Mengenal ‘Yang Asing’
Bagaimana cara sebuah kelompok pengajian Islam obscure menarik perhatian banyak musisi indie kelas kakap Ibukota? Kelompok ini tak hanya sukses membujuk mereka mengikuti pengajian tersebut, namun juga membuat banyak musisi dan figur dunia kesenian tersebut berbalik arah dan menyatakan musik haram.
Meski belakangan mulai kurang terdengar gaungnya, kelompok pengajian Al Ghuroba atau The Strangers sempat jadi buah bibir 1-2 tahun terakhir – terutama setelah nama-nama kelas kakap seperti dua personil band indie The Upstairs dan vokalis band Rumahsakit hijrah ke pengajian tersebut dan menarik diri dari musik. Yang seru, Al Ghuroba tak seperti kebanyakan pengajian yang terkesan ‘keras’ denga mengerikan. Pendekatan mereka yang menggunakan simbol-simbol budaya populer dan kampanye media sosial sukses menarik perhatian anak muda.
Pada 10 Juli 2015, Pamflet membuka obrolan dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) di kantor KSI di Pejaten, Jakarta Selatan, dan membedah lebih jauh tentang The Strangers. Pertanyaan kami, mula-mula, adalah mengapa sebuah kelompok pengajian dari aliran Islam Salafi yang biasanya cukup ‘keras’ dalam masalah akidah serta memiliki kesan non-toleran mau menggunakan musisi band yang bertobat, meme, video dan bulletin yang dikemas seperti zine alternatif untuk menyampaikan pesannya? Serta, pesan seperti apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan?
—-
Seorang penulis kritik kebudayaan populer, Hikmat Darmawan, dan seorang pengajar serta peneliti musik dan subkultur, Yuka Dian Narendra, kami undang ke KSI sebagai pembicara sore itu. Dimoderatori oleh mahasiswi jurusan Filsafat dan Agama dari Universitas Paramadina, Fatimah Zahrah, para peserta diskusi mendengarkan paparan dan pandangan dari kedua pembicara yang sangat seru.
Dari The Strangers, tutur Hikmat, kita dapat belajar bahwa pergerakan kelompok agama atau religi selalu merupakan respons dari permasalahan-permasalahan pada zamannya. Hikmat membandingkan The Strangers dengan gerakan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) yang diikutinya ketika menjadi seorang pelajar di era Orde Baru.
Pada masa itu, perekonomian Indonesia yang sedang tumbuh memunculkan karakteristik kelas anak muda baru, yaitu kelas anak muda yang bisa menikmati uang saku dan mengkoleksi sesuatu. Ketika gaya hidup menjadi sebuah komoditas baru, bisa jadi, tuturnya, anak muda yang kemudian tertarik untuk mengikuti kelompok-kelompok pengajian seperti Tarbiyah adalah anak muda yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup kelas tertentu. Wacana yang dibangun Tarbiyah untuk mengajak anak-anak muda ini adalah wacana “perlawanan” terhadap konsumerisme dan gayahidup yang berlebihan.
“Ketika itu, kami diajari untuk selalu kritis dengan situasi terkini. Akibatnya, hingga sekarang saya mampu melihat sesuatu secara kritis dan menjadi seorang penulis kritik, walaupun sudah keluar dari kelompok pengajian,” ujar Hikmat seraya tertawa.
Menurut Hikmat, yang juga menarik untuk dicermati dari pendekatan yang digunakan oleh kelompok-kelompok pengajian yang mengajar anak muda adalah bagaimana kesadaran tentang ‘keselamatan diri’ dibangun. “Selama kelompok-kelompok pengajian masih mengajarkan tentang ini halal, itu haram—apakah musik haram, nonton film haram, pacaran haram, dan lain-lain sebagainya, maka wacana yang dibangun adalah keselamatan diri sendiri. Belum ada kesadaran tentang keselamatan bersama atau keselamatan sosial yang dibentuk.”
Yuka Dian Narendra, yang banyak meneliti tentang musik dan subkultur di Indonesia seperti Metal Satu Jari dan Black Kejawen, juga mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik dari pengamatannya terhadap The Strangers: apakah benar-benar ada yang namanya ‘pertaubatan’ massal? The Strangers adalah sebuah kelompok pengajian yang beberapa anggotanya adalah musisi band yang bertaubat dan tidak lagi mau bermain musik.
Menurut Yuka, momen pertaubatan adalah momen yang dialami oleh individu dan bersifat sangat personal, sehingga ketika momen itu terjadi secara berkelompok atau kolektif, bisa jadi ada suatu pihak atau kekuatan yang menggerakkan kelompok itu. Bagi Yuka sendiri, motivasi seseorang untuk bergabung dengan kelompok pengajian atau kelompok religi tidak semata motivasi yang bersifat abstrak seperti mencari keselamatan di akhirat. Motivasi-motivasi tersebut juga bisa memiliki nilai yang riil seperti peluang ekonomi atau lapangan kerja.
Yuka juga membandingkan The Strangers dengan kelompok lain seperti Black Kejawen. Menurutnya, identitas “keterasingan” atau “keterpinggiran” selalu menjadi benang merah dari kelompok-kelompok subkultur.
“Setiap orang pasti pernah merasakan menjadi asing karena terpinggirkan, terdiskriminasi atau terkalahkan,” ujarnya.
Black Kejawen, misalnya, sebagai sebuah aliran kebatinan, adalah kelompok yang mengalami diskriminasi ganda. Karena jika seorang Muslim Jawa melakukan sebuah ritual kejawen, maka ia tidak hanya akan dianggap “kurang Islam”, tetapi juga “kurang cerdas” karena mempercayai hal-hal yang bersifat spiritual tradisional seperti ini. Kelompok seperti Black Kejawen mengakomodir anak-anak muda dalam benturan-benturan identitas tersebut dalam balutan musik, yang meski senantiasa dipandang sebagai sebuah subkultur namun keberadaannya bisa kita temui di banyak kota di Indonesia. Bagi Yuka, kelompok seperti The Strangers tak hanya memberi ruang bagi identitas-identitas yang terpinggirkan, mereka pun pintar menarik perhatian orang-orang lain yang ‘merasa terasingkan’ dengan wacana arus utama.
Apa Beda Pelanggaran HAM dan Tindak Pidana?
Salah satu pertanyaan yang paling sering kami dengar adalah: “Apakah pembunuhan itu termasuk pelanggaran HAM?” Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk situasi lain, seperti perundungan (bullying), pengedaran narkoba, hingga tawuran dan pemerkosaan. Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, jawaban kami selalu sama: Tergantung!
Definisi dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) adalah pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrumen-instrumen internasional hak asasi manusia. Pelanggaran negara terhadap kewajibannya itu dapat dilakukan baik dengan perbuatannya sendiri (acts of commission) maupun karena kelalaiannya (acts of ommission). Maka dari itu, kunci dari pelanggaran HAM adalah, harus ada kewajiban negara yang tidak terpenuhi di situ. Yang bertanggungjawab adalah Negara, bukan individu atau badan hukum lainnya.
Ambil contoh pembunuhan: si A membunuh si B. Karena kasus itu terjadi antara satu individu terhadap individu lainnya, tidak ada pelanggaran HAM di situ, karena tidak ada kewajiban negara yang dilalaikan. Insiden itu termasuk tindak pidana atau tindakan kriminal, bukan pelanggaran HAM. Prinsip yang sama juga berlaku untuk tindakan individu-ke-individu lainnya seperti perundungan, kekerasan seksual, hingga merokok di tempat umum.
