A Day in My Life: Sepele tapi Bermakna
“Karena banyak banget yang request A Day in My Life, jadi ini dia A Day in My Life akuuu…” ucap seorang influencer dalam unggahannya.
Banyak influencer dengan keahlian atau hobi tertentu berbagi gaya hidup mereka lewat A Day in My Life dan diikuti oleh banyak pengikutnya. Kita mungkin pernah menemukan konten serupa di FYP (For You Page) Tiktok atau Instagram. Seperti namanya, konten A Day in My Life atau ‘Sehari dalam Hidupku’ merupakan suatu template konten yang mempertontonkan bagaimana seseorang menjalani harinya.
Misalnya saja, konten rutinitas pagi hari saat influencer tersebut bangun dan membuat kopi sambil bermain dengan anabul mereka. Ada pula konten tentang kegiatan pagi hari seorang influencer yang tinggal di kosan saat ia membersihkan kasur, menyapu dan membersihkan sisa makanan semalam, kemudian merapikan barang. Dengan memakai efek fast motion dan voice over, sebagian orang merasa nyaman melihat konten mereka sembari melakukan aktivitas atau sekadar rebahan saja di kamar.
Di satu sisi, kita memang punya naluri tersendiri untuk mengonsumsi konten yang ringan, terlebih jika penasaran ingin melihat kehidupan orang lain. Di sisi lain, kehidupan para influencer dengan konten A Day in My Life ini seakan menjadi candu dan mempengaruhi banyak orang.
Terkadang saya pun jadi bertanya-tanya; seberapa besar ya, pengaruh konten tersebut terhadap kehidupan para pengikutnya?
Mengetahui Tips and Tricks Tertentu
A Day in My Life tidak melulu mengenai gaya hidup seseorang yang begitu spesifik, seperti menyoal slow living atau yang menggarisbawahi kebahagiaan. Terkadang beberapa konten juga menampilkan kehidupan yang dirasakan banyak orang, seperti A Day in My Life sebagai ibu rumah tangga dengan segala pekerjaan domestik atau pekerja kantoran yang harus berdesak-desakan di KRL untuk berangkat kerja.
Di sela-sela ‘vlog’ singkat tersebut, kita terkadang menemukan tips and tricks dan bahkan life hacks yang dijalani pembuat konten tersebut. Kita bisa mempelajari, misalnya, cara-cara yang tepat saat naik KRL agar tidak cedera dan kebagian tempat duduk, bagaimana memanfaatkan transportasi umum agar lebih hemat, berapa uang dihabiskan pekerja kantoran dalam satu hari, bagaimana cara yang tepat untuk membungkus dan membuat food prep agar tidak gampang busuk, hingga bagaimana merapikan mainan anak dan memakai wadah yang mudah.
Percaya nggak percaya, terkadang apa yang di-spill dalam A Day in My Life bisa membuat kita jadi lebih tahu kiat-kiat dalam menjalani kehidupan. Iya nggak sih?
Hal Kecil yang Membuat Kita Bersemangat
Kehidupan yang terjadi pada konten A Day in My Life juga mampu memantik semangat beberapa orang yang menontonnya. Ini sering dialami, misalnya, oleh penonton konten fitness influencer yang membagikan kehidupannya dari mulai bangun tidur, melakukan fitness atau workout, lalu sarapan dan berbelanja kebutuhan rumah, sampai akhirnya membuat masakan untuk makan malam.
Melihat rutinitas yang sehat dan terstruktur terkadang bisa membuat kita berniat atau bahkan bersemangat untuk memulai hidup seperti yang tertuang di sana, bukan begitu? Sampai-sampai, saya juga pernah menemukan seseorang di Instagram yang memulai pola sehat dengan fitness dan akhirnya turut menjadi influencer karena sering menonton konten A Day in My Life seorang influencer fitness.
Kampanye untuk Hidup yang Lebih Baik
Lebih jauh, A Day in My Life memang sebenarnya bersifat netral dan tidak selalu bisa berdampak baik. Dalam salah satu artikel yang saya temukan berjudul “Ilusi dan Kebohongan dari Konten A Day in My Life” karya Radhytia Rizal, dijelaskan bahwa A Day in My Life pada umumnya terlalu terstruktur dan dibuat-buat seolah memiliki kehidupan yang sempurna. Bahkan, pada umumnya konten tersebut hanya dibuat untuk menarik audience saja dan jarang bertujuan untuk mengedukasi publik.
Artikel tersebut mengungkap sebuah fakta bahwa konten pribadi influencer bisa jadi adalah sebuah konten semata. Tidak bisa dipungkiri bahwa di tengah era digital ini konten memang menjadi produk komersial; sebuah produk yang terkalkulasi dengan strategi sosial media yang meliputi target audience, engagement, algoritma, dll.
Tetapi, nyatanya, bukankah sebagian dari kita pun kerap merasa teredukasi dan terhibur dengan adanya konten tersebut? Lebih jauh, konten A Day in My Life juga kerap menjadi sarana kita ‘berpolitik’ dalam skala sehari-hari. Mengonsumsi hari seseorang mempengaruhi bagaimana kita mengatur dan menegosiasi diri kita; menganalisis atau membandingkan kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan influencer dan diri kita sehari-hari; merefleksikan identitas, nilai-nilai, dan pilihan hidup kita; serta mendapatkan banyak referensi pengetahuan baru yang mungkin tidak ada di lingkungan terdekat. Dengan kata lain, konten singkat A Day in My Life bisa jadi lebih berpengaruh dari yang kita kira.
Saya juga menemukan hasil penelitian di salah satu kampus di Indonesia yang menyatakan bahwa vlog, sebagai konten yang menampilkan kehidupan sehari-hari, berdampak signifikan dalam pembentukan sikap pribadi sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menjadi subjek penelitian tersebut. Vlogger dinilai oleh para mahasiswa sebagai sosok yang dapat dipercaya dan kredibel. Informasi dan pendapat mereka mengenai nilai-nilai, kejadian, hingga produk yang mereka ulas cenderung dipercaya oleh penonton. Bahkan, mahasiswa juga belajar cara mengekspresikan diri melalui gaya yang ditampilkan oleh Vlogger dan belajar untuk jadi lebih percaya diri (David et al.).
Ternyata, konten singkat A Day in My Life bisa jadi lebih berpengaruh dari yang kita kira, bukan? Ia bisa menjadi sarana kampanye untuk hidup yang lebih baik, menambah semangat dan produktivitas, memberi tips-tips hidup, hingga mempengaruhi gaya hidup dan nilai-nilai yang kita anut. Jadi, menurutmu, penting nggak sih konten A Day in My Life untuk hidupmu?
Referensi:
David, Eribka Ruthellia, et al. “Pengaruh Konten Vlog dalam Youtube terhadap Pembentukan Sikap Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi.” Acta Diurna, vol. VI, 2017, pp. 14-16, https://media.neliti.com/media/publications/93363-ID-pengaruh-konten-vlog-dalam-youtube-terha.pdf. Accessed 21 3 2023.
Yusuf, Radhitya Rizal. “ILUSI DAN KEBOHONGAN DARI KONTEN ‘A DAY IN MY LIFE.’” Froyonion.com, 1 October 2022, https://www.froyonion.com/news/esensi/ilusi-dan-kebohongan-dari-konten-a-day-in-my-life. Accessed 21 March 2023.
Analisis pribadi.
Valentine Sendiri, Anti Sepi!
