal ‘Yang Asing’
Bagaimana cara sebuah kelompok pengajian Islam obscure menarik perhatian banyak musisi indie kelas kakap Ibukota? Kelompok ini tak hanya sukses membujuk mereka mengikuti pengajian tersebut, namun juga membuat banyak musisi dan figur dunia kesenian tersebut berbalik arah dan menyatakan musik haram.
Meski belakangan mulai kurang terdengar gaungnya, kelompok pengajian Al Ghuroba atau The Strangers sempat jadi buah bibir 1-2 tahun terakhir – terutama setelah nama-nama kelas kakap seperti dua personil band indie The Upstairs dan vokalis band Rumahsakit hijrah ke pengajian tersebut dan menarik diri dari musik. Yang seru, Al Ghuroba tak seperti kebanyakan pengajian yang terkesan ‘keras’ denga mengerikan. Pendekatan mereka yang menggunakan simbol-simbol budaya populer dan kampanye media sosial sukses menarik perhatian anak muda.
Pada 10 Juli 2015, Pamflet membuka obrolan dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) di kantor KSI di Pejaten, Jakarta Selatan, dan membedah lebih jauh tentang The Strangers. Pertanyaan kami, mula-mula, adalah mengapa sebuah kelompok pengajian dari aliran Islam Salafi yang biasanya cukup ‘keras’ dalam masalah akidah serta memiliki kesan non-toleran mau menggunakan musisi band yang bertobat, meme, video dan bulletin yang dikemas seperti zine alternatif untuk menyampaikan pesannya? Serta, pesan seperti apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan?
—-
Seorang penulis kritik kebudayaan populer, Hikmat Darmawan, dan seorang pengajar serta peneliti musik dan subkultur, Yuka Dian Narendra, kami undang ke KSI sebagai pembicara sore itu. Dimoderatori oleh mahasiswi jurusan Filsafat dan Agama dari Universitas Paramadina, Fatimah Zahrah, para peserta diskusi mendengarkan paparan dan pandangan dari kedua pembicara yang sangat seru.
Dari The Strangers, tutur Hikmat, kita dapat belajar bahwa pergerakan kelompok agama atau religi selalu merupakan respons dari permasalahan-permasalahan pada zamannya. Hikmat membandingkan The Strangers dengan gerakan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) yang diikutinya ketika menjadi seorang pelajar di era Orde Baru.
Pada masa itu, perekonomian Indonesia yang sedang tumbuh memunculkan karakteristik kelas anak muda baru, yaitu kelas anak muda yang bisa menikmati uang saku dan mengkoleksi sesuatu. Ketika gaya hidup menjadi sebuah komoditas baru, bisa jadi, tuturnya, anak muda yang kemudian tertarik untuk mengikuti kelompok-kelompok pengajian seperti Tarbiyah adalah anak muda yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup kelas tertentu. Wacana yang dibangun Tarbiyah untuk mengajak anak-anak muda ini adalah wacana “perlawanan” terhadap konsumerisme dan gayahidup yang berlebihan.
“Ketika itu, kami diajari untuk selalu kritis dengan situasi terkini. Akibatnya, hingga sekarang saya mampu melihat sesuatu secara kritis dan menjadi seorang penulis kritik, walaupun sudah keluar dari kelompok pengajian,” ujar Hikmat seraya tertawa.
Menurut Hikmat, yang juga menarik untuk dicermati dari pendekatan yang digunakan oleh kelompok-kelompok pengajian yang mengajar anak muda adalah bagaimana kesadaran tentang ‘keselamatan diri’ dibangun. “Selama kelompok-kelompok pengajian masih mengajarkan tentang ini halal, itu haram—apakah musik haram, nonton film haram, pacaran haram, dan lain-lain sebagainya, maka wacana yang dibangun adalah keselamatan diri sendiri. Belum ada kesadaran tentang keselamatan bersama atau keselamatan sosial yang dibentuk.”
Yuka Dian Narendra, yang banyak meneliti tentang musik dan subkultur di Indonesia seperti Metal Satu Jari dan Black Kejawen, juga mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik dari pengamatannya terhadap The Strangers: apakah benar-benar ada yang namanya ‘pertaubatan’ massal? The Strangers adalah sebuah kelompok pengajian yang beberapa anggotanya adalah musisi band yang bertaubat dan tidak lagi mau bermain musik.
Menurut Yuka, momen pertaubatan adalah momen yang dialami oleh individu dan bersifat sangat personal, sehingga ketika momen itu terjadi secara berkelompok atau kolektif, bisa jadi ada suatu pihak atau kekuatan yang menggerakkan kelompok itu. Bagi Yuka sendiri, motivasi seseorang untuk bergabung dengan kelompok pengajian atau kelompok religi tidak semata motivasi yang bersifat abstrak seperti mencari keselamatan di akhirat. Motivasi-motivasi tersebut juga bisa memiliki nilai yang riil seperti peluang ekonomi atau lapangan kerja.
Yuka juga membandingkan The Strangers dengan kelompok lain seperti Black Kejawen. Menurutnya, identitas “keterasingan” atau “keterpinggiran” selalu menjadi benang merah dari kelompok-kelompok subkultur.
“Setiap orang pasti pernah merasakan menjadi asing karena terpinggirkan, terdiskriminasi atau terkalahkan,” ujarnya.
Black Kejawen, misalnya, sebagai sebuah aliran kebatinan, adalah kelompok yang mengalami diskriminasi ganda. Karena jika seorang Muslim Jawa melakukan sebuah ritual kejawen, maka ia tidak hanya akan dianggap “kurang Islam”, tetapi juga “kurang cerdas” karena mempercayai hal-hal yang bersifat spiritual tradisional seperti ini. Kelompok seperti Black Kejawen mengakomodir anak-anak muda dalam benturan-benturan identitas tersebut dalam balutan musik, yang meski senantiasa dipandang sebagai sebuah subkultur namun keberadaannya bisa kita temui di banyak kota di Indonesia. Bagi Yuka, kelompok seperti The Strangers tak hanya memberi ruang bagi identitas-identitas yang terpinggirkan, mereka pun pintar menarik perhatian orang-orang lain yang ‘merasa terasingkan’ dengan wacana arus utama.