Tapi, semisal kasus pembunuhan B yang kita bahas di atas tidak diusut oleh aparat negara seperti kepolisian dan pengadilan karena alasan apapun – entah mereka lalai, atau misalnya pelaku ternyata teman main Smule-nya Kepala Polisi – barulah terjadi pelanggaran HAM. Kenapa? Karena ada kewajiban negara, yakni menyelesaikan kasus pidana, yang tidak dilakukan. Di sinilah negara melakukan pelanggaran HAM karena kelalaian, atau acts of omission.
—-
Nah, lantas kenapa kasus seperti Pembantaian tahun 1965-66, Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, Penghilangan 13 Aktivis Reformasi, hingga pelarangan ibadah Gereja GKI Yasmin dianggap pelanggaran HAM?
Karena semuanya melibatkan negara. Dalam kasus seperti Peristiwa Tanjung Priok atau Talangsari, misalnya, aparat negara dikerahkan untuk meredam masyarakat dengan cara kekerasan. Artinya, negara gagal menjalankan kewajibannya untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya sendiri. Ini adalah contoh pelanggaran HAM karena perbuatan negara, atau acts of commission.
Tentu, mengumpulkan bukti pelanggaran HAM tidak mudah – apalagi di era Orde Baru. Makanya, pengusutan kasus seperti Pembantaian 65-66 dan Pembunuhan Munir Said Thalib butuh waktu bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade. Barang bukti bisa dimusnahkan, sistem hukum bisa dimanipulasi, dan – ini kuncinya – pendanaan untuk tim-tim pencari fakta bisa dicabut tanpa alasan jelas. Padahal, pengumpulan bukti ini penting supaya kasus pelanggaran HAM bisa diakui, diselesaikan, dan tidak diulangi lagi.
Tapi, penjelasan di atas kurang lebih bisa memberikan gambaran kasar soal apa yang diusut dan kemudian disebut sebagai ‘pelanggaran HAM’, dan mana yang bukan. Nah, mulai dari sekarang, jangan sampai tertukar!
Apa Beda Pelanggaran HAM dan Tindak Pidana?
Salah satu pertanyaan yang paling sering kami dengar adalah: “Apakah pembunuhan itu termasuk pelanggaran HAM?” Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk situasi lain, seperti perundungan (bullying), pengedaran narkoba, hingga tawuran dan pemerkosaan. Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, jawaban kami selalu sama: Tergantung!
Definisi dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) adalah pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrumen-instrumen internasional hak asasi manusia. Pelanggaran negara terhadap kewajibannya itu dapat dilakukan baik dengan perbuatannya sendiri (acts of commission) maupun karena kelalaiannya (acts of ommission). Maka dari itu, kunci dari pelanggaran HAM adalah, harus ada kewajiban negara yang tidak terpenuhi di situ. Yang bertanggungjawab adalah Negara, bukan individu atau badan hukum lainnya.
Ambil contoh pembunuhan: si A membunuh si B. Karena kasus itu terjadi antara satu individu terhadap individu lainnya, tidak ada pelanggaran HAM di situ, karena tidak ada kewajiban negara yang dilalaikan. Insiden itu termasuk tindak pidana atau tindakan kriminal, bukan pelanggaran HAM. Prinsip yang sama juga berlaku untuk tindakan individu-ke-individu lainnya seperti perundungan, kekerasan seksual, hingga merokok di tempat umum.
Tapi, semisal kasus pembunuhan B yang kita bahas di atas tidak diusut oleh aparat negara seperti kepolisian dan pengadilan karena alasan apapun – entah mereka lalai, atau misalnya pelaku ternyata teman main Smule-nya Kepala Polisi – barulah terjadi pelanggaran HAM. Kenapa? Karena ada kewajiban negara, yakni menyelesaikan kasus pidana, yang tidak dilakukan. Di sinilah negara melakukan pelanggaran HAM karena kelalaian, atau acts of omission.
—-
Nah, lantas kenapa kasus seperti Pembantaian tahun 1965-66, Peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, Penghilangan 13 Aktivis Reformasi, hingga pelarangan ibadah Gereja GKI Yasmin dianggap pelanggaran HAM?
Karena semuanya melibatkan negara. Dalam kasus seperti Peristiwa Tanjung Priok atau Talangsari, misalnya, aparat negara dikerahkan untuk meredam masyarakat dengan cara kekerasan. Artinya, negara gagal menjalankan kewajibannya untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya sendiri. Ini adalah contoh pelanggaran HAM karena perbuatan negara, atau acts of commission.
Tentu, mengumpulkan bukti pelanggaran HAM tidak mudah – apalagi di era Orde Baru. Makanya, pengusutan kasus seperti Pembantaian 65-66 dan Pembunuhan Munir Said Thalib butuh waktu bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade. Barang bukti bisa dimusnahkan, sistem hukum bisa dimanipulasi, dan – ini kuncinya – pendanaan untuk tim-tim pencari fakta bisa dicabut tanpa alasan jelas. Padahal, pengumpulan bukti ini penting supaya kasus pelanggaran HAM bisa diakui, diselesaikan, dan tidak diulangi lagi.
Tapi, penjelasan di atas kurang lebih bisa memberikan gambaran kasar soal apa yang diusut dan kemudian disebut sebagai ‘pelanggaran HAM’, dan mana yang bukan. Nah, mulai dari sekarang, jangan sampai tertukar!
13 Buku Buat Bacaan Akhir Pekan Senjamu
Jangan habiskan akhir pekanmu dengan menggerutu soal hasil Pilkada, ikut-ikutan mendompleng tagar #SayaBertanya di Twitter, atau memanjang-manjangkan diskusi soal betapa tidak sahihnya La La Land ditahbiskan sebagai film terbaik di kuartal pertama 2017. Jangan.
Sebaliknya, habiskan masa-masa kering pasca-Valentine ini dengan membaca. Iya, kegiatan ini selalu berhasil jadi solusi bagi semua punggawa Pamflet ketika kami merasa gamang memandang segala apa kehidupan. Oleh karena itu, #KamiBertanya pada para personil Pamflet: buku mana yang sangat ingin kamu rekomendasikan ke semua orang, dan kenapa?
1. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer
Pilihan Afra, fellow Pamflet
“Tetralogi legendaris ini: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bisa menginspirasi orang yang skeptis sama nasionalisme untuk mau berjuang demi bangsanya. Tapi tidak serta merta menyuarakan nasionalisme secara berlebihan, novel ini justru menceritakan perjuangan untuk kemanusiaan.
Tetralogi ini ditulis pada saat Pram, penulis terbaik Indonesia yang pernah masuk nominasi Nobel Sastra, berada di penjara pulau Buru. Novel ini dilarang pada masa Orde Baru dan dituduh sebagai novel komunis – salah satu keputusan terbodoh Orde Baru. Buku ini bahkan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari Penguin Classics, sejajar dengan karya-karya sastra terbaik di seluruh dunia. Kutipan favorit di buku Anak Semua Bangsa:
“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”
2. Americanah karya Chimamanda Ngozi Adichie
Pilihan Indah, fellow Pamflet
“Novel ini wajib kamu baca karena novel ini mengangkat berbagai isu kayak imigran, politik, identitas, cinta, perjuangan kelas dan perempuan. Bahkan persoalan rambut buat cewek kulit hitam di Nigeria misalnya jadi urusan politik. Semua isu dibahas dengan alur menyenangkan. Pokoknya buku ini fun dan seru!”
3. Pulang karya Leila S. Chudori

