Kuliah Daring tapi UKT Full : Yang Tidak Mau, Silahkan Cuti

Imbas pandemi Covid-19 mengakibatkan jatuhnya perekonomian Indonesia hampir di setiap kalangan. Tak terkecuali permasalahan ekonomi ini dirasakan oleh para wali murid yang masih memiliki tanggungan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus tetap dibayarkan penuh padahal pembelajaran dilakukan secara daring.  Namun, tak disangka hingga hampir enam bulan melakukan kegiatan perkuliahan secara daring pihak kampus belum memberikan kelonggaran pembayaran UKT hingga detik ini.

Belakangan, jagat dunia Twitter dihebohkan dengan thread seorang teman mahasiswa UNHAS (Universitas Hasanudin Makasar)yang sedang mengajukan banding penurunan UKT dengan alasan terdampaknya ekonomi orangtua sehingga kesulitan untuk membayar di semester depan. Namun, tak disangka pihak kampus sendiri menolak permohonan ini dengan alasan yang sama sekali tidak bisa diterima. Salah satu bukti sulitnya mengajukan banding dan permohonan keringanan biaya dari pihak kampus oleh mahasiswa dibagikan oleh akun twitter @calluramadan yang mencantumkan bukti screenshoot pengajuan keringanan biaya UKT kepada pihak kampus, namun permintaan tersebut ditolak dengan alasan sang orangtua yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam foto tersebut pihak kampus menyampaikan jika anggota PNS pada saat pandemi tidak berdampak secara ekonomi sehingga tidak diberikan keringanan dalam pembayaran UKT. Tweet ini ramai diperbincangkan yang kemudian memunculkan tagar #UnhasGratiskanUKT.

Tangkapan Layar Penolakan Pengajuan UKT UNHAS

Beberapa perguruan tinggi seperti UGM, UNAIR, dan UNHAS saat ini menjadi viral dan memunculkan banyak tagar seputar kebijakan kampus yang tak kunjung menurunkan harga UKT di tengah pandemi ini. Hingga saat ini pun belum terdengar kebijakan yang solutif dan berpihak kepada mahasiswa dari berbagai pihak perguruan tinggi negeri di Indonesia yang telah mencuri perhatian di media sosial. Isu yang muncul kepermukaan berkaitan dengan UKT ini memiliki kesamaan yaitu, tidak adanya keringanan yang diberikan oleh pihak kampus dalam subsidi; maupun pemotongan UKT sebesar 50%; dan tidak adanya transparansi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) selaku Perguruan Tinggi Badan Hukum (PYBN) yang sudah diatur dalam Peraturan Kementerian Pendidikan Kebudayaan.

Salah satu tagar yang berhasil menjadi trending adalah #AirlanggaMenggugat dan #UNAIRKampusMahal. Bobby, Humas dari Aliansi Mahasiswa Unair menyampaikan bahwa pihak Unair sendiri terlalu sempit dalam mengartikan dan menafsirkan siapa saja yang terdampak Covid-19 ini. “Ya masak harus nunggu orang tua kena Covid dulu baru kampus mau meringankan biaya UKT, kan itu tidak masuk akal,” kata Bobby saat diwawancarai di depan Kampus B Universitas Airlangga Surabaya. Dari pihak AMU (Aliansi Mahasiswa Unair) sendiri telah melakukan konsolidasi dan mediasi secara berulang dengan pihak kampus untuk menyalurkan aspirasi kawan-kawan mahasiswa. 

