Halaman Kami: Dokumentasi Seni dan Ekspresi Remaja Tanah Merah
Jakarta, 2025 – Pamflet Generasi dengan sukaria mengumumkan perilisan Extended Play (EP) “Halaman Kami”, sebuah proyek inovatif yang mengarsipkan praktik artistik remaja Tanah Merah pasca-pelatihan kolaboratif Suka Ria Remaja bersama Sanggar Anak Harapan. Suka Ria Remaja adalah program inisiatif Pamflet yang didukung oleh EMpower — The Emerging Markets Foundation dengan tujuan untuk mendorong partisipasi aktif remaja dalam menyuarakan hak-hak mereka terkait kesehatan seksual dan reproduksi serta kesehatan mental. Sejak tahun 2022, Suka Ria Remaja turut membersamai proses belajar dan berkreasi di ‘halaman’ Sanggar Anak Harapan di Tanah Merah, Jakarta Utara untuk mendorong lebih banyak lagi remaja di Indonesia merayakan kehidupan mereka.
EP “Halaman Kami” merupakan bagian dari inisiatif strategis Pamflet Generasi dan Sanggar Anak Harapan dalam mengembangkan produk pembelajaran dengan pemanfaatan seni sebagai medium ekspresi. Sejak 2023, program ini mulai menggunakan musik dan seni sebagai sebagai cara pendokumentasian, menghubungkan pengalaman subjektif remaja dengan isu-isu yang lebih luas, seperti kesehatan mental serta hak kesehatan seksual dan reproduksi. Selama proses ini, para peserta tidak hanya mengembangkan keterampilan dalam produksi musik, tetapi juga mengeksplorasi dimensi advokasi, komunitas, dan otonomi dalam berekspresi.
Data SIMFONI PPA 2023 mencatat 380 kasus kekerasan terhadap anak di DKI Jakarta, mencerminkan tantangan yang dihadapi remaja. Musik dalam “Halaman Kami” hadir sebagai salah satu usaha untuk merespons statistik ini, menyoroti bahwa di balik angka-angka tersebut, terdapat individu subjek dengan narasi dan pengalaman yang layak untuk diartikulasikan. Karena itu, album ini berfungsi sebagai dokumentasi utuh atas ekspresi kreatif remaja Tanah Merah, sekaligus sebagai sarana diseminasi yang memungkinkan publik lebih luas untuk mengakses dan memahami perspektif remaja.
EP “Halaman Kami” terdiri dari lima komposisi musik original yang menggambarkan pengalaman, aspirasi, dan kondisi sosial yang dihadapi para remaja. Setiap lagu bukan sekadar karya seni, melainkan suatu bentuk pernyataan atas identitas dan perjuangan mereka dalam menghadapi realitas yang kerap termarginalisasi. Melalui eksplorasi lirik dan aransemen yang mereka kembangkan sendiri, EP ini merepresentasikan upaya kolektif untuk menegaskan hak ekspresi artistik anak muda dalam konteks yang lebih luas.
Daftar Lagu “Halaman Kami”
- Di Mana Hak Ku – Dibawakan oleh Rina Mardhatila, ditulis oleh Rina Mardhatila
- Ingin Bahagia – Dibawakan oleh Jesika Kristina Simbolon, ditulis oleh Muhammad Abdul Rafi, M. Umar, Juwita Fara Adibah
- Aku Ingin Bebas – Dibawakan dan ditulis oleh Muhammad Saputra
- Jangan Sedih – Dibawakan oleh Siti May Saro, ditulis oleh Azyla Azarrahmah & Siti May Saro
- Kami di Sini – Dibawakan oleh Dikky Takiyudin, Jesika Kristina Simbolon, Muhammad Saputra, Unayah, ditulis oleh Dikky Takiyudin

Setiap lagu dalam EP ini diproduseri oleh Lashkar Nando dari Rekah, sebuah kolektif musik independen berbasis di Jakarta. Proses aransemen dan penggubahan lagu dari awal dilakukan oleh Grace Angela yang merupakan guru di Sekolah Harapan dan juga terlibat sebagai salah satu fasilitator dari kegiatan Suka Ria Remaja. Proses produksi dilakukan secara partisipatif, dengan setiap remaja berkontribusi dalam berbagai aspek kreatif, mulai dari konseptualisasi, penulisan lirik, hingga latihan persiapan rekaman. Sehingga produk akhir berhasil mencerminkan narasi autentik ala remaja.

EP “Halaman Kami” telah dirilis secara digital di berbagai platform streaming pada 14 Februari 2025. Selanjutnya, Pamflet Generasi akan merilis set buku album yang berjudul Panduan Bermain di Halaman Kami yang mencakup dokumentasi visual dan reflektif yang dapat memberikan wawasan tambahan mengenai proses kreatif di balik produksi album ini. Panduan Bermain di Halaman Kami dapat diakses segera melalui kanal media sosial Pamflet Generasi dan Sanggar Anak Harapan!
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
🌐 Situs web: www.pamflet.or.id | www.yayasanharapan.or.id
📩 Surel: halo@pamflet.or.id | sanggar.sah@gmail.com
📱 Instagram: @pamfletgenerasi | @sanggar.anakharapan
🎥 YouTube: Pamflet Generasi | Sanggar Anak Harapan
🎶 Spotify: Sanggar Anak Harapan
Melamun di Kali Code: Melihat Sejarah Sehari-hari Kota Jogja yang Terabaikan
Ditulis oleh: Ken Penggalih
Kali Code adalah salah satu sungai yang membentangi Kota Jogja dari arah utara ke selatan, dan memegang fungsi besar untuk kehidupan warga Kota Jogja. Selain menjadi jalur aliran material erupsi Gunung Merapi, bantaran Kali Code juga menjadi tempat bermukim bagi banyak warga Kota Jogja. Dengan berbagai dinamikanya, Kali Code berperan sebagai saksi yang menyimpan beragam cerita dan sejarah manusia dan ruang hidupnya di Kota Jogja. Meski demikian, cerita dan sejarah di Kali Code kerap kali dinomorduakan, diabaikan oleh manusia yang melintasi jalanan di atasnya.
Dalam rangka menilik lebih dekat dinamika ruang kehidupan warga Jogja di Kali Code, Pamflet Generasi berkolaborasi dengan Kolektif Arungkala untuk mengadakan kegiatan Melamun pada hari Sabtu, tanggal 18 Januari 2025 lalu. Melamun sendiri adalah wadah diskusi yang meletakkan orang muda sebagai aktor utama proses produksi dan reproduksi pengetahuan yang berangkat dari pengalamannya. Pada edisi Kali Code, Pamflet dan Arungkala menyatukan dua metode reproduksi pengetahuan, Walk The Past dan Melamun. Walk The Past menawarkan tur berjalan kaki untuk menelusuri sejarah alternatif dari sudut pandang orang biasa. Lalu, informasi yang diperoleh selama tur direfleksikan dan diinterpretasikan ulang dalam berbagai konteks kekinian sesuai dengan pengalaman peserta. Semuanya kemudian diarsipkan dalam bentuk zine.
Tur berjalan kaki Walk the Past kali ini menggunakan rute Mangkubumi-Jogoyudan, yang memiliki tiga titik pemberhentian utama untuk melihat sejarah sehari-hari Kali Code. Bersama Amos dan Lestari dari Kolektif Arungkala, sejarah yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala dan dibagikan melalui tur berjalan kaki Walk the Past berfungsi sebagai pemantik diskusi dan refleksi bagi para peserta.

“Walk the Past ingin mencari sejarah sehari-hari dan sejarah orang biasa yang tidak ditulis di buku sejarah. Kita biasanya menggunakan kliping, koran-koran, dan arsip-arsip,” jelas Amos ketika membuka kegiatan tur berjalan kaki Walk the Past di titik pertama, yaitu kantor harian Kedaulatan Rakyat. Kantor harian Kedaulatan, yang berada di Jalan Mangkubumi, merupakan salah satu kantor berita terlama di Jogja. Harian Kedaulatan Rakyat merupakan salah satu koran sumber arsip yang menuliskan kisah sehari-hari orang biasa yang biasanya tidak ditulis di buku sejarah, salah satunya kisah keseharian warga Kali Code. Selain kantor harian Kedaulatan Rakyat, Kota Jogja juga memiliki Jogja Library Center sebagai institusi yang mengarsipkan berbagai sejarah orang biasa di Jogja dan Kali Code. Ternyata, sejarah sehari-hari yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala tidak selalu menggunakan media dengan format tulisan berita yang umumnya ditemukan, tetapi juga memakai media lain seperti iklan produk-produk sehari-hari.
Setelah melihat monumen sumber pengarsipan sejarah sehari-hari di Kota Jogja, peserta berjalan ke arah selatan untuk melihat Hotel Toegoe dengan “mengintip” melalui lubang-lubang kecil di pagarnya. “Mengintip” ke dalam Hotel Toegoe menjadi sebuah aktivitas yang menyimbolkan limitasi akses sejarah sehari-hari di Kali Code, dan juga Kota Jogja. Usut punya usut, limitasi akses sejarah sehari-hari yang terjadi di Hotel Toegoe berakar dari praktik privatisasi Hotel Toegoe sebagai situs cagar budaya. Hotel Toegoe merupakan hotel yang dibangun pada zaman kolonial dan merupakan salah satu hotel termewah di Kota Jogja pada zaman itu. Sejak zaman kemerdekaan, Hotel Toegoe berhenti beroperasi dan dinasionalisasi sampai tahun 1960-an, dan, setelahnya, diprivatisasi oleh sebuah yayasan milik keluarga di Jogja. Meski mendapatkan status sebagai cagar budaya, bangunan Hotel Toegoe dibiarkan rusak terbengkalai, dan akses umum untuk masuk ke dalam situsnya dijaga ketat oleh satpam dan dikelilingi dengan pagar yang menjulang tinggi.
“Kalau mau lihat hotelnya, harus ada izin dari yayasan,” ucap salah seorang satpam yang menjaga lokasi Hotel Toegoe. Selain tentang privatisasi cagar budaya dan sumber sejarah, Hotel Toegoe juga menyimpan cerita tentang perjuangan buruh di Jogja dan ketimpangan sosial yang terjadi di Jalan Mangkubumi. Dalam salah satu arsip Kolektif Arungkala, pekerja Hotel Toegoe, yang saat itu disebut sebagai “djongos”, melakukan mogok kerja untuk menuntut upah lebih dari manajemen Hotel Toegoe, yang akhirnya tidak dipenuhi oleh pihak hotel.

Cerita tentang ketimpangan sosial juga dialami oleh pemukiman sekitar Hotel Toegoe, yang tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan pembangunan hotel dan infrastruktur di daerah tersebut. “Jadi, jalan ini dari zaman kolonial selalu dipermak… Selalu dipermak dan dibangun infrastrukturnya, tapi sebenarnya yang jadi pekerja tidak dikasih perhatian yang sama dengan jalan ini. Mereka dibiarkan saja untuk membangun pemukiman di belakang jalan ini,” jelas Amos.

Perjalanan tur berjalan kaki Walk the Past dilanjutkan dengan menyusuri bantaran Kali Code untuk secara langsung melihat penataan ruang pemukiman bantaran Kali Code. Selama menyusuri pemukiman di bantaran Kali Code, peserta diminta untuk meminimalisir penggunaan HP agar dapat merasakan lebih dekat kehidupan warga yang bermukim di bantaran Kali Code dan juga keruangan di pemukiman tersebut. Di titik terakhir perjalanan tur berjalan kaki ini, restrukturisasi pemukiman di bantaran Kali Code menjadi titik berat perhatian dari cerita sehari-hari yang berusaha dialami secara langsung oleh peserta.
“Di arsip, bisa dilihat ruang di Sungai Code itu rawan bencana secara kontur, dan banjir parah sering terjadi sebelum ada penataan ulang,” ucap Amos. Di sejarah sehari-hari pemukiman di bantaran Kali Code, terdapat satu tokoh penting, yaitu YB Romo Mangun, yang melakukan penataan ulang pemukiman sebagai salah satu upaya untuk menangani permasalahan tersebut. Penataan ulang pemukiman ini dilakukan dengan mengubah arah pintu depan rumah-rumah di pemukiman bantaran Kali Code, yang awalnya membelakangi Kali Code, menjadi menghadap ke arah Kali Code. Harapannya, ketika pintu pintu depan dibuka dan langsung memperlihatkan Kali Code, masyarakat akan mengetahui kondisi lingkungan Kali Code dengan melihat secara langsung melalui pintu depan sehingga terdorong untuk turut menjaga kebersihan Kali Code. Dengan dilakukannya penataan ulang pemukiman di bantaran Kali Code, banjir perlahan-lahan dapat tertangani.
Selepas menyusuri bantaran Kali Code untuk melihat keruangan permukiman warga, peserta berjalan ke VRTX Compound untuk melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu membuat zine. Sebagai wadah untuk merefleksikan pengalaman berjalan menyusuri Kali Code, sesi membuat zine di kegiatan Melamun kali ini diawali dengan mendiskusikan beberapa pertanyaan pemantik dari Pamflet Generasi sebagai fasilitator. Diskusi yang terbangun di forum Melamun kali ini berusaha untuk bertukar pengalaman pribadi sembari merefleksikannya dengan kompleksitas cerita sehari-hari yang ditemukan selama tur berjalan kaki.

