LGBTQ Menular Melalui Film?
Beberapa waktu yang lalu, film “Lightyear” dikabarkan tidak akan tayang di Indonesia karena menampilkan adegan ciuman sepasang perempuan. Meskipun belum dikonfirmasi oleh Lembaga Sensor Film Indonesia, kabar ini sudah menjadi perbincangan hangat di Twitter.
“Ya ampun, jaman sekarang adegan LGBTQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer) sudah dimasukkan ke dalam film kartun anak-anak. Nanti kalau anak-anak berubah menjadi LGBTQ gimana?” “adegan LGBTQ seharusnya disensor karena tidak berpengaruh terhadap alur cerita film-nya,” “rumah produksi film dibayar berapa, sih, oleh LGBTQ untuk memasukkan propagandanya ke dalam film anak-anak?” Begitulah beberapa komentar dari netizen mengenai adegan ciuman pasangan LGBTQ di film “Lightyear”. Kendati menerima banyak penolakan, kehadiran karakter LGBTQ dalam Lightyear juga menuai banyak dukungan. Perdebatan tersebut kemudian dapat kita jadikan bahan untuk berefleksi: mengapa representasi LGBTQ di kehidupan sehari-hari, termasuk di media massa, penting?
Di tengah kondisi masyarakat yang masih sangat heteronormatif, komunitas LGBTQ sering dianggap sebagai hal yang tidak normal atau bahkan penyakit. Narasi negatif oleh media massa turut mempengaruhi bagaimana masyarakat menyikapi keberadaan individu LGBTQ. Maka dari itu, narasi media massa perlu diubah agar masyarakat dapat menyikapi keberadaan individu LGBTQ secara positif.
Identitas gender dan orientasi seksual merupakan bagian yang melekat pada diri masing-masing individu yang sama sekali tidak dipengaruhi media apapun, termasuk bahan tontonan. Pada tahun 1990, World Health Organization melalui International Classification of Disease (ICD-10) telah menyatakan bahwa homoseksualitas bukan merupakan sebuah penyakit. Dalam sebuah penelitian yang termuat dalam jurnal Archives of Sexual Behavior, dijelaskan bahwa homoseksualitas tidak dapat menular dan menyebar melalui pergaulan. Maka dari itu, konsumsi konten LGBTQ, termasuk bagi anak-anak, tidak akan mengubah identitas gender dan orientasi seksual.
Hadirnya aktivitas individu LGBTQ di media massa justru dapat menjadi media pembelajaran untuk masyarakat, termasuk anak-anak, tentang keberagaman identitas gender dan orientasi seksual. Konten di media massa yang menghadirkan keberagaman identitas gender dan orientasi seksual dalam kehidupan sehari-hari juga dapat membantu individu LGBTQ yang masih dalam proses untuk menerima identitas diri mereka. Dengan melihat aktivitas individu LGBTQ di media massa, individu LGBTQ akan lebih mudah menerima identitas dirinya karena merasa aman dan nyaman dengan mengetahui bahwa pengalamannya juga dialami oleh banyak orang.
Selain itu, representasi individu LGBTQ di media massa dapat menjadi salah satu cara agar masyarakat yang masih heteronormatif dapat secara perlahan menerima keberadaan individu LGBTQ. Penelitian yang dilakukan oleh Bond dan Compton pada tahun 2015 menyatakan bahwa representasi karakter LGBTQ dalam acara televisi memiliki kontribusi besar dalam penerimaan individu LGBTQ di masyarakat heteronormatif. Selanjutnya, survei yang diadakan oleh GLAAD dan P&G menunjukkan bahwa representasi individu LGBTQ dalam media massa meningkatkan angka penerimaan masyarakat heteronormatif terhadap individu LGBTQ sebesar 45%. Hal ini menunjukkan bahwa representasi individu LGBTQ di media massa dapat membantu untuk membentuk lingkungan yang aman bagi individu LGBTQ di masyarakat yang heteronormatif.
Meskipun hadirnya individu LGBTQ di media massa bukanlah sebuah cara yang instan untuk menghapus diskriminasi terhadap individu LGBTQ, representasi seperti yang dilakukan film Lightyear bisa setidaknya memaparkan keberagaman identitas gender dan orientasi seksual kepada masyarakat.
Referensi:
Benjamin Hanckel. “Representations of LGBT youth: A review of Queer Youth and Media Cultures.” Journal of LGBT Youth Volume 13, No. 4 (Agustus 2016): 412, http://dx.doi.org/10.1080/19361653.2016.1185764.
Bradley J. Bond and Benjamin L. Compton. “Gay On-Screen: The Relationship Between Exposure to Gay Characters on Television and Heterosexual Audiences; Endorsement of Gay Equality.” Journal of Broadcasting & Electronic Media (Desember 2015): 728, http://dx.doi.org/10.1080/08838151.2015.1093485.
Irene Anindyaputri. “Apakah Gay Bisa Menular? Ini Jawaban dari Para Ahli.” Hallosehat, 10 Agustus 2020, https://hellosehat.com/seks/tips-seks/apakah-gay-menular/.
Jack Drescher. “Out of DSM: Depathologizing Homosexuality.” Behavioral Sciences Volume 4, no. 4 (Desember 2015): 571, https://doi.org/10.3390/bs5040565.
“Procter & Gamble and GLAAD Study: Exposure to LGBTQ Representation in Media and Advertising Leads to Greater Acceptance of The LGBTQ Community.” GLAAD, 27 Mei 2020, https://www.glaad.org/releases/procter-gamble-and-glaad-study-exposure-lgbtq-representation-media-and-advertising-leads.
Tessa Kaur. “Queer representation in media: the good, the bad, and the ugly.” Heckin.unicorn, 6 Oktober 2021, https://heckinunicorn.com/blogs/heckin-unicorn-blog/queer-representation-in-media-comprehensive-list-breakdown-lgbt.
Ditulis oleh Ken Penggalih
Otentikasi Dua Faktor: Cara Mudah Lindungi Diri di Internet
Kasus peretasan bukanlah suatu yang asing di Indonesia. Terdapat peretasan berskala lebih kecil seperti terhadap akun media sosial perseorangan sampai dengan yang berskala besar seperti pada situs e-commerce Tokopedia pada tahun 2020 lalu. Maraknya peretasan tidak mengherankan, mengingat banyaknya penggunaan kata sandi yang mudah ditebak seperti “123456”, “qwerty”, “1111’ dan “password”. Beberapa sandi yang banyak digunakan di Indonesia di antaranya adalah “bismillah”, “rahasia”, dan “Indonesia”.
Nah, untuk menanggapi ini, teknologi two factor authentication atau otentikasi dua faktor menjadi berguna. Pernahkah kamu log in Instagram di perangkat yang berbeda lalu muncul notifikasi di perangkat utama kamu yang sebelumnya untuk melakukan konfirmasi bahwa itu kamu? Atau, pernahkah kamu log in di situs seperti Disney+ atau lainnya dan mendapatkan informasi bahwa penyedia platform telah mengirimkan kode ke perangkat dan nomor telponmu untuk dimasukkan? Kalau iya, berarti kamu sudah melakukan otentikasi dua faktor.