Pilihan Ninies, fellow Pamflet
“Novel ini seperti mesin waktu yang membawa kita mengarungi masa-masa aktivisme era 1965-1998. Walau berbumbu kisah cinta, tapi yang paling saya suka dari novel ini adalah kemampuannya mengajak pembaca merasakan situasi dan emosi yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di sejarah masa lalu.”
4. The Famished Road karya Ben Okri
Pilihan Fani, fellow Pamflet
“Cerita asal Nigeria ini punya alur yang unik. Orang pertama dalam novel adalah anak yang berada di tengah-tengah antara dunia manusia dan roh. Tak hanya imajinatif, tapi roh-roh dan berbagai fantasi di novel ini juga pelan-pelan membawa kita ke suasana sosial-politik pasca-kolonial di Nigeria.”
5. Wiro Sableng karya Bastian Tito

Pilihan Jenggot, fellow Pamflet
“Wiro Sableng merupakan perjumpaan pertama saya dengan novel. Menariknya, cerita ini menggambarkan perasaan masyarakat yang tertindas dan minoritas, serta melakukan pembelaan terhadap yang lemah.”
6. Musashi karya Eiji Yoshikawa
Pilihan Aquino, fellow Pamflet
“Novel ini menemani gue beranjak remaja dan banyak membantu memberikan perbandingan tentang seorang muda yang mencari jalan hidupnya, menemukannya dan belajar setia pada pilihannya.”
7. Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez
Pilihan Moli, Koordinator Umum Pamflet
“Gue suka gimana buku ini di satu sisi bisa nyeritain hantu-hantu dari masa lalu, ada karakter anak kecil yang ke mana-mana bawa tulang belulang orang tuanya, nganggep es batu dan magnet itu benda sihir, tapi di sisi lain juga bercerita soal pesona ilmu pengetahuan, politik, militer, pemberontakan hingga pembantaian massal. Novel yang aneh, gloomy, dan ‘mistis’ banget dalam artian tertentu, tapi asyik dibaca dan bikin ketagihan.”
8. Lupus karya Hilman Hariwijaya
Pilihan Firman, Youth Studies
“Novel ini asyik karena menggambarkan keadaan anak muda pada tahun 90-an. Cerita novel ini tidak hanya tentang hidup senang, tapi juga soal menjadi kritis terhadap apapun di sekitarnya.”
9. The Thorn Birds karya Colleen McCullough
Pilihan Amrie, Youth Movement
“Gue membeli novel ini saat kuliah dan masih terngiang-ngiang quote McCullough di novel tersebut:
‘Ada sebuah legenda tentang seekor burung yang bernyanyi hanya sekali dalam hidupnya, lebih cantik dari seluruh makhluk di muka bumi. Sejak saat itu, ia terbang mencari pohon berduri dan tidak akan berhenti sampai ia menemukannya. Kemudian ia bernyanyi di antara cabang-cabang pohon dan menusukkan dirinya sendiri ke duri terpanjang dan tertajam yang ada.’
Quote McCullough sebenarnya tidak berhenti sampai di situ, tapi menurut gue, quote ini benar-benar menggambarkan isi cerita novel ini: kisah dramatis keluarga Cleary di peternakan luas di Australia dengan cuacanya yang ekstrim. Tutur bahasa dan kisah di novel ini sangat berbeda dari novel yang dibuat di tahun 2000-an, dan itu membuat gue tertarik baca.”
10. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