Namun, belum ada keputusan yang dirasa memuaskan. Hingga mereka pada akhirnya melaksanakan long march dan demo pada tanggal 29 Juli 2020, mendatangi gedung rektorat untuk menyampaikan lima tuntutan yang ditujukan kepada pembuat kebijakan sekaligus pimpinan tertinggi yaitu Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA selaku rektor UNAIR yang menjabat dua periode ini. Lima tuntutan tersebut berisikan:

  1. Pemotongan UKT sebesar 50% tanpa syarat bagi seluruh golongan mahasiswa
  2. Pembebasan UKT bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir
  3. Transparansi mengenai RAB ( Rancangan Anggaran Biaya ) selama masa pandemi ini
  4. Pemenuhan fasilitas mahasiswa selama kuliah daring melalui kuota
  5. Keempat tuntutan di atas harus segera diterbitkan dalam bentuk SK dari pihak Rektorat

Menurut pemaparan Bobby, ketika melaksanakan aksi mendatangi gedung rektorat teman-teman aliansi mahasiswa ini tidak kunjung ditemui baik oleh Rektor maupun jajaran petinggi kampus. Hingga selang satu hari pelaksanaan aksi, ada beberapa teman mahasiswa yang membagikan bukti screenshot pernyataan mencengangkan dari Bapak Rektor menanggapi demo mahasiswa tentang UKT ini. Akun Pak Nasih sendiri telah dikonfirmasi oleh pihak AMU sehingga hal ini bukan hoax. Namun hingga saat ini belum ada klarifikasi dari pihak kampus mengenai unggahan Pak Rektor.

Pernyatan Rektor Universitas Airlangga Terkait UKT

Dari pernyataan Prof Nasih ini dapat dilihat pada dasarnya pihak kampus tidak mampu melihat dan mendengarkan jeritan mahasiswa dan orang tua selaku stakeholder dalam wilayah perguruan tinggi. Ini menunjukkan tidak adanya sensitifitas yang dimiliki oleh para rektor. Disatu sisi Bobby menjelaskan bukan sekadar persoalan penurunan dan pembebasan UKT saja, namun juga tidak adanya transparansi data dan akuntabilitas RAB dari pihak kampus yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa dan orang tua selama masa pandemi. Padahal, hal ini sudah diatur di dalam UU DIKTI No. 12 tahun 2012. Hal ini sangat disayangkan mengingat UNAIR telah meraih predikat 500 WCU (World Class University), namun sulit untuk mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada mahasiswa dan orang tua. 

“Di masa pandemi ini sedikit banyak seluruh golongan ekonomi kelas atas maupun tingkat bawah, itu pasti terdampak. Maka dari itu universitas kenapa kok ngga mengeluarkan kebijakan yang benar-benar untuk seluruh mahasiswa” 

Ditulis oleh Jen 

SJW, You’re Too Good to be True!

For the longest time I know, I am so embarrassed when it comes to admitting that I am actually the SJW in my own social media account . Sepenggal pengakuan yang hadir dalam lubuk hati terdalam ketika membaca beberapa artikel yang membahas tentang SJW yang memiliki makna peyoratif bagi seluruh netizen di mana pun. Agaknya, mereka akan selalu kesal ketika harus berhadapan dengan ‘kami’. Lalu siapa sebenarnya SJW dan mengapa kita dianggap mengganggu ketika terlibat dalam perang argumen di media sosial. 

Social Justice Warrior (SJW) pertama kali muncul pada tahun 1991 sebagai bentuk apresiasi kepada aktivis asal Kanada, Michael Chartrand yang menentang ketidakadilan terhadap serikat buruh di masyarakat. Perjuangan dan pergerakan Michael inilah yang kemudian mendatangkan apresiasi hingga melahirkan istilah yang kemudian akhirnya mengglobal. Hingga sepuluh dekade setelahnya penggunaan SJW dimaknai dengan positif, bahkan penggunaanya untuk menggambarkan orang yang bekerja demi keadilan sosial, hal ini secara jelas merupakan sebuah pujian.  Dalam artikel How the Term ‘Social Justice Warrior’ Became an Insult, dijelaskan mengapa istilah SJW ini bergeser makna. Sejak tahun sekitar tahun 2011, SJW di platform twitter digunakan sebagai sebuah hinaan, asal-usul pergeseran makna ini sendiri masing simpang siur di antara para pengamat. Secara jelas “gelar” SJW kemudian dimaknai secara negatif. 