Otentikasi dua faktor ini hadir untuk melindungi akun kamu lebih ekstra dari keamanan yang kamu miliki sebelumnya, seperti hanya menggunakan kata sandi saja. Otentikasi dua faktor ini dinamakan demikian karena melibatkan dua atau lebih faktor yang kamu miliki dan kamu bisa menggunakan 2 dari 3 di antaranya. Contoh lainnya adalah kartu ATM, jika kamu ingin mengakses uang di rekening kamu di ATM kamu membutuhkan kartu ATM fisik dan ingatan PIN (personal identification number) yang kamu punya. Selengkapnya 3 faktor itu sebagai berikut:
1. Something You Know
Faktor ini adalah sesuatu yang kamu bisa ingat dan ketahui untuk masuk ke akun kamu, biasanya akan berupa kata sandi, pertanyaan keamanan dan lainnya.
2. Something You Have
Faktor ini biasanya merupakan sesuatu yang bisa kamu akses secara fisik, seperti kartu ATM, Smartphone, atau token kunci.
3. Something You Are
Faktor ini adalah sesuatu yang ada di diri kamu yang belakangan mulai populer penggunaannya, seperti sidik jari, rekognisi wajah, atau suara kamu.
Lalu, bagaimana cara mengaktivasi otentikasi dua faktor? Sebagai contoh, berikut cara mengaktivasi otentikasi dua faktor yang bisa kamu lakukan di akun Instagram kamu!
- Ketuk ikon profil atau foto profil kamu di kanan bawah untuk membuka profil.
- Ketuk garis tiga di kanan atas, lalu ke Pengaturan.
- Ketuk Keamanan, lalu ketuk Otentikasi Dua Faktor.
- Ketuk Mulai di bagian bawah.
- Pilih metode keamanan yang ingin kamu tambahkan dan ikuti petunjuk yang tersedia.
Instagram akan menyiapkan dua metode keamanan untuk fitur otentikasi dua faktornya, dan kami menyarankan kamu memilih metode ‘Kode login dari aplikasi otentikasi pihak ketiga’. Fitur ini bisa diaktifkan hanya melalui aplikasi Instagram di Android atau Iphone kamu. Beberapa aplikasi yang kami sarankan selain Google Authenticator adalah Free OTP. Otentikasi Dua Faktor untuk berbagai platform selain Instagram kurang lebih bisa dilakukan dengan tatacara serupa.
Dalam meningkatkan keamanan digitalmu, diversifikasi kata sandi untuk akun berbeda juga tak kalah penting. Penggunaan kata sandi yang sama untuk sejumlah akun berbeda pada dasarnya juga meningkatkan kerentanan terhadap peretasan. Jadi, selain penggunaan kata sandi unik dan aktivasi otentikasi dua faktor, bedakan juga kata sandi untuk akun-akun yang berbeda.
Keperluan untuk menjaga keamanan data dan privasi di dunia digital menjadi semakin penting karena semakin hari semakin banyak teknologi baru yang ditemukan. Peluang untuk pelanggaran privasi seperti penyalahgunaan identitas sangat mungkin terjadi, terlebih jika hal semacam otentikasi dua faktor ini disepelekan.
Jika setelah membaca ini kamu merasa tidak nyaman karena perlu memperbarui kata sandi dan mengaktifkan otentikasi dua faktor, tenang saja. Ketidaknyamanan adalah hal wajar di dunia digital, di mana tingkat kenyamanan cukup berbanding terbalik dengan tingkat keamanan. Tidak ada salahnya mencoba lebih rumit dari sebelumnya demi keamanan digital.
Nah, kalau masih penasaran, selengkapnya mengenai otentikasi dua faktor bisa kamu pelajari di tautan berikut!
→ 🥷2̵̘̼̺̫̈́̄͂́͋͛̊̍̕F̴͍̞̻͎̬̣͖̪̳̠͋͂Ā̸̡̞͙̲̟̯̈͌ ̵̰͕̣̼̽͛̇̈̕i̷̡̧̟͎̻͎̲̝͓͆͜ş̵̞̥̣̒̈̄͗͗̚͝ ̴̛̛̭̋̐͛̏͐͛́͝ẖ̷̳͔̤̟͚̐̒̌͋ͅe̵̡͇͔̹͚̖̩͖̲͌̎͋͑͝r̴̲̣̥͗̐͑̔͠ẻ̷̟̦͉̩̲̼̋̄!̵̞͙̺̜̳̯̭̪̟̇̈́͊̀̍͊🤖←
Referensi
Apa itu autentikasi dua faktor dan bagaimana cara kerjanya di Instagram?
https://help.instagram.com/566810106808145
Top 200 most common passwords
https://nordpass.com/most-common-passwords-list/
Two Factor Auth (2FA)
https://brainstation.io/cybersecurity/two-factor-auth
What is 2FA? A simplified guide to two-factor authentication https://us.norton.com/internetsecurity-how-to-importance-two-factor-authentication.html
What Is Two-Factor Authentication (2FA)?
https://authy.com/what-is-2fa/
Yuk Kenalan: Apa Itu Two Factor Authentication (2fa)?
https://www.alumagubi.co.id/yuk-kenalan-dengan-two-factor-authentication/
Bunda Mayora, Transpuan Pertama dalam Pemerintahan Indonesia
Pride month merupakan bulan yang sangat penting bagi individu LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer). Pada bulan ini, individu LGBTQ bersama beragam komunitas merayakan keberagaman gender dan orientasi seksual. Perayaan ini bertujuan untuk menghadirkan ruang aman bagi individu LGBTQ untuk mengekspresikan gender dan orientasi seksualnya dengan lebih terbuka, sekaligus mengapresiasi dan merayakan perjuangan komunitas LGBTQ untuk mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia.
Merayakan pride month menjadi penting mengingat masih banyaknya bentuk diskriminasi terhadap komunitas LGBTQ. Dengan semangat ini, mari kita apresiasi perjuangan Hendrika Mayora Victoria atau yang sering disapa dengan panggilan Bunda Mayora. Kiprah Bunda Mayora sebagai seorang transpuan dan aktivis hak asasi manusia yang terpilih menjadi pejabat publik transpuan pertama di Indonesia patut turut dirayakan.
Bunda Mayora menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta. Setelah meninggalkan pendidikan tinggi, beliau kemudian bergabung di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu HIV/AIDS. Karena di LSM tersebut beliau bekerja sebagai relawan, maka beliau harus mencari pekerjaan lain untuk menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat melamar pekerjaan formal, Bunda Mayora mendapat penolakan dan diskriminasi karena identitas gendernya sebagai transpuan sehingga beliau memutuskan untuk bekerja di jalanan.
Bunda Mayora mengalami kehidupan yang sangat keras di jalanan. Beliau dan teman-teman transpuan lainnya sering ditangkap dan dilecehkan oleh aparat karena identitas gender mereka. Sampai akhirnya Bunda Mayora terhubung dengan aktivis LGBTQ dan mulai mengadvokasi hak-hak transgender di berbagai seminar dan kampus di Yogyakarta.
Perjuangan Bunda Mayora tidak berhenti sampai di situ. Ketika kembali ke kampung halamannya di Maumere, beliau harus menghadapi berbagai macam penolakan dan stigma negatif dari masyarakat desa karena identitas gendernya sebagai transpuan. Beliau bahkan sering dilarang masuk ke gereja.