Pilihan Justian, fellow Pamflet
“Novel ini liar, namun bermakna dan memiliki maksud yang jelas: bagaimana feodalisme membunuh hidup orang-orang. Selain itu, latar waktu dan tempat yang sudah sangat lalu membuat saya benar-benar merasa ada di latar tersebut.”
11. Kisah Klan Otori (Tales of The Otori) karya Lian Hearn
Pilihan Fia, fellow Pamflet
“Cerita novel ini tentang perebutan kekuasaan antar klan di Jepang pada zaman dahulu kala. Karena di setiap bagian sudut pandang cerita berganti-ganti, jadi bikin pembaca bisa memahami karakter di novel ini secara lebih mendalam, bahkan dari sisi seekor kuda! Di sini gue enggak cuma dapat cerita tentang bunuh-bunuhan, tapi juga masalah-masalah kepentingan, kesetiaan, feminisme dan kepercayaan.”
12. Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya
Pilihan Fahmi, fellow Pamflet
“Novel ini mengisahkan revolusi Indonesia. Keunikannya adalah, sang tokoh utama justru berperang dari pihak Belanda melawan Indonesia. Pemilihan tokoh yang seperti ini membuat novel ini pernah dicekal dengan alasan membahayakan patriotisme. Namun, novel ini amat menarik dan sungguh pantas menerima penghargaan seperti yang diterimanya sebagai novel terbaik Asia Tenggara tahun 1984.”
13. The Seven Good Years karya Etgar Keret