Lalu pada tahun 2015, istilah SJW masuk ke dalam kamus Oxford yang memiliki makna: The overly offended blindly ignorant scum of the internet whomst report anything and everything that offends them. Beberapa hal akan berkaitan mengenai SJW sebagai subkultur yang memiliki makna peyoratif dikarenakan orang-orang yang berada di dalam komunitas tersebut linked to deviant label as negative people in one place. Lalu dalam perkembangannya sendiri, SJW tidak lagi menjadi sebuah konsep namun menjadi bagian dari subkultur di tengah masyarakat suatu negara. Kehadiran SJW di media sosial ada kalanya menghadirkan cemoohan karena sikap mereka dinilai berbudi luhur, I mean let us be real no one is ever be that overly virtuous, sehingga banyak yang mengira jika SJW ini merupakan golongan orang munafik (menjadi baik agar terlihat suci dengan cara membela kebenaran). 

Beberapa hal yang ini sering kali dilakukan oleh so-called SJW yang baru mencicipi dunia aktivisme ataupun membela beberapa kelompok marjinal, tingkah mereka inilah yang kemudian memunculkan rasa ‘jijik’ oleh para netizen yang memiliki banyak pendukung yang beraliran sama. 

“Suka Ngeyel”

Kebencian orang-orang terhadap SJW ini dapat ditemukan diberbagai platform social media ketika ada suatu topik hangat yang sedang dibicarakan para SJW ini akan berusaha menunjukkan eksistensi mereka dengan memberikan tanggapan yang melawan budaya, nilai dan aturan yang telah berlaku, seperti halnya ketika membicarakan thread Bekal Suami. Beberapa SJW ini berusaha menjawab jika seharusnya seorang tidak perlu memasak hingga membuat bekal untuk suami secara gratisan karena seharusnya hal tersebut layak diberi upah yang maksimal. Dan anggapan lain oleh netizen adalah para SJW ini mudah sekali terprovokasi dan mudah sekali memberikan pendapat tak-berdasar dan argumen yang tidak ada nilainya. Padahal menurut pengamatan netizen, yang perang dengan SJW ini terkadang hanya baper karena performa debat tidak lebih hebat dan antusiasme SJW yang ‘bukan kaleng-kaleng’ inilah yang kemudian disalah artikan dan dijadikan bahan cemoohan. 

“Feminazi “

Salah kaprah selanjutnya yang dilakukan oleh para netizen ini adalah memberikan stereotip bahwa siapapun dia SJW pastilah seorang feminazi, sebutan baru para penganut feminisme. How is being a feminist is a wrong thing? Masih menjadi sebuah misteri di kehidupan saya ketika para pejuang kesetaraan gender ini harus dicemooh hanya karena berusaha menciptakan iklim yang seimbang dan penuh kedamaian. Pun ketika beberapa orang yang berusaha memberikan pembelaan dan penjelasan mendalam atas isu-isu kesetaraan, orientasi seksual, feminisme dan lainnya akan dikategorikan sebagai seorang SJW. 

Pada akhirnya para SJW ini sesungguhnya merupakan beberapa orang yang sudah ter-ilhami dalam memaknai secara mendalam, sehingga mereka berusaha mewujudkan iklim perdamaian yang sesungguhnya. Namun, masyarakat kita saja yang sangat sensitif terhadap perbedaan. Dengan arogan, para netizen yang diserang SJW ini akan mencari masa untuk melakukan perundungan,  i mean what’s cool being normal and basic. It’s hella boring! Dari tulisan inilah pada akhirnya memunculkan sebuah penerimaan kepada diri saya bahwa being SJW and Feminist is not a crime and it’ cool tho!

