Kopi Indie Keliling
Ditulis oleh Ai/Foto oleh Muhammad Rizki
Bagian 1: Ruang Publik
Apakah kamu familiar dengan istilah ‘anak indie senja kopi’? Julukan ini diasosiasikan kepada penikmat kopi manual brew yang mendengarkan musik sealiran Banda Neira atau Fourtwnty, di mana imbuhan kata ‘senja’ kerap ditemukan sebagai selipan puitis nan romantis di lagu-lagu tersebut. Indie atau independen juga akhir-akhir ini menjadi label untuk individu atau kelompok yang dinilai “berbeda” selera dari arus utama.
Namun, indie sebenarnya memiliki makna yang sangat empowering; bisa diartikan merdeka, bebas, mandiri. Makna indie ini kami saksikan dalam diri Acil, yang kisahnya kami ceritakan kembali di dalam photo story ini.
Ke-indie-an dalam diri Acil kami lihat ketika secara tak sengaja berjumpa dengan Acil di sekitaran Monumen Nasional (Monas) saat Jakarta yang sudah tak lagi senja. Acil adalah pedagang kopling alias kopi keliling atau dikenal juga sebagai starling atau St*rbucks keliling. Nama aslinya Anwar, namun sering dipanggil Acil, ia berasal dari Madura. Kemeja motif, celana chinos, dan beanie abu-abu menjadi work outfit of the day Acil hari itu. Usianya 27 tahun dan ia telah konsisten menempuh profesi kopling selama 7 tahun. Acil kini tinggal di Jakarta bersama istrinya dan anaknya yang berusia lima tahun.
“Untung mas-mbaknya beli sekarang, di sini (pinggir jalan) Good Day Cappuccino 5 rebu. Ntar di tempat rame kaya orang balik dari Monas dah beda lagi, bisa jadi 10 rebu.”


Acil berasal dari Madura. Ia merantau ke Jakarta dan memulai usaha kopling setelah diajak oleh kakak iparnya. Walau gelar perantau masih Acil pegang kuat, ia bak yang punya Monas di mata kami. Buktinya, di antara banyaknya kopling yang berjualan di sekeliling Monas dengan risiko diciduk Satpol PP karena larangan berjualan di area tersebut, Acil sudah punya tempat ngetem strategis tersendiri yang dijamin aman.
Tiap malamnya, Acil ngetem di samping Halte TransJakarta Monas. Para petugas halte sudah jadi pelanggan setia dagangan Acil. Berkat resep teh tarik Acil yang verified oleh para petugas halte, kehadiran Acil untuk ngetem sudah diterima. Menurut mereka, teh tarik buatan Acil adalah yang paling enak yang mereka pernah minum dibandingkan kopling–kopling lain. Teh tarik menjadi signature indie a la Kopling Acil, ketika kopling sewajarnya identik dengan kopi.
Pengalaman Acil yang membutuhkan kepercayaan petugas halte untuk ngetem memantik kami untuk memikirkan kembali konsep–dan realita–ruang publik. Menurut Habermas, ruang publik adalah arena pertama bagi semua aktivitas komunikasi, dan kemudian berpotensi ke arah pembentukan opini publik. Konsep ini bisa jadi pijakan awal untuk mengenal ruang publik sebagai ruang alternatif dalam membentuk wacana. Awalnya, ruang pembentukan wacana itu eksklusif di tataran pemerintahan atau orang-orang yang berkuasa secara ekonomi. Hari ini, ruang publik bisa dimaknai dengan lebih inklusif sebagai ruang yang aksesibel untuk dinikmati oleh semua orang–namun dengan S&K (syarat dan ketentuan) yang berlaku. Ya, tidak semua orang bisa menikmati ruang publik karena sering kali ruang publik tidak ramah untuk individu atau kelompok tertentu.
Kopling pada akhirnya harus berkeliling dari satu ruang ke ruang lainnya karena kehadiran mereka justru dilarang di tempat-tempat di mana mereka dibutuhkan pembeli. Selain pelarangan dari aparat setempat seperti Satpol PP, dinamika antar-kopling pun mengharuskan satu sama lain mempertahankan ruang strategisnya karena potensi persaingan dalam saling menggaet pelanggan. Selisih antar kopling tentang boleh atau tidaknya ngetem di suatu tempat lalu membuat kami berefleksi, siapa pemilik ruang publik sebenarnya?


Bagian 2: Orang Muda
Acil menunjukkan video instagram reels yang dia buat sepulang dari berdagang sepanjang malam. Sebuah video pedagang kopling sedang mengayuh sepedanya bertepatan dengan matahari terbit di Bundaran Tugu Tani diiringi dengan lagu trending dan quote inspiratif. Video ini telah ditonton sebanyak 93 ribu kali di instagram. “Iseng-iseng aja”, katanya agak tersipu sambil menunjukkan video-video lain yang juga dilihat ribuan kali oleh pengguna instagram.
Sebanyak 98,64% orang-orang dengan rentang umur 19-34 di Indonesia sudah menjadi pengguna internet. Acil adalah salah satu orang muda yang aktif menggunakan media sosial. Media sosial membuka ruang berekspresi untuk Acil yang gemar akan videografi dan meng-cover lagu. Walaupun sebagian orang menyalahkan media sosial karena pengaruhnya yang dianggap negatif terhadap orang muda, sebagian yang lain mengunggulkan teknologi informasi itu sebagai sumber pengetahuan dan bahkan wadah menjalankan agensi diri orang muda. Berprofesi sebagai pedagang kopi keliling adalah satu hal, sementara menjadi orang muda yang sadar dan berdaya adalah hal yang lain. Menyadari kesukaan dan passion memanggil Acil untuk memberdayakan dirinya di ruang apapun. Bahkan jauh dari kampung halamannya, Acil tetap berusaha menghadirkan dirinya.


Jakarta keras–ini sudah menjadi stereotip nomor satu ketika Jakarta dideskripsikan. Selain kondisi perkotaan yang asing, Jakarta juga menawarkan kultur serta subkulturnya tersendiri. Perantau seperti Acil harus mengadopsi banyak kebiasaan baru, misalnya dalam budaya komunal a la Madura yang tidak bisa ia terapkan di Jakarta. Walau ia terbiasa untuk bekerja secara berkelompok menjadi petani pohon nira di Madura, Acil harus berhadapan dengan sisi individualisme dan persaingan ekonomi antar sesama pedagang keliling di Jakarta.