Sejarah Sehari-Hari di Kali Code yang Terasa Dekat
Bagi Zefan, seorang warga Jogja yang juga bertempat tinggal di sekitar Kali Code, warga yang bermukim di daerah bantaran Kali Code memiliki tantangan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan terkecilnya, misalnya sumber air yang layak, udara bersih, dan tata letak pemukiman. Meski demikian, tantangan ini dapat berbeda-beda, bahkan antar pemukiman bantaran Kali Code di lokasi yang berbeda, seperti di daerahnya dengan daerah kampung Jogoyudan. Jika dibandingkan dengan kampung Jogoyudan, Zefan melihat bahwa daerah pemukiman yang ia tinggali terasa asri karena ditanami dengan berbagai pohon dan masih terdapat banyak sumur air bersih di pinggir sungai.
Peserta lain yang juga berasal dari Jogja, Bima, menambahkan cerita lain tentang perbedaan realita di daerah Kali Code. Bima bercerita bahwa banyak kafe-kafe yang dibangun di bagian atas bantaran Kali Code, sedangkan pemukiman dibangun di bawahnya, yaitu di area yang langsung menghadap ke Kali Code. Sebagai warga Jogja, Bima merasa perbedaan penggunaan keruangan yang ada di Kali Code ini menjadi dinamika fungsi sosial tata ruang yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut.
Berbicara tentang ketimpangan, Rifki juga merefleksikan fenomena ketimpangan ekonomi yang masih terus terjadi di Jogja hingga saat ini. Bima kemudian menekankan kembali cerita perjuangan djongos-djongos di Hotel Toegoe yang melakukan mogok kerja untuk menuntut upah yang layak. Berkaca pada sejarah perjuangan tersebut, Bima menyimpulkan bahwa isu ketimpangan upah yang sering disuarakan di Jogja, sebagai salah satu provinsi dengan nominal upah terkecil di Indonesia, sudah terjadi bahkan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.
Merefleksikan Pengalaman Pribadi di Tempat Asal dengan Cerita Sehari-Hari di Kali Code
Randa, seorang teman Tuli yang berasal dari Kalimantan, menemukan perbedaan dan juga kesamaan antara fungsi sungai di tempat asalnya dengan Kali Code. Randa bercerita bahwa di Kalimantan, sungai memiliki kaitan yang erat dengan kegiatan ritus dan spiritual masyarakat. Berbeda dengan Kali Code yang berfungsi sebagai tempat bermukim, sungai-sungai di Kalimantan seringkali digunakan untuk melarung sesaji yang setelah digunakan untuk ritual. Menurut kepercayaan orang Kalimantan, melepaskan sesaji di sungai setelah ritual di sungai merupakan salah satu bentuk untuk mendapatkan perlindungan dari marabahaya.
Peserta lainnya dari Banjarmasin, Box, menuturkan bahwa bagi masyarakat Banjar, sungai bukan sekadar sumber daya alam, tetapi juga dingsanak (saudara). Sungai memegang peranan yang begitu vital dalam kehidupan sehari-hari—tidak hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, tetapi juga sebagai jalur transportasi untuk membawa hasil panen. Bahkan, sungai menjadi pusat ekonomi dengan adanya Pasar Terapung, di mana masyarakat menjual hasil panen mereka langsung di atas air. Rumah-rumah di tepian sungai pun umumnya menghadap ke sungai, mencerminkan filosofi “Kedaulatan Atas Sungai” yang menjadikan masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian sungai.
Meskipun memiliki konteks sosial dan budaya yang berbeda, baik di Kalimantan maupun di Jogja, sungai tetap menjadi nadi kehidupan masyarakat, membentuk interaksi, ekonomi, dan bahkan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitarnya.
Tentang Resiliensi dalam Menghadapi Kerentanan di Ruang Hidup
Fai dan Flo menanggapi pertanyaan pemantik ini dengan mengangkat kembali berita “Korban Spoor”, salah satu sejarah sehari-hari tentang warga Kampung Jogoyudan yang tertabrak kereta di jembatan kampungnya yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala. Fai dan Flo mengobservasi bahwa banyak kompromi yang akhirnya harus dibuat dalam menghadapi tata ruang infrastruktur yang berdekatan dengan tempat hidup sehari-hari. Misalnya, banyak kecelakaan yang terjadi di rel kereta dekat pemukiman sehingga harus lebih berhati-hati dan menutup rel kereta tersebut.
Amos kemudian menambahkan isu krisis air di Jogja ke dalam bahan refleksi di pertanyaan pemantik ketiga. Amos menjelaskan bahwa isu krisis air merupakan salah satu krisis iklim yang wujud dan dampaknya paling dekat dan terasa jelas bagi masyarakat. Terlebih di Jogja, kondisi krisis air diperparah dengan praktik pembangunan massal, terutama hotel-hotel besar, yang tidak memperhatikan jarak dengan area pemukiman. Oleh karena itu, isu krisis air merupakan salah satu isu besar yang sedang gencar diadvokasikan oleh pegiat-pegiat di Jogja.
Zine sebagai Wadah Menuangkan Refleksi Sejarah Sehari-hari di Kali Code
“Bukan hanya tentang menangani banjirnya, tetapi juga tentang pengetahuan masyarakatnya, …, justru itu yang menurut aku juga penting,” ucap Wucha ketika membagikan hasil refleksi pengalamannya berjalan menyusuri pemukiman di bantaran Kali Code. Sebagai warga Jogja yang sering beraktivitas dengan kelompok anak-anak Kali Code, Wucha awalnya merasa sudah familiar dengan dinamika kehidupan di Kali Code. Meski demikian, Wucha merasa tersentil ketika menemukan sebuah tulisan yang menceritakan tentang hewan-hewan hanyut ketika Kali Code mengalami kebanjiran. Bagi Wucha, tulisan ini menjadi pengingat bahwa ruang hidup tidak melulu tentang infrastruktur fisik, melainkan juga ekosistem di dalamnya secara keseluruhan, termasuk berbagai makhluk hidup lain selain manusia. Wucha kemudian mengarsipkan refleksinya ke dalam zine dengan menggambar sebuah rumah dan kucing.
Refleksi dari Wucha menjadi penutup kegiatan Melamun edisi Kali Code sekaligus renungan bahwa kita terkadang mengabaikan cerita-cerita penting yang kita rasa dekat. Melamun edisi Kali Code kemudian menjadi wadah sederhana bagi orang muda untuk melihat kembali Kali Code sebagai salah satu ikon kota Jogja. Tidak hanya menilik infrastruktur pendukung yang ada Kali Code, tetapi juga merefleksikan Kali Code sebagai ruang hidup yang kompleks, dan memiliki ekosistemnya tersendiri dan berbagai lapisan cerita sehari-hari di dalamnya.
Tempat Sampah
Ditulis oleh: Ferena Debineva
Kota Kapita adalah kota yang kecil yang padat penduduk. Di kota itu, setiap rumah dan ruko, gedung kantor serta pakaian hanya boleh berwarna hitam dan putih. Penduduk kota Kapita tidak boleh bertutur sepatah kata pun kecuali memiliki surat izin khusus bicara. Izin khusus tersebut dikeluarkan oleh Kantor Gubernur Kota Kapita, yang untuk mendapatkan izin tersebut, penduduk harus mengantre 1 (satu) bulan lamanya hanya untuk mendapatkan waktu 15 menit bicara, dan itu pun hanya berlaku selama 3 (tiga) bulan. Di Kota Kapita, tidak ada suara klakson, mobil ambulans, bel, suara anak-anak bermain, atau bahkan suara remah keripik.
Anjing dan kucing jalanan juga sudah kehilangan pita suaranya, setelah operasi besar-besaran tiga bulan lalu. Bahkan ayam malas berkokok dan burung takut bernyanyi, sejak polisi-polisi tersebut menyiapkan penjara khusus hewan yang terletak di ruang bawah tanah Kantor Gubernur.
Kota Kapita dijaga oleh Polisi Kata yang memantau seluruh warganya di mana pun mereka berada. Setiap sudut dipasang kamera pengintai, setiap telepon dipasang dengan alat penyadap dan timer. Pemandangan ketika penduduk ditangkap oleh polisi kemudian diseret ke penjara hanya karena melanggar waktu bicara bukanlah sesuatu yang asing. Korban terbaru adalah Isha, seorang pemuda yang mengalami kecelakaan, namun alih-alih dilarikan ke rumah sakit, Isha diseret ke penjara tepat setelah dirinya tidak lagi dapat menahan diri, mengerang dan mengeluarkan kata “Aduh”.
Pemerintah Kota Kapita mengatur segala hal, namun yang paling utama adalah kata. Pemerintah kota Kapita mengeluarkan aturan mengenai kata-kata dan bicara sejak 5 tahun lalu, sejak adanya demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Gubernur. Sejak saat itu pula tidak pernah ada pemungutan suara, karena tentunya, tidak perlu ada pemilihan dan tidak perlu ada suara. Pemerintah Kota Kapita kemudian menerbitkan aturannya dalam sebuah buku yang sangat tebal bernama Aturan Kota Kapita. Isi buku tersebut harus diajarkan dan harus dihafalkan semua orang tanpa kecuali. Di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, bahkan di jalan-jalan. Aturan-aturan tersebut diperdengarkan setiap pagi melalui pengeras suara yang dipasang di setiap sudut jalan kota.
Namun, ada satu hal yang sepertinya lupa diatur oleh Pemerintah Kota Kapita, yaitu: tempat sampah. Hanya saja, pemerintah merasa tidak perlu terlalu khawatir. Karena bagi mereka, warganya sebenarnya sama saja dengan sampah kota: sisa, tidak berguna, bau, dan tidak ada yang peduli.
Suatu hari, Toya, seorang anak yang masih berumur 7 tahun tengah bermain-main bersama teman-teman sebayanya. Hari itu mereka memutuskan untuk bermain petak umpet, meski beberapa kali dilarang oleh orang tua mereka. Toya sangat bersemangat ketika melihat tempat sampah di samping rumah Asha yang berisi tumpukan kardus bekas, dan memutuskan untuk masuk dan bersembunyi di dalamnya. Toya berusaha menahan mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak tertawa cekikikan. Dua jam berlalu, teman-teman Toya sudah lelah mencari Toya dalam jalanan kota yang hening. Teman-teman yang lain sudah ditemukan dan matahari mulai tergelincir. Mereka memutuskan membubarkan diri karena menyerah mencari Toya, apalagi karena mereka belum mempunyai tiket bicara, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa memanggil Toya.
Jam menunjukkan pukul 6 sore, Toya belum juga ditemukan. Toya masih bersembunyi di tempat sampah dan menunggu teman-temannya mencari dirinya. Ia tidak menyadari bahwa teman-temannya sudah pulang ke rumah masing-masing. Ibunya yang cemas akhirnya mencoba mencari Toya. Ia mengambil buku catatan dan mulai mendatangi satu persatu rumah tetangganya, tapi mereka hanya menggeleng.
Ibu Toya mulai cemas. Ia hanya memiliki sisa waktu bicara 10 detik yang dia simpan dari 3 bulan lalu. Dengan daster hitam putihnya, Ibu Toya keluar mencari keberadaan Toya di lengangnya kota. Ia mulai memanggil “Toya… Toya… pulang”, sementara Polisi Kata memegang timer untuk menghitung waktu. Tidak lama kemudian, terdengar suara isak tangis dari tempat sampah berwarna biru di samping rumah Asha. Ibu Toya mendelik, melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara. Wajahnya pucat pasi, ia sangat mengenal suara itu.
Polisi Kata bersigap setelah mendengar suara tersebut muncul dari dalam tempat sampah. Polisi itu mendekat, dan Ibu Toya semakin tercekat. Waktu bicaranya sudah habis, sedangkan Toya tidak memiliki waktu bicara. Polisi itu kemudian berhenti, mengeluarkan buku Aturan Khusus Kota Kapita dan mulai membaca. Ibu Toya berhenti mematung dan menunggu.
Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh menit berlalu. Polisi itu masih membolak-balik halaman buku Aturan Kota Kapita. Polisi itu memutarbalikkan buku tersebut, mengecek kembali setiap halamannya, lalu selanjutnya menghela nafas dan beranjak pergi. Kekesalan terukir jelas di wajahnya. Ia tidak berhasil menangkap Toya karena tidak ada aturan yang menuliskan tentang tempat sampah, bahkan di bab khusus mengenai aturan berbicara. Setelah melihat Polisi Kata sudah pergi, Ibu Toya berlari mendekati tempat sampah dan menemukan Toya yang tengah tersedu lirih. Ibu Toya mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya, memaksa Toya berhenti menangis, dan menggendongnya pulang.
Sejak kejadian Toya di tempat sampah itu, gosip dengan cepat beredar lewat tulisan-tulisan tangan, “Toya tidak ditangkap”, “Boleh menangis di tempat sampah”, “Tidak ada aturan bicara di tempat sampah”. Maka sejak saat itu, penduduk secara sembunyi-sembunyi berusaha masuk ke tempat sampah mereka masing-masing untuk bicara. Polisi Kata lagi-lagi mencoba mendekat dan tidak menemukan aturan apa pun, yang membuat kota Kapita heboh dalam kesunyian.
Melihat hal tersebut benar terjadi, orang-orang mulai secara terang-terangan masuk ke tempat sampah yang lebih besar untuk berbincang-bincang. Tempat sampah di rumah masing-masing sudah penuh antrean. Mulai dari antrean ayah yang sedang bertengkar dengan ibu, kakak yang sedang mengajari adiknya untuk mengerjakan soal, bahkan tetangga yang mengantre di tempat sampah tetangganya yang lain karena tempat sampah di rumahnya sudah terlalu panjang antreannya.
Walhasil, jumlah tempat sampah tidak mampu menandingi jumlah orang yang mengantre di tempat sampah. Ya, kini orang-orang yang mengantre kuota kata di Kantor Gubernur semakin berkurang, dan yang mengantre di tempat sampah semakin banyak.
Pada awalnya, diskusi di tempat sampah adalah diskusi basa-basi. Semakin lama, perbincangan yang ada di tempat sampah semakin beragam. Ada yang menyatakan cinta di tempat sampah dekat rumah kekasihnya. Ada juga anak-anak yang mencoba mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Ada juga yang masuk ke tempat sampah hanya untuk bermain ular tangga. Para pejabat diam-diam mulai membangun tempat sampah yang besar untuk diletakkan di dalam rumah. Sementara orang-orang tua mulai mencoba masuk ke tempat sampah yang lebih lebar lagi.
Perbincangan di tempat sampah makin lama menjadi semakin menarik. Penduduk mulai mencoba untuk memindahkan kegiatan sehari-hari mereka ke tempat sampah. Ibu Olli mengirimkan undangan tulisan kepada teman-temannya untuk berdiskusi siang ini mengenai rencana arisan di tempat sampah dekat kantor pos. Tempat sampah itu dipilih karena ukurannya yang cukup besar, bisa menampung hingga enam orang sekaligus, dan sampah yang dihasilkan kantor pos kebanyakan adalah sampah kering berupa kertas. Ibu Olli sibuk berdandan seharian, sementara suaminya hanya geleng-geleng kepala.
Sore itu ternyata yang hadir untuk arisan melebihi ekspektasi Ibu Olli. Tetangga yang datang berjumlah sepuluh, sementara kapasitas tempat sampah hanya muat enam orang. Akhirnya, delapan orang dipaksa masuk dan berdesak-desakan dalam tempat sampah yang sempit. Sementara dua orang lagi, memutuskan untuk membawa tempat sampahnya sendiri, dan membalik tempat sampah tersebut untuk menutup kepala mereka. Meskipun rambut, baju, dan riasan mereka kacau balau terkena sampah, mereka pulang dengan hati yang gembira. Hal tersebut menciptakan pemandangan yang lucu sekaligus menyegarkan. Polisi-polisi Kata pun kewalahan berusaha mengikuti warga satu per satu. Sekarang hampir setiap penduduk berkumpul di dekat tempat sampah.
Kehebohan tempat sampah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Salah satu musisi yang terkenal, Piyo, berencana membuat sebuah konser musik di tempat sampah. Piyo berpikir keras karena tentunya penonton konser musik lebih besar dari jumlah anggota arisan ibu Olli. Piyo kemudian berkeliling kota dan melakukan survei perbandingan antar tempat sampah. Sampai akhirnya dia menemukan tempat pembuangan sampah akhir di pinggir kota, yang tumpukan sampahnya setinggi 5 meter.
Piyo mulai merencanakan konser tersebut bersama teman-temannya. Di tempat sampah dekat sekolah adiknya, Piyo membagikan tiket-tiket konser bertuliskan tangan untuk dijual ke tetangga, dan memberikan tugas bagi rekan-rekannya untuk persiapan konser musiknya. Tiket-tiket itu kemudian laku keras, dan habis dalam waktu 2 hari. Piyo menyiapkan kembali tiket-tiket bertuliskan tangan baru untuk dijual, dan kembali habis keesokan harinya. Ternyata, penduduk kota sangat menantikan konser musik tempat sampah yang sudah lama sekali tidak pernah diadakan.
Pada hari konser, antrean menuju tempat pembuangan sampah akhir panjang mengular. Bahkan ada calo yang membawa tempat sampah di kepala mereka masing-masing untuk menjajakan tiket. Beberapa calo juga menjajakan tempat sampah mini yang hanya muat di kepala sebagai suvenir untuk dibawa pulang. Hari itu, setiap orang yang merayakan konser musik, pulang dengan senyum di wajah mereka, meskipun baju dan kepala mereka penuh dengan sisa sampah kulit pisang yang membusuk, basah dari air bekas botol minuman, atau potongan sampah plastik kemasan dari pencuci pakaian.
Sejak konser itu, Polisi-polisi Kata mulai gerah, terutama karena antrean kuota bicara di Kantor Gubernur semakin menghilang, dan semakin banyak orang yang mengantre di tempat pembuangan sampah akhir. Saking geramnya, kantor Gubernur mengeluarkan aturan penutupan tempat sampah akhir.
Sejak ditutupnya tempat pembuangan sampah akhir, warga menjadi sangat marah. Kebun dan rumah penduduk Kota Kapita menjadi penuh sampah. Penduduk kota Kapita mulai membuang sampah ke jalan-jalan, ke sekolah-sekolah, dan ke kantor-kantor; termasuk ke Kantor Gubernur. Kota Kapita berubah menjadi kota yang penuh sampah. Karena itu, penduduk Kota Kapita mulai berbicara di rumah, kebun, dan jalan-jalan yang sekarang sudah berubah menjadi tempat sampah.
Gubernur Kota Kapita semakin geram, dan berusaha menangkap seluruh penduduk Kota Kapita dan membuang mereka ke tempat sampah. Polisi Kata yang mengejar penduduk ke sana kemari juga sudah kelelahan. Penduduk Kota Kapita beramai-ramai membawa tempat sampah mereka ke Kantor Gubernur dan membuang sampah-sampah mereka di sana.
Gubernur berteriak-teriak memberikan perintah sambil menunjuk Aturan Kota Kapita. Penduduk yang marah merebut dan menyobek buku Aturan Kota Kapita dan menyumpal mulut Gubernur dengan lembar-lembar tersebut. Mereka kemudian beranjak pergi sambil tertawa. Gubernur masih meminta tolong dari balik meja. Namun, tidak ada lagi yang mendengarkan. Kata-katanya sudah dianggap sebagai sampah.
Biografi:
Ferena Debineva adalah seorang peneliti psikologi sosial yang menyajikan kisah sehari-hari dalam karyanya sebagai kritik ssoail. Cerpen-cerpen berusaha untuk menggambarkan realitas sosial melalui lensa fiksi yang kuat dan autentik sering kali terinspirasi oleh isu-isu gender, kesetaraan, dan inklusi sosial.
Melamun bersama Pamflet Generasi: Orang Muda dan Masa Depan Kopi di Tengah Krisis Iklim
Ditulis oleh: Anggita Raissa
Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang muda di Indonesia. Terlebih, menjamurnya gerai kopi nan estetik telah mewadahi tren minum kopi orang muda—menjadikan aktivitas “ngopi” sebagai sebuah gaya hidup.
Seturut data dari Jakpat, persentase Gen Z di Indonesia yang meminum kopi setiap harinya berjumlah 66%. Sebanyak 37% orang meminum kopi untuk meningkatkan fokus saat bekerja dan sebanyak 45% peminum kopi menjadikan ngopi sebagai sarana untuk bersosialisasi.
Namun, kopi, minuman yang begitu dicintai itu, kini menghadapi ancaman serius dari krisis iklim. Perubahan iklim memengaruhi produksi kopi secara signifikan, terutama di negara-negara produsen seperti Indonesia.
Merespons tantangan tersebut,, Pamflet Generasi mengadakan kegiatan “Melamun” dengan tema “Masa Depan dalam Cangkir Kopi” pada Minggu, 11 Agustus 2024. Melamun sendiri merupakan serangkaian ruang diskusi yang meletakkan peserta sebagai aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan, sembari mengajak untuk membayangkan ulang realita sosial di sekitar.
Acara ini menjadi bagian dalam rangkaian perayaan Hari Orang Muda Sedunia yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus. Tujuan dari kegiatan ini untuk memahami bagaimana krisis iklim dapat mengancam masa depan kopi di Indonesia dan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Dalam kegiatan Melamun, peserta yang hadir cukup beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, pegiat lingkungan, pegiat HAM, teman netra, dan teman Tuli.
Kegiatan melamun diawali dengan coffee cupping yang dijelaskan langsung oleh Zul (24), kurator kopi dari Libertad Union Coffee Roaster. Coffee cupping adalah metode yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi kualitas kopi. Metode ini digunakan untuk menganalisis berbagai aspek rasa dan aroma kopi.
“Kopi itu tidak konsisten secara kualitas dari tahun ke tahun dan setiap panen ke panen termasuk seduhannya. Nah, seduhan ini jadi jalan akhir untuk kita mengkurasi kopi. Metode ini digunakan dari hulu ke hilir, artinya dari petani sampai ke barista dengan tujuan mengevaluasi rasa kopi,” ujar Zul saat memaparkan materi coffee cupping kepada peserta melamun.