Beragam diskriminasi yang beliau hadapi kemudian menyemangati Bunda Mayora untuk melawan stigma terhadap transpuan. Ia membentuk sebuah komunitas transpuan lokal yang bernama Fajar Sikka dengan tujuan untuk melawan stigma negatif terhadap transpuan dengan memberdayakan transpuan dan kelompok minoritas lainnya. Bersama komunitas Fajar Sikka, Bunda Mayora kemudian berupaya untuk selalu terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di desa, seperti memasak untuk acara kampung, menjadi tenaga kesehatan di puskesmas, dan mengajar paduan suara, dengan tujuan dapat diterima oleh masyarakat desa.
Karena kemampuan dan keterlibatannya tersebut, Bunda Mayora akhirnya diterima dan memiliki pengaruh di desanya. Fajar Sikka didukung masyarakat desa kemudian mendorong Bunda Mayora untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa Habi. Beliau menerima tantangan tersebut karena melihat peluang untuk dapat menyuarakan hak-hak kelompok transgender, dari dalam sistem pemerintahan secara langsung.
Setelah terpilih menjadi kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD), beliau dan Fajar Sikka berupaya untuk memberlakukan kebijakan desa yang inklusif serta dapat memberdayakan kelompok transgender dan kelompok masyarakat minoritas lainnya, seperti janda dan individu dengan disabilitas. Dengan kebijakan yang inklusif, seluruh masyarakat desa mendapatkan kemudahan akses untuk pemenuhan hak-hak dasarnya, termasuk dipermudahnya pembuatan KTP bagi transpuan. Selain itu, masyarakat desa menjadi lebih paham tentang keberagaman orientasi seksual dan identitas gender.
Kita dapat berefleksi dari perjuangan Bunda Mayora bahwa representasi dari kelompok minoritas di dalam pemerintahan sangatlah penting. Dengan representasi dari kelompok minoritas, kebijakan dan tindakan pemerintah menjadi lebih inklusif karena mempertimbangkan suara berbagai kelompok masyarakat. Penerapan sistem pemerintahan yang inklusif akan menjamin pemenuhan hak dasar setiap kelompok masyarakat, termasuk LGBTQ. Perjuangan Bunda Mayora tidak hanya menjadi harapan dan kekuatan pada pride month, tetapi juga memberikan semangat untuk lebih optimis melanjutkan perjuangan di masa depan.
Referensi
David Pierson dan Johanes Hutabarat, “Against Rising Intolerance, A Transgender Indonesian Woman Finds Acceptance in A Remote Village,” Los Angeles Times, 21 September 2020, https://www.latimes.com/world-nation/story/2020-09-21/indonesia-transgender-public-official.
“Hendrika Mayora Kelan Becomes Indonesia’s First Transgender Public Official,” WowShack, 16 Agustus 2020, https://www.wowshack.com/hendrika-mayora-kelan-becomes-indonesias-first-transgender-public-official/..
Eki Ramadhan, “Craving Spaces for Engagement in Indonesia: An Interview with Hendrika Mayora Victoria Kelan,” LGBT Policy Journal, 11 Juni 2021, https://lgbtq.hkspublications.org/2021/06/11/carving-spaces-for-engagement-in-indonesia-an-interview-with-hendrika-mayora-victoria-kelan/.
Eva Mazrieva, “Hendrika Mayora, Transpuan Pertama Jadi Pejabat Publik di Indonesia,” VOA Indonesia, 30 Juni 2020, https://www.voaindonesia.com/a/hendrika-mayora-transpuan-pertama-jadi-pejabat-publik-di-indonesia/5482884.html.
“Transgender Community Fajar Sikka: The Bright Spot at the Darkest Moment of Lembata and Adonara Flood,” IKa, 8 Juli 2021, https://indonesiauntukkemanusiaan.org/en/2021/07/08/transgender-community-fajar-sikka-the-bright-spot-at-the-darkest-moment-of-lembata-and-adonara-flood/.
Ditulis oleh Ken Penggalih, Pemagang Pamflet Generasi
Peristiwa Wasior Berdarah dan Rantai Kekerasan di Papua
Tanggal ke-13 di bulan Juni merupakan hari berduka bagi keluarga korban Peristiwa Wasior Berdarah. Peristiwa Wasior Berdarah menyaksikan kekerasan dan pembunuhan terhadap warga Desa Wonoboi, Wasior, Papua pada tahun 2001. Bermula dari terbunuhnya lima anggota Brimob dan satu warga sipil di perusahaan PT Vatika Papuana Perkasa, warga sipil menyaksikan pencarian pelaku secara semena-mena oleh pasukan polisi yang meliputi pelanggaran HAM berat berupa penyiksaan, pemerkosaan, penghilangan paksa, hingga pembunuhan di luar hukum.
Pelanggaran HAM berat ini seharusnya diselesaikan secara hukum dan keluarga korban wajib diberikan keadilan. Meski begitu, hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang diberikan kepada Jaksa Agung pada 2003 sampai sekarang belum membuahkan hasil. Dengan sejumlah pingpong antara Jaksa Agung dan Komnas HAM, berkas hasil penyelidikan yang dinyatakan belum melengkapi persyaratan formil dan materiil kini berada di tangan Komnas HAM sejak 2016.
Apa yang terjadi dalam Wasior Berdarah dan bagaimana negara menindaklanjutinya menunjukkan pola yang berulang di Papua. Artikel ini mengunjungi kembali peristiwa Wasior Berdarah untuk melihat bagaimana Papua sedang tidak baik-baik saja sedari dulu.
Rantai Kekerasan di Papua
Jika ditarik mundur, kericuhan yang terjadi di perusahaan kayu PT VPP berakar pada penindasan terhadap warga setempat. PT VPP sebelumnya telah melakukan kesepakatan terkait pembayaran saat pengapalan kayu sebagai ganti rugi hak ulayat1 masyarakat adat. Ketika PT VPP dianggap mengingkari kesepakatan, warga yang sebelumnya sudah memberikan toleransi waktu akhirnya memilih untuk melakukan aksi menahan speedboat perusahaan sebagai jaminan.
Alih-alih memenuhi kesepakatan atau membuka ruang dialog, pihak perusahaan mendatangkan pasukan Brimob untuk melakukan tekanan dan intimidasi. Hal ini tidak diterima oleh kelompok sipil bersenjata, sehingga terjadi penyerangan terhadap perusahaan yang berakibat pada tewasnya lima anggota Brimob dan satu karyawan perusahaan. Selain penyerangan yang terjadi, kelompok bersenjata juga membawa enam pucuk senjata kepunyaan anggota Brimob yang tewas.
Aparat kepolisian kemudian diturunkan untuk mencari pelaku penyerangan. Pada titik inilah terjadi sejumlah tindak kekerasan terhadap warga sipil Desa Wonoboi, Wasior. Warga biasa yang tidak ada sangkut-pautnya dengan penyerangan yang terjadi harus menerima begitu saja teror yang berlangsung kala itu. Empat orang tewas, lima orang dihilangkan, satu orang diperkosa dan 39 orang disiksa.
Wasior Berdarah bukanlah satu-satunya. Ia adalah satu dari daftar panjang peristiwa ‘berdarah’ di Papua. Pada Juli 1998, terjadi Biak Berdarah yang menyaksikan bagaimana aksi damai memperjuangkan referendum dijawab dengan pembantaian oleh aparat militer. Delapan orang tewas, tiga hilang, 37 orang terluka berat dan ringan, dan 50 orang ditahan sewenang-wenang. Dalam memperingati 20 tahun Biak Berdarah, Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara bahkan mengutarakan bahwa dalam kasus ini terdapat “banyak perempuan diperkosa, perempuan-perempuan hamil dibunuh, perutnya disobek bahkan bayinya dikeluarkan.”