Bulan Februari sangat identik dengan bulan penuh kasih sayang karena ada hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari. Sudah pasti kamu tahu dong, apa yang dilakukan orang-orang untuk merayakan hari ini? Ada yang memberi cokelat ataupun hadiah bagi pasangan atau orang-orang kesayangannya.
Lalu gimana ya dengan teman-teman yang sedang sendiri? Eits, sendiri belum tentu sepi. Ada perbedaan besar loh antara sendiri (being alone) dan merasa kesepian (feeling lonely). Meskipun berbeda, studi menunjukkan bahwa ada hubungan antara sendiri (tidak memiliki hubungan pertemanan yang dekat ataupun hubungan romantis) dengan perasaan kesepian para orang muda (Qualter et al, 2015).
Apa sih kesepian itu? Kok bisa kesepian berbeda dengan kesendirian? Copel (dalam Bekhet et al, 2008) mengartikan kesepian sebagai keadaan emosional di mana seseorang menyadari perasaan terpisahkan dari orang lain, bersamaan dengan perasaan membutuhkan orang lain. Jadi, bisa saja kamu sedang di tengah-tengah keramaian dan masih merasa kesepian.
Jika kamu merasakan kesepian seperti yang dijabarkan oleh Copel, tenang, kamu tidak sendiri. Ternyata kesepian bisa dirasakan bahkan sejak usia anak loh! Karena itu pula, banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi kesepian, terutama saat masa-masa yang seringnya makin memunculkan perasaan sepi itu—seperti Valentine atau hari besar lainnya.
Yuk, simak hal-hal seru yang bisa kamu lakukan untuk merayakan Valentine saat kamu sendiri ataupun melajang!
1. Beli cokelat (atau makanan enak) untuk diri sendiri
Buat kamu pembaca, baik yang sedang melajang ataupun tidak, siapa yang sudah berencana memberikan cokelat untuk diri sendiri? Meski Valentine adalah perayaan rasa sayang kita pada seseorang, jarang banget loh ada yang merayakan rasa sayangnya pada diri sendiri! Padahal, orang yang paling berjasa dalam melewati hari-hari yang berat maupun hari yang menyenangkan adalah dirimu sendiri, kan?
Untuk itu, jangan ragu untuk membelikan cokelat (atau makanan favoritmu) sebagai tanda sayang kepada diri sendiri. Kamu bisa ambil kesempatan hari Valentine ini untuk mengungkapkan apresiasi atau rasa terima kasih pada dirimu sendiri.
2. Beli hadiah untuk diri sendiri
Pernah dengar istilah self-reward? Sama seperti guru yang memberikan stiker di hasil ulangan muridnya yang mendapat nilai bagus, orang dewasa sering memberi hadiah bagi orang lain setelah berhasil melewati atau menyelesaikan sesuatu. Bedanya ketika melakukan self-reward, kamu bisa memberikan hadiah untuk dirimu sendiri.
Eits, tapi tanpa perlu syarat dan ketentuan yang berlaku. Pada hari Valentine ini, kamu berhak mendapatkan hadiah karena kamu sudah menjadi orang yang hebat dan selalu ada untuk dirimu sendiri! Kamu tetap berharga dan sangat boleh mendapatkan hadiah meski saat ini kamu merasa belum ada yang kamu berhasil lewati atau selesaikan.
3. Ajak diri sendiri nge-date!
Kata siapa nge-date atau berkencan hanya bisa dilakukan dengan pasangan? Kalau sehari-hari kamu menghabiskan waktu dengan rutinitas yang membuatmu bosan seperti sekolah, kuliah, atau bekerja, ini saatnya ajak dirimu sendiri untuk melakukan aktivitas baru.
Nonton film, jalan-jalan ke taman, mengunjungi kedai kopi kekinian, atau banyak lagi daftar acara kencan yang biasa kita lihat di televisi dan drama Korea, boleh banget kamu lakukan! Dengan melakukan aktivitas baru, kamu bisa mengurangi rasa bosan ataupun rasa kesendirian di hari Valentine ini.
4. Menghabiskan waktu dengan orang lain, tapi…
Meski saat ini kamu sedang melajang atau secara fisik sendiri, keterhubungan dengan orang-orang disekitarmu tetap penting banget loh. Karena ternyata dari studi yang dilakukan oleh Cornwell dan Waite (2009) menunjukkan adanya beberapa risiko terhadap kesehatan yang berhubungan dengan keadaan ketika kamu tidak terhubung dengan orang lain (social disconnectedness). Biasanya ada beberapa hal yang menjadi penyebab ketidakterhubungan ini, misalnya jaringan sosial yang memang sedikit, interaksi sosial yang terbatas, dan partisipasi di kegiatan atau kelompok sosial yang juga terbatas.
Maka dari itu, jika kamu sedang sendiri dan merasa kesepian pada hari Valentine ini, kamu bisa merayakannya dengan menghabiskan waktu dengan orang lain. Kamu bisa menghubungi orang-orang terdekatmu seperti teman atau keluarga, atau mengikuti kegiatan sosial seperti komunitas ataupun kelas kelompok.
Tunggu dulu, ada “tapi”-nya, nih.
Pastikan orang yang kamu pilih untuk menghabiskan waktu bersama, atau komunitas yang akan kamu ikuti, tidak akan membuatmu merasa sepi. Ingat kan, bahwa seseorang masih tetap merasa sepi bahkan ketika ditengah keramaian? Pilihlah orang atau kegiatan yang bisa membuatmu memiliki keterhubungan yang bermakna.
5. Kamu gak harus merayakan Valentine
Terakhir, ternyata kamu gak harus merayakan Valentine, loh!
Rasa kasih sayang dan hubungan dengan orang-orang disekitarmu bisa dirayakan kapanpun, gak harus di bulan Februari. Kalau pada bulan Februari ini kamu sedang sendiri atau merasa sepi, tidak apa-apa! Daripada merasa negatif karena menghabiskan waktu Valentine sendiri, kamu punya opsi lain: tidak merayakannya. Pada akhirnya, hari Valentine hanya sebuah perayaan semata. Kamu bisa berbagi rasa kasih sayang kapanpun dan dimanapun! Pada hari Valentine, atau pada bulan Februari ini, kamu bisa menjalani harimu seperti biasa…
Tapi, dengan catatan, kamu perlu membuka diri terhadap hubungan dengan orang disekitarmu, misalnya dengan keluarga atau teman. Dari sudut pandang evolusi, perasaan kesepian memang hadir untuk memberikan sinyal kepada kamu untuk terhubung kembali dengan orang-orang disekitarmu (Qualter et al, 2015). Perasaan sepimu pada Valentine kali ini valid, kok! Saatnya mendekatkan diri kembali ke orang-orang disekitarmu dan bangun hubungan yang lebih bermakna!