Gambar 1: Para peserta kegiatan terlihat antusias saat menyimak presentasi dari Zul mengenai materi coffee cupping.
Kata Zul, kondisi iklim juga berpengaruh terhadap kualitas kopi. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, dan curah hujan memainkan peran penting dalam menentukan kualitas biji kopi. Masih kata Zul, ketika iklim tidak stabil, tanaman kopi dapat mengalami stres, yang menyebabkan perubahan dalam rasa dan aroma biji kopi. Sebuah studi menunjukkan jumlah lahan yang cocok untuk budidaya kopi berpotensi berkurang sebesar 50% pada 2050 nanti akibat dari krisis iklim.
“Tanaman Kopi membutuhkan Ph tanah yang baik, curah hujan, ketinggian, suhu dan lainnya di lingkungan sekitar untuk tumbuh. jika hal tersebut tidak memenuhi standar, maka akan berpengaruh terhadap kualitas atau kuantitas panen,” ujarnya.
Setelah proses cupping selesai, Zul menerangkan kopi dapat dievaluasi menggunakan score sheet atau lembar penilaian. Score sheet dapat membantu menilai kualitas kopi berdasarkan aroma, rasa, tingkat keasaman (acidity), sampai rasa sisa setelah mencicipi kopi (aftertaste).

Gambar 2: Zul tengah mempresentasikan materi score sheet yang digunakan dalam proses coffee cupping untuk mencatat dan menilai berbagai aspek dari kopi.

Gambar 3: Peserta sedang melakukan cupping. Mereka mencicipi tiga origin kopi yang berbeda-beda.
“Karena metode ini terlalu rumit untuk kita lakukan. Jadi, hari ini kita akan menilai rasa kopi dari lidah kita sendiri,” imbuh Zul.
Setelah melakukan cupping, peserta diajak untuk melamun lewat pertanyaan-pertanyaan reflektif yang kemudian didiskusikan bersama-sama, mulai dari pertanyaan, jika kopi hilang apa yang berubah dalam hidupmu? Kemudian ada juga pertanyaan terkait lingkungan seperti apa yang membuat pengalaman minum kopi menjadi lebih ideal?Diskusi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan pribadi peserta dengan kopi dan dampaknya terhadap keseharian mereka.
“Apa yang akan berubah dalam hidupmu jika kopi hilang?”
Nisa (21), salah seorang teman Tuli punya pendapat soal pertanyaan tersebut, baginya kopi dapat memengaruhi tingkat energi seseorang. Kopi jadi cara jitu Nisa untuk menghilangkan rasa kantuk saat belajar. Tanpa kopi, ia merasa sulit untuk mempertahankan konsentrasi dan produktivitasnya.
“Kopi membantu saya tetap terjaga dan fokus saat menghadapi banyak tugas kuliah dan ujian,” jelas Nisa.
Senada dengan Nisa, Ninies (29) juga mengungkapkan kekhawatirannya ketika kopi hilang akan memengaruhi caranya merencanakan dan menjalani hari-harinya. Ninies juga memikirkan kemungkinan harus menyesuaikan aktivitasnya dan menemukan cara baru untuk mengatasi stres.
“Saya khawatir saya akan kehilangan cara efektif untuk mengatasi kelelahan dan mungkin harus mencari metode lain yang tidak seefektif kopi,” katanya.
Keduanya, Nisa dan Ninies, menyadari betapa kopi memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, tidak hanya sebagai penyulut energi, tetapi juga sebagai bagian dari rutinitas yang memberikan kenyamanan yang membentuk aktivitas mereka sehari-hari. Diskusi ini menggambarkan betapa kedekatan dengan kopi bisa menjadi hal yang sangat pribadi dan memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari.
Kegiatan melamun ini juga menantang peserta untuk membayangkan lingkungan ideal yang dapat mendukung pengalaman minum kopi di masa depan. Tentu, dengan tantangan perubahan iklim yang mengancam keberadaan kopi.
“Dalam lamunanmu, lingkungan seperti apa yang menurutmu dapat membuat pengalaman minum kopi lebih ideal?”
Krisis Iklim Bikin Akses Ngopi Makin Terbatas
Kopi yang kita nikmati tentu tidak muncul begitu saja di meja kita. Ada rantai panjang mulai dari penanaman hingga pemrosesan yang melibatkan banyak pihak. Tanaman kopi membutuhkan kondisi iklim yang stabil untuk tumbuh dengan baik. Namun, perubahan iklim yang makin ekstrem mengancam kestabilan tanaman kopi.
Krisis iklim, seperti kenaikan suhu global dan perubahan pola hujan, dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen kopi. Ini bukan hanya tentang perubahan rasa atau aroma, tetapi juga tentang dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Tanaman kopi yang terancam oleh perubahan iklim bisa menjadi lebih sulit ditemukan, dan akibatnya, kopi bisa menjadi barang yang mahal atau bahkan berujung langka.