Acil pernah mencoba untuk berkomunal dengan kopling lain; ngetem di lokasi yang sama. Hasilnya, ia hampir beradu karena tidak sepakat dengan mekanisme pembagian hasil secara merata dengan beban kerja yang beda. Peristiwa itu meyakinkannya memilih jalur indie untuk urusan berdagang kopi keliling. Pada akhirnya, melihat Jakarta hanya sebagai tempat bekerja kemudian dipilih oleh banyak orang muda dan perantau seperti Acil yang mempertahankan hidupnya, istri dan anak di Jakarta, dan keluarga di Madura.
Ketika orang muda punya keresahan dengan orang tua yang kerap bertanya “sekarang kerja apa?”, sering membuat sejenak kicep. Respons ini terjadi antara memang sedang menganggur atau sulit menjelaskan pekerjaannya karena gap generasi dan informasi. Acil meyakini kalau bekerja di mana pun, restu orangtua itu paling utama, sehingga penting bagi orang tua mengetahui apa yang sedang anaknya lakukan. Pekerjaan apapun, tidak akan sulit untuk dijelaskan ketika kita bersedia untuk duduk bareng dan saling bercerita.
“Aku bilang mau kerja jualan kopi di Jakarta, orangtua harus tau apa yang aku kerjain. Kalo nggak tau gimana bisa dapat restu. Restu dan doa orangtua nomor satu”
Bagian 3: Penutup
Suatu waktu, Acil pernah mencoba untuk ikut dalam program Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta dalam rangka penyambutan ASIAN Games 2018. Para pedagang kopling di Jakarta dikumpulkan dan diberi seragam resmi agar bisa berjualan dengan lebih fleksibel di beberapa titik keramaian. “Sekalian branding gratis ASIAN Games,” ujarnya. Namun, seragam dan janji dari Pemda DKI ternyata tidak menjamin keamanan Acil dan kopling lainnya. Alih-alih bisa berjualan dengan tenang, termos air di sepeda Acil jadi korban razia dipaksa angkut oleh Satpol PP. Minimnya perlindungan dari Pemda DKI terhadap pedagang kaki lima, pontang-panting-nya pemenuhan hak sebagai perantau, dan terbatasnya akses untuk pekerja muda sektor informal adalah sedikit bagian dari Jakarta. Nancy Fraser, seorang teoritikus kritis dan pemikir feminis, berpendapat bahwa memaknai ruang publik bisa terkesan utopis jika tidak memperhatikan apakah ruang publik tersebut aksesibel bagi semua kelompok yang ada di dalam masyarakat. Menurut Fraser, ruang publik dapat mengeksklusi kelompok-kelompok tertentu termasuk perempuan, buruh, dan komunitas etnis minoritas.


Indie bukan hanya sebuah identitas atau genre. Indie pun merupakan pilihan. Acil memilih untuk tidak berkomunal bersama kopling lain karena faktor persaingan antarpedagang yang muncul akibat keterbatasan dalam mengakses sebagian ruang di Jakarta. Acil “menciptakan” ruang publiknya. Pelanggan-pelanggannya di Halte Monas, ruang yang membuatnya bisa hadir, berdagang, dan menjalin berinteraksi. Tujuh tahun sebagai orang muda yang berproses di tanah rantau, Acil menghadirkan “rumah” bersama istri dan anak ketika berjarak dengan rumah tempatnya berasal. Pada akhirnya, berdamai dengan Jakarta–baik dengan ruang ataupun aktor di dalamnya–menjadi keharusan untuk bertahan atau yaa… jalan ninja orang-orang muda perantau yang hidup di Jakarta.
***
Photo story ini merupakan bagian dari kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@highvolta_) dan Pamflet (@pamfletgenerasi).
Cihampelas dan Obsesi Musik Kota
Ditulis oleh Mt Fauzan
Ketika Orwell bertugas sebagai polisi imperial yang ditempatkan di Kota Burma, ia melihat kesedihan dan rasa jijik yang amat dalam. Kota besar dengan gemerlap lampu sepanjang malam, aktivitas warga yang hampir tak pernah mati. Pesta diadakan dimana-mana, suara denting ‘tos’ gelas terdengar amat keras, barang dagang macam souvenir dan pakaian tersebar di setiap sudut kota. Namun yang mengenaskan, cerita lama yang tak pernah berakhir sampai kiamat pun berlangsung disana, orang-orang yang tak kenal batas angka dalam dompetnya yang hanya dapat menikmati terangnya Kota Burma, sedangkan warga lusuh hanya dapat melihat dari jendela kilaunya sepatu orang-orang di dalam restoran mahal. Air liur jadi santapan tiap malam mereka. Sebagai pusat ibu kota negara, masalah lingkungan selalu menjadi posisi paling atas di daftar catatan petugas kota, sampah bertebaran, gerobak dagang berderet tak karuan, parkir liar seperti biasa menjadi penyakit orang-orang. Saat itulah, seumur hidupnya, Orwell mempunyai posisi penting untuk membenci diri sendiri dan dibenci banyak orang.
***
Saya memacu sepeda motor dalam kecepatan sedang, melewati turunan Jalan Setiabudi untuk menuju pusat kota. Sampailah di persimpangan jalan, sorot lampu lalu-lintas dan penunjuk arah menunjukan jalur kanan menuju Jalan Cihampelas, daerah wisata yang menjadi salah satu destinasi turis ketika menyambangi Kota Bandung. Sepeda motor saya mulai melambat akibat kemacetan jalan, memasuki salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bandung, Cihampelas. Spontan mata melirik kanan-kiri untuk melihat keadaan, sambil sedikit melamun, ingatan tentang kisah George Orwell ketika berada di Burma terlintas di pikiran; daerah ini sama semrawut dan memuakkannya. Sinar matahari tertutup oleh jembatan tak fungsi yang dibangun oleh pemerintah daerah, pedagang yang direlokasi masih ‘nakal’ menghalangi pematang jalan, orang-orang terlihat menyedihkan dengan barang bawaan yang amat banyak.
Setelah beberapa kilometer dilalui, sampailah di ujung Jalan Cihampelas. Terang matahari kembali terlihat, jari menekan pegangan rem karena lampu merah perempatan jalan di bawah Jembatan Pasopati menyala. Selain suara knalpot dari kendaraan lain, terdengar sayup suara yang lain. Saat saya diam memperhatikan kapan lampu hijau akan menyala, sontak mencari asal suara tersebut. Dentuman yang tak asing terdengar, saya melirik ke arah kanan, dimana ada satu area pemisah jalan yang lumayan luas, kumpulan pengamen jalanan sedang memulai aksinya. Saya cukup kaget ketika melihat formasi dengan format full band yang memainkannya, mulai dari set drum, dua gitar, bass, biola, dan tentunya satu vokalis yang paling depan.