Referensi:
Bekhet, A.K., Zauszniewski, J.A. and Nakhla, W.E. (2008), Loneliness: A Concept Analysis. Nursing Forum, 43: 207-213. https://doi.org/10.1111/j.1744-6198.2008.00114.x
Cornwell, E. Y., & Waite, L. J. (2009). Social Disconnectedness, Perceived Isolation, and Health among Older Adults. Journal of Health and Social Behavior, 50(1), 31–48. http://www.jstor.org/stable/20617618
Qualter, P., Vanhalst, J., Harris, R., Van Roekel, E., Lodder, G., Bangee, M., Maes, M., & Verhagen, M. (2015). Loneliness Across the Life Span. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 250–264. https://doi.org/10.1177/1745691615568999
Aku dan Idolaku: Antara Ada dan Tiada
TRIGGER WARNING
Peringatan: Artikel ini mengandung muatan penguntitan, depresi, dan bunuh diri
Bulan Februari disebut juga sebagai bulan kasih sayang atau cinta karena adanya perayaan Hari Valentine. Setelah melewati perayaan Hari Valentine yang dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang antara dua individu, rasanya perlu untuk mengingat kembali kalau hubungan orang-orang di sekitar kita begitu beragam. Ada, lho, hubungan yang tidak melulu terjalin antara dua sisi. Hubungan ini terbentuk dari satu sisi saja melewati sebuah media. Inilah yang disebut dengan parasocial relationship.
Parasocial Relationship adalah sebuah hubungan psikologis yang dialami oleh audiens pengguna media dengan pemain atau pelaku dalam suatu media massa atau platform daring yang mereka kagumi. Pengguna media tersebut dapat membentuk hubungan parasosial ini dengan selebriti, idol, musisi, karakter fiksi dan animasi, bahkan influencer media sosial yang mereka temui melalui media massa. Lalu apa perbedaan parasocial relationship dengan cinta satu sisi? Perbedaannya adalah individu yang terjebak dalam hubungan parasosial ini tercipta hanya dari ilusi sebuah media yang mereka konsumsi seperti dari media sosial, TV, film, hingga live stream. Mereka menyukai idolanya hanya dari tampilan media tersebut saja.
Seiring dengan berkembangnya teknologi saat ini, interaksi dua arah antara seseorang dan idola mereka juga semakin mudah dihadirkan. Meskipun begitu, interaksi ini tetap sekadar berpusat pada penggunaan media seperti streamer dengan live chat ataupun melalui akun sosial media idola masing-masing. Salah satu kondisi lain dalam hubungan parasosial adalah bagaimana idola biasanya tidak mengetahui keberadaan penggemar mereka secara personal.
Hubungan antara public figure dan penggemar ini sebenarnya merupakan hubungan dengan simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan. Idola tersebut mendapatkan keuntungan berupa engagement di internet ataupun mendapatkan dukungan followers. Sementara, para penggemar mendapatkan kesenangan dari berbagai hal yang diberikan oleh idola mereka; entah seperti tontonan baru hingga fanservice berupa bertemu langsung. Ada beberapa penggemar yang merasa hidupnya tertolong dan lebih bahagia berkat melihat idolanya seperti penggemar Kpop ketika melihat grup BTS dan ‘Ras Terkuat Wibu’ ketika menonton Vtuber di kanal Youtubenya. Akan tetapi, yang berbahaya dari salah satu sisi industri entertainment ini adalah sang public figure sangat menginginkan fans2nya untuk menjadi parasocial relationship, dengan adanya mereka maka industri entertainment ini pun akan mendapatkan keuntungan yg besar.
Di sisi lain, hubungan yang seharusnya sama-sama menguntungkan ini bisa jadi berbahaya. Ketika para penggemar sudah membeli merchandise, mendonasikan uangnya kepada idolanya, ataupun mendedikasikan waktu dan tenaga untuk mendukung sang idola; kadang muncul pemikiran bahwa idola mereka merupakan milik mereka. Mereka merasa memiliki kepemilikan atas idola mereka yang sebenarnya merupakan manusia yang mempunyai kehidupannya sendiri. Rasa suka bisa membuat penggemar ingin mengetahui segala hal mengenai idola mereka dan terobsesi dengan kehidupan pribadi dari idolanya sendiri–dari kabar mereka setiap hari hingga ke hubungan pribadi para idola. Lantas, kehidupan pribadi idola terkadang menjadi terganggu.
Dalam kasus paling ekstrim, misalnya, penggemar bisa menguntit atau melakukan stalking di kehidupan nyata. Di kasus lain, penggemar juga bisa melakukan doxxing atau membeberkan informasi mengenai kehidupan pribadi idola tersebut. Ketika penggemar sudah masuk ke dalam ranah kehidupan pribadi idolanya, maka sudah tidak ada lagi batasan antara media dan jarak, mereka dapat melakukan hal yang buruk kepada idolanya hanya dikarenakan mereka tidak suka dengan kehidupan pribadinya. Bahkan, terdapat penggemar yang sampai bunuh diri dikarenakan idola mereka ternyata sudah mempunyai pasangan.
Keburukan dari parasocial relationship ini juga tidak berpengaruh kepada penggemar saja, akan tetapi dapat berpengaruh kepada sang idola. Mereka akan merasa tidak aman terhadap penggemar yang mungkin akan melakukan sesuatu kepadanya ataupun kepada karirnya jika tidak menyenangkan individu tersebut. Seorang idola akan terus merasa cemas dengan setiap hal yang mereka lakukan, baik di media sosial baik ataupun di kehidupan pribadinya, hingga akhirnya bisa berakhir dengan gangguan mental seperti depresi berlebihan atau lebih buruknya bisa berujung kepada bunuh diri.
Parasocial relationship juga terkadang dapat membuat para penggemar lupa dengan kehidupan nyata. Seorang penggemar bisa terlalu mendedikasikan diri terhadap idolanya dan mengabaikan kehidupan pribadinya.. Dari aspek finansial, misalnya, uang yang seharusnya digunakan untuk keperluan pribadi ataupun keluarga bisa habis dengan membeli merchandise ataupun donasi kepada idolanya. Tidak jarang orang yang terkena hubungan ini membuat mereka buta dengan hal sekelilingnya dan bereaksi berlebihan ketika idolanya dihujat.
Perlu ditekankan lagi, hubungan parasosial tidaklah selalu buruk. Tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan ini sering membuat penggemar bahagia, mendapat motivasi, hingga mendapatkan tujuan hidup baru dari orang yang mereka sukai tersebut. Dengan menonton atau bersosialisasi dengan idolanya, kondisi mental dan kehidupan seorang penggemar terkadang sangat terbantu. Selain itu, hubungan parasosial yang sehat merupakan faktor penting dari kesuksesan dan keberlanjutan industri entertainment. Pengalaman unik yang diterima oleh fans serta idola anda yang melanjutkan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh membuat hubungan saling menguntungkan ini akan tetap berjalan dengan baik.