 

Ditulis oleh Jen

Udah 36 Tahun, Implementasi CEDAW masih Setengah Niat

Hari Jumat minggu ini, 24 Juli 2020, Indonesia sudah 36 tahun lamanya meratifikasi Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW/The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women). Tapi, makin lama rasanya kok negara kita malah makin mundur langkahnya dalam melindungi perempuan dari diskriminasi di Indonesia ya? RUU PKS ditarik dari Prolegnas 2020, RKUHP yang membatasi ruang kebebasan perempuan atas nama “ketahanan keluarga” akan disahkan,  dan ada berita kalau Komnas Perempuan akan dibubarkan oleh presiden.

Padahal karena sudah ratifikasi CEDAW, pemerintah kita punya tanggung jawab untuk menjamin dijalankannya kebijakan dan sistem yang bebas dari diskriminasi terhadap perempuan.

Apa itu CEDAW?

CEDAW adalah bentuk perjanjian yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk pengakuan terhadap hak asasi perempuan yang saat itu masih sangat didiskriminasi. Saat itu, dunia sudah mengakui adanya hak asasi manusia dan pentingnya menciptakan kesetaraan di antara manusia, tapi lupa kalau perempuan juga punya hak yang sama seperti laki-laki. Akhirnya, disahkanlah konvensi ini pada September 1981. Indonesia sendiri sudah ratifikasi CEDAW sejak 24 Juli 1984.

Karena sudah ratifikasi, berarti Indonesia memiliki tanggung jawab untuk:

Negara-negara yang sudah meratifikasi CEDAW memiliki kewajiban untuk menerapkan semua hal di atas. Sedikitnya setiap empat tahun, negara harus memberikan laporan nasional tentang sejauh mana konvensi ini sudah diterapkan dan dipraktikkan di wilayahnya.

Makin lama, kok makin mundur?

Ratifikasi ini artinya Indonesia sudah berjanji untuk  menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan melalui kebijakan-kebijakannya. Seperti disebut di atas, Indonesia punya janji untuk menciptakan institusi peradilan yang menjamin perlindungan terhadap perempuan. Sebenarnya poin ini sudah ada salah satu jawabannya: RUU PKS. Rancangan undang-undang ini dibuat untuk menjamin hak perlindungan dan pemulihan terhadap korban kekerasan seksual yang kebanyakan adalah perempuan. Tapi, DPR kita malah memutuskan untuk mengundur pembahasannya ke tahun depan. Inisiasi RUU PKS ini padahal udah gak baru lagi lho, udah bertahun-tahun! 

Bukan hanya RUU PKS, RUU PRT (Perlindungan Pekerja Rumah Tangga) juga gak jadi dibahas. Yang ini, sudah enam belas tahun diulur-ulur pengesahannya. Padahal, RUU ini penting untuk melindungi para pekerja rumah tangga yang seringkali tidak mendapatkan hak-hak selayaknya pekerja di sektor-sektor lain. Pekerjaan domestik yang mereka lakukan tidak memiliki payung hukum yang jelas sehingga sangat rentan mengalami kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

Di sisi lain, pemerintah kayaknya lebih greget pengen mengesahkan RKUHP. Kalau teman-teman menyimak pembahasan mengenai ini, ada banyak sekali pasal yang akan semakin menambah diskriminasi terhadap perempuan. Misalnya, perempuan yang melakukan aborsi akan bisa dipidanakan, termasuk mereka yang menjadi korban pemerkosaan. Saat korban kekerasan seksual tidak jadi bisa dilindungi karena RUU PKS ditolak, hubungan seks konsensual justru menjadi tindakan pidana berdasarkan RKUHP. 

Banyak banget permasalahan tentang RUU-RUU-an, eh baru-baru ini presiden bilang mau membubarkan delapan belas lembaga, termasuk Komnas Perempuan. Alasan pembubaran lembaga-lembaga ini adalah efisiensi penyaluran dana. Padahal kan :’’’’’ justru Komnas Perempuan perlu semakin ditambah dananya, soalnya kerjaanya juga masih banyak banget. Apakah pemerintah kita selalu memprioritaskan ekonomi di semua hal, termasuk perlindungan terhadap perempuan?