Gambar 4: Para peserta melamun sedang berdiskusi mengenai dampak yang ditimbulkan dari krisis iklim terhadap tanaman kopi yang juga berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
Eca (39), salah satu peserta dalam diskusi melamun berpendapat bahwa krisis iklim telah memengaruhi harga kopi secara signifikan. Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem dan suhu yang tidak menentu akibat hilangnya tutupan hutan, berpengaruh terhadap kelangsungan tanaman kopi.
“Hari gini, tuh, harga kopi di kota-kota besar makin mahal. Selain itu, tutupan hutan sudah berkurang, jadi mungkin ini juga yang membuat harga kopi mahal karena krisis iklim,” kata Eca.
Berbeda dengan Eca, Gemma (26) memandang kopi mahal sebagai akibat dari proses industrialisasi kopi yang membuat beberapa orang sulit untuk mengakses kopi dengan setara.
“Komunitas kopi setiap daerah itu berbeda-beda. Dari kopi sebenarnya kita bisa melihat bagaimana kemiskinan yang timpang juga memengaruhi kita untuk mengakses kopi. Kalo di daerah, segelas kopi itu masih dikisaran harga Rp10 ribu-Rp15 ribu. Tapi kalau di Jakarta secangkir kopi bisa dibandrol harga mulai dari Rp40 ribu,” kata Gemma.
Menjaga Secangkir Kopi Tetap Ada
Ebi (21) peserta dalam kegiatan melamun mengungkapkan pentingnya kesadaran terhadap dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.
“Kopi yang kita minum itu nggak tiba-tiba ada di meja kita. Ada proses panjang di sana, ada faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. kalau krisis iklim terus-terusan terjadi, dampak terhadap kualitas jenis-jenis kopi tersebut bisa kita rasain langsung, kopi bisa aja jadi barang langka. Terus nanti akan berdampak ke roda-roda perekonomian, petani kopi yang paling dirugikan di sana. Kopi nanti jadi mahal banget, kalau kopi mahal nggak semua orang bisa ngerasain nikmatnya kopi lagi. Makannya, aku percaya isu krisis iklim ini, isu yang penting buat dibahas sama siapapun,” kata Ebi.
Ebi juga berpendapat bahwa kenikmatan sederhana seperti secangkir kopi bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, karena perubahan iklim dapat mengancam keberadaan tanaman kopi dan aksesibilitas bagi siapa saja yang mengambil manfaat dari kopi. Ia juga berharap akan ada banyak orang yang semakin peduli dengan isu ini agar eksistensi kopi terus ada.
“Di dunia yang enggak ideal ini, di mana suhu bumi makin panas, polusi udara terus terjadi, semoga kita bisa terus ngerasain kenikmatan-kenikmatan kecil yang diberi langsung sama alam,” ungkap Ebi.
Dengan meningkatkan kesadaran dan bertindak secara kolektif, kita dapat melindungi kenikmatan-kenikmatan kecil yang kita nikmati dari alam, dan memastikan bahwa generasi mendatang juga dapat merasakannya.
Jadi, ayo ambil peranmu untuk kebaikan bumi, sekarang!
Melamun bersama Pamflet Generasi: Menciptakan Aksi Lingkungan yang Inklusif dan Ramah Disabilitas
Ditulis oleh: Annisa Nurul Hidayah Surya
Melamun kerap diasosiasikan sebagai aktivitas yang membuang waktu, tidak menghasilkan sesuatu, hingga tidak berguna. Saat ini, dunia bergerak bersama kecepatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seolah-olah setiap detik penuh dengan tuntutan dan peluang. Melamun pun terasa seperti kemewahan yang tak lagi memiliki tempat dalam keseharian kita.
Pamflet Generasi menjadikan Melamun menjadi serangkaian diskusi yang meletakkan peserta sebagai aktor utama proses produksi dan reproduksi pengetahuan yang berangkat dari pengalamannya. Dalam Melamun, setiap orang yang terlibat adalah sumber pengetahuan tersebut. Nama Melamun mewakili semangat menciptakan ruang aman bagi orang muda untuk membayangkan ulang realita sosial, terutama di tengah masalah sistemik yang mengakar. Pada Jumat, 9 Agustus 2024, Melamun mengangkat tema “Aksi Ramah Lingkungan, Sudahkah Ramah Disabilitas?” yang dilangsungkan di Neha Hub, Jakarta Selatan.
Melamun kali ini merefleksikan berbagai aksi ramah lingkungan yang dilakukan nyatanya belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas. Konsep “eco-ableism,” atau diskriminasi terhadap disabilitas dalam kebijakan dan aktivisme lingkungan, menjadi sorotan utama dalam acara ini. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, termasuk aktivis lingkungan, penyandang disabilitas, dan penggiat masyarakat sipil.
Bersama Rifka dan Ai sebagai fasilitator dari Pamflet Generasi, Melamun diawali dengan menyepakati nilai-nilai bersama (shared values). Rifka menjelaskan pentingnya menciptakan lingkungan diskusi yang inklusif dan ramah bagi semua peserta. Dia menekankan bahwa setiap pembicara harus menyebutkan nama terlebih dahulu sebelum berbicara, agar teman-teman Tuli dapat mengikuti dengan baik. “Saya sangat menyukai diskusi yang inklusif, sehingga saya ingin memastikan semua peserta dapat berpartisipasi dengan nyaman,’’ terang Rifka.
Selain itu, Rifka juga mengingatkan pentingnya berbicara pelan-pelan dan menghindari penggunaan kata-kata yang tidak spesifik seperti “ini” atau “itu,” untuk memastikan teman-teman disabilitas netra dapat memahami konteks diskusi dengan jelas. Ai kemudian melanjutkan dengan menambahkan aturan-aturan lainnya yang perlu diikuti selama diskusi berlangsung. Ia mencontohkan ‘’Peserta diminta untuk mengangkat tangan sebelum berbicara dan berbicara dengan ritme yang tidak begitu cepat agar Juru Bahasa Isyarat (JBI) dapat mengikuti percakapan dengan baik.’’
Dengan memperkenalkan budaya diskusi ini, Rifka dan Ai memastikan bahwa semua peserta merasa dihargai dan didengarkan, serta mampu menyampaikan pendapat mereka tanpa hambatan. Budaya ini tidak hanya mendukung inklusivitas, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dan penuh makna dari semua peserta.
Tantangan dalam Menerapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Memasuki sesi diskusi, para peserta diminta untuk menunjukkan dan menceritakan barang sekali pakai yang paling sering digunakan. Selain itu, peserta juga diminta menunjukan gaya khas mereka. Rika Ayudia, salah satu peserta diskusi dari Sanggar Seroja, Jakarta Barat. Ia memiliki gaya khas suka bernyanyi dan sering karaoke, bahkan dia pernah mendapat juara satu dalam kontes menyanyi. Adapun barang sekali pakai yang kerap ia bawa adalah masker. “Sejak Covid, aku terbiasa memakai masker, meskipun sekarang sudah tidak Covid lagi, aku tetap menggunakan masker,’’ ujar Rika.
Peserta lainnya ialah Annisa dari Go Green Indonesia. Ia memiliki gaya khas suka bergumam saat mengerjakan sesuatu. Barang yang sering dia bawa adalah botol plastik air mineral. Karena meski ia membawa tumbler dan tempat makan sendiri, ia kerap kesulitan menemukan tempat untuk mengisi ulang air minumnya. “Aku sering mendapat diskon karena membawa tempat makan sendiri dan tetapi kadang sulit menemukan air isi ulang.’’ Bekas botolnya ia kerap gunakan untuk makanan kucing atau ia berikan pada bank sampah.
Selain Rika dan Annisa, peserta lain juga memperkenalkan dirinya, gaya khasnya, dan barang sekali pakai yang kerap mereka bawa.
Setelah semua peserta selesai berkenalan dan menjelaskan barang bawaannya serta menunjukkan gaya khasnya, Ai sebagai fasilitator diskusi kemudian mengarahkan diskusi dengan melontarkan sebuah pertanyaan kunci: “Masing-masing kita kan masih terikat dengan barang sekali pakai itu ya, nah, kalau dari teman-teman sendiri, bagaimana tantangan teman-teman dalam mengupayakan gaya hidup supaya lebih ramah lingkungan?”
Tantangan Diri dalam Mengupayakan Aksi Ramah Lingkungan
Retha, salah peserta diskusi mengatakan barang yang ia kerap bawa adalah celana dalam kertas yang dapat digulung. Saat travelling ia karap membawanya, karena barang itu membawa kenyamanan padanya.
Peserta lain, Dede, mengatakan bahwa sebagai penyandang disabilitas fisik dan sosial, ia kesulitan celana memakai pembalut kain. “Aku mengalami tantangan saat menstruasi, di mana nyeri haid sangat kuat hingga membuatku lumpuh sementara dari H-7 hingga 3-4 hari. Ini menguras energi dan membuatku sulit bahkan untuk duduk’’ keluh Dede. Baginya pembalut sekali pakai menjadi pilihan yang lebih efisien.
Menariknya Dede menyadari mahalnya produk pembalut ramah lingkungan. Hal tersebut baginya menunjukan bahwa produsen belum memberikan belum memberikan pilihan produk yang ramah lingkungan dan ramah perempuan. Bagi perempuan pengguna kursi roda, menggunakan pembalut kain sangat sulit karena turun dari kursi roda dan mencucinya menjadi tantangan besar.
“Persoalan ekologi tidak hanya soal solusi individual, tetapi juga melibatkan peran produsen dan kebijakan negara. Perusahaan besar yang memproduksi kemasan sekali pakai sering kali tidak bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Regulasi dan korporasi jarang disorot sebagai penyebab kerusakan lingkungan yang besar. Kebanyakan solusi hanya fokus pada individu, padahal kita harus memperhatikan kebijakan dan regulasi yang dapat mencegah masalah ini secara lebih luas,’’ tegas Dede untuk memperjelas pendapatnya.
Bagi Annisa, penggunaan plastik sekali pakai tidak bisa dihindari. Satu hal yang penting baginya adalah bagaimana kita sendiri menghindari atau mengelola hal itu. Penting bagi Annisa agar ada regulasi dari pemerintah untuk pengelolaan sampah. “Di rumahku juga masih dicampur, seharusnya dipisah supaya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak menumpuk. Kita perlu memilahnya sendiri,’’ tuturnya.
Menurut Rika, di Sanggar Seroja, mereka pernah melakukan upaya untuk menjaga lingkungan dengan membersihkan Kampung Duri yang padat penduduk. “Kami berhasil mengumpulkan berkarung-karung sampah. Dari limbah plastik yang kami kumpulkan, kami membuat baju-baju yang kemudian kami gunakan untuk pawai. Ini merupakan cara kami memanfaatkan limbah plastik secara kreatif”.
Chintya dari Koneksi Indonesia Inklusif melihat hal tersebut dari dua sisi, yaitu perspektif internal dan eksternal. Baginya salah satu tantangan utama adalah kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Masih banyak orang masih membuang sampah sembarangan dan merokok sembarangan. “Memang penting ada regulasi dan pengelolaan sampah, tetapi masyarakat juga perlu menyadari bahwa kita semua bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan karena dampaknya akan dirasakan oleh semua,’’ tegas Chintya.
Refleksi Visual dalam Diskusi
Sesi selanjutnya dalam Melamun, peserta diminta untuk memberikan kesan pada gambar yang ditampilkan pada layar. Beberapa gambar di antaranya mengenai sedotan plastik, transportasi hijau, dan aksesibilitas.
Ketika gambar sedotan plastik ditampilkan, Anto merespons dengan mengaitkan penggunaan sedotan plastik dengan faktor ekonomi, mengamati bahwa sedotan plastik lebih murah dan praktis, meskipun merusak lingkungan. Yael dari Perempuan Mahardhika menambahkan bahwa beberapa disabilitas lebih memilih sedotan plastik karena ketidaknyamanan saat menggunakan alternatif yang lebih keras, seperti sedotan stainless. “Gambar ini menyoroti bagaimana penggunaan sedotan plastik lebih ekonomis dan praktis, tetapi beberapa kawan disabilitas merasa tidak nyaman dengan sedotan stainless atau besi, sehingga mereka lebih memilih plastik,’’ kata Yael. Senada dengan Yael, Dhiba menyatakan bahwa sedotan plastik adalah alternatif dari sedotan stainless yang lebih beresiko. Senada dengan Dhiba, Rika menganggap bahwa penggunaan sedotan plastik oleh pria tersebut lebih efektif dan memudahkan.
Selanjutnya, terdapat gambar poster himbauan dari Dinas Perhubungan Aceh tentang transportasi hijau. Terdapat gambar kendaraan listrik, beserta bis, dan beberapa detail lainnya. Mengenai hal ini, menurut Dede kendaraan listrik bisa menjadi “solusi palsu” jika tidak mempertimbangkan dampak dari ekstraksi bahan baku seperti nikel. “Kita harus melihat lebih dalam dari sekadar kendaraan listriknya itu sendiri dan mempertimbangkan dampak dari bahan tambang yang digunakan,’’ ujar Dede. Sementara itu, Retha mengkritik kendaraan listrik karena kurang ramah bagi disabilitas netra, yang merasa terancam oleh kendaraan yang tidak bersuara. “Saya mewakili teman-teman netra, dan kendaraan listrik bisa berbahaya karena tidak bersuara, membuatnya sulit dideteksi. Di masa lalu, kendaraan yang berbunyi memberikan peringatan, yang lebih aman bagi kami,’’ kata Retha.
Gambar lainnya, menunjukkan seorang lansia menggunakan tongkat untuk naik bus, memperlihatkan kekurangan dalam aksesibilitas transportasi umum. Rika menekankan pentingnya adanya petugas yang membantu mempermudah akses bagi disabilitas. Yael menyoroti bahwa kebijakan pemerintah sering kali tidak melibatkan kelompok disabilitas dalam proses perencanaan, sementara Dede menyebutkan bahwa fasilitas transportasi di Jakarta masih kurang, meskipun beberapa perbaikan telah dilakukan. “Di negara lain, seperti di Sydney, ada fasilitas ramah yang memudahkan akses bagi kursi roda’’ keluh Dede.
Diskriminasi dalam Aksi Ramah Lingkungan terhadap Disabilitas
Selanjutnya, fasilitator mengalihkan diskusi ke pertanyaan kunci kedua, “Apakah peserta pernah membayangkan bentuk aksi ramah lingkungan yang mendiskriminasi disabilitas?’. Dede dari PJS menjawab bahwa dalam krisis iklim, banyak penyandang disabilitas psikososial, seperti yang terjadi di Kudus dan Demak, malah terpinggirkan.
Mereka diisolasi dan tidak dievakuasi saat bencana alam terjadi, yang menurut Dede hal ini memperkuat diskriminasi yang ada. “Krisis iklim memperkuat diskriminasi terhadap disabilitas, terutama disabilitas psikososial yang sering dianggap tidak manusiawi. Ketika terjadi bencana, hanya orang yang dianggap “non disabilitas” yang diselamatkan,’’ ujarnya.
Yasmine menyoroti bahwa aksi ramah lingkungan, seperti slow fashion yang tidak melibatkan teman-teman Tuli, sering kali hanya memperkuat diskriminasi yang ada. Becca menambahkan bahwa upaya pengurangan plastik dan promosi pangan berkelanjutan sering kali tidak mempertimbangkan keterbatasan teman-teman autoimun, yang berdampak pada aksesibilitas mereka terhadap makanan.
Retha juga mencatat bahwa sering kali bahasa yang digunakan dalam kebijakan lingkungan terlalu teknis dan tidak mudah dipahami, bahkan oleh penyandang disabilitas sendiri. Sedangkan Annisa menekankan pentingnya melibatkan ragam disabilitas dalam komunikasi dan edukasi untuk memastikan inklusi yang lebih baik “Kadang-kadang, bahasa yang digunakan terlalu tinggi dan tidak mudah dipahami, bahkan oleh kami sendiri yang memiliki disabilitas,” ujar Retha.
Kondisi Ideal Bagi Penyandang Disabilitas
Sampailah pada pertanyaan kunci ketiga yang dipandu oleh fasilitator, “Seperti apa kondisi ideal lingkungan yang ramah disabilitas?” Untuk menjawab pertanyaan penutup ini, peserta diminta untuk menggambarkan serta menuliskan beberapa kata yang mencerminkan gambar tersebut. Setelahnya, peserta dapat memaparkan dengan singkat tentang maksud gambar, simbol, atau kata-kata yang mereka tulis dan gambarkan secara individu.
Aneu, pemagang dari Pamflet Generasi menggambar simbol-simbol yang mencerminkan panduan aksesibilitas: “Tanyakan, bunyikan, visualisasikan, dan mudahkan aksesnya.” Dalam gambarnya, ada gambar toa, subtitle, dan panah arah. Ini menunjukkan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dalam proses pembuatan kebijakan ramah lingkungan, serta menyoroti kebutuhan spesifik seperti sensor pada motor listrik yang sunyi dan visualisasi informasi di transportasi umum bagi penyandang Tuli.
Becca, dengan gambar semburat warna-warni, berharap dunia ideal yang dia bayangkan berbeda secara signifikan dari dunia sekarang. “Aku berharap dunia ideal ini banyak berbeda dari dunia sekarang,” ujarnya, menekankan keinginan untuk perubahan yang nyata dan mendalam.
Annisa menekankan pentingnya aksesibilitas dengan mengatakan, “Setiap orang berhak mendapat aksesibilitas. Perlu teman-teman disabilitas ini terlibat dalam kebijakan pemerintah.” Ini menegaskan bahwa integrasi penyandang disabilitas dalam proses pengambilan keputusan adalah langkah kunci menuju inklusivitas yang lebih besar.