Namun, garis tengah antara hubungan parasosial yang sehat dan tidak sehat perlu menjadi perhatian. Jika seorang penggemar mulai tenggelam lebih dalam, menginginkan hubungan parasosial ini menjadi lebih nyata, dan membuat hidup anda menjadi ketergantungan, maka hubungan parasosial tersebut sudah tidak sehat. Jika seorang penggemar mulai berpikir bahwa hubungannya dengan sang idola bisa menggantikan hubungan dengan teman atau malah sebagai pasangan hidup, di saat itulah ia sudah harus menurunkan ekspektasi tersebut sebelum terlambat. Jasa PBN
Referensi:
Riantrisnanto R. (2016). ‘Ditusuk Fans Pria 20 Kali, Idola Jepang Mayu Tomita Kritis’. Liputan6. Diakses melalui: https://www.liputan6.com/showbiz/read/2513368/ditusuk-fans-pria-20-kali-idola-jepang-mayu-tomita-kritis
Amos A. (2022). ‘NIJISANJI files legal action against VTuber harassers and stalkers’. Dexerto. Diakses melalui: https://www.dexerto.com/entertainment/nijisanji-legal-action-vtuber-harassers-stalkers-1959697/
Kurtin, Kate S., Roy D., Dam L. (2018). ‘The Development of Parasocial Relationships on YouTube’. The Journal of Social Media in Society. Diakses melalui: Jasa Backlink Terbaik https://www.thejsms.org/index.php/JSMS/article/download/304/160/1493
Tan Y. (2022). More Attached, Less Stressed: Viewers’ Parasocial Attachment to Virtual Youtubers and Its Influence on the Stress of Viewers During the COVID-19 Pandemic. Diakses melalui: https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/pdf/2023/04/shsconf_sdmc2022_03012.pdf
Depressed Nousagi. (2022). ‘Why Parasocialism is Worse for VTubers’. Youtube. Diakses melalui: https://youtu.be/XXQgv2i5v3g
Foto Keluarga
Apa yang terbesit di kepala kalian kalau mendengar kata “foto keluarga”? Ya, benar, kata tersebut seringkali didedikasikan kepada sebuah benda yang sering kali kita lihat di dinding rumah. Begitulah makna yang sering sekali aku dengar.
Tapi menurutku, foto keluarga adalah benda dengan wajah orang-orang terkasih di dalamnya, dan mereka tak melulu harus berupa orang yang satu darah denganku.
Memang kata “keluarga” itu kurang nyaman di telingaku. Membayangkan foto keluargaku di dinding saja sulit untuk diungkapkan, apalagi diwujudkan. Ketika “keluarga” hanya dimaknai sebatas orang yang satu darah denganku, kata itu membayang-bayangiku karena tidak sesuai dengan kenyataan yang aku hidupi. Terkadang, hal ini juga membuatku memaksakan diri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Mungkin, kalian pun begitu.

Pernah ada masanya aku membatasi diri untuk bercerita dengan orang yang tidak pernah merasakan rasa sedih kehilangan anggota keluarga sepertiku. Bukan karena tidak suka dengan orang tersebut, hanya saja aku tidak mau mereka sadar akan ketidakmampuanku menghadapi rasa tidak nyaman yang mungkin tidak mereka rasakan. Namun ternyata, terkadang mereka yang punya keluarga “utuh” di dekatnya pun juga bisa kehilangan rasa memiliki suatu keluarga.
Kadang kita lupa kalau keluarga itu bisa bermakna luas, seperti lewat kehadiran dan kasih sayang. Nyatanya, aku banyak bertemu dengan orang-orang yang terasa nyaman dan bisa mengerti aku. Buatku, merekalah keluarga.
Memang terkadang ada juga orang yang suka bilang, “Kamu aja kali yang ngerasa kalau mereka seperti keluarga. Jadi, nggak usah ngarep.” Rasanya aku ingin bertanya lagi, “Emangnya salah ya kalau kita menganggap teman atau rekan yang cukup dekat dengan kita sebagai keluarga?” Menurut kalian salah nggak?

Meskipun aku tidak memiliki foto keluargaku, tapi setiap mengunjungi rumah teman atau rekanku, hal yang sering kali aku lihat terlebih dulu adalah spot foto keluarga mereka. Bagaimana perasaanku? Jelas aku senang dan bersyukur karena masih ada orang yang membuat mereka nyaman dan mengerti mereka. Meskipun terkadang suka terbesit rasa iri yang aku pendam sendiri, tapi ya… aku suka bilang ke diriku, “Apapun yang terjadi dalam hidupku, semua ini sudah ditakdirkan. Tugasku hanya menerima dan menjalaninya dengan baik. Tentu tidak mudah, tapi dalam setiap ketidakmudahan pasti akan ada solusi.”
Dan ternyata, aku begitu bahagia dengan makna “keluarga” baru yang kutemukan sekarang.
Jadi buat kamu yang sedang mencari makna keluarga, carilah dari hal kecil yang sering kamu temui di sekelilingmu, dan buatlah momen seindah momen foto keluarga.
Sembahyang Rebutan dan Hal-Hal yang Lebih Menyeramkan dari Hantu
Semenjak pandemi berlangsung, hari Minggu mempunyai pagi yang paling sepi. Keluarga saya di rumah tidak lagi terburu-buru bersiap ke gereja pagi karena kami bisa kebaktian kapan saja melalui Youtube. Tapi, di suatu Minggu pagi, sepi itu tidak berlangsung lama. Rumah kami kedatangan om dan tante dari Cikarang, Engkong, serta i’i (tante) dari Mama yang tinggal tidak jauh dari rumah. Suasana menjadi heboh, tapi menyenangkan.
Tidak lama setelahnya, bel rumah kembali berbunyi. Kali ini, saya dikejutkan dengan beberapa kiriman kue bulan dari teman Mama yang datang entah dalam rangka apa. Maklum, hanya ada satu hari raya dalam penanggalan Cina yang rutin masih saya rayakan, yaitu Imlek. Sisanya adalah hari-hari yang nampak dekat, tapi sebenarnya terasa asing.
Bersama Mama, kami duduk mengobrol. Beberapa mulai menyantap kue bulan dengan secangkir kopi serta teh, sampai om saya mengajak saya bicara,
“Ca! Si Tante L (istrinya) noh kemaren kesurupan,” ujarnya sambil cekikikan.
Sebagai seorang penakut yang senang ditakut-takuti, kalimat itu sontak membuat saya bersemangat. Kenapa ia bisa tiba-tiba kesurupan? Bagaimana rasanya kesurupan? Seperti apa hantu yang merasukinya? Dan serentetan pertanyaan lainnya berbaris di kepala, ingin cepat-cepat dijawab.
Tentang Hantu-Hantu yang Lapar
Ternyata beberapa waktu sebelumnya, tante dan om saya mengikuti serangkaian upacara sembahyang dalam rangka Bulan Hantu di Jonggol, tempat keluarga tante saya tinggal. Pada bulan yang jatuh di bulan ketujuh setelah Imlek ini, dipercaya kalau gerbang alam baka dibuka seluas-luasnya sehingga hantu-hantu yang hidup di dalamnya bebas keluar menjelajahi ‘dunia lain’ tempat kita hidup kini.
Untuk menghormati hantu-hantu tadi, diadakanlah perayaan dan persembahyangan bagi mereka. Keturunan Cina yang masih merayakannya akan menyediakan makanan sebagai persembahan dan mendoakan mereka.
Tapi, hantu di sini bukanlah sembarang hantu. Dalam penjelajahannya, ada pula hantu-hantu yang tidak tahu kemana harus berpulang karena dilupakan oleh keluarganya, juga hantu-hantu tanpa keluarga. Merekalah hantu yang jiwanya lapar dan ditelantarkan, berkelana tanpa didoakan.
Hantu-hantu lapar inilah yang dijamu dan didoakan dalam sembahyang rebutan di klenteng. Saat mengikuti upacara di klenteng tersebut, tante dan om saya bilang kalau hawanya terasa berbeda dan tidak enak. Hawanya terasa berat. Mereka percaya, kalau pada saat itu, bersamaan dengan penduduk sekitar yang datang, ada begitu banyak hantu yang turut hadir untuk ‘merebutkan’ persembahyangan.
Setelah persembahyangan selesai, makanan yang berlimpah itu pun dibagikan agar dapat dinikmati oleh setiap orang yang datang, terutama sesama manusia yang juga sehari-harinya lapar dan kekurangan.