Kalau udah janji, ditepatin dong!

Janji Indonesia untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan udah 36 tahun lamanya. Komitmennya suka naik turun, tapi kok belakangan makin turun terus? Seharusnya Indonesia bisa lebih baik lagi dalam pemenuhan hak perempuan, soalnya udah banyak kok masyarakat yang mau bantu dan dukung pemerintah untuk memenuhi janjinya. Kemarin aja waktu DPR ngeluh RUU PKS susah, puluhan akademisi langsung inisiatif menawarkan bantuan untuk merunut pasal-pasal di dalamnya supaya lebih mudah dipahami. Jadi, apa yang masih menghambat Indonesia buat memenuhi janjinya?

Mengapa RUU PKS Harus Disahkan?

Pada hari Kamis (2/7/2020) lalu, DPR RI mengeluarkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dari program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas 2020. Kabar ini menyakiti hati banyak perempuan, terutama mereka yang telah melakukan berbagai bentuk lobi dan kampanye demi disahkannya naskah RUU ini. Lebih menyakitkannya lagi, alasan DPR tidak mau membahas RUU ini karena dirasa sulit. Ini menunjukkan betapa kecilnya komitmen pemerintah terhadap penegakan keadilan dan penciptaan ruang aman bagi perempuan di Indonesia.

Kalau saja DPR memiliki sedikit kemauan, mungkin mereka bisa membaca dan memahami apa sebenarnya yang ditawarkan naskah RUU PKS. Melalui RUU PKS, korban kekerasan seksual diberi hak atas penanganan, perlindungan, dan pemulihan, yang sebelumnya tidak dijamin dalam sistem perundang-undangan Indonesia.

Kenapa ini penting?

Sebelumnya, kita sudah pernah membahas hubungan perempuan dan segitiga kekerasan. Dalam tulisan itu, dijelaskan bahwa kekerasan dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis. Ada kekerasan langsung, yaitu yang dilakukan secara fisik, verbal, atau psikis, dan dapat kita kenali bentuk perbuatan atau pelakunya. Ada kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang terjadi secara sistemik dan dilanggengkan melalui berbagai bentuk kebijakan. Terakhir, ada kekerasan kultural, yang terjadi karena pembiaran sehari-hari di dalam budaya kita.

Kalau mau dilihat dalam kasus nyata, teman-teman bisa melihat banyak penyintas kekerasan seksual yang speak up di Twitter beberapa hari belakangan. Perlakuan yang mereka terima, seperti diraba, disentuh secara paksa, hingga diperkosa adalah wujud dari kekerasan secara langsung.

Para penyintas ini speak up untuk menunjukkan bahwa kekerasan seksual terjadi tanpa memandang usia, pakaian, atau jenis kelamin. Namun, saat cerita-cerita ini tersebar banyak sekali orang-orang yang masih tetap menganggap bahwa kekerasan itu terjadi karena hal-hal yang dilakukan oleh korban, seperti menggunakan pakaian terbuka, keluar sendirian atau malam-malam, atau apapun (semua bisa menjadi kesalahan korban bagi orang-orang seperti ini). Sekeras apapun para penyintas membuktikan bahwa kekerasan seksual itu terjadi karena pelakunya sendiri, banyak sekali yang tetap menyalahkan korban.

Budaya menyalahkan korban ini (victim blaming) adalah salah satu contoh kekerasan kultural yang sering terjadi sehari-hari. Budaya ini muncul sebagai hasil dari proses panjang internalisasi nilai-nilai patriarki di kehidupan sehari-hari kita. Sejak kecil, perempuan sudah diajari untuk menjaga dirinya sementara laki-laki tidak diajari untuk menjaga perilakunya. Tanggung jawab sepenuhnya ada para si perempuan untuk tidak mengundang laki-laki melakukan kekerasan seksual. Konyol, tetapi pemahaman ini sudah diajarkan kepada kita sejak dini sehingga sulit dan butuh waktu lama untuk mengubahnya.