Gambar 1: Yael menunjukkan gambarnya.
Yael memilih bunga matahari sebagai simbol ruang aman, menggambarkan bagaimana elemen yang sederhana namun menyenangkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas. “Bunga matahari itu seperti ruang aman bagi orang-orang,” katanya, menyoroti pentingnya menciptakan ruang yang menyenangkan dan menenangkan bagi semua individu.
Chintya menambahkan perspektif mengenai bunga matahari, yang juga menjadi lambang dari invisible disability di Amerika Serikat. Ia sendiri tidak menggambar karena merasa sulit memvisualisasikan idenya. Namun ia menulis “Semua orang berhak hidup aman dan layak.” Hal ini menunjukkan kesadaran akan kebutuhan untuk menyertakan berbagai jenis disabilitas dalam diskusi dan kebijakan.
Dhiba menggambar taman inklusi dengan akses untuk berbagai jenis disabilitas dan bus yang belum memiliki ram. “Saya gambar itu, dan beberapa simbol yang dipahami kawan-kawan disabilitas intelektual,” ujarnya, menunjukkan upaya untuk memvisualisasikan solusi nyata dan praktis untuk masalah aksesibilitas.
Dede menggambar sesi diskusi Melamun kali ini bersama Pamflet Generasi, yang dalam percakapan diskusi sedari awal, telah menekankan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dari awal. “Disabilitas atau kelompok marjinal itu harus diawali dengan dilibatkan, lalu sediakan aksesnya,” ungkapnya, menyoroti pentingnya keterlibatan dan pemenuhan kebutuhan spesifik dalam proses perencanaan dan implementasi.
Retha menggambarkan lokasi hijau dengan berbagai jenis tanaman dan aksesibilitas yang berbeda. “Lingkungan, hijau, mudah diakses, dan ramah,” katanya, menekankan perlunya ruang yang memenuhi kebutuhan beragam individu dan menyediakan akses yang memadai.
Rika menggambar jalan dan kursi prioritas, menyoroti pentingnya aksesibilitas dalam kebijakan pemerintah. “Penting bagi pemerintah untuk memberi akses ini kepada kawan-kawan disabilitas,” katanya, sambil mengingatkan tentang pentingnya kebijakan yang adil dan inklusif.
Yasmin menggarisbawahi pentingnya fasilitas untuk mendukung kebiasaan buang sampah yang baik dan aksesibilitas HAM. “Keinginan saya lebih dari lima kata, ribuan kata, tapi itu saja,” ungkapnya, menekankan perlunya fasilitas yang mendukung kebiasaan ramah lingkungan sambil memastikan aksesibilitas bagi semua orang.

Gambar 2: Anto sedang menggambar.
Anto menggambarkan rumah yang melindungi dari bencana dan diskriminasi. “Saya menggambar jalan yang bisa digunakan untuk semua orang,” katanya, menunjukkan bagaimana aksesibilitas dan perlindungan harus menjadi prioritas dalam desain lingkungan.
Teli menggambar pohon dengan kata-kata “Agensi. Kondisi ideal lingkungan yang ramah disabilitas berawal dari akar yang kokoh, misal teman-teman disabilitas bisa dilibatkan,” ujarnya, menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam menciptakan perubahan.
Rifka menggambarkan bangunan tinggi dikelilingi matahari, awan, dan warna-warna. Ia juga menggambarkan dirinya yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Serta orang-orang yang melepas Alat Bantu Dengar (ABD) dan kemudian berbahasa isyarat. “Itu yang saya inginkan dan sudah saya cerminkan,” katanya.
Ai menggambar matahari, yang menurutnya hangatnya bisa diterima banyak orang. Matahari dengan harapan agar lingkungan yang hangat bisa dirasakan oleh semua orang dengan ragam disabilitas.
Kemudian Rifka menutup diskusi ini dengan menyampaikan harapannya, agar kelak dapat melanjutkan kolaborasi yang lebih inklusif. Ia mengingatkan kembali tentang pentingnya untuk selalu mengingat konsep eco-ableism, agar tidak terjebak dalam diskriminasi yang tidak kita sadari. “Kita perlu terus mengingatkan diri sendiri untuk berefleksi dan bertindak dengan bijak”, tegasnya.
Lewat diskusi melamun kali ini, kita dapat melihat pentingnya menciptakan aksi lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas. Dari berbagai perspektif yang telah disampaikan, jelas langkah-langkah aksi lingkungan keberlanjutan harus mempertimbangkan keberagaman kebutuhan banyak orang, termasuk penyandang disabilitas.

Gambar 3: Foto bersama di akhir acara.
Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino: Menyimak Tantangan dan Harapan Orang Muda di Bali
Ditulis oleh: Zariqoh Ainnayah Silviah
Aktivitas melamun seringkali dipandang sebagai kebiasaan yang tidak produktif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa melamun memiliki manfaat penting. Kalina Christoff, seorang peneliti dari University of British Columbia, menemukan bahwa melamun melibatkan beberapa area otak yang berhubungan dengan pemecahan masalah, pemrosesan memori, dan perencanaan masa depan. Pada Sabtu, 15 Juni 2024, Pamflet Generasi dan Minikino mengadakan kegiatan “melamun” untuk merespons pesatnya pembangunan di Bali.
Melamun merupakan serangkaian diskusi yang diinisiasi Pamflet Generasi di mana peserta menjadi aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan dengan berangkat dari pengalamannya masing-masing. Melamun memungkinkan setiap peserta berbagi keresahan serta membangun ide bersama untuk kehidupan yang lebih ideal bagi mereka.
Melamun edisi ketiga ini diselenggarakan di Micro Art Shop House (MASH) Denpasar dengan mengusung tema “Saat semua semakin cepat, mari melamun”. Difasilitasi oleh Wilsa dari Pamflet Generasi dan Ozi dari Minikino, Melamun mendiskusikan bagaimana orang muda yang tinggal dan tumbuh besar di Bali memaknai dan menavigasikan hidupnya di tengah pembangunan yang sangat pesat. Mereka juga diajak untuk bersama-sama membayangkan ulang realita yang lebih baik.
Peserta melamun kali ini beragam, mulai dari orang muda yang sedang mencari kampus untuk berkuliah, mahasiswa, relawan di organisasi masyarakat sipil maupun lembaga pemerintah, jurnalis, pekerja yang sehari-hari bekerja di laut, hingga penulis. Isu-isu yang ditekuni juga beragam, mulai dari disabilitas, hak kesehatan seksual reproduksi, lingkungan, hingga kemiskinan.

Gambar 1: Ragam peserta Melamun saling berbaur saat makan siang bersama.
Kegiatan melamun diawali dengan pemutaran film pemantik berjudul Air untuk Wasa (2015) yang disutradarai oleh I Made Suarbawa atau akrab disapa Birus. Film ini bercerita mengenai seorang anak yang memiliki tantangan dalam mengakses air bersih di desanya. Meski diproduksi pada tahun 2015, film ini dianggap masih relevan hingga saat ini, mengingat air masih menjadi permasalahan serius di sebagian wilayah di Provinsi Bali.
“Bali itu sedang tidak baik-baik saja, kita sedang tidak dalam persediaan air yang mencukupi. Mungkin kita bisa sangat mudah menikmati di daerah-daerah Denpasar atau Bali Selatan. Tetapi masih banyak banget di Bali Utara, Bali Timur, Bali Barat, itu susah sekali yang namanya air,” terang Juni dari Bale Bengong saat menanggapi film Air untuk Wasa.
Setelah menonton film bersama dan berdiskusi tentang film Air untuk Wasa, sesi selanjutnya adalah sesi utama yaitu melamun. Proses melamun mengacu pada tiga pertanyaan pemantik yang telah disiapkan. Pada setiap sesi pertanyaan, fasilitator mengajak peserta merenungkan pertanyaan dan menggambar atau menuliskan kata konsep dari hasil renungannya. Fasilitator juga meminta beberapa peserta menceritakan gambar atau kata konsep yang telah ditulis. Dengan cara ini, melamun tidak hanya membantu peserta merefleksikan keresahan pribadi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi keresahan dengan orang lain.
Bali dalam Lensa Orang Muda
Peserta memotret Bali dari berbagai sisi. Komang, seorang perempuan penulis menggambarkan Bali dengan simbol perempuan yang menggunakan cepol atau konde, dengan batu di atasnya. Hal ini menggambarkan sistem patriarki di Bali yang tetap menuntut perempuan berperan dalam ekonomi. Ia mengatakan, “Patriarki di Bali itu bukan patriarki absolut. Jadi walaupun patriarkis, perempuan memegang kendali untuk ekonomi, untuk perdagangan. Bahkan ada yang bekerja sebagai tukang bangunan.” Pengamatan ini menyoroti beban perempuan Bali yang berlipat, karena selain harus menjalankan peran domestik sebagai tuntutan dari sistem patriarki, mereka juga memegang tanggung jawab ekonomi.
Dayu Sri, seorang mahasiswa, dan Pradnya, seorang pekerja sosial, menyoroti perkembangan pesat yang mengubah wajah Bali. Dayu Sri menyatakan keprihatinannya terhadap pembangunan yang berlebihan, “Menurut aku orang-orang dari luar itu sebenarnya mencari yang namanya kultur atau budayanya. Tetapi ketika melihat review di Icon Bali, sebenarnya mall-mall yang berdiri sekarang itu kayak kebanyakan.” Pradnya menambahkan, “Sekarang orang-orang itu ingin mendapat cuan yang instan dari pariwisata Bali. Mereka menggunakan segala cara yang eksploitatif biar lebih cepat cuan, tetapi itu merugikan banget khususnya untuk orang Bali itu sendiri.” Kedua perspektif ini menunjukkan betapa modernisasi dan kapitalisme telah mempengaruhi dan sering kali merusak esensi budaya dan tradisi Bali yang sebenarnya dicari oleh para wisatawan.

Gambar 2: Ragam ekspresi wajah peserta dalam mencerna gambar satu sama lain terkait Bali.
Oka, orang muda yang saat ini sedang sibuk mencari kampus untuk berkuliah, menggambarkan pengalaman sehari-hari yang kurang menyenangkan akibat kemacetan dan suhu yang meningkat, “Ekspektasi saya kan yang dari Jembrana melihat Denpasar adalah kota yang aktif dan produktif, tetapi aksesnya yang malah mempersulit, bikin tidak nyaman.” Pengalaman ini menggambarkan dampak negatif dari urbanisasi yang cepat tanpa perencanaan yang matang, yang berujung pada ketidaknyamanan baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan.
Sementara itu, Lingga seorang perempuan pekerja menggambar timbangan dengan dua sisi yang berbeda, simbol modernisasi dan budaya, dan menyatakan kekagumannya pada kemampuan orang Bali dalam menyeimbangkan keduanya: “Satu hal yang masih membuat saya kagum dengan orang-orang Bali adalah mereka itu sangat balancing antara modernisasi sama culture gitu.” Namun, ia juga mencatat bahwa belakangan ini keseimbangan tersebut mulai goyah, lebih condong ke arah modernisasi.
Narasi-narasi ini menggambarkan bagaimana keunikan dan tantangan Bali dirasakan oleh penduduknya sendiri. Dari beban berlipat perempuan dalam sistem patriarki, keprihatinan terhadap pembangunan berlebihan yang merusak esensi budaya, hingga dampak urbanisasi yang mengurangi kenyamanan hidup, serta situasi keseimbangan kultur dan modernisasi saat ini. Semua perspektif ini memberikan gambaran menyeluruh tentang realitas yang dihadapi Bali, baik dari sisi positif maupun negatif.
Pengaruh Pembangunan Pesat di Bali bagi Orang Muda
Pradnya menggambarkan pengaruh pembangunan di Bali melalui pengalamannya yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup mahal yang dituntut oleh pariwisata di Bali. “Bali itu sangat mahal dan sebagai orang Bali kalau misalnya kita nggak punya uang, kita nggak bisa menikmati Bali,” ujarnya, menggambarkan kesulitan yang dihadapi oleh penduduk lokal dalam menikmati fasilitas di daerah mereka sendiri.

Gambar 3: Gambar-gambar peserta ditampilkan untuk didiskusikan bersama.
Perasaan kebingungan dan kesedihan juga dirasakan oleh peserta lain, seperti Teli, seorang staf di Pamflet Generasi. Ia merasa miris melihat masyarakat Bali yang kesulitan mengakses fasilitas dasar seperti air bersih. Teli berbagi pengalamannya melihat ketimpangan antara kawasan wisata yang mewah dengan kondisi masyarakat di daerah pedalaman Bali yang kekurangan air. “Gue lihat ini dengan mata kepala gue, dan gue gak bisa ngapa-ngapain,” kata Teli. Ketimpangan ini juga disorot oleh Rista, orang muda yang aktif di Forum GenRe Provinsi Bali. Ia menggambarkan perasaannya dengan emoji fake smile. Rista mengkritik kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat lokal dan dampak pembangunan yang merugikan warga Bali sendiri. Rista juga memiliki kekhawatiran akan menurunnya pariwisata Bali karena kehilangan daya tariknya.
Sementara itu, Haris memberikan perspektif dari sudut pandang seorang difabel. Ia mengkritik buruknya infrastruktur yang ada, terutama trotoar yang tidak ramah bagi pejalan kaki dan difabel. “Terus ada motor banyak lewat dan sebagai seorang difabel saya merasa ini tidak safe untuk teman teman difabel terutama disabilitas netra, karena guiding block pun tidak menjamin.” Ia juga menambahkan kekesalannya pada minimnya pelibatan difabel dalam perencanaan Pembangunan. “Lebih ke kesal, dan mungkin ini kan sebenarnya sudah direncanakan pembangunannya, dan saya yakin tidak melibatkan difabelnya langsung untuk berdiskusi tentang ini.”

Gambar 4: Beberapa gambar peserta menunjukkan impian untuk kota yang aksesibel bagi siapa saja, khususnya warga dengan disabilitas.
Dari berbagai pandangan ini, terlihat bahwa pembangunan pesat di Bali membawa dampak yang kompleks dan beragam. Di satu sisi, ada perkembangan ekonomi dan infrastruktur, namun di sisi lain, banyak penduduk lokal yang merasa terpinggirkan dan tidak dapat menikmati manfaat dari pembangunan tersebut karena perencanaan yang tidak matang dan minimnya pelibatan masyarakat.
Ruang Hidup yang Ideal menurut Orang Muda di Bali
Berbeda dengan dua sesi pertanyaan sebelumnya, pada sesi ini selain menggambarkan hasil renungannya, fasilitator mengajak peserta untuk menambahkan gambar atau kata konsep pada hasil renungan teman sekelompoknya. Hal ini mendorong peserta untuk saling berkolaborasi, membangun imajinasi bersama tentang lingkungan ideal yang diimpikan.
Dita, seorang perempuan yang bekerja di Tsinghua South East Asia Center, dan Dewi, yang aktif di Ubud Writers and Readers Festival, mengungkapkan berbagai ide untuk mengatasi kemacetan. Dita menyoroti pentingnya memperbaiki transportasi publik sebagai salah satu solusi mengurangi kemacetan. “Sepertinya baik untuk mengurangi kemacetan itu mungkin salah satunya dengan membenahi transportasi publik,” kata Dita. Dewi menambahkan bahwa anggaran pemerintah, khususnya APBD, harus dialokasikan untuk membangun fasilitas pendukung transportasi tersebut. Ia juga menggambar lingkungan yang asri sebagai simbol kenyamanan dan keberlanjutan di masa depan.
Juni menggambarkan kelimpahan air yang merata untuk semua orang, dan menekankan pentingnya menjaga pohon sebagai penjaga sumber air. Ia menjelaskan bahwa air adalah sumber kehidupan dan menginginkan semua orang dapat mengaksesnya secara merata. Juni juga mendapat tambahan elemen eco-tourism tanpa pembangunan yang tinggi dari teman sekelompoknya. Sementara pada gambar Dewi, ia menambahkan pasar terbuka untuk menggambarkan adanya ruang untuk berinteraksi dan saling berbagi.
Kelompok selanjutnya mengungkapkan visi mereka tentang menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, yang mencerminkan kehidupan di pedesaan dengan akses yang lebih baik terhadap fasilitas dasar. Widi, dari East Bali Poverty Project (EBPP), menggambarkan suasana tenang di lereng Gunung Abang yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Ia membayangkan adanya rumah sakit dan sekolah yang dilambangkan dengan adanya simbol bendera, serta sumur yang melambangkan kerinduan akan akses air bersih. “Jujur, di lereng Gunung Abang di Desa Manik Aji itu mereka menampung air hujan. Bisa dibayangkan kita menggunakan itu untuk segala macam keperluan mereka,” ungkapnya. Widi berharap infrastruktur di tempat tersebut bisa diperbaiki, sehingga kehidupan di sana menjadi lebih nyaman dan layak.