Kesurupan pertama terjadi saat sembahyang ini dilanjutkan di rumah keluarga tante saya. Saat itu, meja berisi jamuan makanan disediakan khusus untuk anggota keluarga yang telah meninggal. Cici (kakak perempuan) ipar tante saya berinisiatif untuk menaruh meja jamuan tersebut di jalanan depan rumah. Tante saya sempat melarang karena menurutnya, jamuan itu sudah menjadi “jatah” hantu keluarga yang hadir di teritori rumah mereka. Jika ditaruh di luar, makanan itu akan diperebutkan oleh hantu lain yang berlalu-lalang di luar rumah.
Benar saja, tidak lama setelah itu, cici ipar tante saya dirasuki oleh hantu yang menangis dan tidak berhenti mengucapkan terima kasih karena telah diberi makan. Tante saya, walau sedikit jengkel karena firasat buruknya terjadi, dengan tenang menjawab, “Iya, makan aja. Udah waktunya jam makan siang. Abis itu udahan ya, kasian yang punya badan udah capek.” Lalu beberapa saat kemudian, hantu itu pun ‘keluar’ dengan sendirinya.
Sekitar sebulan setelahnya, tante dan om saya kembali berkumpul di rumah keluarganya di Jonggol untuk sembahyang kue bulan dan memberi ‘jamuan’ terakhir kepada para hantu sebelum mereka kembali ke alam baka pada akhir bulan. Ah, jadi ini alasan kenapa tiba-tiba ada kue bulan yang datang ke rumah. Di Jonggol, tradisi ini kerap diikuti dengan ‘keisengan’ bermain boneka arwah atau jelangkung di malam harinya. Mereka percaya, hantu yang nantinya masuk ke boneka arwah tersebut adalah hantu yang masih terhambat kepulangannya. Nah, pada saat bermain boneka arwah inilah terjadi kesurupan kedua. Kali ini, giliran tante saya yang kesurupan.
Om saya lalu menutup cerita dengan memperagakan (untuk kesekian kalinya) tante saya saat kesurupan, sekaligus memberi pengakuan kalau di saat itu dia memilih ‘kabur’ karena takut. Tawa kami semua pun meledak, disusul dengan omelan i’i saya terhadap perilaku saudaranya itu. Tante L yang duduk di samping saya kembali tertawa. Entah kenapa, raut mukanya mengisyaratkan rasa bangga.
“Nih tante L kirimin videonya (boneka arwah), ya!” ujar tante saya cengengesan.
“Hmm boleh… Kirim ke WA mama aja tapi,” jawab saya setengah takut. Bagaimana kalau hantu itu masih ‘menempel’ di rekaman dan malah menghantuiku?
Adakah yang Lebih Menyeramkan dari Hantu?
Tumbuh besar, saya memang selalu melihat hantu sebagai ancaman. Mereka selalu punya niat jahat, entah itu untuk menjahili, menakut-nakuti, mencelakakan, atau membalaskan dendam kepada manusia. Gambaran ini tentu tidak bisa lepas dari bagaimana hantu direpresentasikan oleh media dan cerita yang dituturkan selama ini kepada saya. Hantu, bagi saya, adalah makhluk mengerikan tanpa kapasitas untuk merasakan hal lain selain amarah yang timbul dari ruang vakum.
Hantu yang terasa begitu manusiawi dalam cerita tentang sembahyang rebutan tadi mengingatkan saya pada penelitian Bubandt (2012) tentang bagaimana hantu dalam serial hantu Hollywood maupun hantu penyihir suanggi di Tobelo, Maluku Utara semakin ke sini sama-sama dimaknai sebagai sosok yang memiliki sisi psikologis dengan pergolakan batin dan traumanya tersendiri (psychologized)—sama seperti manusia. Hantu, menurut Bubandt, menghantui kita tentang apa artinya menjadi manusia dengan cara-cara yang meresahkan.
Perkara menghantui ini sejalan dengan pernyataan Johnson (2013) kalau gambaran hantu dalam kisah-kisah yang umum beredar merepresentasikan kecemasan tentang suatu hal mendasar yang hilang dalam keseharian kita. Jadi, fakta bahwa kepercayaan tentang hantu-hantu yang lapar ini telah menghantui kita sejak ribuan tahun lalu[1] meninggalkan kegelisahan yang bercampur dengan rasa takjub dalam hati saya.
Di satu sisi, saya takjub karena ribuan tahun lalu, hantu sudah dapat ditempatkan dengan begitu manusiawi, juga bagaimana kepedulian dan keinginan untuk merawat dapat direntangkan hingga lintas dimensi. Gambaran tentang hantu-hantu lapar ini jauh, jauh, lebih baik daripada hantu yang saya kenal selama ini karena setidaknya di keluarga inti saya, tradisi seperti sembahyang rebutan kerap dianggap sebagai hal ‘klenik’ yang punya konotasi negatif, tabu, dan ‘tertinggal’.
Tapi di sisi lain, ada semacam rasa sakit gigi ketika saya menyadari bahwa sampai hari ini, kecemasan dan masalah yang menghantui kehidupan kita nyatanya masih sama. Masih ada orang-orang yang dilupakan dan ditelantarkan dalam lingkup terkecil hingga secara sistemik, juga orang-orang yang merasakan sakitnya hidup dalam keterasingan. Dan mungkin, kita pun salah satu diantaranya.
Kebutuhan mendasar yang terus-menerus gagal dipenuhi oleh dunia tempat kita hidup ini menggelitik saya. Utamanya karena saya kembali disadarkan kalau perkara mengingat dan setidaknya berbagi—hal menyenangkan ataupun menyedihkan—di tengah sistem yang terus mengajak kita untuk melupakan dan mengasingkan, adalah kerja-kerja yang terasa sepele namun begitu berharga.
Di ujung pembicaraan hari itu, saya akhirnya menyadari kalau ternyata masih ada hal-hal yang lebih menakutkan daripada hantu. Mereka adalah rasa hidup dalam keterasingan dan dilupakan; juga hidup dalam kelimpahan yang tak pernah dibagi.
[1] Praktik sembahyang rebutan berkembang di masa Dinasti Shang (1600—1046 SM). Tradisi ini pada mulanya adalah tradisi masyarakat agraris agar memperoleh berkat dari leluhur dan dewa menjelang masa panen, yang dalam perkembangannya mendapat pengaruh dari ajaran Buddha. (Margareta, 2018)
Referensi
Bubandt, N. (2012). A psychology of ghosts: The regime of the self and the reinvention of spirits in Indonesia and beyond. Dalam Anthropological Forum (Vol. 22, No. 1, pp. 1-23). Routledge.
Johnson, A. A. (2013). Progress and its ruins: Ghosts, migrants, and the uncanny in Thailand. Cultural Anthropology, 28(2), 299-319.
Margareta, D. A. (2018). Perbandingan Ritual Sembahyang Cioko/中元节 zhōng Yuán Jié Di Klenteng Tridharma Sumber Naga Probolinggo Dan Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan. Skripsi. Universitas Brawijaya.
Bila Bom Nuklir Diledakkan
Teman-teman, tahu gak sih kalau 26 September 2022 merupakan Hari Penghapusan Total Senjata Nuklir Internasional (International Day Elimination of Nuclear Weapon)?