Pilihan Raka, Youth Studies
“Memoar ini ditulis Keret, seorang penulis asal Israel yang lebih dikenal dengan karya-karya fiksi super pendek, alias flash fiction. Biasanya, di karya-karya fiksi dia, Keret berbicara tentang hal-hal yang absurd, ajaib dan mengharukan: seperti supir bis yang pernah bermimpi jadi Tuhan, seorang depresif yang bersahabat dengan malaikat pemalas, hingga seorang perempuan yang jatuh cinta dengan lelaki tanpa wujud. Namun, di balik kisah-kisahnya yang terkesan surrealistis itu, selalu ada komentar dan kritik halus tentang politik Israel, kebijakan negaranya, hingga hak asasi manusia.
Di The Seven Good Years, Keret menulis memoar yang lebih blak-blakan soal posisi politiknya. Salah satu momen favorit gue adalah saat Keret menulis tentang mengantar anaknya yang masih 3 tahun ke taman bermain, dan ditanyai Ibu-Ibu di sana: ‘Apakah anak anda akan ikut wajib militer?’ Refleksi dia soal kebijakan politik Israel, etika wajib militer, dan segudang pemikiran lain hampir bikin saya menangis.”
13 Buku Buat Bacaan Akhir Pekan Senjamu
Jangan habiskan akhir pekanmu dengan menggerutu soal hasil Pilkada, ikut-ikutan mendompleng tagar #SayaBertanya di Twitter, atau memanjang-manjangkan diskusi soal betapa tidak sahihnya La La Land ditahbiskan sebagai film terbaik di kuartal pertama 2017. Jangan.
Sebaliknya, habiskan masa-masa kering pasca-Valentine ini dengan membaca. Iya, kegiatan ini selalu berhasil jadi solusi bagi semua punggawa Pamflet ketika kami merasa gamang memandang segala apa kehidupan. Oleh karena itu, #KamiBertanya pada para personil Pamflet: buku mana yang sangat ingin kamu rekomendasikan ke semua orang, dan kenapa?
1. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer
Pilihan Afra, fellow Pamflet
“Tetralogi legendaris ini: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca bisa menginspirasi orang yang skeptis sama nasionalisme untuk mau berjuang demi bangsanya. Tapi tidak serta merta menyuarakan nasionalisme secara berlebihan, novel ini justru menceritakan perjuangan untuk kemanusiaan.
Tetralogi ini ditulis pada saat Pram, penulis terbaik Indonesia yang pernah masuk nominasi Nobel Sastra, berada di penjara pulau Buru. Novel ini dilarang pada masa Orde Baru dan dituduh sebagai novel komunis – salah satu keputusan terbodoh Orde Baru. Buku ini bahkan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari Penguin Classics, sejajar dengan karya-karya sastra terbaik di seluruh dunia. Kutipan favorit di buku Anak Semua Bangsa:
“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”
2. Americanah karya Chimamanda Ngozi Adichie
Pilihan Indah, fellow Pamflet
“Novel ini wajib kamu baca karena novel ini mengangkat berbagai isu kayak imigran, politik, identitas, cinta, perjuangan kelas dan perempuan. Bahkan persoalan rambut buat cewek kulit hitam di Nigeria misalnya jadi urusan politik. Semua isu dibahas dengan alur menyenangkan. Pokoknya buku ini fun dan seru!”
3. Pulang karya Leila S. Chudori

Pilihan Ninies, fellow Pamflet
“Novel ini seperti mesin waktu yang membawa kita mengarungi masa-masa aktivisme era 1965-1998. Walau berbumbu kisah cinta, tapi yang paling saya suka dari novel ini adalah kemampuannya mengajak pembaca merasakan situasi dan emosi yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di sejarah masa lalu.”
4. The Famished Road karya Ben Okri
Pilihan Fani, fellow Pamflet
“Cerita asal Nigeria ini punya alur yang unik. Orang pertama dalam novel adalah anak yang berada di tengah-tengah antara dunia manusia dan roh. Tak hanya imajinatif, tapi roh-roh dan berbagai fantasi di novel ini juga pelan-pelan membawa kita ke suasana sosial-politik pasca-kolonial di Nigeria.”
5. Wiro Sableng karya Bastian Tito