Gambar 5 & 6: Proses menggambar teman Netra yang ditemani dengan teman bisik selama kegiatan; Peserta mengungkapkan harapan mengenai ruang hidup yang ideal.
Cika dari Minikino menambahkan bahwa ia menggambar jalan dan pasar dengan banyak orang serta hewan. Ia memimpikan tempat publik yang dinamis dan inklusif. “Pada intinya, aku memimpikan tempat-tempat publik yang bisa berkegiatan bersama, tempat-tempat musik, menikmati alam, melamun, dan masih bisa diisi akses gitu buat semua orang,” jelas Cika. Sementara itu, Eka menggambar rumah dan kata tenang yang mencerminkan ketenangan hidup di Karangasem yang jauh dari perkotaan. Ia juga konsisten menambahkan gambar pohon dan rumah pada hasil gambar temannya untuk menekankan suasana tenang.
Selanjutnya, Jayanti, anggota GenRe Provinsi Bali, menjelaskan bahwa ia menggambarkan lingkungan yang asri dan bebas polusi, dengan gunung berapi sebagai simbol kelimpahan alam yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Gambar gunung yang mendeskripsikan menurut pribadi saya menggambarkan lingkungan yang nyaman, dan itu asri tanpa adanya polusi dan padatnya pembangunan. Dan ini cukup ada gunungnya yang berapi, kita bisa memanfaatkan kelimpahan alam dengan sebaik-baiknya,” kata Jayanti.
Sementara itu Hendra, seorang mahasiswa, fokus pada pendidikan. Ia menggambarkan sekolah untuk menggambarkan pentingnya pendidikan untuk mewujudkan generasi emas 2045. Ia juga berharap generasi muda dapat menjaga pembangunan dan budaya di Bali serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Sesi ini ditutup dengan kesimpulan dari Ozi yang merasa bahwa gambaran-gambaran peserta saling melengkapi dan bisa membentuk sesuatu yang ideal jika dikombinasikan. “Imajinasi kita itu bisa dibangun bersama-sama meskipun beberapa fokus berbeda,” kata Ozi. Wilsa juga menambahkan, “Harapannya semua keluhan dan lamunannya enggak cuma jadi lamunan aja kedepannya. Tapi bisa jadi kenyataan,” ujar Wilsa, mengakhiri sesi dengan ajakan untuk bertindak lebih lanjut.