Hari internasional ini ditetapkan pada bulan Desember 2013 sebagai tindak lanjut dari pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB tentang pelucutan senjata Nuklir tiga bulan sebelumnya di New York. Langkah ini merupakan sebuah komitmen internasional dan pencegahan untuk bencana kemanusiaan, ekonomi, seta lingkungan yang diakibatkan senjata nuklir. PBB sendiri telah melakukan upaya penghapusan senjata nuklir sejak tahun 1946 dan secara bertahap menyatukan komitmen internasional dalam Perjanjian Non Proliferasi Senjata Nuklir (Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons).
Teman-teman tentu tidak lupa bahwa sejarah mencatat salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang diakibatkan senjata nuklir, yakni pengeboman oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada tanggal 6 Agustus 1945 di masa Perang Dunia II. Meskipun secara tidak langsung peristiwa ini berpengaruh terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia, namun pengeboman itu tidak dapat dibenarkan atas dasar apapun. Siapapun, di belahan dunia manapun, tidak pantas mengalami hal serupa.
Meski demikian, hingga awal 2021, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa kepemilikan senjata nuklir berupa hulu ledak nuklir dari Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, Paris, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara masih berjumlah 13.080 senjata. Banyak sekali, bukan?
Di tengah stabilitas politik dan situasi hubungan antar negara yang dapat berubah-ubah, potensi konflik dan perang yang lebih besar akan selalu membayangi. Tidak adanya komitmen internasional untuk terus menjaga upaya perdamaian akan memicu upaya penggunaan kekuatan militer yang lebih besar seperti penggunaan senjata nuklir. Sehingga, komitmen dan upaya penghapusan senjata nuklir harus terus diupayakan serta dikuatkan.
Hingga tahun 2022, upaya PBB dalam langkah penghapusan total senjata nuklir ini sudah masuk ke tahap mengafirmasi kembali keputusan negara-negara yang terlibat dalam Perjanjian Non proliferasi Senjata Nuklir dengan mengadopsi Vienna Action Plan agar implementasi perjanjian tersebut dapat lebih efektif dan tepat waktu.
Perkembangan teknologi dan sains menghadirkan banyak pilihan menyoal penggunaan nuklir. Namun, pilihan untuk memanfaatkannya bagi kemanusiaan atau membinasakan manusia ada di tangan kita. Yuk, kita pantau bersama agar upaya penghapusan senjata nuklir ini bisa terus menguat hingga akhirnya dihapuskan total!
Referensi
Wakidah, Anisa. 2021. “Sejarah Hari Eliminasi Senjata Nuklir 26 September, Bermula di 2013”. Tirto. Diakses tanggal 26 September 2022 dari: https://tirto.id/sejarah-hari-eliminasi-senjata-nuklir-26-september-bermula-di-2013-gjRp
‘Nuclear Weapons Elimination Day’. United Nations. Diakses tanggal 23 September 2022 dari: https://www.un.org/en/observances/nuclear-weapons-elimination-day
Distopia a la Isekai dan Kesehatan Mental Wibu
Peringatan: Tulisan ini mengandung muatan bunuh diri
Halo, sobat muda! Pernah dengar soal berita kasus bunuh diri seorang muda di suatu pusat perbelanjaan tahun 2021 silam? Orang muda ini berinisial RAS, seorang wibu atau pegiat aktif budaya populer Jepang. Berita ini kemudian tersebar luas di berbagai kanal media sosial, khususnya Facebook, di mana ditemukan kalau status-status Facebooknya ternyata membicarakan tentang kematian dan bunuh diri. Komunitas Wibu di Facebook pun terdampak ketika menemukan fakta ini.
Hidup memang berat. Semua manusia mempunyai beban kehidupannya masing-masing dan Komunitas Wibu bukanlah pengecualian. Mengingat bahwa sebagian besar wibu merupakan introvert dan kesulitan bersosialisasi, mereka tergolong rentan dikucilkan dan menyendiri. Banyak yang kemudian melakukan pelarian dengan menghibur diri mereka dengan membaca manga, light novel, bermain game, dan menonton anime. Salah satu genre yang cukup populer bagi komunitas wibu adalah genre Isekai.
Isekai bisa diartikan sebagai “Dunia Lain”. Ia merupakan subgenre dari genre Fantasy tentang seseorang–dari dunia kita sekarang–yang memasuki dunia fantasi lain. “Perpindahan” ini bisa terjadi melalui reinkarnasi menjadi bayi, teleportasi ke dunia lain, masuk ke dalam dunia virtual, dan sebagainya. Dari berbagai contoh tersebut, terdapat kesamaan dimana pemeran utamanya pergi meninggalkan dunia tempat dia lahir dan berpetualang ke dalam dunia barunya.
Lalu, apa hubungannya dengan kasus bunuh diri tersebut dengan genre Isekai? Keterkaitan keduanya terlihat dari rekam jejak Facebook RAS yang kala itu berusia 16 tahun. Selain kerap membagikan konten anime, foto profil RAS merupakan pemeran utama dalam anime Kuma Kuma Kuma Bear. Ia jelas mengetahui adanya genre Isekai tersebut.
Mungkin banyak yang sepakat kalau orang-orang yang menyukai anime adalah orang yang melarikan diri dari dunia nyata. Entah karena kurang suka bergaul atau mempunyai masalah-masalah hidup seperti menghadapi perundungan, sehingga membutuhkan escapism. Walau kita tidak akan benar-benar tahu pasti alasan RAS mengakhiri hidupnya, saya sangat berharap bahwa alasannya tidak dipengaruhi oleh Isekai.
Yang lebih nyata terlihat dari kejadian ini dan kepopuleran genre Isekai adalah terdapat permasalahan kesehatan mental yang dialami banyak orang. Menurut studi terkait Isekai dan masyarakat Jepang, komunitas wibu melihat genre Isekai ini sebagai pelarian yang tepat. Kehidupan dalam Isekai sangat berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sekarang yang cenderung dipenuhi hiruk-pikuk pekerjaan yang membuat stress, masalah keluarga, permasalahan kesehatan mental, dll. Tak heran jika Isekai yang berangkat sebagai sebuah subgenre belaka sekarang berkembang dengan pesat, menjawab kebutuhan orang-orang untuk “melarikan diri”.
Namun, kesehatan mental masih menjadi sebuah hal yang disepelekan. Remaja dan orang muda berada di kelompok usia yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena ketidakstabilan emosi, belum berkembangnya otak secara penuh, dan ragam pengalaman baru. Kondisi ini bisa diperparah kurangnya pengetahuan terkait kesehatan mental dan support system dalam lingkungan sekitar yang kurang memadai.
Lahirnya istilah “ras Wibu adalah ras terkuat” bukanlah tanpa alasan. Mereka sudah tahu dengan takdir “sepi” yang akan mereka alami, tapi tetap memilih jalan ninja ini dan bertahan sebagai ras Wibu. Walaupun lebih rentan dikucilkan dan tidak diterima karena segmen peminat yang cenderung kecil dibandingkan dengan hobi dan ketertarikan lain, mereka tetap tegar menjalani hidup.
Pada akhirnya, tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan betapa pentingnya kesehatan mental, terlebih di tengah bulan September yang kerap diperingati sebagai Suicide Prevention Month ini. Walau seseorang terlihat baik-baik saja, kita tidak benar-benar tahu jika ada kondisi mental yang begitu memberatkan hari-harinya dari dalam. Oleh karena itu, saya berharap bahwa kita sebagai sesama anggota komunitas Wibu bisa menjadi support system untuk satu sama lain dengan saling peka. Jika ada teman terdekat ataupun teman online yang mulai memperlihatkan gejala-gejala menurunnya kesehatan mental, kita sebaiknya menghubungi dan menawarkan bantuan semampunya. Mari kembali menjadi ras Wibu yang budiman dan peduli dengan komunitas Wibu yang kita cintai ini.