Pada April 2003, terjadi Peristiwa Wamena. Warga sipil tengah merayakan Hari Raya Paskah ketika penyisiran 25 kampung di Wamena yang dipicu oleh pembobolan gudang senjata Markas Kodim dan penyerangan yang menewaskan dua anggota Kodim. Penyisiran oleh aparat TNI-Polri mengakibatkan sembilan orang tewas, 38 orang terluka berat, dan 42 orang yang tewas karena kelaparan selama pemindahan.
Pada Desember 2014, terjadi Kasus Paniai. Anggota TNI mengeroyok tiga remaja di Paniai. Ketika warga beramai-ramai meminta pertanggungjawaban, aparat TNI-Polri melakukan penembakan yang menewaskan empat orang di tempat dan 21 orang terluka. Satu orang yang dibawa ke rumah sakit meninggal dalam perawatan. Kelima warga Paniai yang tewas adalah remaja.
Selain keempat kasus ini, masih banyak pelanggaran HAM yang ‘berdarah’ di Papua. Salah satu implikasi genting dari deretan peristiwa berdarah di Papua adalah pemindahan paksa. Warga sipil yang merupakan Orang Asli Papua (OAP) harus berpindah dari rumahnya dan menjadi pengungsi akibat dari eskalasi kekerasan di berbagai lokasi di Papua yang menjadikan rumah mereka daerah konflik yang tak lagi aman.
Dengan tinggal di tempat penampungan, rumah kerabat, dan di hutan; OAP yang mengungsi harus merelakan akses terhadap makanan yang bergizi, fasilitas kesehatan, sekolah, dan hidup berdampingan dengan iklim ekstrim. Sementara, pengiriman bantuan bagi OAP pengungsi oleh berbagai lembaga bantuan kemanusiaan seperti Palang Merah kerap dihalangi. Pekerja gereja yang ingin membantu pun beberapa kali dicegah oleh petugas keamanan untuk mengunjungi pengungsi.
Menagih Janji Negara
Tanggal ke-13 di bulan Juni memang merupakan hari berduka bagi keluarga korban Wasior Berdarah. Namun, tanggal ke-13 di bulan Juni ini juga merupakan hari untuk marah dan menagih keadilan. Kekerasan masa lalu yang tak kunjung diselesaikan melanggengkan budaya impunitas–pembebasan pelaku dari hukuman atas pelanggaran HAM. Terlebih, melihat panjangnya daftar pelanggaran HAM di Papua sejak dulu, impunitas dan ketiadaan keadilan membuka pintu lebar bagi kekerasan terhadap OAP untuk terus berulang.
Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, ada dua hal yang wajib ditindaklanjuti: 1) presiden dan Mahkamah Agung harus segera membentuk Pengadilan HAM untuk Kasus pelanggaran HAM Berat Wasior Berdarah, dan 2) Kejaksaan Agung mengambil berkas Kasus pelanggaran HAM Berat Wasior Berdarah dari Komnas HAM RI dan menindaklanjutinya. Tuntutan ini disuarakan setiap tahunnya oleh KontraS, YLBHI, dan organisasi masyarakat sipil lainnya.
Pada Sidang UPR (Universal Periodic Review) PBB di Jenewa, 3 Mei 2017, pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa Kejaksaan Agung tengah mempersiapkan pengadilan untuk kasus Wasior-Wamena di Pengadilan HAM Makassar. Walau pernyataan tersebut hanya menjadi lip service belaka sejauh ini, sidang UPR PBB yang akan diadakan kembali pada akhir tahun 2022 ini menjadi salah satu momentum untuk melihat kembali tanggung jawab negara dalam menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua. Apakah komitmen pemerintah yang telah lama tertunda akan dituntaskan? Atau kembali menjadi wacana belaka?
1. Hak ulayat merupakan hak penguasaan yang tertinggi atas tanah kepunyaan bersama para warga di bawah masyarakat hukum adat dalam wilayah masyarakat hukum adat tertentu.
Referensi
‘Rentetan Kasus-Kasus Pelanggaran HAM di Papua’ CNN. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210730084251-12-674118/rentetan-kasus-kasus-pelanggaran-ham-di-papua
Ahmad, D. (2022). ‘PBB: Penegakan Hak Asasi Manusia di Papua Memburuk.’ Tempo. Diakses pada 10 Juni 2022 pada: https://dunia.tempo.co/read/1566883/pbb-penegakan-hak-asasi-manusia-di-papua-memburuk
BBC. (2022) Kasus Paniai, Papua: Anggota TNI ditetapkan Kejaksaan Agung sebagai tersangka pelanggaran HAM berat. Diakses pada 10 Juni 2022 pada: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-60904780
Briantika, A. (2020). ‘Biak Berdarah 6 Juli 1998: Jalan Damai Berbuntut Kematian.’ Tirto.id. Diakses pada 10 Juni 2022 pada: https://tirto.id/biak-berdarah-6-juli-1998-jalan-damai-berbuntut-kematian-fPbV
Jerat Papua. (2021). Perampasan Tanah Adat, Sumber Konflik di Tanah Papua Jerat Papua. Diakses pada 10 Juni 2022 dari: https://www.jeratpapua.org/2021/02/22/perampasan-tanah-adat-sumber-konflik-di-tanah-papua/
Komnas HAM. (2020). 22 (Dua puluh dua) Tahun Tragedi Biak Berdarah. Diakses pada 10 Juni 2022 pada: https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2020/7/9/1472/22-dua-puluh-dua-tahun-tragedi-biak-berdarah.html
KontraS. (2021). 20 Tahun Peristiwa Wasior: Selesaikan Kasus dan Hentikan Kekerasan di Tanah Papua, KontraS. Diakses pada 9 Juni 2022 dari: https://kontras.org/2021/06/12/20-tahun-peristiwa-wasior-selesaikan-kasus-dan-hentikan-kekerasan-di-tanah-papua/
Sitepu, M. (2017). Bagaimana kronologis tiga kasus ‘pelanggaran HAM berat’ di Papua? BBC. Diakses pada 9 Juni 2022 dari: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39031020
YLBHI. (2021). 20 Tahun Korban Pelanggaran HAM Berat Wasior Belum Mendapatkan Hak atas Keadilan. Diakses pada 9 Juni 2022 dari: https://ylbhi.or.id/informasi/siaran-pers/20-tahun-korban-pelanggaran-ham-berat-wasior-berdarah-belum-mendapatkan-hak-atas-keadilan/
Gerutu Seorang Sekutu
Dear pembaca,
Saat ini, menjadi puitis bukanlah solusi. Tetapi, rasanya aku terjerat dalam satu emosi yang itu-itu saja. Sangat melelahkan. Emosi itu lahir tanpa nama. Iya, aku tak tahu namanya… Suatu emosi yang lahir pada bulan Mei.
Emosiku yang ini bagai kotak kecil yang terselip di antara banyak makna emosi lainnya. Ia menyamar–terasa sedih, tapi bukan kesedihan; takut, tapi bukan ketakutan; senang, tapi sesungguhnya bukan itu. Akupun dilanda kebingungan… Bulan Mei adalah bulan membingungkan bagiku…
Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia psikologi manusia, aku pun tahu bahwa koleksi emosi akan semakin kompleks semakin kita dewasa. Aku merasa senang bahwa bulan Mei tahun ini mendapati hari raya lintas agama dan toleransi. Namun, aku masih sedih dengan kondisi pergolakan HAM, pergolakan gender, dan seksualitas.