Gambar 7: Foto bersama seusai kegiatan Melamun.
Dari melamun kita dapat melihat betapa pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk bersuara dan berpartisipasi aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi sehari-hari. Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino merupakan sebuah upaya untuk merangkul aspirasi yang diharapkan dapat menghadirkan perubahan yang bermakna untuk mewujudkan masa depan Bali yang lebih baik. Jadi, saat semua semakin cepat, mari melamun!
Kayuh Sepeda: Telusur Suasana dan Kesenangan di Jalan
Sepeda hijau giok berkeranjang ini saya kayuh hampir setiap pagi menuju kantor. Sepeda ini adalah sepeda kelima saya dan sudah menemani rutinitas ke kantor yang jaraknya kurang dari 2 km dari tempat tinggal selama 4 tahun. Saya tidak ingat jelas kapan pertama kali memiliki sepeda dan menyadari bahwa bersepeda juga merupakan sebuah olahraga. Yang saya ingat dan tahu, sepeda adalah alat bermain yang bisa mengantarkan saya mengelilingi komplek dengan usaha fisik yang lebih kecil daripada jalan kaki.
Dengan modal internet, saya mendapatkan informasi bahwa sepeda telah masuk ke Indonesia sejak jaman kolonial Belanda. Kata “jengki” yang sering kita dengar untuk menjuluki sepeda klasik itu berasal dari kata “yankee”, sebutan yang muncul dari orang Amerika di masa invasi Indocina tahun 60-an, dan juga istilah gaya arsitektur modern pasca perang yang dipengaruhi oleh Amerika. Julukan ini jadi relevan dengan penggunaannya yang menjadi penanda jaman untuk sepeda klasik di tahun 1960an. Sedangkan, popularitas sepeda sebagai olahraga balap sudah ada sejak jaman Belanda di Kota Semarang, namun sempat hilang dari peredaran dan kembali populer dilombakan pada Pekan Olahraga Nasional II di Jakarta Oktober tahun 1951.
Datangnya Sepeda, Pandemi, dan Tren Sepeda
Pada Februari 2020, saya memutuskan untuk membeli sebuah sepeda. Keputusan ini didasari dengan pertimbangan menghemat biaya hidup untuk merantau di Jakarta. Pilihan ini juga makin valid dikarenakan kota Jakarta adalah kota yang memiliki transportasi umum memadai untuk berkeliling seluruh wilayahnya. Jadi, sepeda saja cukup untuk menjadi moda transportasi jarak dekat dan menengah. Selain hemat, hitung-hitung tidak menambah beban polusi kota.
Belum sampai 50 kilometer sepeda itu dikayuh, virus COVID-19 hadir di Depok dan akhirnya menjadi awal pandemi yang mengharuskan seluruh warga di rumah saja dan tidak bekerja dari kantor. Setelah situasi pandemi cukup mereda dan warga sudah bisa beraktivitas dengan protokol kesehatan ketat, tren bersepeda kemudian hadir. Tren ini seakan menjawab dan memberikan preferensi olahraga yang berbeda untuk membuat tubuh lebih segar dan imun kuat. Bahkan, menurut Katadata, pembelian sepeda naik hampir lima kali lipat pada Agustus 2020 dalam catatan Tokopedia.
Beberapa orang melihat tren bersepeda ini sebagai pelarian konsumerisme berkedok olahraga. Mungkin opini seperti itu benar karena pada hari ini, jalanan tidak seramai itu lagi dengan sepeda dan beberapa usaha sepeda akhirnya gulung tikar. Dibuktikan juga dari catatan APSINDO (Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia) bahwa selama 2023 berjalan, diperkirakan penjualan sepeda sudah turun hampir 40 persen dari tahun sebelumnya.
Namun, terlepas dari naik turunnya tren sepeda di tahun 2020 hingga 2023, tidak bisa dipungkiri bahwa semangat bersepeda memang sudah ada sedari dulu. Kita bisa melihat salah satunya dalam gagasan dan semangat mewujudkan udara bersih di kota yang melahirkan komunitas Pekerja Bersepeda (Bike to Work) Indonesia hampir 20 tahun lalu. Hingga hari ini kampanye, advokasi, edukasi, bakti sosial, hingga kolaborasi sudah banyak dilakukan oleh komunitas Bike to Work (B2W) dan hampir setiap tahun mereka laporkan di situs b2w-indonesia.id.
Warna Berbeda Bersepeda di Jakarta dan Palu
Selain menjadi moda transportasi dan alternatif olahraga, bersepeda juga menjadi pintu masuk saya mengenal beberapa hal seperti hak-hak personal dan keamanannya. Di beberapa kanal media sosial pernah ramai video penjambretan telepon seluler dari motor ke pesepeda saat di area Sudirman, Thamrin, Jakarta. Resiko ditabrak oleh kendaraan lain seperti motor dan mobil juga cukup besar dan pernah terjadi di beberapa wilayah seperti Jakarta. Hal ini membuat keamanan menjadi perhatian utama bagi saya, dan mungkin pesepeda lainnya, untuk lebih waspada serta sigap dalam bersepeda.
Saat saya bersepeda di jalanan yang tidak begitu lebar dan padat di kota asal saya, Palu, saya merasa lebih aman ketimbang bersepeda di Jakarta meski tanpa adanya jalur khusus sepeda. Bisa saja perasaan ini juga hadir karena saya adalah warga Palu yang sudah mengetahui seluk-beluknya, dan merasa sebaliknya di Jakarta karena saya adalah warga pendatang.
Hal-hal yang menyenangkan lainnya saat bersepeda di Palu adalah saya bisa “gocapan” alias gowes cari sarapan sendiri maupun bersama teman pesepeda lainnya di sekitar pusat kota. Palu yang cuacanya cukup panas meski di pagi hari, terasa lebih sejuk dan menyenangkan ketika bersepeda. Kuncinya adalah tidak lebih dari jam 10.30.Sekali dua kali saya juga pernah gocapan di Jakarta saat pagi hari ke arah Car Free Day Bundaran HI maupun Blok M. Rasanya sama menyenangkan, namun di perjalanan perasaan was-was, khawatir, juga takut tersesat masih sering muncul. Apalagi jika bersepedanya sendirian.
Kembali ke jalur sepeda Jakarta, beberapa wilayah jalur sepeda yang pernah saya lewati seperti Buncit Raya, Mampang, dan Pancoran cenderung memiliki bekas tambalan-tambalan aspal dari proyek-proyek pembangunan jalan ataupun optik fiber provider internet. Padahal, kebijakan jalur sepeda ini menurut saya sudah sangat baik dan merupakan tindakan afirmatif tersendiri bagi pesepeda yang juga mendukung gerakan antipolusi.
Pengamatan saya, komunitas sepeda di Jakarta juga cukup banyak dan masih cukup aktif. Namun, rasanya tidak semasif di tahun 2020-2022 awal saat semua orang berbondong-bondong bersepeda. Saya menduga bahwa kembali bekerja ke ruang kantor sepertinya menjadi salah satu alasan besarnya. Namun, tetap ada beberapa orang atau komunitas seperti B2W yang konsisten bersepeda untuk bekerja.
***
Sampai hari ini saya masih memilih sepeda sebagai moda transportasi utama karena paling praktis dan membantu menghemat pengeluaran bulanan. Selain itu, sepeda juga memudahkan saya mengakses tempat makan yang jika dengan berjalan cukup jauh, belanja bulanan, serta antar jemput londrian.
Keputusan membeli sepeda serta bersepeda adalah salah satu pilihan yang tidak akan saya sesali dalam hidup ini, khususnya di masa perantauan. Rasa tenang di jeda satu kayuh ke kayuhan lainnya juga seakan menjadi pemantik refleksi berulang di setiap pulang dari tempat kerja. Harapannya kebiasaan bersepeda ini terus bisa saya lakukan untuk menjadi lebih sehat dan juga mendorong lingkungan lebih asri tanpa polusi. Semoga dengan membaca ini kamu juga jadi tertarik bersepeda, dan bersama-sama kita bersepeda!
Referensi:
“Gaya Jengki” Wikipedia, 22 April 2024, https://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_Jengki
Nandy, “Sejarah Penemu Sepeda dan Perkembangannya Di Indonesia” Gramedia, 22 April 2024, https://www.gramedia.com/literasi/penemu-sepeda/
Yosepha Pusparia, “ Olahraga Jadi Tren Baru di Masa Pandemi”, Katadata, 22 April 2024, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/11/olahraga-jadi-tren-baru-di-masa-pandemi
Yoga Sukmana, “Tren Gowes Surut, Penjualan Sepeda Ikut Menyusut”, Kompas.com, 22 April 2024,https://money.kompas.com/read/2023/10/09/172101426/tren-gowes-surut-penjualan-sepeda-ikut-menyusut.
Perjalanan Panjangku Mengenal Roti Buaya
Hai, perkenalkan, aku adalah perempuan keturunan Betawi yang suka kulineran. Aku ingin berbagi cerita tentang roti buaya, salah satu kuliner khas Betawi. Jujur, awalnya aku takut roti buaya karena besar dan berbentuk hewan buas. Tapi di acara pernikahanku tahun lalu, roti buaya menjadi makanan paling penting dan sakral. Persepsiku atas roti buaya kemudian berubah.
Bertemu dengan Roti Buaya
Sebagai warga Betawi, aku berkenalan dengan roti buaya dari kecil. Tepatnya pada saat berusia delapan tahun. Saat itu aku melihat ada roti berbentuk buaya berukuran satu meter yang terpampang di pernikahan saudaraku. Di acara yang sama aku juga melihat mereka memotong roti tersebut menjadi seukuran genggaman tangan. Kemudian, potongan roti itu dibagikan kepada saudara pengantin perempuan dan laki-laki serta tetangga terdekat yang hadir sebagai bentuk ucapan syukur.
Dari kecil aku sangat takut dengan hewan apalagi hewan buas seperti buaya. Kucing kecil nan lucu saja bagiku menakutkan. Makannya aku kaget saat melihat roti berbentuk buaya yang ukurannya sama dengan buaya asli. Ketika aku mencicipinya, rasanya sungguh tidak enak. Hambar dan keras. Sejak saat itu, aku tidak pernah suka roti buaya.
Ketidaksukaanku terhadap roti buaya bertahan sampai aku berusia dua puluh tahunan. Ketika aku menghadiri acara pernikahan saudaraku, aku masih tidak tertarik sama sekali dengan roti buaya. Melihatnya malah membuatku membayangkan buaya asli yang ada di kebun binatang.
Singgunganku dengan roti buaya berlanjut saat aku berusia 26 tahun ketika aku bekerja di daerah Hang Jebat, Kebayoran Baru. Saat itu, aku sering berjalan-jalan ke Blok M selepas kerja. Suatu hari aku tidak sengaja melewati toko roti yang terlihat edgy dengan nuansa merah bata. Toko roti tersebut diterangi pencahayaan kuning yang membuat roti-rotinya terlihat mengkilap dan hangat. Aku terdiam di jendela toko yang transparan dan memperhatikan aneka roti yang terpajang di sana. Ada roti buaya tetapi dengan ukuran kecil yang membuatnya jadi terlihat lucu dan menarik. Tapi aku belum terdorong mencicipinya karena takut rasanya akan tawar. Kemudian aku melupakan roti buaya kecil itu begitu saja.
Dibalik itu semua, sebetulnya aku suka kulineran. Aku suka menjelajah makanan khas daerah. Bagiku makanan lokal adalah anugerah tersendiri untuk memanjakan lidah. Aku bukan tidak suka makanan yang dibuat di rumah, tetapi merasakan masakan buatan orang lain yang aku beli membuatku senang. Aku juga menjadikan kuliner sebagai salah satu caraku melepas penat.
Di sela-sela aktivitas sehari-hari, bahkan aku sering menonton video ASMR makanan daerah di Youtube. Aku juga suka menonton tayangan youtube yang bercerita soal penjelajahan kuliner daerah sampai suatu ketika secara tidak sengaja aku ketemu dengan video berjudul asal-usul makanan khas Betawi. Video itu ternyata membahas cerita tentang asal-usul roti buaya. Aku lantas memberanikan diri menontonnya.
Asal-usul Roti Buaya
Satu hal yang aku tahu, dulu Jakarta adalah wilayah yang penuh rawa dan sungai dimana reptil seperti buaya menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Buaya diyakini berperan untuk menjaga mata air tetap lestari. Di sungai Ciliwung, salah satu sungai besar di Jakarta yang terkenal sejak zaman penjajahan, terlekat mitos kalau sungai ini dihuni oleh banyak buaya putih.
Folklor Betawi menceritakan bahwa siluman buaya putih merupakan wujud seorang gadis yang menolak dijodohkan karena setia menunggu kekasihnya pulang merantau. Si gadis yang setia akhirnya menghanyutkan diri ke danau. Berkat kesetiaannya, si gadis ditolong dan kemudian diubah menjadi buaya putih oleh para ”penunggu” danau. Dari sanalah asal muasal buaya menjadi lambang kesetiaan terhadap pasangan hidup yang dirayakan dalam upacara pernikahan budaya Betawi.
Selain itu, peranan buaya sebagai penjaga mata air adalah analogi yang cocok untuk mencerminkan keberlanjutan kehidupan dengan berkeluarga, membangun rumah tangga, dan melanjutkan keturunan. Makanya, simbol buaya dibawa dalam hantaran pernikahan.
Tidak ada yang tahu pasti kapan tepatnya simbolisme dan cerita buaya putih ini muncul. Yang jelas pandangan hidup suku Betawi yang ingin bersenang-senang membuat sebagian besar orang Betawi tidak ambil pusing terhadap polemik asal muasal itu.
Bahkan pada awalnya, simbolisasi buaya itu tidak dalam bentuk roti melainkan dari anyaman keraras atau serabut pohon kelapa sebagai simbol siluman buaya putih atau Aji Putih Nagaraksa yang menjadi simbol mistis.
Baru pada masa penjajahan Belanda, pabrik roti mulai masuk ke Batavia. Orang Betawi kala itu memanfaatkannya untuk menggeser simbolis adat Aji Putih Nagaraksa menjadi roti buaya. Hal ini dinilai lebih efisien secara waktu karena roti lebih mudah dibuat dibandingkan anyaman keraras atau serabut kelapa.
Oh ya, ada satu cerita yang aku dengar sejak kecil tentang roti buaya. Awal mulanya roti buaya ternyata tidak dikonsumsi melainkan dipasang atau dipajang di tembok rumah pengantin. Caranya dengan di lempar ke tembok lalu dipaku. Atau kalau tidak dipajang di tembok, roti buaya disimpan di dinding lemari sampai membusuk. Dulu hal itu dimungkinkan karena pada saat itu, bahan baku rotinya memang diciptakan dengan tekstur yang keras.
Beberapa cerita lain juga menyebutkan bahwa roti buaya sebagai simbolis kesetiaan pada saat pernikahan, dibuat untuk menyaingi simbolis bangsa Eropa yang memakai bunga.
Di lingkunganku ceritanya agak berbeda. Pada masa itu roti buaya boleh dipotong potong dan dimakan karena menempelkan roti di dinding rumah dinilai sebagai hal-hal yang mubazir dan sempat mendapat beberapa kali komentar dari banyak pihak. Aku setuju soal itu.
Roti Buaya di Pernikahanku Sendiri
Setiap perubahan zaman ternyata juga mempengaruhi perubahan roti buaya. Bukan hanya soal rasa dan bentuk yang berubah tetapi juga pemaknaannya. Akhirnya, aku tau muasal roti buaya menjadi simbol kesetiaan. Sebagai simbol, roti buaya mengandung doa bahwa siapapun yang memiliki pasangan bisa saling menghargai dan menyayangi satu sama lain. Aku merasa roti buaya ini adalah salah satu makanan adat Betawi yang perlu dilestarikan!
Kalau saja aku tidak menggali asal-usul roti buaya ini, niscaya aku masih tetap dengan anggapanku di awal kalau roti buaya sebatas roti hambar dan berbentuk hewan buas yang membuatku takut. Mungkin aku juga ragu untuk menghadirkan roti buaya di pernikahanku. Namun tepat tahun lalu, pernikahanku diisi dengan roti buaya dengan ukuran tidak terlalu besar serta rasa yang lebih bervariatif (Aku memesan rasa coklat keju). Roti buaya yang kupesan rasanya kenyal, empuk, coklatnya creamy dan memanjakan lidahku, ah enak!
Oh iya, roti buaya itu aku persembahkan untuk ayah dan ibu karena simbol roti buaya mengingatkan aku pada mereka yang memiliki sikap saling percaya, setia dan mendukung satu sama lain. Semoga pernikahanku juga akan seperti itu!
Referensi:
- Productions, Jadefifty. S2 – Episode 6 – Rijsttafel, Sisa Jejak Kolonialisme di Tanah Batavia. Youtube, diunggah oleh Kisarasa, 20 Juni 2023, https://www.youtube.com/watch?v=J7hJhfTES7c
- Roti Buaya. Kemendikbud.go.id, https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=126
- Khairunnisa, Syifa Nuri. Aisyah, Yuharrani., 6 Fakta Roti Buaya yang Identik dengan Pernikahan Adat Betawi. 22 Juni 2023. Kompas.com https://www.kompas.com/food/read/2021/06/22/133400075/6-fakta-roti-buaya-yang-identik-dengan-pernikahan-adat-betawi
- Hendarto, Yohanes Mega. Buaya Putih Dibalik Asrinya Setu Babakan. 11 Oktober 2019. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/utama/2019/10/11/buaya-putih-di-balik-asrinya-setu-babakan/
- Chechya Avayah Tiffany, E. S. (2023). Keunikan Roti Buaya Betawi: Sebagai Lambang Kesetiaan Di Kota. PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 695.
Di Duniamu Hal Buruk Berlalu Tanpa Kejelasan
Dari sekian banyak hal buruk di dunia ini, kamu hanya bisa membenci ibumu sendiri. Benci yang sebetulnya tidak bisa kamu definisikan dengan jelas. Terkadang kamu merasa begitu muak. Tapi terkadang kamu juga mengharapkan sebuah dekapan hangat darinya sebagai dua orang yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Bagaimana dengan Bapak? Semua atribut yang berkaitan dengan julukan itu terasa ganjil. Sepanjang hidupmu, tidak ada seseorang pun yang pernah kamu panggil dengan julukan itu. Kedua orangtuamu menyerah pada komitmen yang mereka buat sendiri. Dia – orang yang seharusnya kamu sebut sebagai Bapak – memilih jalan yang berbeda sebelum mulut mungilmu bisa mengoceh Ba ba pa pa ba pa.
Apa yang kemudian terjadi adalah dunia yang semakin kacau. Nasib buruk melemparmu ke sana-kemari seperti bola pingpong. Inilah yang terjadi: Ibumu yang janda meninggalkanmu untuk pergi bekerja ke Kota. Kamu yang masih kecil diasuh oleh nenekmu. Ketika masuk sekolah menengah pertama, kamu tinggal bersama bibi dan pamanmu di Kota. Baru ketika kamu memasuki sekolah menengah atas, kamu tinggal bersama perempuan yang kamu panggil Ibu – dengan perasaan canggung dan rasa asing satu sama lain.
Di rumah baru itu, kamu bertanya tentang banyak hal. Sebelah dirimu mencoba menerima bahwa yang ada di hadapanmu adalah seorang Ibu tempat kamu berbakti. Sebelah dirimu yang lain protes mempertanyakan, mengapa dulu kamu meninggalkanku? Mengapa baru sekarang? Semua kasih sayang yang kamu terima darinya kamu timbang ulang. Mengapa semuanya terasa begitu terlambat?
Rumah Ibumu terletak di pinggiran kota besar. Sebuah rumah kecil, tapi cukup untuk kalian berdua. Di dinding rumah, tidak ada foto keluarga seperti yang terlihat di rumah orang lain. Ibumu menegaskan bahwa tidak ada lagi tempat untuk orang-orang dari masa lalu di rumah itu. Apa yang telah pergi, biarlah tenggelam dalam lupa. Tidak perlu penanda atau kenangan – semuanya harus dijauhkan.