Referensi
Abdurrahman, N. (2021). ‘Remaja 16 Tahun Tewas setelah Loncat dari Lantai 12 Mal, Diduga Bunuh Diri, Ini Kata Saksi’. Tribun News. Diakses melalui: https://m.tribunnews.com/amp/regional/2021/06/02/remaja-16-tahun-tewas-setelah-loncat-dari-lantai-12-mal-diduga-bunuh-diri-ini-kata-saksi
‘Upload Postingan Bunuh Diri, Ternyata Bunuh Diri Betulan!’ (2021). Kaskus News. Diakses melalui: https://kask.us/iJoh2
Lu, C. (2020). ‘The Darker Sides of the Isekai Genre: An Examination of the Power of Anime and Manga Power of Anime and Manga’. The University of San Francisco. Diakses melalui: https://repository.usfca.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2190&context=capstone
Kaligis, F. (2021). ‘Riset: usia 16-24 tahun adalah periode kritis untuk kesehatan mental remaja dan anak muda Indonesia’. The Conversation. Diakses melalui: https://theconversation.com/riset-usia-16-24-tahun-adalah-periode-kritis-untuk-kesehatan-mental-remaja-dan-anak-muda-indonesia-169658
Visual artikel diolah dari gambar Quora
Orang Muda Multitasking
Diolah dari ilustrasi Sketchify/Canva
Artikel oleh: Elliah Ayu
Orang muda multitasking. Begitulah aku menyebut diriku. Di usiaku yang masih belasan, aku memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Melihat kerutan di wajah perempuan yang setiap hari tangannya kucium membuatku mengambil keputusan ini.
Multitasking memiliki makna tersendiri di kehidupanku yang tumbuh besar dengan seorang ibu yang berperan sekaligus sebagai ayah. Ini bukanlah hal yang mudah. Terkadang aku berpikir bahwa aku terpaksa melakukan semuanya dalam satu waktu dengan cepat untuk bertahan hidup. Memiliki “sejuta keinginan” kemudian menjadi kedokku untuk berperan sebagai orang muda multitasking. Aku adalah orang muda dengan sejuta keinginan dan aku telah membayangkan sedari dulu bahwa pasti akan ada banyak pengorbanan untuk keinginan-keinginan ini.
Tapi, tanpa disadari, berperan menjadi orang muda multitasking memiliki resiko. Salah satunya adalah beban stres yang lebih dari orang sepantaranku pada umumnya. Misalnya, dalam pengalamanku menjalani dua kegiatan berbeda bertahun-tahun, menjaga mood merupakan tuntutan yang besar dan berat. Ketika bekerja dari pagi sampai sore, aku mengalami banyak hal yang seringkali tidak sesuai ekspektasi dan berpengaruh besar pada energiku. Namun, terlepas dari apa saja yang terjadi selama bekerja, pada sore sampai malam hari, aku harus siap dengan mood yang baik untuk bisa menjalankan kuliah. Hal-hal yang terjadi dan tidak sesuai ekspektasi selama kuliah merupakan satu hal lain lagi yang menambah beban hari itu.
Kita tidak seharusnya memaksa diri untuk selalu baik-baik saja. Namun, siapa yang sempat untuk “tidak baik-baik saja” ketika waktu untuk rehat dan memulihkan mood saja sangat sulit didapat di keseharianku yang padat? “Tidak apa-apa melakukan dua hal dalam satu waktu, nanti pasti kamu akan terbiasa,” ujar seseorang kepadaku. Dan nyatanya, aku memang mulai terbiasa. Namun, ini tetap saja tidak membuat perjalanan multitasking-ku mudah. Ketika kamu melakukan kegiatan berat dalam satu waktu secara berturut-turut, beban di punggungmu jadi terasa jauh lebih berat.
Bertemu dengan teman-teman menjadi cara yang biasa aku lakukan jika sedang tidak baik-baik saja–entah karena bekerja atau kuliah. Mungkin ini mengherankan karena aku bisa saja menggunakan waktu ini untuk istirahat di rumah, mengingat besok harus beraktivitas lagi. Nyatanya, bertemu dengan teman-teman seringkali memulihkan rasa lelah dan bahkan mood-ku. Aku juga menyadari bahwa bertemu dengan orang yang sama-sama sedang “berjuang” justru menambahkan semangat tersendiri. Kami bahkan kerap saling membantu kesulitan satu sama lain ketika bertemu.
Bagaimanapun, di balik semua hal yang berat, kamu pasti akan menemukan makna yang luar biasa. Aku bisa merasa bangga dan hebat atas segala perjuanganku. Begitulah aku. Lagipula, hal berat itu akan terasa lebih mudah jika kamu melakukannya dengan senang hati. Yah, walaupun pada awalnya aku merasa kalau aku ‘terpaksa keadaan’ untuk berperan sebagai orang muda multitasking, nyatanya aku tetap bisa menikmati semuanya. Toh, bekerja sambil kuliah merupakan keputusan mutlak ku untuk bisa mencapai keinginanku.
Buat kamu orang muda yang sedang berjuang mengejar keinginan–ataupun sedang dipaksa oleh keadaan–jangan menyerah, yah. Multitasking bukanlah hal yang buruk. Jika kamu merasa lelah, tidak apa-apa. Beristirahat terlebih dahulu adalah jawabannya. Tapi, kamu harus selalu berpegang teguh pada keinginan yang selalu kamu semoga-kan. Selamat merayakan menjadi orang muda untukmu yang sedang berjuang!
Jika Padam, Nyalakan
Ditulis dan difoto oleh Highvolta Media feat. Cays dan Helmi
“Masih perlukah kita menyelamatkan ruang publik?” Jawaban “tidak perlu” tentu saja menjadi satu-satunya pilihan tegas bagi kita sebagai masyarakat yang memiliki hak penuh untuk dapat menggunakan serta menikmati fasilitas yang telah disediakan oleh pihak yang berwenang. Taman, museum, gedung pertunjukan dan ruang-ruang lainnya merupakan produk dari hasil jerih payah masyarakat menyetor pajak. Peran pemerintah untuk membangun ‘ruang’ bagi masyarakat sudah tentu menjadi hal yang wajib untuk dilaksanakan, tak perlu tuntutan, sadar akan posisi mereka sebagai pelayan semestinya sudah tidak membutuhkan lagi bel pemanggil untuk satu hal yang menjadi prioritas dalam ruang lingkup pembangun kota.
Ruang publik yang telah hadir, sejatinya dibangun sesuai dengan kepentingan serta keperluan masyarakat, hadirnya ruang publik–dalam bentuk apapun–salah satu fungsinya untung menopang ekosistem masyarakat dalam berkegiatan, seperti bekerja, olahraga, menggelar pagelaran, berkesenian, dan masih banyak lagi. Fungsi ruang publik yang harus tepat sasaran menjadi poin penting dalam pembentukannya, bagaimana roda sosial, budaya serta ekonomi mesti berputar sebaik-baiknya. Disini peran ‘fasilitator’ yang menjadi pemeran utama.