Aba-aba dimulai dari ketukan drum, petikan gitar bersambut, volume mulai membesar ketika instrumen lain ikut bermain. Semakin kaget–dan kagum–ketika lagu yang dimainkan adalah “To Love Somebody” dari band legendaris asal Inggris, Bee Gees. Tak pikir panjang, sebelum lampu hijau menyala saya gas sepeda motor untuk menepi memarkirkannya di tepian gedung yang sudah tutup. Karena lampu hijau yang telah menyala, mereka hanya sempat memainkan setengah durasi dari lagu tersebut. Namun karena masih penasaran, saya sempatkan waktu untuk melihat ‘pertunjukan’ mereka selanjutnya. Sebatang rokok saya nyalakan, sambil menunggu kembali giliran lampu merah, saya perhatikan mereka sangat siap layaknya musisi “profesional” yang bermain diatas panggung besar. Ketika kendaraan kembali berhenti, pertunjukan dimulai, sekarang giliran lagu lokal yang dimainkan, salah satu setlist andalan God Bless, “Rumah Kita” dimainkan. Walau perangkat yang dipakai sangat terbatas, namun kekaguman saya tidak berkurang sedikitpun. Ini satu hal yang baru, musisi jalanan dengan persiapan dan peralatan yang sangat niat luar biasa.
Kadung penasaran dan kekaguman saya sudah sampai ujung kepala, saya memberanikan diri untuk menghampiri mereka saat rehat. Bertemulah dengan salah satu punggawa yang bertanggung jawab memegang kendali gitar, ia bernama Anwar. Dengan kaos Rolling Stone dan celana jeans lusuh, ia menerima sapaan saya dengan ramah. “Eh, A, punten ieu kalotor” ucap dia saat saya menyodorkan salam tinju untuk menyapa. Saya meminta waktu kepada Anwar untuk ngobrol, dengan santai ia bersedia, meninggalkan sebentar rekan-rekannya yang melanjutkan ‘tugas’ mereka menghibur para pengendara.
Saya ajak ia ke warung kopi di bawah jembatan, bertanya beberapa hal mengenai kegiatannya sebagai musisi jalanan. “Saya mulai jadi pengamen dari tahun 2010, dulu masih keliling ti angkot ka angkot,” kenangnya sambil menyeruput kopi yang kami pesan. Tak banyak bertele-tele, saya langsung sodorkan pertanyaan tentang kekaguman saya akan format yang mereka mainkan, set penuh semua aransemen dengan kelihaian pemainnya. “Pokokna setelah saya lama ngamen di angkot, saya mulai ketemu banyak temen sesama pengamen. Diajaklah ke perkumpulan pengamen di Bandung, kaleresan saya gabung yang di daerah Cihampelas, namanya KMJ (Komunitas Musisi Jalanan) Bandung. Hampir di setiap daerah di Bandung ada, pokokna tersebar KMJ teh, A.” pembicaraan tertunda beberapa detik untuk Anwar menyalakan rokoknya. “Pas sebelum pandemi, saya bareng yang lain yang gabung di KMJ jadi tempat kumpul buat pengamen, mulai dari sana kami ngobrol soal banyak hal.”
“Hayu ah, urang nyieun nu rada serius, make setelan band. Urang cicing weh di setopan.” ucap Deden, yang diaku sebagai kordinator KMJ. Dengan perangkat musik seadanya hasil dari urunan dan donasi dari seseorang yang tak mau Anwar sebut, mereka mulai berlatih dengan format band. Memainkan lagu populer, berdandan layaknya musisi profesional. “Kami ingin keliatan serius, A. ningalikeun pengamen ge bisa siga artis-artis nu lain.” tegas Anwar soal pertanyaan saya mengenai format mereka.
Satu hal yang membuat mereka semakin menarik ketika Anwar berkata bahwa mereka ingin betul-betul menghibur para pengendara jalan di perhentian lampu lalu-lintas dengan lebih serius, menampilkan permainan terbaik mereka. Anwar dan kawan-kawan di KMJ sepakat bahwa label pengamen yang sering ‘mengganggu’ ingin dihilangkan, itulah salah satu alasan utama mengapa Anwar–dan musisi jalanan Bandung di daerah lain–meningkatkan “kualitas” bermusiknya, mereka lelah dengan stigma masyarakat kepada musisi jalanan, mereka sadar derajat mereka mesti sama dengan yang lain. Bahwa tidak ada batasan kelas dalam mencari nafkah.
Itu semua berhasil, saya berani menjadi saksi. Mulai hari ini ketika ada format musisi jalanan seperti Anwar yang saya temukan di jalan, saya tak banyak mengeluh oleh padatnya kendaraan, mereka-lah obat pelipur di tengah rumitnya kota. Salah satu yang saya sadari, ketika kita harus menunggu akhir pekan untuk menyaksikan musisi di acara-acara panggung besar, hari-hari kita di jalanan pun sudah bisa ditemani oleh mereka, walau hanya beberapa saat. Mereka adalah The New Folk of Bandung Street Musician.
***
Kita penat dengan apa yang kita kerjakan setiap hari, menemukan banyak hal menjijikan yang diciptakan diri sendiri atau masyarakat, masalah kota yang tak kunjung usai. Saya pun merasa benci pada hidup, seperti Orwell ketika memegang laras panjang di Burma. Namun saya bisa sedikit tersenyum ketika menemukan hal yang diciptakan oleh Anwar dan grupnya memainkan lagu di tepian jalan, ternyata kutipan M.A.W Brower yang terkenal itu sudah tak menarik untuk disampaikan, Bandung saat ini bukan hanya diciptakan saat Tuhan tersenyum, namun ada pemeran lain, para pejuang tepi trotoar yang memainkan pesona nya, mereka menyalakan mesin kota untuk masyarakat agar dapat tersenyum di jalanan, Anwar beserta KMJ. Angkat topi dan bersulang untuk gelas kopi kepada mereka.
***
Artikel ini merupakan bagian dari seri “Adu Nasib Musisi Jalanan” yang meliput hiruk-pikuk musisi jalanan di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung dalam kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Simak kisah musisi jalanan Jakarta dan Yogyakarta di sini.
Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@highvolta_) dan Pamflet (@pamfletgenerasi).
Kolaborasi Lintas Generasi
Diolah dari ilustrasi alphavector/Canva
Artikel oleh: Neka Rusyda Supriatna
“Ah, millennials tuh apa-apa healing, kerja sebentar udah mau healing.”
“Duh boomers, masa update Instagram story aja gak bisa, sih.”
Mungkin kamu sering mendengar kata-kata seperti itu. Beradu pandangan saling membanggakan generasinya dan menjelek-jelekan generasi lainnya. Tapi, apakah memang seharusnya seperti itu?