Pilihan Jenggot, fellow Pamflet
“Wiro Sableng merupakan perjumpaan pertama saya dengan novel. Menariknya, cerita ini menggambarkan perasaan masyarakat yang tertindas dan minoritas, serta melakukan pembelaan terhadap yang lemah.”
6. Musashi karya Eiji Yoshikawa
Pilihan Aquino, fellow Pamflet
“Novel ini menemani gue beranjak remaja dan banyak membantu memberikan perbandingan tentang seorang muda yang mencari jalan hidupnya, menemukannya dan belajar setia pada pilihannya.”
7. Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez
Pilihan Moli, Koordinator Umum Pamflet
“Gue suka gimana buku ini di satu sisi bisa nyeritain hantu-hantu dari masa lalu, ada karakter anak kecil yang ke mana-mana bawa tulang belulang orang tuanya, nganggep es batu dan magnet itu benda sihir, tapi di sisi lain juga bercerita soal pesona ilmu pengetahuan, politik, militer, pemberontakan hingga pembantaian massal. Novel yang aneh, gloomy, dan ‘mistis’ banget dalam artian tertentu, tapi asyik dibaca dan bikin ketagihan.”
8. Lupus karya Hilman Hariwijaya
Pilihan Firman, Youth Studies
“Novel ini asyik karena menggambarkan keadaan anak muda pada tahun 90-an. Cerita novel ini tidak hanya tentang hidup senang, tapi juga soal menjadi kritis terhadap apapun di sekitarnya.”
9. The Thorn Birds karya Colleen McCullough
Pilihan Amrie, Youth Movement
“Gue membeli novel ini saat kuliah dan masih terngiang-ngiang quote McCullough di novel tersebut:
‘Ada sebuah legenda tentang seekor burung yang bernyanyi hanya sekali dalam hidupnya, lebih cantik dari seluruh makhluk di muka bumi. Sejak saat itu, ia terbang mencari pohon berduri dan tidak akan berhenti sampai ia menemukannya. Kemudian ia bernyanyi di antara cabang-cabang pohon dan menusukkan dirinya sendiri ke duri terpanjang dan tertajam yang ada.’
Quote McCullough sebenarnya tidak berhenti sampai di situ, tapi menurut gue, quote ini benar-benar menggambarkan isi cerita novel ini: kisah dramatis keluarga Cleary di peternakan luas di Australia dengan cuacanya yang ekstrim. Tutur bahasa dan kisah di novel ini sangat berbeda dari novel yang dibuat di tahun 2000-an, dan itu membuat gue tertarik baca.”
10. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

Pilihan Justian, fellow Pamflet
“Novel ini liar, namun bermakna dan memiliki maksud yang jelas: bagaimana feodalisme membunuh hidup orang-orang. Selain itu, latar waktu dan tempat yang sudah sangat lalu membuat saya benar-benar merasa ada di latar tersebut.”
11. Kisah Klan Otori (Tales of The Otori) karya Lian Hearn
Pilihan Fia, fellow Pamflet
“Cerita novel ini tentang perebutan kekuasaan antar klan di Jepang pada zaman dahulu kala. Karena di setiap bagian sudut pandang cerita berganti-ganti, jadi bikin pembaca bisa memahami karakter di novel ini secara lebih mendalam, bahkan dari sisi seekor kuda! Di sini gue enggak cuma dapat cerita tentang bunuh-bunuhan, tapi juga masalah-masalah kepentingan, kesetiaan, feminisme dan kepercayaan.”
12. Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya
Pilihan Fahmi, fellow Pamflet
“Novel ini mengisahkan revolusi Indonesia. Keunikannya adalah, sang tokoh utama justru berperang dari pihak Belanda melawan Indonesia. Pemilihan tokoh yang seperti ini membuat novel ini pernah dicekal dengan alasan membahayakan patriotisme. Namun, novel ini amat menarik dan sungguh pantas menerima penghargaan seperti yang diterimanya sebagai novel terbaik Asia Tenggara tahun 1984.”
13. The Seven Good Years karya Etgar Keret