Dan itulah yang kini kamu terima. Tidak ada kenangan visual tentang Bapak yang bisa kamu ingat dengan jelas. Ingatan masa kecilmu merekam cerita seseorang yang rutin mengantarkan susu dan roti sebagai penuntasan peran seorang bapak. Itulah ingatan paling purba yang bisa kamu ingat. selebihnya kamu mengingatnya sebagai “hukuman” karena nenekmu selalu mengancam akan menyerahkan kamu ke bapak ketika kamu berbuat nakal. “Biar kamu direbus di sana!” kata nenek. Kamu kecil takut direbus. Kamu lebih takut lagi bertemu dengan orang yang bisa melakukan itu. Ketakutan itu menjauhkan kamu dari bapak jutaan tahun cahaya. Meskipun dia datang ke rumah nenek, kamu tidak pernah berani mendekat apalagi menatap wajahnya.
Kamu merasa kesal saat orang-orang dari kampung halamanmu mengatakan bahwa wajahmu sangat mirip dengan Bapak. Padahal, kamu sama sekali tak punya bayangan visual tentangnya. Bagaimana rambutnya? Apakah postur tubuhnya tinggi? Kamu sama sekali tidak punya petunjuk. Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada album keluarga.
Ibumu, satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi itu, tetap bungkam. Dia memilih untuk menyimpan masa lalu itu untuk dirinya sendiri.
Dua tahun lalu, ketidakpuasan terhadap Ibumu meledak. Ibu memberi tahu bahwa Bapak meninggalkan kalian untuk kali kedua. Kali ini, kepergian itu abadi. Kamu menangis di bahu seorang teman dengan perasaan sedih yang tak terkendali. Ibumu meminta maaf karena gagal mempertemukan kamu dengan Bapak. Rasa sedih itu kemudian berubah menjadi amarah. Mengapa semua permintaan maaf selalu datang terlambat?
***
Di mata orang lain, kamu menjalani hidup yang gemilang. Kamu menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan biaya sendiri. Di kantor kamu tumbuh jadi orang yang bisa diandalkan. Pencapaianmu saat ini jauh melebihi teman-teman mainmu. Tapi, di dalam dirimu ada perasaan hampa yang selalu mengintai. Gak peduli sebanyak apapun pengalaman yang kamu kumpulkan, kehampaan itu akan selalu bertahan di sana. Suasana hatimu bisa tiba-tiba kacau ketika menyaksikan anak-anak kecil diantar oleh orangtua mereka. Bahkan, kamu enggan berlama-lama di tempat umum ketika ada keluarga bercengkrama. Rasa gemas menyelimuti hatimu saat melihat keluarga kecil menikmati makan malam di restoran. Menyaksikan hal-hal kecil seperti itu membuatmu merasa tidak utuh.
Bagaimana rasanya hidup di dunia yang setiap sudutnya mengingatkanmu akan nasib sial? Kamu sudah lama tau jawabannya. Untuk waktu yang lama kamu telah berusaha mengidentifikasi perasaan kamu sendiri dan berdamai dengan banyak hal. Ketika akhirnya kamu mengakses layanan psikolog, kamu datang dengan kesiapan penuh untuk menghadapi dunia yang baru. Dunia yang telah kamu impikan sejak lama. Dunia yang akan kamu bangun dari berangkal masa lalu.
Kamu memulainya dengan menziarahi bapak setelah dua tahun kepergiannya. Ziarah yang kamu lakukan sendirian. Tidak banyak doá yang kamu panjatkan ke langit. Kalian hanya bercengkrama dengan bahasa yang hanya kalian mengerti sendiri. Kamu percaya yang mati berbicara lebih jujur dari yang masih hidup. Dan kamu menerima kejujuran.
Di rumah, hubungan dengan Ibumu masih rumit. Ia tetap bungkam tentang peristiwa di masa lalu yang mengakibatkanmu terjebak dalam deretan nasib sial. Namun, sekarang kamu telah menyikapinya dengan lebih terbuka. Setelah melakukan perjalanan ke dalam lorong-lorong gelap dalam dirimu sendiri dan mengungkap lapisan-lapisan trauma yang telah lama tertutup, kamu menyadari bahwa bukan hanya dirimu yang terluka oleh keputusan-keputusan masa lalu, melainkan juga Ibumu. Kamu dengan penuh kesadaran memahami bahwa langkah penting dalam perjalanan penyembuhanmu adalah membantu Ibumu menyembuhkan dirinya juga.
***
Di bawah langit hitam maha luas kita duduk sejajar malam itu. Aku merasa menjadi orang jahat karena memandumu membuka kembali luka masa lalu.
“…Aku cerita karena aku mau merayakan kalau sekarang sudah bisa menerima.” Bantahmu. Aku menjadi sedikit lega.
Bagiku, kesiapan kamu berbagi pengalaman buruk adalah penegasan akan keluasan hati. Perjalananmu sampai titik ini jadi terasa ajaib. Dan begitu juga pengalaman banyak orang lain di luar sana yang sintas dari pengalaman buruk di masa lalu, yang memiliki keluasan hati untuk menerima sekalipun banyak hal berlangsung tanpa kejelasan.
Senandung Tanpa Lagu
Peringatan: Tulisan ini mengandung muatan perundungan dan trauma
Birama 1: Senandung
Gangga. Begitu ibu memanggilku. Sejak kecil, aku selalu nongkrong bareng ayah di ruang TV dan dengan pede-nya menawarkan diri jadi tandeman beliau untuk karaokean lagu-lagunya Broery Marantika. Lagu favoritku tentu saja “Jangan Ada Dusta di Antara Kita” yang dinyanyikan bersama Dewi Yull dan “Duri dan Cinta”. Aku akan bernyanyi sekencang-kencangnya dengan harapan satu gang mendengar suaraku yang tinggi. Ibu dan ayah mengamini anaknya yang keranjingan bernyanyi dengan membelikan sepasang mikrofon tanpa kabel berkualitas paling baik, dilengkapi seperangkat sistem pengeras suara yang sungguh bisa digunakan untuk acara kondangan. Sebuah totalitas tanpa batas–mengingat aku yang saat itu padahal masih berada di masa kelas 1 dan 2 sekolah dasar.
Saat naik kelas 3 pada tahun 2003, kegemaranku bernyanyi semakin menjadi-jadi karena sebuah ajang pencarian bakat bernama Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Masih teringat di benakku bagaimana kerennya Mawar AFI yang digadang-gadang jadi juara bernyanyi di depan Trie Utami, sang juri legendaris. Belum lagi muncul ajang lainnya bernama Indonesian Idol yang menempatkan Joy Tobing menjadi juara pertama di musim pembuka. Lagu hits dari Joy adalah lagu favoritku sepanjang masa: “Karena Cinta”. Bahkan, di usiaku yang sudah 27 ini, aku masih hafal liriknya dari awal hingga akhir. Sungguh indah.
Birama 2: Nada yang bersembunyi
Memasuki kelas 5 sekolah dasar, tepatnya di tahun 2005, membrana tympani alias gendang telinga ibuku sepertinya sudah tak kuasa menahan gempuran nada-nada yang keluar dari mulutku. Semesta tampaknya tak ingin ibu lelah; oleh seorang tetangga kami dikenalkan dengan guru olah vokal dan bermain piano. Tentunya tak ada alasan lain lagi untukku tidak mengikuti les vokal tersebut. Bertempat di gedung Radio Republik Indonesia alias RRI, seminggu tiga kali pita suaraku ditempa dan dibentuk sedemikian rupa. Setiap sesi selalu diawali dengan vokalisasi untuk membentuk pengucapan, pernafasan, dan intonasi yang baik secara teknik. Di akhir vokalisasi, kami selalu diajarkan teknik bernyanyi seperti membentuk vibrato (getaran teratur di ujung nada untuk memberikan aksen indah), membulatkan suara, melisma, dan masih banyak lagi.
Aku menemukan suakaku di umur yang masih belia ketika mengikuti kelas vokal. Suaraku juga terbilang mudah terbentuk dan membuatku menjadi salah satu murid yang menonjol di kelas. Setiap diadakan kompetisi bernyanyi, aku tak pernah absen untuk mengikuti. “Somewhere Over the Rainbow” adalah lagu yang sering kunyanyikan di banyak kompetisi, selain lagu-lagu Sherina dari film “Petualangan Sherina”. Sepertinya aku hafal semua di luar kepala hehe. Setelah mengenal Mike Mohede dan Judika, aku turut menyenangi lagu-lagu dengan liukan-liukan. Walau tak tahu nama genre ataupun teknik liukan tersebut, aku sering secara otomatis ikut meliuk-liukkan nada seperti mereka berdua. Sampai dengan kelas 1 sekolah menengah pertama, aku akhirnya berkenalan dengan genre lagu dan teknik bernyanyi tersebut: RnB dan riff and run.
Entah mengapa liukkan dengan teknik riff and run yang digunakan para penyanyi RnB sering membawaku ke dimensi lain. Mengenal Aretha Franklin, Fantasia Barrino, Charlie Wilson, dan masih banyak lagi membuatku semangat mengasah kemampuanku meliukkan nada. Playlist di HP-ku penuh diisi oleh lagu-lagu mereka. Pada jam istirahat sekolah, aku juga sering nongkrong di kantin teteh kesayangan dan sesudahnya bernyanyi bersama teman-teman di koridor sekolah. Sampai suatu ketika, aku tak sengaja mendengar ujaran salah satu temanku. “Kayaknya kamu jangan nyanyi kayak dangdut begitu deh, nanti mirip si Gangga,” ujarnya yang tak mengetahui kehadiranku. Pengalaman pertamaku di SMP bertemu langsung dengan ucapan tersebut entah kenapa membuat nadaku tercekat. Ia malu dan bersembunyi.
Birama 3: Menarik suara
Kali kedua. Bisa kupastikan ini kali kedua. Aku teringat bahwa ucapan yang membuat nadaku tercekat pernah kutemui–sebelumnya. Kilas balik ke masa-masa SD, terdapat kompetisi bernyanyi di RRI–tempat les vokalku–yang kuikuti dengan 10 teman-teman lain dari SD-ku. Kami sangat antusias, walaupun tidak ada satupun dari kami yang jadi juara. Pasca kompetisi, salah satu teman dekatku di sekolah menjaga antusiasme tersebut dengan sering mengajakku bernyanyi di ruang kelas. Apa saja kami nyanyikan. Bahkan, ketika diadakan perkemahan Sabtu-Minggu di sekolah, aku membantu regu temanku mengatur komposisi lagu untuk malam unjuk bakat. Reguku sendiri tentu sudah kuatur dengan kami menyanyikan lagu “Kenangan Terindah” dari Samson secara akapela. Sayangnya, regu temanku tidak tampil maksimal dan sepertinya aku sedikit mendapatkan efek samping dari hal tersebut. Selepas kegiatan, temanku sering mengatakan kepada yang lain untuk tidak bernyanyi sepertiku. Hal tersebut aku acuhkan saja saat itu karena aku tidak mengerti definisi dari “bernyanyi seperti Gangga”.
Kembali ke pertemuan keduaku pada ujaran serupa, aku sepertinya mulai memahami apa yang dimaksud oleh teman SD-ku dahulu. “Aku dangdut setiap mencoba meliuk-liukkan suara”, seringku berucap dalam hati. Di usia remaja, aku mulai sensitif dengan hal-hal yang membuat kepercayaan diriku menurun. Ditambah lagi, teman SMP-ku ini bukan satu kali saja berucap demikian. Pengulangan tersebut sering kali membuatku enggan untuk berolah vokal dan memilih menyimpan hasrat bernyanyi ke skala prioritas paling bawah. Bagaimana kalau rindu? Ketika rindu datang, yang kulakukan adalah memainkan musik sekencang-kencangnya di kamar tidur atau melalui headphone yang tersambung dengan perangkat HP.
Bukannya aku benci musik dangdut, aku suka dangdut dan tiap minggu tak pernah absen menemani ibu menonton kompetisi dangdut di televisi. Namun, bagiku yang bermimpi menjadi penyanyi RnB, kata-kata tersebut menihilkan usahaku berkenalan dengan genre musik kesukaanku, mengesampingkan tekadku belajar riff and run, dan menjadikanku penyanyi yang satu dimensi. Pita suaraku sering kali tidak mau diajak bekerja sama setiap bernyanyi, suaraku pecah sana-sini gelagapan meraih nada yang diinginkan. Sampai akhirnya aku lelah dan menyerah. Aku memilih menyibukkan diri menjadi anggota Paskibra sekolah ketimbang bernyanyi. Bernyanyi adalah suakaku, namun rasanya sulit untuk berdamai dengan nada. Aku, pita suaraku, dan otak besarku seperti orang asing. Aku ingin maju, lobus frontal mengatakan mundur. Dalam respon cepat, kutarik suaraku.
Birama 4: Progresi minor mayor
Beranjak memasuki perguruan tinggi, aku masih kesulitan memproses ketakutanku pada bernyanyi. Namun, kesempatan untuk menjadi pemain musik bagi tim tari fakultas memunculkan sedikit keberanian yang bersapa ria dengan rasa takutku tersebut. Berkawan dengan teman-teman yang peduli pada isu kesehatan jiwa, aku mulai sering mencari-cari tentang trauma masa kecil. Secara umum, yang kudapatkan tentang trauma masa kecil adalah suatu pengalaman yang menimbulkan rasa takut, kecemasan, sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Ketakutan ini menyedot kekuatan, mengikis kegembiraan, dan menguras kepercayaan diri serta sumber daya psikologis dan emosional yang membuat bernyanyi menjadi sulit.
Aku menyadari bahwa stres berkelanjutan terkait bernyanyi yang kualami karena menjadi sasaran intimidasi adalah sesuatu yang harus kulalui tiap harinya. Mungkin bagi sebagian orang dewasa ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, namun bagi banyak orang lain di luar sana, pengalaman serupa membuat nyali mereka ciut melakukan hal yang paling mereka cintai sekalipun.
Copeland dkk (2018) menemukan bahwa 30,9% anak pernah mengalami satu kejadian yang membuatnya trauma. Trauma mempengaruhi seseorang secara emosional dan mental. Namun, jarang sekali yang membicarakan bagaimana trauma dapat mempengaruhi tubuh, termasuk suara. Seperti yang kualami, dahulu aku menganggap bahwa jika bisa menghadapi intimidasi dan perkataan tidak menyenangkan dari teman, maka aku akan berhasil melalui fase buruk tersebut. Sayangnya, aku masih belum memberikan izin untuk suaraku muncul di pendengaran orang lain.
“Jika kamu pernah mengalami trauma sebagai seorang anak-anak atau remaja, kamu mungkin telah menginternalisasi rasa takut untuk dilihat dan didengar. Pikiranmu ada untuk melindungimu dan kemungkinan besar akan memberi tahu bahwa kamu akan aman jika pengganggu atau pelaku tidak dapat menemukan/melihat atau mendengarmu. Ini adalah taktik bertahan hidup yang valid untuk seorang anak atau remaja, tetapi ini menciptakan masalah saat kamu bertambah tua dan melangkah keluar ke dunia. Kamu masih seorang anak yang ketakutan dan berharap tidak terlihat, dan kamu masih tidak memberikan izin suaramu untuk didengar.” -Borzynski, 2019.
Membaca kutipan tersebut, aku masih bingung bagaimana harus memproses ketakutan untuk didengarkan ini. Aku masih belum menemukan cara untuk membuat pita suaraku melunak dan menuruti hati kecil. Pada saat itu, yang bisa kulakukan adalah mencari dan terus mencari apa yang terjadi dengan diriku–dan bahwa traumaku valid dan beralasan. Bahwa trauma ini membuatku rentan terhadap ketegangan yang tidak diinginkan sehingga otot-ototku kaku dan menyempitkan pita suara, menyulitkanku mengontrol volume dan kekuatannya.
Validasi ini menguat ketika 2020 lalu aku membaca cerita Yura Yunita, seorang penyanyi, di media nasional. Yura membagikan bahwa ketika berusia 5 tahun ia pernah dibentak ketika bernyanyi dengan lantang, dikatakan berisik oleh saudaranya sendiri, dan membuatnya takut untuk bernyanyi dengan maksimal. Hal tersebut tersimpan dalam dirinya sampai ia menemukan guru vokal yang menyadari kecenderungannya untuk bernyanyi dengan sangat hati-hati. Yura bahkan harus menjalani hipnoterapi untuk bisa berdamai dengan trauma tersebut.
Pada 2021, aku mulai memberanikan diri untuk membagikan kisahku pada teman-teman di laman sosial media yang kugunakan. Dengan bergetar aku menceritakan ketakutan untuk didengarkan. Di akhir cerita, kuselipkan dengan bernyanyi lagu favoritku saat itu, “Take Me to Church”. Masih terdengar suaraku pecah sana-sini, pernafasan yang amburadul, dan intonasi yang tak sebulat dahulu. Setelah membuka diri, kubaca di kolom komentar banyak sekali orang-orang berhati baik yang memberikan semangat. Yang rindu mendengarkanku bernyanyi. Menyuruhku rajin-rajin posting. Tak kusangka selepas menyanyikan lagu dengan banyak nada minor, yang kudengarkan adalah nada-nada mayor.
Birama 5: Kunci D Mayor
“Yang paling penting untuk diketahui adalah bahwa kamu tidak “terjebak” dengan masalah ini. Meskipun mungkin sulit untuk melewati keadaan sulit dan kenangan yang menyakitkan, kamu dapat bergerak menuju penyembuhan. Tubuh dan pikiran mengkalibrasi ulang setiap 21 hari dan ada harapan untukmu. Tidak ada salahnya kamu terus bergulat dengan masa lalumu. Itu menandakan kamu menyadari tingkat trauma dan cedera yang kamu alami.” -Cole, Penyintas Trauma, 2022.
Aku membayangkan, betapa indahnya jika dunia diisi dengan manusia tanpa trauma, tanpa rasa takut. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu penyintas trauma: mendorong untuk berbicara tentang perasaan mereka dan memvalidasi emosi mereka, membantu mereka memahami bahwa mereka tidak bersalah, bersabar karena setiap individu pulih dengan kecepatan mereka sendiri. Penyintas trauma juga disarankan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang suportif, untuk rajin berolahraga, menemui dan berbicara dengan profesional kesehatan mental, serta masih banyak lagi (Morin, 2022).
Namun, yang tak kalah penting bagiku adalah untuk membagikan pengetahuan ini kepada adik-adik, anak tetangga, junior dan senior di sekolah, orang tua kita sendiri, guru, serta orang-orang lainnya; agar kejadian serupa tidak dialami (dan ditimbulkan) oleh lebih banyak lagi orang-orang di luar sana. Agar semakin banyak orang di dunia bisa memenuhi potensi mereka tanpa trauma. Bagaikan mendengar lagu yang dimulai dengan akord D mayor: Bahagia.
Sumber:
Borzynski, P. 2019, The Effects of Trauma on Our Bodies – And Voices, Singing Sense … where Performance meets Psychology, diakses pada 4 Agustus 2022, <https://singingsense.com/2019/10/14/the-effects-of-trauma-on-our-bodies-and-voices/>
Cole, C 2022, How Trauma and Emotional Blocks Affect the Singing Voice, CARI COLE VOICE + MUSIC.CO, diakses pada 4 Agustus 2022, <https://caricole.com/how-trauma-and-emotional-blocks-affect-the-singing-voice/#>
Fauzie, A. S. 2021, Childhood Trauma: Kamu Bisa Melewatinya, Yayasan Pulih, diakses pada 4 Agustus 2022, <https://yayasanpulih.org/2021/03/childhood-trauma-kamu-bisa-melewatinya/>
Morin, A. 2022, Treating the Effects of Childhood Trauma, verywellmind, diakses pada 4 Agustus 2022, <https://www.verywellmind.com/what-are-the-effects-of-childhood-trauma-4147640#:~:text=What%20Is%20Childhood%20Trauma%3F,that%20can%20lead%20to%20trauma>
Wardiningsih, V. S. W. 2020, Alami Masa Pilu hingga Berdampak pada Aktivitas Dunia Tarik Suara, Yura Yunita Akui Sempat Ikut Hipnoterapi untuk Obati Trauma Masa Kecilnya yang Belum Selesai: Kalau Nyanyi Kayak Takut Ganggu Orang, Gridpop.id, diakses pada 4 Agustus 2022, <https://pop.grid.id/read/302018233/alami-masa-pilu-hingga-berdampak-pada-aktivitas-dunia-tarik-suara-yura-yunita-akui-sempat-ikut-hipnoterapi-untuk-obati-trauma-masa-kecilnya-yang-belum-selesai-kalau-?page=all>
****
Artikel ini merupakan bagian dari buletin Peluk Seluk Belukku ©2022, selengkapnya kalian bisa mengunduh buletin ini melalui tautan berikut:
Buletin Peluk Seluk Belukku