Walaupun semakin dewasa banyak dari kita yang suka memangkas habis emosi yang tidak perlu demi terlihat dewasa–serta mengutamakan bagian-bagian hidup lainnya–ini berbeda. Aku tidak mau memangkas atau membuat emosi yang belum kukenal menjadi peliharaan yang aku atur semauku. Aku mau mengenalnya terlebih dulu.
Singkatnya, sebagai seorang humanis aku merasa teman-teman lesbian, gay, biseksual, transgender dan lainnya semakin merasa kesulitan untuk tinggal dan menetap di negara ini. Iya, sulit. Akhir-akhir ini banyak sekali phobia terhadap LGBTQ+ yang bertebaran di media sosial. Aku melihat langsung di media sosial, salah satunya, bagaimana sebuah teori ngasal yang berkata bahwa LGBTQ+ menular dan bahwa minoritas gender serta seksualitas adalah penyakit yang harus dimusnahkan. Wujud-wujud phobia ini malah menakuti diriku sendiri dan membuatku bertanya-tanya: Mau sampai kapan Indonesia harus alergi terhadap LGBTQ+? Sampai kapan?
Hal yang anehnya lagi tapi nyata, aku sebagai penulis bukan menjadi bagian dari identitas tersebut. Pembaca boleh berpikir dan menerka aku seperti “mereka” yang akan berkata “harus dong diedukasi, LGBTQ+ bisa memusnahkan populasi manusia, loh”. Nyatanya tidak. Emosiku dan perasaanku tidak berkata demikian. Justru sebaliknya, aku merasa takut. Aku tidak terima adanya diskriminasi dan phobia ini.
Mungkin pembaca bertanya-tanya, kenapa aku memilih menjadi ally bagi teman-teman LGBTQ+? Singkatnya beberapa tahun lalu, aku punya sahabat dekat yang sedang kebingungan terhadap identitas diri. Rasanya hampir setiap pekan kami berkonseling dan aku betul-betul paham apa yang ia rasakan dan ia inginkan. Aku paham bagaimana ia setiap hari bergejolak batin karena mendapat diskriminasi dari banyak pihak.
Sejak menjadi konselor pun, aku tidak suka setiap orang dibanding-bandingkan dan diminta untuk keluar dari kenyamanan dirinya sendiri. Aku tidak suka jika ada orang yang berkata ini hanya masalah kurang iman dan pendirian, justru aku lebih sakit hati melihat temanku tidak bisa menjadi dirinya sendiri.
Aku sempat kehilangan energi dan minat dalam mengerjakan apapun. Aku seperti diajak bermain puzzle di dalam otakku sendiri. Kenapa seekstrem ini kebencian manusia terhadap manusia lain? Bagaimana seharusnya? Apakah aku pantas berbicara mengenai ketidaknyamanan yang kurasakan terkait ini?
Bagian paling sulit mempelajari manusia adalah pada tahap seperti ini. Banyak yang menghakimi, tidak peduli hati nurani. Aku takut masyarakat akan terus menghakimi LGBTQ+.
Iya, seperti itu kurang lebih. Aku tahu aku tidak bisa membungkus perasaanku dalam tulisan ini seutuhnya. Tetapi, bagiku saat ini aku masih mencari nama yang tepat untuk emosiku. Ia bukan emosi yang membingungkan. Ia hanya emosi yang belum menemukan jati dirinya.
Sebagai penutup, aku sekadar ingin berpuisi. Puisi gelap yang hanya bisa dibayangkan di kamar sambil menutup mata:
Suar, berteriak.
Suara dalam ombak
Menggebu layaknya api
Tak padam ditelan sunyi
Klasik, bisikku
Perasa yang sedang sedih
Merasakan itu
Sama, sepertiku.
Jiwa tak pernah salah
Hanya karena kita terlalu membelanya
Membelokkan apa yang disebut dengan “norma”
Padahal,
Ia tempatnya,
Naluri bekerja
Kita memang bukan binatang
Tapi naluri layak untuk ditantang
Teriaklah kawan
Nalurimu berhak untuk sekawan
Berteman dengan akal sehatmu
Yang kau rasakan, valid itu
Marahlah pada emosimu kawan
Jika itu bisa menghilangkan beban
Tak apa melawan
Yang penting pilumu tak lagi terbelenggu
Klasik
Ya, aku tau puisi ini tidak asik
Tidak menarik
Tapi semoga bisa memantik
Emosi yang tak punya nama itu…
***
Selamat Hari Raya IDAHOBIT.
Ditulis oleh: A.I.
Aku dan Stoa Melawan Dunia
Satu waktu saya main ke kosan teman. Teman ini baru beberapa bulan bekerja di Jakarta dan mengambil indekos di dekat tempatnya bekerja. Tempat kami cukup jauh. Saya tidak bisa mengunjunginya terlalu sering.
Siapapun yang merantau tahu bahwa bulan-bulan pertama di tempat baru cenderung penuh dengan kebingungan. Ada culture shock, isu komunikasi, kesepian, dan sebagainya. Untuk itulah alasan saya berkunjung. Mencoba bersolidaritas.
Awalnya, saya membayangkan akan mendengarkan teman saya berkeluh kesah–atau, kalau diminta, memberikannya kiat-kiat sok tau dalam menghadapi Jakarta.Sampai di kos teman saya, bayangan itu tidak ada yang terealisasi. Orang ini tidak mengeluh soal Jakarta yang baru ia tinggali. Saya malah dibuat heran dengan kadar optimisme dia yang melimpah. Saya tentu saja senang. Saya kemudian menggali: Apa rahasianya?
Ia menunjukkan sebuah buku yang sudah selesai ia baca. Filosofi Teras, judulnya. Sebuah buku pengantar filsafat stoa. Buku itu, katanya, efektif mengurai sumber kecemasan dan membantu merapikan pikiran. Ia menjelaskan banyak tentang isi buku itu termasuk bagaimana falsafah stoa merubah cara pandangnya menghadapi realitas.
Zeno dan Terasnya
Filosofi Teras dibuka dengan kisah Zeno–seorang pedagang kaya yang malang. Sekitar tahun 300 sebelum masehi, kapal yang ditumpanginya dan membawa barang dagangannya karam di laut Mediterania. Semua hartanya ludes. Zeno terdampar di tempat asing yang akan menjadi menjadi titik balik kehidupannya: Athena.
Di Athena, Zeno menekuni dunia baru. Dia tertarik kepada buku-buku kebajikan dan mulai belajar pada banyak filsuf di kota itu. Seiring berjalannya waktu, Zeno mulai mengajarkan filosofinya sendiri di sebuah teras berpilar–dalam Bahasa Yunani disebut Stoa. Sejak saat itu, Zeno dan para pengikutnya dipanggil kaum Stoa dan dunia mulai mengenal Stoisisme.
Saya enteng saja memaknai apa itu stoisisme. Ia bukanlah filsafat yang abstrak dan mengawang-awang. Stoisisme adalah falsafah menjalani hidup bahagia. Sebuah alternatif cara memandang dunia yang sangat praktis dan bisa diterapkan sehari-hari. Saya mengadopsi beberapa falsafah stoa berikut dengan harapan bisa menambah kadar optimisme seperti teman saya itu.