Banyaknya twit tentang kekerasan seksual di Twitter muncul sebagai respon dari keputusan DPR mengeluarkan RUU PKS dari prolegnas. Banyak orang yang menunjukkan kekecewaan dan kemarahan terhadap pemerintah. Nah, keluarnya RUU PKS dari prolegnas ini bisa kita lihat sebagai salah satu wujud dari kekerasan struktural di Indonesia. Sistem peradilan kita belum berpusat pada pengalaman korban, sehingga sulit untuk mencapai keadilan. Tapi, tetap saja tidak ada keinginan dari pemerintah untuk memperbaiki sistem yang berlaku saat ini. Sulitnya pengesahan RUU PKS dibandingkan dengan Omnibus Law menunjukkan prioritas negara belum ada pada pemenuhan HAM masyarakatnya.

Ketiga bentuk kekerasan ini saling tersangkut paut satu sama lain, membuat hidup penyintas kekerasan seksual semakin sulit dan tidak adil.

Bagaimana cara menghentikan rantai kekerasan ini?

Untuk menghentikan rantai kekerasan, kita perlu mengatasi ketiga bentuk kekerasan ini sekaligus. Selama ini, mungkin beberapa dari kita masih hanya fokus di level kekerasan langsung. Kita mengutuk tindakan dari individu-individu pelaku kekerasan seksual, tapi tidak menelusuri lebih jauh kenapa hal itu seringkali terjadi. Komentar seperti: “balik ke diri masing-masing aja sih,” yang menekankan pada tanggung jawab per individu untuk mengurus perilaku sendiri-sendiri tidak akan menyelesaikan masalah rumit ini.

Di level struktural, RUU PKS menjadi salah satu kunci penting untuk menjamin keadilan bagi perempuan secara sistemik. Di level kultural, kita perlu secara terus menerus meninggalkan budaya-budaya seksis salah satunya kebiasaan menyalahkan korban.  

Mixtape untuk Pride Month

Masyarakat kita masih menganggap orientasi seksual selain heteroseksual sebagai penyakit sementara orangnya dianggap tidak bermoral. Martabat orang-orang LGBT di Indonesia direnggut dan kemanusiaannya tidak diakui. Akibatnya, mereka sering terkena diskriminasi, persekusi, dan kriminalisasi. Kenapa ya negara kita tidak bisa menerima keberagaman gender dan seksualitas? Dan kenapa ada negara lain yang bisa? Jangan-jangan memang benar kalau LGBT itu produk budaya barat(?)

Amy Adamczyk, seorang profesor sosiologi dari City University, New York, memaparkan bahwa terdapat tiga faktor yang sering dihubungkan dengan tingkat penerimaan suatu negara terhadap LGBT, yakni pertumbuhan ekonomi, demokrasi, dan agama. Amy menguraikan bahwa negara-negara miskin cenderung menolak LGBT. 

Pada negara-negara miskin, kurang terjaminnya kebutuhan dasar membuat orang-orang menjadi saling bergantung satu sama lain. Kebergantungan ini menyebabkan munculnya loyalitas yang kuat dalam kelompok, sehingga hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai tradisional seperti LGBT susah diterima. (Tapi saya sangsi karena kalau kita timbang lebih jauh ke belakang, nilai tradisional di negara-negara miskin kebanyakan ditanamkan oleh bangsa penjajah yang sekarang menjadi negara-negara maju).

Faktor demokrasi juga memegang peranan. Semakin suatu negara menjamin kebebasan berekspresi warganya, semakin besar penerimaan yang ada untuk LGBT. Sementara itu, peranan agama dalam negara menjadi penyetir nasib warganya yang LGBT. Eropa Barat, dengan tingkat keagamaan yang rendah, menjadi wilayah yang paling banyak melegalkan pernikahan sejenis. Negara-negara di Asia dan Afrika, di sisi lain, masih banyak yang memusuhi LGBT karena bertolak belakang dengan nilai keagamaan. Terdapat beberapa pengecualian, seperti Cina, yang meskipun bukan negara religius tetapi tidak toleran terhadap kelompok LGBT.