***
Aku baru saja lulus dari perguruan tinggi sekitar dua bulan lalu, tanpa menunggu terlalu lama aku akhirnya diterima bekerja di sebuah media. Hari ini aku mendapat tugas untuk membuat sebuah berita karena beberapa hari lagi ada perayaan 16 HAKtP (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan). Seperti biasa jika ada hari besar atau perayaan, media harus menjadi garda terdepan untuk memberikan informasi. Tentu sudah sepatutnya berita yang diulas adalah data dan fakta terpercaya, bukan hanya hoax belaka.
Untuk mencari sebuah data dan fakta, salah satu bahan referensiku kali ini adalah sebuah booklet berjudul “Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021” milik sebuah lembaga bernama IJRS. Bisa dibilang booklet ini tidak terlalu tebal, mudah dipahami juga untuk orang awam sepertiku karena banyak sekali ilustrasi di dalamnya. Dalam riset tersebut dikatakan bahwa 72,1% korban kekerasan seksual adalah anak muda dan anak-anak berusia 6-18 tahun. Fakta ini sungguh miris!
Selain itu, ada informasi menarik yang baru aku ketahui di dalam booklet ini. Ada istilah 5D’s Bystander Intervention. Sepertinya aku pernah mendengar sekilas ulasan ini di Instagram Mbak Nana (Najwa Shihab) bersama dengan USS Her. Ternyata aku mendapatkan penjelasan lebih lengkap dalam booklet milik IJRS ini. Ada 5 cara yang dapat kita lakukan ketika kita melihat pelecehan seksual terjadi di depan kita, yaitu:
- Direct (merespon/menegur langsung)
- Distract (melakukan distraksi atau interupsi ke pelaku)
- Delay (menenangkan korban)
- Document (merekam atau mendokumentasikan kejadian)
- Delegate (meminta bantuan pada pihak ketiga)
Selesai membaca booklet ini aku mendapat ide. Selain membuat sebuah liputan berita, aku ingin membuat sebuah infografis tentang fakta dan data kekerasan seksual. Infografis ini nantinya akan menjadi pelengkap dari liputan beritaku. Aku berencana menghubungi Bu Sarah (tokoh fiktif belaka), pemimpin redaksi di kantorku, untuk meminta persetujuan beliau atas ide membuat infografis. Semua liputan berita beserta ide-ide terkait visual, harus atas persetujuan beliau.
Ku kirimkan pesan WhatsApp kepada Bu Sarah.
“Selamat siang, Bu Sarah. Saya ingin mengajukan ide untuk liputan kegiatan 16 HAKtP nanti. Rencananya selain membuat liputan berita, saya juga ingin membuat infografis. Kira-kira bagaimana pendapat, Ibu?”
Setelah 15 menit berlalu, pesanku baru dibalas.
“Gak usahlah pakai infografis begitu, buat apa? Yang penting itu data-data!”
Aku terkejut dan agak sedikit kecewa dengan respons dari Bu Sarah. Maklum, beliau ini boomers sehingga beliau tidak mengerti bahwa zaman sekarang infografis itu menjadi salah satu daya tarik supaya tulisan atau informasi yang kita sampaikan bisa dibaca oleh kalangan anak muda. Biasanya kan anak muda lebih menyukai melihat gambar atau ilustrasidibandingkan membaca teks saja.
Tekadku sudah bulat, aku akan tetap membuat infografis untuk liputan beritaku. Aku berencana bertemu langsung dengan Bu Sarah dan memberikan beliau referensi infografis itu seperti apa serta data traffic pengunjung portal berita yang menggunakan infografis. Semoga dengan cara ini Bu Sarah yang boomers itu bisa memahami urgensi pembuatan infografis ini.
Keesokan harinya aku memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk masuk ke ruangan Bu Sarah. Jantungku berdegup kencang, rasanya mirip seperti memasuki ruangan sidang waktu sidang skripsi. Aku pun mengetuk pintu ruangan Bu sarah.
“Silahkan masuk!” Ucap Bu Sarah.
“Permisi, Bu. Saya ingin diskusi soal infografis kemarin, Bu. Saya ingin menunjukan beberapa referensi serta data, Bu.”
“Mana sini coba saya lihat!”
Aku mulai mempresentasikan berbagai macam bentuk infografis, tujuan infografis, serta menunjukan data traffic pengunjung portal berita kepada Bu Sarah. Wajah Bu Sarah yang tadinya terlihat agak “dingin” kini sudah berubah, ku lihat ada sedikit senyuman di wajahnya.
“Wah, bagus ya ini. Bisa ini dibuat ke dalam berita kita nanti. Nanti kamu banyakin data-data kekerasan seksualnya. Grafiknya nanti dibuat bentuk unik, misalnya bentuk siluet anak perempuan, atau semacamnya.”
“Iya betul, Bu. Wah idenya menarik, Bu.”
Aku cukup terkejut, Bu Sarah yang tadinya menolak mentah-mentah infografis ini malah memberikan masukan visual infografis. Tidak hanya itu, Bu Sarah juga memberikan masukan terkait warna infografisnya seperti apa, serta data apa yang perlu masuk ke infografis aku nanti.
“Nanti kalau infografis dan beritanya sudah rampung, saya bantu sebar nanti di grup supaya traffic kamu tinggi. Biar dapat bonus kamu.”
“Ya ampun, Bu Sarah. Terima kasih banyak, Bu,” jawabku terharu.
Betapa baiknya Bu Sarah ini. Aku tahu beliau mempunyai jaringan pertemanan yang luas. Sekali dia menyebarkan tautan berita, pasti banyak rekan-rekannya yang langsung merespon dan mengunjungi tautantersebut. Secara tidak langsung, pembuatan infografis ini menjadi kolaborasi pertamaku dengan Bu Sarah. Selama satu bulan aku bekerja, beliau sebagai pemimpin redaksi hanya mengoreksi tulisanku. Kini kami saling berdiskusi dan saling berkolaborasi menyusun pembuatan dan penyebarluasan sebuah infografis. Selesai diskusi, aku pamit untuk segera menuju ke meja kerjaku.
Ternyata bekerja sama dengan boomers tidak sesulit itu. Kita hanya perlu memberikan penjelasan secara rinci kepada mereka dengan bahasa yang sopan juga tentunya supaya mudah dimengerti. Kita sebagai millennials harus bisa menjadi jembatan untuk mendukung terjadinya sebuah kolaborasi lintas generasi. Baik millennials dan juga boomers harus bisa saling membuka hati dan pikiran untuk saling menerima masukan dan kelebihan dari masing-masing generasi. Contohnya seperti Bu Sarah, meskipun boomers, beliau mau menerima ide kreatifkudan memiliki kelebihan tersendiri, yaitu punya jaringan pertemanan yang luas.