Menyelaraskan Diri dengan Semesta
Satu waktu, saya keluar subuh dari kamar kos dan mendapati burung-burung berkicau di pohon mangga depan kos. Perasaan ganjil tiba-tiba muncul karena hampir setiap hari saya melewati pohon mangga itu dan tidak pernah ada kicau burung. Kicau burung-burung itu menyadarkan saya bahwa saya adalah bagian dari lingkungan hidup yang besar dengan berbagai macam spesies di dalamnya. (Karena tinggal di kota, kadang saya merasa terjebak dalam kerangka industrial yang sangat antroposentris–alias berpusat pada manusia).
Di falsafah stoa, hidup selaras dengan alam menjadi prinsip yang harus dipegang erat. Tapi, penekanannya sedikit berbeda dari usaha memelihara harmoni dengan lingkungan hidup seperti membuang sampah pada tempatnya, atau memelihara tumbuhan. Menurut stoic, selaras dengan alam berarti memaksimalkan kemampuan berpikir yang manusia miliki untuk hidup berkebajikan. Karena hanya kemampuan berpikir lah yang membedakan manusia dengan hewan atau tumbuhan. Berpikir dan bernalar adalah nature kita sebagai manusia. Jadi, hidup selaras dengan alam berarti hidup dengan memaksimalkan pikiran dan nalar tersebut.
Di kehidupan sehari-hari, prinsip ini bisa kita gunakan untuk berpikir matang dulu sebelum melakukan sesuatu. Tidak reaksioner dan selalu mengedepankan akal daripada emosi.
Fokus Pada Apa yang Bisa Diubah
Saya mencuci pakaian di suatu pagi yang cerah. Sebelum berangkat ke kantor, saya menjemurnya di tempat jemuran bersama. Menjelang sore, langit tiba-tiba mendung lalu turun hujan deras. Saya berharap ada seseorang di kos yang bisa mengamankan pakaian saya supaya tidak kena hujan. Setelah sampai di kos, pakaian saya masih di tempatnya semula. Semuanya basah kuyup. Beberapa berserakan di lantai. Saya kesal. Hari itu saya marah pada cuaca dan orang-orang yang seharian ada di kos.
Membayangkannya sekarang menjadi lucu. Cuaca dan sikap orang lain adalah hal yang tidak bisa kendalikan. Falsafah stoa mengajarkan bahwa kita harus fokus pada apa yang bisa kita kendalikan dalam hidup. Apa itu? Pikiran dan tindakan kita sendiri. Sesuatu di luar itu sudah termasuk di luar kendali kita.
Seperti Main Bola
Kota besar seperti Jakarta menawarkan banyak sekali barang dan kemudahan. Ini memang godaan besar. Kalau tidak pintar-pintar mengontrol hasrat, kita bisa jadi seperti yang dikatakan Efek Rumah Kaca: “Belanja terus sampai Mati!”.
Dalam falsafah Stoa, keterikatan emosional pada barang ternyata menjadi salah satu penghambat untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan seharusnya muncul dari jiwa yang damai, alih-alih menggantungkannya pada barang-barang yang kita beli.
Menurut filsuf Stoa Epictetus, cara terbaik menangani benda yang kita miliki adalah menganalogikannya dengan bola dalam permainan sepak bola. Bola memang penting, tapi bukan sesuatu yang berharga dan harus dipeluk mati-matian. Ada saatnya bola harus ditendang, dilempar jauh, atau sesekali ditangkap. Begitupun dalam menyikapi barang. Barang-barang itu selayaknya “dimainkan” dengan strategi yang baik demi mencapai kebahagiaan.
Referensi
- Greatmind.id, “On Marissa’s Mind: Stoikisme, Filosofi Anti Cemas”, https://greatmind.id/article/on-marissa-s-mind-stoikisme-filosofi-anti-cemas , diakses tangga; 24, Februari, 2022.
- Manampiring, Henry, “Filosofi Teras”, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2019)
Ulasan non-sinefil: Don’t Look Up (2021)
Peringatan: Mengandung spoiler atau bocoran dari film Don’t Look Up.
Jika kalian sedang penat dan butuh tontonan hiburan, film Don’t look up bisa menjadi opsi tontonan kalian. Film ini bercerita tentang kandidat PhD astronomi Kate Dibiasky bersama profesornya Dr. Randall Mindy yang berusaha menyampaikan temuan mereka mengenai komet yang akan menabrak bumi ke publik, namun banyak yang tidak begitu peduli.
FYI, kometnya berukuran sekitar 100 kali lapangan sepak bola dan akan menabrak planet bumi dalam kurun 6 bulan 14 hari. Sungguh sangat besar dan waktu yang singkat bukan? :))
Oh iya, waktu Kate dan Dr. Mindy bertemu presiden yang ditunggu semalaman suntuk, presidennya cuma bilang: “Sit tight and assess.” Gimana tidak sebel, tuh?
Lelucon-lelucon satir di film ini terasa cukup dekat dan tidak asing. Bisalah dibayangkan hal serupa, seperti bagaimana pemerintah cukup acuh tak acuh melihat masalah kesehatan, lingkungan, dan sosial di negeri yang katanya ‘tanah surga’. Atau, apakah sebenarnya memang sudah terjadi, sih? Seperti waktu penanganan awal COVID-19, deforestasi untuk bisnis sawit, korupsi bansos, dan.. you name it, lah! Lebih lanjut, untuk rating filmnya cukup di atas rata-rata, ya. Bagaimanapun, ibarat makanan, setiap orang punya selera. Jadi, wajar kok kalau kalian kurang cocok sama leluconnya.
Walau banyak hal menarik yang bisa dibahas sepanjang film ini, tokoh extras Riley Bina yang diperankan oleh Ariana Grande cukup menarik perhatian. Ia awalnya hanya hadir sebagai karakter cukup menyebalkan saat pengumuman soal kedatangan komet di media. Namun, menuju babak akhir film, Riley Bina hadir kembali bersama Vroom Vroom Army menjadi pendukung Kate dan Dr. Mindy untuk menyampaikan kebenaran akan datangnya komet.
Yang jadi menarik juga, Riley Bina bersama kekasihnya DJ. Chello menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Just Look Up’ yang berisi pesan dan lelucon satir perlawanan dengan kemasan musik pop yang sangat easy listening. Lagu ini juga menjadi musik latar perjuangan Kate dan kawan-kawannya untuk melawan, walaupun penuh dengan lirik yang jenaka dan satir.
Look up
What he’s really trying to say
Is get your head out of your ass
And listen to the goddamn qualified scientists
We really fucked it up, fucked it up this time
It’s so close I can feel the heat big time
You can act like everything is alright
but this is probably happening in real time
Singkatnya, Don’t Look Up karya Adam McKay kami rekomendasikan untuk ditonton sebagai hiburan dan bahan bakar perlawanan lewat satir komedi. Selamat menonton!
Melihat Cinta di Tengah Holocaust melalui Jojo Rabbit
Peringatan: Mengandung spoiler atau bocoran dari film Jojo Rabbit.
“There’s no time for romance. We’re at war.”
“Oh. There’s always time for romance.”
…
“Love is the strongest thing in the world!”
Kendati menjadi film yang segar karena melihat fasisme melalui kehidupan seorang anak, yang tak kalah menarik dalam Jojo Rabbit adalah tokoh pendukung Rosie Betzler. Adalah Rosie, ibu tunggal Jojo, yang menyerukan cinta sebagai hal terkuat di dunia–bahkan di tengah situasi perang yang udaranya dibuat sesak oleh kebencian.