Pilihan Raka, Youth Studies
“Memoar ini ditulis Keret, seorang penulis asal Israel yang lebih dikenal dengan karya-karya fiksi super pendek, alias flash fiction. Biasanya, di karya-karya fiksi dia, Keret berbicara tentang hal-hal yang absurd, ajaib dan mengharukan: seperti supir bis yang pernah bermimpi jadi Tuhan, seorang depresif yang bersahabat dengan malaikat pemalas, hingga seorang perempuan yang jatuh cinta dengan lelaki tanpa wujud. Namun, di balik kisah-kisahnya yang terkesan surrealistis itu, selalu ada komentar dan kritik halus tentang politik Israel, kebijakan negaranya, hingga hak asasi manusia.
Di The Seven Good Years, Keret menulis memoar yang lebih blak-blakan soal posisi politiknya. Salah satu momen favorit gue adalah saat Keret menulis tentang mengantar anaknya yang masih 3 tahun ke taman bermain, dan ditanyai Ibu-Ibu di sana: ‘Apakah anak anda akan ikut wajib militer?’ Refleksi dia soal kebijakan politik Israel, etika wajib militer, dan segudang pemikiran lain hampir bikin saya menangis.”
5 Pejuang HAM Selain Munir & Thukul
Baru-baru ini, kisah penyair cum aktivis Wiji Thukul diangkat dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Kisah aktivis Munir Said Thalib juga sudah pernah kami bahas secara mendalam di newsletter 10 Tahun Munir. Sikap aktivis HAM yang kritis seringkali tidak sejalan dengan agenda pemerintah. Mereka pun tidak dianggap sebagai pilar dalam demokrasi, tapi sebagai musuh keamanan nasional yang perlu disingkirkan.
Nasib inilah yang menimpa Munir dan Wiji Thukul – sementara cak Munir dibunuh dalam perjalanan pesawat ke Amsterdam di tahun 2004, Wiji Thukul hilang sejak tahun 1998 dan tak diketahui nasibnya sampai sekarang.
Tapi, sepanjang sejarah Indonesia, ada banyak sekali pejuang HAM yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk sesama. Dari sekian banyak pejuang itu, kami memilih lima nama yang terbilang spesial.
1. Aleta Baun

Perjuangan Mama Aleta, begitu ia biasa disapa, dimulai pada tahun 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan kehutanan. Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara, mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan.
Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.
2. Asmara Nababan

Asmara mendapat tempat di hati publik saat berkiprah sebagai Sekertaris Jenderal Komnas HAM (1993-1998). Ia mengubah Komnas HAM yang semula hendak dijadikan sebagai alat pencitraan kekuasaan Orde Baru, menjadi lembaga kontrol efektif terhadap jalannya kekuasaan pemerintahan Suharto.
Asmara yang pertama kali membongkar keterlibatan satuan elite militer dalam pelanggaran HAM di wilayah tambang Freeport pada tahun 1995-1996. Terbentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di era Presiden BJ Habibie juga tak lepas dari peran Asmara.
3. Yap Thiam Hien

Yap merupakan seorang pengacara yang mengabdikan seluruh hidupnya berjuang untuk menegakan keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak terdakwa yang dibela Yap, seperti Dr. Subandrio yang diduga terlibat Gerakan 30 September. Sepak terjang Yap berlanjut tidak cuma di Indonesia. Ia menjadi pendiri Dewan Kawasan HAM di Asia pada tahun 1980. Hingga tahun 1996, ia dan rekannya mendirikan Lembaga Pembela Hak Azasi Manusia (HAM). Bersama Adnan Buyung Nasution, pada tahun 1970 mereka merintis Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
4. Theys Eulay

Dortheys Hiyo Eluay, dikenal dengan Theys Eulay, merupakan Kepala Suku dan Ketua Presidium Dewan Papua yang menuntut pengakuan kedaulatan terhadap Tanah Papua dari Indonesia. Tuntutan tersebut kemudian diiringi dengan tuntutan pertanggungjawaban pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh aparat Indonesiea terhadap warga asli Papua.
Perjuangan Theys ini kemudian membuka mata semua pihak melihat hak-hak hidup masyarakat harus dipenuhi. Pada tanggal 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay diculik dan lalu ditemukan sudah terbunuh di mobilnya di Skyaland. Supir pribadinya, Aristoteles Maksona, juga menghilang tanpa jejak. Diduga kuat, pembunuhan Theys didalangi oleh Kopassus Tribuna Jayapura.
5. Yosepha Alomang

Bayangkan jika PT. Freeport dilawan oleh seorang Ibu-Ibu, dan mereka kalah. Itulah yang dilakukan oleh Mama Yosepha Alomang. Ia maju ke depan untuk ikut membela hak rakyat lokal yang hilang sejak PT. Freeport masuk ke tanah Papua. Ia juga rutin membentuk berbagai koperasi simpan pinjam yang membantu warga yang melarat setelah tanahnya dirampas tentara, menggalang dana untuk membebaskan aktivis yang ditangkap, dan mengorganisir aksi protes. Setelah bendungan Wanagon runtuh pada tahun 2000 dan menimbulkan kerusakan besar pada kebun, rumah, dan ternak rakyat, Mama Yosepha dan rakyat Amungme demo di depan gedung DPRD dan menuntut ganti rugi dari PT. Freeport.
Ia berhasil. Freeport membayar ganti rugi sebesar 248 ribu dollar, yang digunakan untuk membangun Kompleks Yosepha Alomang. Kompleks tersebut terdiri dari klinik, gedung pertemuan, dan panti asuhan bagi anak yatim.
5 Pejuang HAM Selain Munir & Thukul
Baru-baru ini, kisah penyair cum aktivis Wiji Thukul diangkat dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Kisah aktivis Munir Said Thalib juga sudah pernah kami bahas secara mendalam di newsletter 10 Tahun Munir. Sikap aktivis HAM yang kritis seringkali tidak sejalan dengan agenda pemerintah. Mereka pun tidak dianggap sebagai pilar dalam demokrasi, tapi sebagai musuh keamanan nasional yang perlu disingkirkan.
Nasib inilah yang menimpa Munir dan Wiji Thukul – sementara cak Munir dibunuh dalam perjalanan pesawat ke Amsterdam di tahun 2004, Wiji Thukul hilang sejak tahun 1998 dan tak diketahui nasibnya sampai sekarang.
Tapi, sepanjang sejarah Indonesia, ada banyak sekali pejuang HAM yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk sesama. Dari sekian banyak pejuang itu, kami memilih lima nama yang terbilang spesial.
1. Aleta Baun