Selesai diskusi dengan Bu Sarah, aku kembali ke meja kerjaku. Sebelum mulai membuat infografis dan berita, terpikir olehku untuk menuliskan cerita yang aku alami hari ini ke dalam blog pribadiku. Aku lanjut membuka laptopku, dan mulai ku ketikkan sebuah kalimat pembuka: “Kolaborasi Lintas Generasi”.
Referensi
- Najwa Shihab X USS Her: https://www.instagram.com/reel/CfTY1aCjDyV/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
- Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021: https://ijrs.or.id/data-dan-fakta-kekerasan-seksual-di-indonesia-2021/
Tentang Penulis
Neka Rusyda Supriatna merupakan seorang pustakawan dan staf media komunikasi di salah satu NGO. Neka memiliki hobi menulis dan sudah mempublikasikan beberapa karyanya.
Curang dan Telanjang
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Ditulis oleh: Tsamarah Atikah Nurdiyanah
aku adalah anak ibuku yang tidak suka curang
aku lebih suka menanam kepahitan
lalu menelannya menjadi kenyataan
maka dari itu, aku selalu telanjang
sambil memasang peringatan
mayat hidup di rumah ini hafal ayat-ayat televisi
mana yang sumbang
mana yang jalang
ibuku sangat senang sampai
ia merancang perayaan paling pahit
yang disajikan di depan kitab anti-totalitarianisme
“biar saja anakku telanjang
tapi dia kan tidak curang, Pak!”
aku diantarkan pada suatu tempat aman
dimana aku hanya bisa berfirman
dan telanjang
tanpa harus curang
“aku abadi
dan kau
adalah dunia yang tidak mampu
membeli kemerdekaanku
selayaknya manusia”
(2022)
Tentang Penulis
Tsamarah Atikah Nurdiyanah, atau biasa dipanggil Rara, adalah seorang penulis puisi dan mahasiswa ilmu hukum dari Universitas Terbuka.
Tolong Ajari Aku
Diolah dari ilustrasi sparklestroke/Canva
Ditulis oleh: Vanny
Seorang puan duduk termenung di kursi belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan online yang tak kunjung selesai. Banyak kritik dan tak ada apresiasi keluar dari setiap senior yang telah membaca naskah puan. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, puan hanya bisa menangis dan menangis. Serasa segala upaya telah dikeluarkan lewat setiap dialog yang benar-benar ia pikirkan tidak sebanding dengan ekspektasi para seniornya. Seruan dan perintah untuk berupaya lebih keras sudah berkali-kali puan dengar. Puisi di tisunya menjadi kesedihan yang abadi:
Aku seorang yang bodoh mengharap pembelajaran
Anda seorang yang mahir berharap kesempurnaan
Tak bisakah ajari aku dengan perlahan
Aku tidak membutuhkan cerita kerja kerasmu
Aku hanya butuh ajaranmu
Memang benar, zamanmu segalanya tak pasti
Tapi tolong untuk kali ini jangan bandingkan dengan zamanku
Jangan mencela orang-orang di dalamnya
Aku sudah berusaha keras
Seluruh imajinasi menjadi buram
Hargai aku, hargai karyaku, hargai kerja kerasku
Tentang penulis
Vanny adalah seorang puan yang berusaha mencari makna hidup. Setiap pelajaran dalam hidup akan ia abadikan dalam diarynya.
Nulis bareng Pamflet: Edisi Hari Orang Muda Sedunia
Setiap tahunnya, 12 Agustus diperingati sebagai Hari Orang Muda Sedunia (International Youth’s Day). Momentum ini memperingati berbagai isu yang mempengaruhi kehidupan orang muda, khususnya dalam mengamplifikasi suara dan mendorong pelibatan orang muda yang bermakna.
“Solidaritas antar-generasi” menjadi tema yang diusung Hari Orang Muda Sedunia 2022. Tema ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi yang terjalin antara setiap generasi, agar tercipta dunia yang adil, setara, dan mendukung potensi orang muda.
Dalam rangka memperingati Hari Orang Muda Sedunia 2022, Pamflet ingin mengajakmu menulis melalui Nulis bareng Pamflet. Kamu bisa mengirimkan karya tulis berupa artikel, opini, puisi, cerita pendek, ataupun karya tulis lainnya. Berikut ketentuan karya tulis untuk Nulis bareng Pamflet kali ini:
- Karya tulis relevan dengan isu orang muda
- Tidak lebih dari 1.000 kata
- Dikirim dengan format “NBP_Nama_Judul.doc/docx” via email ke: halo@pamflet.or.id
- Menyertakan nama atau nama pena dan profil singkat sekitar 1-2 kalimat
- Bersedia menyesuaikan tulisan berdasarkan saran penyuntingan redaksional dari tim Pamflet
Karena Pamflet adalah organisasi nirlaba, kami belum bisa memberikan honor untuk tulisan kamu. Tapi, kami yakin, karya kamu penting untuk mengamplifikasi suara orang muda. Kami tunggu karya tulismu, ya!
Tokoh Politik: Ultimate Bias-ku
Alexandria Ocasio-Cortez, seorang anggota kongres Amerika, dianggap sebagai salah satu staf pemerintahan yang progresif karena membentuk kebijakan yang merepresentasikan kepentingan banyak kelompok minoritas di Amerika. Karena itulah Ocasio-Cortez menjadi idola bagi banyak warga, termasuk orang muda, di seluruh dunia. Bahkan, sebuah akun di Twitter mencuit “Stan the Squad <3” yang ditujukan kepada Ocasio-Cortez dan anggota kongres Amerika lainnya. Cuitan tersebut menunjukkan bahwa terjadi fenomena pengidolaan terhadap tokoh politik dan memperlakukan mereka layaknya selebriti.
Di Indonesia, fenomena pengidolaan tokoh politik layaknya selebriti juga pernah terjadi ketika pasangan Jokowi-Ahok melakukan kampanye untuk mencalonkan diri sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta pada tahun 2012. Salah satu bentuk pengidolaan dapat dilihat pada banyaknya warga yang menggunakan pakaian dengan motif kotak-kotak untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap pasangan tersebut. Selain itu, kelompok masyarakat yang berencana untuk memilih Jokowi pada pemilihan umum Presiden 2014 bahkan menjuluki diri mereka sebagai “Jokowers”.
Lalu, kenapa mengidolakan tokoh politik layaknya selebriti menjadi sebuah permasalahan?
Dalam sistem demokrasi, rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Suara rakyat memiliki pengaruh yang besar terhadap jalannya pemerintahan. Rakyat seharusnya berperan untuk meminta pertanggungjawaban dari pemerintah, termasuk tokoh politik, atas pelaksanaan tugas dan tindakan yang mereka lakukan. Rakyat juga harus aktif mengkritisi tindakan dan kinerja pemerintah secara objektif.