Rilis pada akhir tahun 2019, film Jojo Rabbit berpusat pada Jojo yang tinggal di Jerman menjelang akhir Perang Dunia II bersama ibunya–Rosie, seorang anak perempuan Yahudi yang bersuaka di rumahnya–Elsa, dan seorang teman imajiner–Adolf Hitler. Premis utama dari karya satir oleh sutradara Taika Waititi ini menjadi begitu sederhana: Apa yang terjadi ketika Jojo bertemu dengan seorang perempuan Yahudi yang disembunyikan oleh ibunya di tengah genosida anti-Yahudi yang begitu ia imani?
Pertemuan Jojo dan Elsa bisa terjadi karena Rosie. Seorang ibu yang suaminya hilang dalam perang dan anak perempuannya meninggal karena wabah influenza tersebut memiliki kehidupan ganda. Di keramaian, ia adalah seorang ibu tunggal biasa. Dalam diam, ia adalah seorang pembelot–bagian dari pemberontakan rezim Nazi. Elsa yang sebelumnya hidup berpindah-pindah, disembunyikan dari satu rumah kerabat ke lainnya, tidak harus berpindah lagi ketika Rosie menemukannya dan membuatnya tinggal di rumah Rosie secara diam-diam. Tinggal di balik dinding kamar mendiang kakak perempuan Jojo, lebih tepatnya.
Sementara itu, Johannes “Jojo” Betzler, anak laki-laki berusia sepuluh tahun, digambarkan sebagai seorang yang mempunyai fanatisme mendalam untuk Nazi. Kamarnya penuh dengan dekorasi Swastika. Beragam percakapan privatnya diiringi oleh teman imajinernya, sosok Adolf Hitler, yang kerap bertingkah eksentrik dan selalu ingin dipuja. Cita-citanya tidak lain adalah menjadi tentara kepercayaan sang Führer–istilah berartikan pemimpin yang disematkan kepada sang diktator Nazi.
Di tengah ribuan ketidakpastian di hidup Rosie, ia secara otomatis meyakini sebuah kepastian: Pertemuan antara Jojo dan Elsa adalah sebuah resep malapetaka! Maka, itu tidak boleh terjadi.
Namun, pertemuan itu terjadi. Dinding-dinding rumah yang menyerupai palet warna bangunan di film-film Wes Anderson tersebut tidak cukup luas untuk memisahkan si bocah pecinta sang Führer dan gadis yang dikisahkan sebagai hewan bertanduk dalam kulit manusia.
Jojo kemudian memutuskan untuk tetap menemui Elsa tanpa sepengetahuan Rosie. Di titik inilah sejumlah interaksi antar-tokoh dan proses refleksi Jojo menjadi sangat memikat untuk diamati. Ada tarik ulur antara doktrin Nazi dan realita yang Jojo hadapi di depan matanya. Ada proses runtuhnya dikotomi ‘aku vs. mereka’ yang berkembang secara subtil. Sosok Elsa sebagai the Other atau yang Liyan pun perlahan bermetamorfosis seiring dengan ragam ekspresi yang hadir dalam interaksinya dengan Jojo. Dan, dalam segala ‘tarian’ menegangkan tersebut, Rosie hadir sebagai seorang kekasih yang melembutkan hati Jojo juga Elsa.
Selain menyoal cinta, latar dari Jojo Rabbit tentu tidak bisa lepas dari peristiwa Holocaust. Setidaknya enam juta orang Yahudi di seluruh Eropa menjadi korban dari pembantaian sistematis tersebut pada tahun 1941-1945. Dalam Hari Peringatan Holocaust Sedunia yang jatuh pada 27 Januari, masyarakat global diharapkan untuk memperingati para korban dan mengemban semangat untuk mencegah genosida lainnya.
Apakah menurutmu cinta kasih untuk sesama manusia bisa menjadi salah satu jalan untuk mencegah genosida? Atau untuk menghadapi penindasan, polarisasi, serta ketidakadilan di sekitar kita? Sebelum memikirkan jawabannya, sila tonton Jojo Rabbit!
Ulasan non-sinefil: Encanto
Peringatan: Mengandung spoiler atau bocoran dari film Encanto.
Encanto (2021) adalah animasi musikal terbaru yang dikeluarkan oleh Walt Disney. Film ini menceritakan kehidupan Mirabel dan keluarganya, yang tinggal di sebuah desa di wilayah Kolombia. Keluarga Madrigal, begitu namanya, bukan keluarga biasa. Setiap anggota keluarga ini memiliki kekuatan spesial yang berasal dari kejadian ajaib namun begitu sedih yang dialami sang nenek, Abuela Alma lima puluh tahun lalu. Bukan saja anggota keluarga, bahkan rumah yang mereka tinggali adalah rumah atau casita ajaib yang hidup.
In case you need a good cry…
Film Encanto menceritakan perjalanan Mirabel memecahkan misteri di dalam keluarga Madrigal. Upayanya memecahkan misteri ini pada akhirnya membuat seluruh anggota keluarga Madrigal lebih mengerti arti keluarga bagi mereka sendiri dan komunitas mereka.
Buat kamu yang gampang mewek dengan cerita tentang keluarga, film ini mungkin bisa membuat kamu merasakan emosi senang, sedih, dan terpesona. Film ini ringan, namun mampu membuat kita merasakan perasaan yang campur aduk sambil diiringi lagu dan musik yang begitu asik.
Satu hal yang bisa dimaknai dari Encanto adalah bagaimana karakter-karakter dengan kekuatan ajaib pun pada akhirnya akan lelah dan tidak sanggup menghadapi tekanan yang datang terus menerus. Meski tekanan itu bisa diatas, namun apabila datang terus menerus dan dibawa sendiri bisa membuat kepala kita mau pecah rasanya. Lagu yang dibawakan oleh karakter Luisa Madrigal merangkum poin ini dengan cukup gamblang.
I’m the strong one, I’m not nervous
I’m as tough as the crust of the earth is
I move mountains, I move churches
And I glow ‘cause I know what my worth is
~~~
Under the surface
I feel berserk as a tightrope walker in a three-ring circus
Under the surface
Was Hercules ever like “Yo, I don’t wanna fight Cerberus”?
Under the surface
I’m pretty sure I’m worthless if I can’t be of service
Selain Luisa, ada pula Pepa si pengendali cuaca. Kondisi hatinya menentukan cuaca di sekitarnya. Sekuat apapun Luisa mencoba, apabila ia sedang berada di bawah tekanan maka hujan dan badai akan membasahi dirinya dan orang di sekitarnya.
Karakter-karakter lainnya juga menarik dan keren. Tapi, tidak akan aku bahas di ulasan singkat ini, supaya tidak banyak spoiler. Langsung saja, kalau kamu sedang ingin bersantai dengan menonton, Encanto bisa jadi film salah satu rekomendasi dari kami.
Bersambung di 2022: Pamflet berefleksi
Setiap akhir tahun, kita sering melihat kembali hal apa saja yang telah kita lakukan dan lewati. Setelah melihat kembali, kita berefleksi sudah sejauh mana kita berjalan, apakah ada hal yang kita capai atau tidak, apakah kita sudah puas dengan perkembangan diri kita selama setahun, dan lainnya.
Momen akhir tahun juga sering dijadikan talak ukur untuk mengubah diri, “new year, new me” kalau kata orang-orang.