Perjuangan Mama Aleta, begitu ia biasa disapa, dimulai pada tahun 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan kehutanan. Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara, mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan.
Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.
2. Asmara Nababan

Asmara mendapat tempat di hati publik saat berkiprah sebagai Sekertaris Jenderal Komnas HAM (1993-1998). Ia mengubah Komnas HAM yang semula hendak dijadikan sebagai alat pencitraan kekuasaan Orde Baru, menjadi lembaga kontrol efektif terhadap jalannya kekuasaan pemerintahan Suharto.
Asmara yang pertama kali membongkar keterlibatan satuan elite militer dalam pelanggaran HAM di wilayah tambang Freeport pada tahun 1995-1996. Terbentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan 13-14 Mei 1998 di era Presiden BJ Habibie juga tak lepas dari peran Asmara.
3. Yap Thiam Hien

Yap merupakan seorang pengacara yang mengabdikan seluruh hidupnya berjuang untuk menegakan keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak terdakwa yang dibela Yap, seperti Dr. Subandrio yang diduga terlibat Gerakan 30 September. Sepak terjang Yap berlanjut tidak cuma di Indonesia. Ia menjadi pendiri Dewan Kawasan HAM di Asia pada tahun 1980. Hingga tahun 1996, ia dan rekannya mendirikan Lembaga Pembela Hak Azasi Manusia (HAM). Bersama Adnan Buyung Nasution, pada tahun 1970 mereka merintis Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
4. Theys Eulay

Dortheys Hiyo Eluay, dikenal dengan Theys Eulay, merupakan Kepala Suku dan Ketua Presidium Dewan Papua yang menuntut pengakuan kedaulatan terhadap Tanah Papua dari Indonesia. Tuntutan tersebut kemudian diiringi dengan tuntutan pertanggungjawaban pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh aparat Indonesiea terhadap warga asli Papua.
Perjuangan Theys ini kemudian membuka mata semua pihak melihat hak-hak hidup masyarakat harus dipenuhi. Pada tanggal 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay diculik dan lalu ditemukan sudah terbunuh di mobilnya di Skyaland. Supir pribadinya, Aristoteles Maksona, juga menghilang tanpa jejak. Diduga kuat, pembunuhan Theys didalangi oleh Kopassus Tribuna Jayapura.
5. Yosepha Alomang

Bayangkan jika PT. Freeport dilawan oleh seorang Ibu-Ibu, dan mereka kalah. Itulah yang dilakukan oleh Mama Yosepha Alomang. Ia maju ke depan untuk ikut membela hak rakyat lokal yang hilang sejak PT. Freeport masuk ke tanah Papua. Ia juga rutin membentuk berbagai koperasi simpan pinjam yang membantu warga yang melarat setelah tanahnya dirampas tentara, menggalang dana untuk membebaskan aktivis yang ditangkap, dan mengorganisir aksi protes. Setelah bendungan Wanagon runtuh pada tahun 2000 dan menimbulkan kerusakan besar pada kebun, rumah, dan ternak rakyat, Mama Yosepha dan rakyat Amungme demo di depan gedung DPRD dan menuntut ganti rugi dari PT. Freeport.
Ia berhasil. Freeport membayar ganti rugi sebesar 248 ribu dollar, yang digunakan untuk membangun Kompleks Yosepha Alomang. Kompleks tersebut terdiri dari klinik, gedung pertemuan, dan panti asuhan bagi anak yatim.
8 Pahlawan ‘Alternatif’ Pilihan Pamflet
Indonesia punya sejarah panjang yang penuh cerita seru, inspiratif, sekaligus bikin geleng-geleng kepala. Dan selain pahlawan-pahlawan nasional yang lebih mainstream seperti Bung Karno dan Bung Hatta, ada segudang pahlawan ‘alternatif’ yang juga bisa kita banggakan. (lebih…)
8 Pahlawan ‘Alternatif’ Pilihan Pamflet
Indonesia punya sejarah panjang yang penuh cerita seru, inspiratif, sekaligus bikin geleng-geleng kepala. Dan selain pahlawan-pahlawan nasional yang lebih mainstream seperti Bung Karno dan Bung Hatta, ada segudang pahlawan ‘alternatif’ yang juga bisa kita banggakan. (lebih…)