Sementara itu, tokoh politik merupakan individu yang bekerja untuk menjalankan pemerintahan dan mewakilkan suara rakyat. Pada hakekatnya, mereka membutuhkan dukungan rakyat untuk dapat bekerja. Mereka kemudian melakukan kampanye untuk menjadi representasi pandangan dan opini kelompok masyarakat tertentu. Ketika rakyat menilai bahwa kampanye tokoh politik tersebut merepresentasikan pandangan mereka dan dilakukan dengan cara-cara yang populer, maka dukungan dapat berubah menjadi fanatisme bahkan memperlakukan mereka layaknya selebriti.
Pengidolaan tokoh politik layaknya selebriti menjadi sebuah permasalahan karena rakyat menjadi tidak dapat mengawasi dan mengkritik tindakan serta kinerja tokoh politik secara objektif. Rakyat secara tidak langsung memposisikan mereka sebagai sosok yang sempurna tanpa kesalahan. Akibatnya, rakyat dapat dengan mudah untuk mengabaikan, atau bahkan memaafkan, kesalahan tokoh politik karena telah memiliki perspektif yang bias. Selain itu, tokoh politik tersebut akan kebal terhadap permintaan pertanggungjawaban, padahal mereka seharusnya dapat selalu dimintai pertanggungjawaban atas setiap tindakan yang dilakukan.
Kedua contoh fenomena di atas menunjukkan bahwa ketika rakyat mengidolakan tokoh politik, tokoh politik tersebut cenderung menjadi kebal dari kritik. Misal, penggemar Ocasio-Cortez yang justru memuji Ocasio-Cortez ketika ia melakukan kampanye dengan datang ke Met Gala 2021, sebuah acara selebriti yang sangat elitis dan bertolak belakang dengan tujuan kampanyenya. Atau misal setelah Jokowi naik jadi Presiden, penggemar-penggemarnya mendorong agar Jokowi naik menjadi Presiden untuk tiga periode. Dan ketika wacana Presiden tiga periode ini dikritik sebagai wacana yang inkonstitusional, penggemar-penggemar Jokowi membantah dan menyatakan bahwa kritik ini merupakan bentuk dari pembungkaman kebebasan berpendapat. Penggemar-penggemar Jokowi juga sempat menyatakan bahwa mereka akan mendukung segala keputusan Jokowi terkait dengan UU KPK ketika UU ini mendapat banyak kritik dari publik.
Meskipun tokoh politik yang memiliki pandangan dan tindakan yang progresif patut untuk diapresiasi, namun rakyat tetap harus mengevaluasi hasil kinerja tokoh politik dari laporan pertanggungjawaban dan rencana program yang diajukan. Dengan begitu, mereka tidak akan menyalahgunakan wewenangnya dengan selalu membuat dan melaksanakan kebijakan yang sesuai dengan amanah rakyat. Tokoh politik adalah adalah wakil rakyat sehingga menjadi kewajiban rakyat untuk selalu mengawal dan mengawasi kinerja dan kebijakan yang mereka lakukan.
Referensi
Aarna Dixit, “Why We Need to Stop Idolizing Politicians,” Parachute, 3 Januari 2022, https://www.theparachutemedia.com/politics-activism/why-we-need-to-stop-idolizing-politicians.
Desca Lidya Natalia, “Relawan siap dukung apapun keputusan Presiden terkait UU KPK,” Antaranews.com, 27 September 2019, https://www.antaranews.com/berita/1085324/relawan-siap-dukung-apa-pun-keputusan-presiden-terkait-uu-kpk.
Fajar Pebrianto, “Kata Pendukung Jokowi 3 Periode soal Cap Teroris Konstitusi,” Tempo.co, 10 April 2022, https://nasional.tempo.co/read/1580558/kata-pendukung-jokowi-3-periode-soal-cap-teroris-konstitusi.
Ditulis oleh Ken Penggalih
This Story is No(t really) Longer Available
Pertengahan 2020 adalah momen aku menjadi seorang paman bagi anak perempuan dari kakakku. Sejak hari itu, aku memiliki rasa penasaran akan sejauh mana kedekatan dengan anak itu. Bertemu untuk pertama kali setelah dia berusia empat bulan terasa cukup canggung karena takut melukai atau menularkan flu bahkan COVID-19. Sampai akhirnya, di minggu kedua pertemuan aku baru merasa cukup dekat dan berani bermain bersama dia.
Seperti paman pada umumnya yang melihat pertumbuhan anak sedari gulang-guling sampai merangkak, terbesit perasaan ingin mengabadikannya. Membagikan momen bersama anak kecil atau ponakan seakan menjadi salah satu to do list penting. Apalagi, hanya perlu satu sampai tiga sentuhan di smartphone untuk momen itu dapat dilihat dan dinikmati oleh teman atau pengikut kita di media sosial. Lalu, perasaan mendapat tanggapan atau reaksi dari orang lain serasa memberi energi baik untuk kita membagikan cerita-cerita lain tentang anak kecil itu atau diri kita sendiri.
Dilema Jejak Digital
Sayangnya, seperti yang kita semua tahu, hadirnya media sosial dan internet punya dampak buruk dan bisa menjadi boomerang. Tidak jarang ditemukan pencurian, pemanfaatan, dan penyalahgunaan data oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Suka tidak suka, hal semacam ini akan berdampak terhadap kita sebagai pengguna media sosial ataupun internet. Kegiatan membagikan momen atau cerita di media sosial dengan intens bisa jadi berlebihan, atau biasa dikenal dengan istilah overshare.
Mungkin banyak yang belum menyadari bahwa jejak digital di internet itu nyata. Sekali kita membagikan momen kita di internet, momen itu akan selalu tersimpan di internet dalam bentuk foto yang kamu bagikan ataupun metadata. Foto atau momen yang kita unggah di internet dan telah dihapus sayangnya masih akan tetap ada walau dalam bentuk metadata.
Setelah terpapar informasi terkait dampak dan resiko yang ada, aku kembali teringat akan pentingya konsen dan privasi di dunia digital hari ini. Aktivitas overshare akan sangat berpotensi membocorkan dan menyebarkan informasi berlebihan. Dari situ, hadirlah pertanyaan ke diri sendiri: Apakah bijak membagikan foto atau video seorang bayi yang baru bisa merangkak ini aku bagikan di media sosial? Apalagi seorang bayi atau mungkin orang tuanya belum begitu terpapar soal konsen dan privasi.