Perlu diakui tahun ini adalah masa yang begitu sulit. Kita terpukul gelombang tinggi penularan Covid-19, bencana terjadi di wilayah-wilayah yang sangat rentan akibat krisis iklim, namun kita tetap harus terus melanjutkan pekerjaan, sekolah atau perkuliahan senormal mungkin.
Di penghujung tahun ini, kami bertanya kepada beberapa teman tentang apa arti 2021 bagi mereka. Ada yang hanya bisa mengartikannya dalam satu kalimat, ada pula yang sangat senang berbagi cerita pencapaiannya selama setahun.
Asrul Adi Musa tidak menjadikan pandemi halangan untuk mencari pengalaman baru. Salah satunya dengan mencoba pengalaman memimpin organisasi di sekolah.
Saya sangat senang masih bisa menikmati indahnya hidup di tahun 2021 yang begitu banyak makna di dalamnya. Di tahun ini juga saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, baik dari sekolah, keluarga, kerabat, alam, dan lainnya.
Tahun ini sangat indah menurut saya, karena banyak kisah yang saya dapatkan, perasaan yang begitu campur aduk, ada sedih, marah, takut dan lainnya. Di tahun ini saya juga bisa merasakan menjadi seorang pemimpin di organisasi saya, dan juga bisa merasakan kegiatan-kegiatan di luar sekolah.
Asrul merangkum beberapa pengalamannya di 2021 dalam kolase foto berikut ini:

Bagi Erlangga, tahun ini menjadi momen ia belajar tentang kekuatan dirinya sendiri untuk menjadi tumpuan utama di kala sulit.
Di 2021 aku kehilangan banyak hal. Uang, waktu, tenaga, beberapa teman dekat dan kesehatan mental yang udah di ujung tandik. Tapi di tahun ini juga aku belajar utk jadi lebih percaya pada diriku sendiri. Karena di saat semuanya hilang, kamu selalu ada untuk dirimu sendiri.
Bagi Elliah, bertahan dan menyelesaikan semua pekerjaan sembari kuliah adalah sebuah kebanggaan yang perlu diakui.
Aku bangga bisa sampe di titik ini meski ngeluh mulu, ga bagus sih tapi ga ngeluh ga hidup.Kalau pekerjaan, aku ngerasa ditahun 2021 ini pekerjaan banyak banget wkwkwk, terus ngerasa produktif setiap hari, bahkan Sabtu Minggu. Kalau kuliah, mulai menyerah dan ngerasa ke ga ada gairah kuliah tapi nanggung.
Pandemi di tahun 2021 ini memberikan lebih banyak waktu bagi Mutiara Januar mengenali dirinya lebih dalam di tengah tuntutan untuk menjadi dewasa.
Selalu dinamis. Tahun 2021 itu masa-masa aneh dan cukup menyebalkan karena saya naik ke kelas 12. Semua orang nyuruh saya buat dewasa! Padahal apa enaknya jadi dewasa? Tapi bagusnya di 2021 virus covid menjinak dan vaksin udah menyebar ke mana-mana jadi saya bisa main ke pameran meski engga ngerti-ngerti amat gimana caranya menilai karya.
Selain itu di 2021, saya menjadi lebih dekat dengan diri saya sendiri. Jadi lebih sering jalan kaki keluar rumah, berdua sama diri sendiri. Jadi segala urusan duniawi mulai teratasi satu per satu karena udah mulai mempercayai diri sendiri seyakinnya dan tahu kapan harus berhenti atau memulai gitu.
Pelajaran yang didapat dari 2021: mengenali diri sendiri itu penting, dan jangan lupa untuk pakai masker dan vaksin kalau memungkinkan.
Mutiara mengilustrasikan dirinya di 2021 ini seperti meme berikut:

Bagi Ruray, 2021 adalah masa pulih dan mencoba hal baru.
Di titik ini, aku merasa seperti baru sampai di rumah setelah berbulan-bulan pergi melaut. Seperti pohon terong di balkon rumahku yang asyik bertumbuh ke bawah tanah–menguatkan jari-jemari akarnya, dan sempat membuat orang keheranan karena belum berbuah. Seperti berjalan melingkar dengan tiap langkah kaki yang mengarah lebih dalam dari sebelumnya, sehingga membentuk sebuah spiral. Terlihat biasa saja oleh dunia, tapi keren bukan main!
Kekerenan ini ditunjang oleh beberapa hal: upaya pemulihan dari trauma, periode hidup bersama kegelisahan dan asam lambung kronis, keberanian dalam mengekspresikan diri, dan kehadiran yang konsisten nan penuh kasih untuk diriku. Sebab itu, aku tidak takut–dan malah merasa penasaran–atas segala yang akan terjadi ketika bumi memutari mentari sekali lagi.
Ruray mengilustrasikan dirinya di 2021 ini seperti potongan-potongan stek tanaman syngonium yang direndam hingga tumbuh akarnya, sebelum ditanam ke tanah.

Kesulitan di tahun 2021 ini, bagi Coory menyadarkannya untuk tidak terus berkutat pada deadline dan hasil pekerjaan yang sempurna.
Tahun ini adalah tahun yang absurd. Aku merasa tahun ini sangat panjang dan penuh dengan to do list yang tidak habis-habis. Setiap kali aku merasa pekerjaan yang kulakukan berat, aku sering berpikir kenapa kita tetap bekerja seperti biasa di tengah krisis berskala global. Ketika deadline sudah dekat, aku suka berpikir: memangnya hal buruk apa yang akan terjadi kalau aku melewati deadline yang kubuat sendiri?
Di tahun ini, aku belajar untuk menerima keterbatasan hasil pekerjaan. Pandemi ini mungkin masih akan berlangsung terus, atau bahkan akan berulang. Aku sudah merayakan Natal dua kali di tengah pandemi. Jadi, buat apa aku menghabiskan hari-hariku yang sudah tidak asik dengan menyesali hasil pekerjaanku. Yang penting, aku sudah mencoba dan menggunakan kemampuanku sebisanya dan sesanggupnya.
Oh iya, di pertengahan tahun ini aku mengadopsi sebuah bonsai. Tapi, dia pun menyerah pada(ku) 2021.

Dalam konteks pergerakan sosial, kita telah melihat bagaimana pandemi ini sangat memukul keras banyak komunitas. Sementara itu, pemerintah memafaatkan kondisi ini untuk melanjutkan program pembagunan demi golongan 1% yang mereka cintai dan lindungi. Aktivis mengalami persekusi, masyarakat adat dihadapkan dengan aparat dan preman, nakes tidak dihargai sepatutnya, sementara kebijakan terus berubah tanpa melihat kemampuan masyarakat untuk terus melaju.
Bagi Astried, tahun ini menunjukkan bagaimana kita hanya bisa bertahan dan berjalan terus apabila dilakukan bersama dengan semangat komunal.
2021 mengajarkan kita bahwa semangat komunal lah yang menolong kita untuk bertahan. Sebaliknya, perjuangan tidak dapat dicapai melalui individualistik dan terpisah dari konteks.
Masing-masing individu tentunya memiliki kesan yang berbeda-beda dari tahun ini. Ada yang masih sanggup terus melaju dengan kecepatan yang sama, ada yang perlu berhenti dulu mengumpulkan tenaga.
Sebentar lagi, hidup kita akan bersambung ke pembabakan baru, tahun 2022. Sampai bertemu di episode baru, dengan jalan cerita yang mungkin juga baru.