Pembangunan ruang publik selalu menjadi panggung yang cantik untuk tampil, sebagai pemegang kendali kota, perihal satu ini adalah lahan basah untuk mendapat atensi yang baik dari masyarakat. Dengan berbagai alasan manis sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat. Namun kita semua tahu, hampir sebagian besar pengelolaan ruang publik selalu berakhir buruk.

Menjaga dan melestarikan ruang publik adalah tanggung jawab yang utama. Tak perlu membicarakan hal besar dahulu, banyak persoalan kecil yang masih belum tuntas diselesaikan. Salah satu masalah yang berlarut-larut: pemeliharaan, terutama dalam kasus infrastruktur. Kami–masyarakat–sangat sadar bahwa para pengurus memiliki banyak kepentingan lain diluar ‘mengerjakan dengan sepenuh hati’ soal produksi ruang bagi publik, kalimat terakhir ini tak perlu didebat.
Pada akhirnya publik mengalami krisis kenyamanan, kuasa pemeliharaan menjadi kabur. Lahan yang seharusnya dirawat oleh yang bertanggung jawab menjadi terbengkalai, tak terawat. Masyarakat–tanpa menyudutkan perilaku buruknya–pun hilang kendali sebagai pihak yang “menggunakan”, buang sampah sembarang, memakai fasilitas tak beraturan, dan hal-hal lainnya yang seolah merusak ruang tersebut. Disinilah satu masalah besar muncul; melemparkan kesalahan kepada masyarakat sebagai pemeran nomor satu dari tak terawatnya ruang publik, menempatkan peran antagonis yang tak mendukung usaha sang empunya. Memakai jurus perilaku “vandalisme”.

Jika kita putar balik memakai akal sehat, justru merekalah yang merusak (re:vandalisme) tempat yang mereka bangun sendiri. Tak ada tindak lanjut pemeliharaan. Pembangunan menjadi sia-sia dan abai terhadap kritik yang datang. Kita bisa bayangkan betapa lucunya ketika mereka membangun ruang untuk memfasilitasi publik dengan penuh kebanggan kuasa dan pada akhirnya mereka pula yang memerankan sosok vandalis sebagai perusak tempat tersebut.
***
Tulisan ini mungkin terkesan naif dan ofensif. Namun, ini adalah surat terbuka dari kami yang masih sedikit peduli dengan jatah preman yang rutin kami setor. Karena mereka sudah gagal untuk untuk menyediakan fasilitas untuk warga, dalam agendanya sebagai pelayan publik.
Kembali pada pertanyaan awal, jawaban “tidak perlu” hanya akan menabrak banyak tembok tebal, dan mungkin beberapa terobosan yang sekadar dilakukan secara sektoral. Sederhananya, secara teknis publik tak memiliki tanggung jawab untuk “merawat” ruang publik, revitalisasi ‘ruang publik’ sama saja dengan death wish, memanjakan yang seharusnya melakukan itu semua.
Garis bawahi kalimat “sedikit peduli”, kami melakukan gerakan terbuka pada ruang publik, tempat dimana alas yang seharusnya layak dipakai. Bukan karena kami warga yang baik, gerakan ini hanya respon kami atas bobroknya ruang publik. Tak ada tendensi atas nama seni, revitalisasi, atau apapun itu. Ini hanya aksi naif sebagai warga yang mual melihat tempat yang seharusnya layak pakai sesuai fungsi, dan ‘membersihkan’ aksi vandalisme yang dilakukan oleh “oknum”.

Selamat menikmati.
***
Photo story ini merupakan bagian dari kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@highvolta_) dan Pamflet (@pamfletgenerasi).
Postulat Manusia Dewasa
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Artikel oleh: Mochammad Aldy Maulana Adha
I
mungkin begitulah manusia dewasa
gemar mengutuk manusia lainnya
& dirinya sendiri. sedang jantungnya
terus berdetak. sebuah jarum jam,
diam-diam niscaya berdetik;
& kepalanya menjadi bandara
paling sibuk. yang tak mengenal
apa itu titik. setelah koma. setelah
kata kerja kabur dari tawaran untuk
cuti. & pikirannya memilih kerja lembur.
setelah ingatan-ingatan subtil
lepas landas menuju langit lamunan.
menghantui langit-langit kamar mandi.
tanpa jawaban akan hujan. meski
pada gilirannya akan tercecer di trotoar,
di selokan, di kantor, di kampus, di tempat makan,
di dalam hatinya ia merasa makan hati—tapi
matahari pada pembuluh darahnya belum
memberi lampu hijau untuk segera mampus
& ia memilih untuk menyeduh kopi dengan
tambahan omong kosong hidup, lagi.
II
mungkin begitulah manusia dewasa
punya tendensi untuk melukis nostalgia.
dengan warna paling nyentrik. dengan
sentuhan majas-majas hiperbola.
sebab tak ada lagi yang menarik
dalam hidupnya. selain naik gaji,
naik jabatan & turun gunung mencari
tanggal paling seksi untuk liburan.
sedang ceruk-ceruk masa lalu pada
korpus memori masih menolak pergi.
seperti eksil masa kini;
hasrat paling purba untuk mengisi
kesadaran sebuah malam dengan
botol-botol alkohol pun mencuat
ke permukaan. bersembunyi di
batas-batas antara realitas & hiperealitas.
berusaha untuk tetap mabuk. semalam
suntuk. bunuh diri pikiran. lari, berlari
mencari pelarian. lari dari dunia yang berlari
lebih kencang. dari ruang waktu yang tak
memberi ruang bagi anak kecil dalam dirinya.
untuk barang sejenak bertanya-tanya:
apakah menunda kekalahan hidup
pada mati seperti ini sepadan dengan
kebahagiaan yang mungkin akan didapatkan?
III
mungkin begitulah manusia dewasa
setiap malam, ia mengheningkan cipta
pada cita-citanya. yang sudah membias
bersama bendera putih: ya sudahlah
mau bagaimana lagi, ucap hatinya lirih.
tapi resign pun bukan pilihan, kata otaknya
ikut menimpali. seperti sebuah konvensi
antara pikiran & perasaan. yang tak pernah
memiliki jalan tengah untuk menampung
kata kesepakatan yang hampir selalu resah.
: konon, di dalam kamus maupun tesaurus
bahasa mana pun di muka bumi yang jelek
ini manusia dewasa pantang hukumnya
mengeja kata lelah dengan suara lantang.
tiba-tiba manusia dewasa teringat
buku absurd yang pernah ia baca
& hati kecilnya pun berdoa agar suatu
pagi ia terbangun dalam tubuh seekor kecoak.
ingatan itu seperti bekerja untuk memperluas
konteks sebuah teks kanon abad yang tak
pernah ia alami seumur hidupnya:
konon, ia masih berlari. demi mengaburkan
kesadaran tentang betapa menyedihkan
hidupnya sekarang. agar hatinya bisa
melupakan kenyataan bahwa saat ini
ia ingin menjungkirbalikkan waktu
yang bahkan sebelum purbakala
telah berubah jadi lautan lepas
yang tak dapat diselami manusia.
(2022)
Tentang Penulis
Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Seorang Pengarang; Penerjemah; Ilustrator; Redaktur Omong-Omong Media; & Periset Baitul Falsafah. Dapat dihubungi melalui: Email-genrifinaldy@gmail.com; Instagram-@genrifinaldy; Twitter-@mochaldyma