Satu yang aku ingat jika ingin mengambil foto atau video seorang anak, kita bisa menanyakan kesediaan atau konsen dari orang tuanya sebagai perwakilan. Tapi, karena terasa canggung menanyakan atau mendiskusikan hal seperti ini di keluargaku, akhirnya aku memutuskan untuk tidak dulu melakukannya. Toh, urgensi membagikan momen seperti itu bukan sebuah kewajiban–walau perasaan gemas tetap hadir berkali-kali.
Berbagi perlu hati-hati
Di 2015, investigator Australia menemukan lebih dari 45 juta foto anak dalam kegiatan sehari-hari di situs berbagi pedofil. Foto-foto itu diunduh dari berbagai situs media sosial dan blog keluarga. Hal ini sangat memprihatinkan, apalagi di Indonesia belum ada regulasi spesifik terkait privasi seorang anak. Terlebih, bagian terkait anak dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi masih belum jelas. Hak atas privasi dan informasi pribadi pengguna juga berpotensi dirugikan oleh Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik. Misalnya pada pasal 21, Penyelenggara Sistem Elektronik wajib memberi akses informasi pribadi pengguna ke Kementerian atau lembaga lainnya untuk ‘pengawasan’.
Ini mungkin menimbulkan pernyataan, emangnya aku sepenting itu? Jawabannya tidak lain adalah: benar adanya. Siapa pun itu penting di internet karena jejak informasi dan data yang kamu miliki di internet pada akhirnya akan dikumpulkan dan menjadi basis data membentuk profil marketing untuk kepentingan perusahaan, negara, atau siapapun itu yang menjadikan kita sebagai target.
Setelah menulis ini aku sebagai paman lebih tersadarkan dari pertanyaan awal karena setiap orang memiliki preferensinya dan tidak menyalahkan orang yang membagikan momen-momen bersama anaknya. Buat kamu yang masih ingin membagikan momen-momen bersama keponakan atau anak kecil, perlu mengingat resiko-resiko yang ada dan lebih mindful. Selama proses membagikan foto atau video seorang anak sudah diberikan konsen oleh anak tersebut atau orang tuanya, kamu menjadi bagian yang sadar akan konsen dan privasi serta mengurangi dampak yang merugikan anaknya di masa depan.
Referensi
Are Parents Exploiting Their Kids on Social Media? | The Atlantic
Hak Anak Atas Privasi Digital
https://venuemagz.com/literasi-digital/hak-anak-atas-privasi-digital/
Mengenal Oversharing di Medsos dan Cara Mencegah Efek Negatifnya
https://tirto.id/mengenal-oversharing-di-medsos-dan-cara-mencegah-efek-negatifnya-f8eM
The dangers of oversharing
https://support.microsoft.com/en-us/topic/the-dangers-of-oversharing-79330a32-4ee1-433a-812e-fe4bb3d34511
The perils of ‘sharenting’: The parents who share too much
https://www.aljazeera.com/features/2020/10/11/facing-the-music-the-parents-who-share-too-much
WhatsApp, Google, Instagram, bahkan game online yang nggak daftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) privat bisa diblokir besok??? | The Rights Act, @amnestyindonesia
https://www.instagram.com/p/CgL7fMwPv10/?utm_source=ig_web_copy_link
Why Kids Are Confronting Their Parents About ‘Sharenting’ | NYT Opinion
Ulasan Non-Sinefil: Everything Everywhere All at Once
Peringatan: Mengandung spoiler atau bocoran dari film Everything Everywhere All at Once.
Pernah dengar soal multiverse? Multiverse atau multisemesta merupakan gagasan yang menawarkan kemungkinan adanya sekumpulan semesta lain di luar semesta yang sedang kita tinggali. Dalam “Everything Everywhere All at Once” , film karya Daniel Kwan dan Daniel Scheinert, tema multiverse dikemas dengan cara segar yang tidak pernah ditemukan pada film-film lainnya.
Film karya duo Daniel ini menceritakan tentang sebuah keluarga imigran dari Cina yang menjelajah multiverse untuk menyelamatkan anak perempuannya. Ketika keluarga ini pergi ke kantor pajak, Evelyn, si ibu, dihubungi oleh Alpha Waymond, si bapak dari alam semesta (atau yang disebut sebagai verse) Alpha, dan dimintai bantuannya untuk menyelamatkan multiverse dari Jobu Tupaki, sebuah makhluk yang dibentuk oleh Alpha Evelyn. Ternyata, Jobu Tupaki adalah Joy, anak perempuan Evelyn, versi Alphaverse. Ini membuat Evelyn menolak untuk membantu Alpha Waymond, meskipun Evelyn dan Joy memiliki love-hate relationship. Dinamika keluarga ini membuat kita merasa lebih dekat dengan karakter-karakter di film ini.
Konsep multiverse dalam film ini merupakan konsep multiverse hasil dari pilihan-pilihan yang kita pilih setiap saatnya. Setiap pilihan kita merupakan variabel tersendiri yang membentuk diri kita menjadi berbeda-beda di berbagai verse. Hal ini kemudian menuntut Evelyn untuk berdamai dengan pilihan-pilihan yang telah ia pilih di masa lalu dan untuk tidak tergoda menjadi Evelyn versi verse lain.
Film “Everything Everywhere All at Once” menjadi semakin menarik karena berhasil memuat cerita keluarga serta topik filsafat, dan mengemasnya sebagai film science fiction yang dibalut dengan bumbu komedi. Selain itu, seperti judul dan posternya, film ini sangat padat dan rusuh, namun disajikan dengan sangat rapi dan menarik. Selama 2 jam 20 menit, penonton diajak untuk bertualang menjelajahi berbagai alam, sembari tertawa, menangis, berpikir, dan bahkan merenungkan hidupnya. Penonton juga disuguhkan dengan audio dan visual yang sangat mengagumkan. Mulai dari pemilihan baju karakter-karakternya, latar ceritanya, hingga scoring yang menambah kesan menawan pada alur filmnya. Tidak heran jika film ini sukses membuat penonton tidak dapat berkata-kata seusai menontonnya.
Kalimat “the less sense it makes, the better” yang mengiringi film ini menjadi kalimat yang sangat cocok untuk mendeskripsikan keseluruhan film “Everything Everywhere All at Once”. Jangan bersedih kalau belum sempat menonton film ini di bioskop, karena kamu tetap dapat menontonnya secara daring. Selamat menonton!
Ditulis Oleh Ken Penggalih
Daur Ulang: Apakah Sebuah Solusi yang Solutif?
Pada tahun 2021, International Panel for Climate Change mengumumkan bahwa perubahan iklim dunia sudah memasuki fase code red.1 Hal ini berarti bahwa perubahan iklim sudah sangat parah bagi bumi dan kemanusiaan, serta tidak dapat lagi diubah menjadi seperti keadaan semula. Salah satu penyebab krisis iklim adalah gas rumah kaca akibat dari penumpukan berbagai macam sampah, seperti sampah plastik dan sampah organik, yang membusuk dan menghasilkan gas metana. Gas metana inilah yang menjadi penyebab suhu udara menjadi panas secara ekstrim.2
Perusahaan-perusahaan yang memproduksi dan/atau menggunakan bahan plastik kemudian dikritik sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Untuk menangkal kritik tersebut, mereka mempromosikan ide untuk mendaur ulang sampah plastik sebagai solusi dari permasalahan sampah plastik. Dari sinilah sejarah daur ulang dimulai.
Daur ulang yang membuang uang
Perusahaan yang memproduksi dan/atau menggunakan bahan plastik menyatakan bahwa daur ulang dapat menghemat penggunaan material baru yang setara dengan sekitar 1 juta ton karbon dioksida.3 Ide tersebut berhasil menutup kritik dan membuat konsumen berpikir bahwa konsumsi plastik tidak menjadi masalah karena dapat didaur ulang. Sehingga, perusahaan tetap memproduksi plastik baru secara massal dan mendapatkan keuntungan yang besar dengan biaya produksi yang murah untuk memenuhi permintaan pasar.
Namun, faktanya perusahaan-perusahaan ini tidak mendaur ulang sampah plastik yang diproduksinya.4 Proses mendaur ulang sampah plastik ternyata memerlukan biaya dan energi yang sangat besar akibat kerumitan prosesnya yang mencakupi mengumpulkan, memilah, memanaskan ulang, mengubah bentuk, dan seterusnya. Selain itu, seiring berjalannya waktu, nilai guna plastik juga akan terus menurun dan membuatnya tidak dapat didaur ulang.
Alih-alih mendaur ulang, kebanyakan perusahaan akhirnya menimbun, membakar, dan bahkan membuang sampah plastik ke lautan dan negara-negara miskin. Contohnya adalah Amerika yang telah mengirimkan 800 juta ton sampah plastik ke Meksiko, Malaysia, India, dan Vietnam pada tahun 2020.5 Parahnya, United States Environmental Protection Agency menunjukkan bahwa Amerika hanya mendaur ulang 69 juta ton sampah dari total 300 juta ton sampah pada tahun 2018, dan banyaknya sampah plastik yang didaur ulang adalah kurang dari 10 persen dari 69 juta ton sampah tersebut.6
Produksi massal dan konsumsi berkesadaran
Selain oleh perusahaan, daur ulang juga menjadi aksi iklim yang digemborkan untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh perseorangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa daur ulang oleh perseorangan berkontribusi pada pengurangan jejak karbon, terlebih jika dilakukan oleh banyak orang. Namun, perlu ditekankan bahwa daur ulang sehari-hari bukanlah solusi yang begitu efektif karena hal tersebut tetap tidak mengurangi jumlah sampah. Pendaur ulangan skala rumah hanya memperpanjang umur sebuah sampah plastik tanpa menyentuh salah satu akar masalah dari krisis iklim sendiri, yakni produksi massal.
Jika membicarakan langkah individual, aksi iklim yang patut dilakukan untuk menanggapi produksi massal justru adalah konsumsi berkesadaran. Konsumsi berkesadaran dapat dimulai ketika hendak mengkonsumsi sesuatu harus benar-benar mempertimbangkan apakah konsumsi kita akan menghasilkan sampah. Selanjutnya, kita dapat memilih barang-barang yang dapat dipakai ulang sehingga akan mengurangi pembuangan sampah. Yang terakhir, upayakan agar sampah organik tidak bercampur dengan sampah yang tidak dapat didaur ulang dengan cara selalu mengompos sampah organik kita di rumah. Dengan melakukan konsumsi berkesadaran, kita dapat turut berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik.
Pada akhirnya, daur ulang merupakan sebuah solusi yang baik secara teori. Namun, jika melihat fakta bahwa produksi sampah plastik sangatlah cepat, solusi daur ulang menjadi tidak efektif dan tidak lagi digunakan karena jumlah sampah plastik yang diproduksi akan selalu lebih banyak daripada yang dapat didaur ulang. Maka dari itu, solusi yang lebih baik untuk mengatasi krisis iklim dan permasalahan plastik adalah meregulasi produksi sampah plastik dan konsumsi berkesadaran.
1. “Secretary-General’s Statement on the IPCC Working Group 1 Report on the Physical Science Basis of the Sixth Assessment,” United Nations, 9 Agustus 2021, https://www.un.org/sg/en/content/secretary-generals-statement-the-ipcc-working-group-1-report-the-physical-science-basis-of-the-sixth-assessment.
2. “Methane Emissions are Driving Climate Change. Here’s How to Reduce Them,” United Nations Environment Programme, https://www.unep.org/news-and-stories/story/methane-emissions-are-driving-climate-change-heres-how-reduce-them#:~:text=Methane%20is%20the%20primary%20contributor,at%20warming%20than%20carbon%20dioxide.
3. E. A. Crunden. “How Useful Is Recycling, Really?” The Atlantic, 28 Januari 2021, https://www.theatlantic.com/science/archive/2021/01/recycling-wont-solve-climate-change/617851/.
4. Laura Sullivan. “How Big Oil Misled The Public Into Believing Plastic Would Be Recycled,” NPR, 11 September 2020, https://www.npr.org/2020/09/11/897692090/how-big-oil-misled-the-public-into-believing-plastic-would-be-recycled.
5. Joseph Winters. “Rich Countries Are Illegally Exporting Plastic Trash To Poor Countries, Data Suggests,” InvestigateWest, 18 April 2022, https://www.invw.org/2022/04/18/rich-countries-are-illegally-exporting-plastic-trash-to-poor-countries-data-suggests/.
6. “Advancing Sustainable Materials Management: 2018 Tables and Figures,” United States Environmental Protection Agency, Desember 2020, https://www.epa.gov/sites/default/files/2020-11/documents/2018_tables_and_figures_fnl_508.pdf.
Referensi
Eric Rosenbaum. “Is Recycling a Waste? Here’s The Answer from a Plastics Expert Before You Ditch The Effort,” CNBC, 22 Mei 2021, https://www.cnbc.com/2021/05/22/is-recycling-a-waste-heres-the-answer-from-a-plastics-expert.html.
“The Recycling Problem: a Feel-Good Story That’s Too Good To Be True,” Earthday.org, 7 Agustus 2019, https://www.earthday.org/the-recycling-problem-a-feel-good-story-thats-too-good-to-be-true/.
Ditulis oleh Ken Penggalih