Jadi memang benar kalau LGBT itu dari barat? Kalau sebagai istilah, iya benar, tepatnya dari bahasa Inggris. Tapi konsep mengenai keberagaman seksualitas sudah lama ada di Indonesia, salah satunya dalam seni pertunjukan. Hanya saja sekarang kita seolah lupa dengan sejarah keberagaman itu, lalu menyebut LGBT sebagai produk asing yang mengancam identitas bangsa. Bahkan sudah separah sampai sebuah partai politik oposisi harus menganulir kritiknya mengenai kebijakan diskriminatif terhadap kelompok LGBT setelah diserang oleh kelompok populis sayap kanan.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan? Sepertinya sulit untuk dijawab ketika dari akar rumput sampai parlemen sudah anti keberagaman. Tapi yang jelas Pride Month adalah waktu untuk mengangkat martabat orang-orang LGBT. Lin da Quebrada, seorang rapper transpuan dari Brazil, bilang kalau musik punya peranan penting dalam membentuk pemikiran. Saya juga percaya kalau musik bisa mempengaruhi opini pendengarnya. Oleh karena itu saya menyusun mixtape lagu-lagu Top 40 yang makna dari lirik atau videonya mengekspresikan dukungan untuk keberagaman gender dan seksualitas. Selamat menikmati.

1. Hozier – Take Me to Church

Hozier menulis lagu ini curahan rasa frustrasinya terhadap dogma Katolik yang ia rasa terlalu mendominasi kehidupan sosial politik Irlandia. Liriknya sangat sinis terhadap dogma gereja, terbaca lewat bait 

Take me to church

I’ll worship like a dog at the shrine of your lies

Sementara itu video yang menemani lagu ini menggambarkan kehangatan sepasang kekasih yang kemudian dirusak oleh sekelompok homofobik. Lirik yang sebelumnya ditujukan untuk dogma gereja kemudian menjelma lebih kuat karena penceritaan videonya. Salah satu bait yang paling mengena adalah “There is no sweeter innocence than our gentle sin“. Aduh…

Kombinasi lirik dan video dari Take Me to Church membuat miris penikmatnya, tapi juga menyadarkan realitas mengenai LGBT yang masih belum mendapatkan tempat yang layak di masyarakat.

2. Macklemore & Ryan Lewis – Same Love (feat. Mary Lambert)

Lagu ini pada dasarnya mengutarakan kejengkelan Macklemore pada dunia hip hop yang menurutnya masih homofobik. Liriknya mencerminkan perjalanan dan pandangan personal Macklemore. Selain itu ia juga menyebutkan pamannya yang gay dalam lirik.

Nah, yang ini bertolak belakang dari sebelumnya. Videonya menggambarkan semacam hikayat atau perjalan hidup seorang pria gay mulai dari bayi sampai menua dengan suaminya. Meskipun happy ending, menurut saya video ini berhasil menceritakan pengalaman hidup LGBT kepada orang-orang non-LGBT dengan baik. Selain itu videonya juga memenangkan MTV VMA 2013 untuk kategori Best Video with a Social Message.

3. Lady Gaga – Born This Way

Lady Gaga memang sudah menjadi gay icon lewat musik dan performansnya. Lady (Lady sendiri yang bilang untuk memanggil dia Lady) menulis lagu ini dalam sepuluh menit. Secara garis besar lagu ini merayakan kebebasan dan penerimaan diri.

 I’m beautiful in my way

‘cause God makes no mistakes

I’m on the right track, baby

I was born this way. 

Lady terinspirasi oleh lagu yang dinyanyikan Carl Bean, seorang pastor gay, berjudul I Was Born This Way. Lewat Born This Way, Lady mencoba memberikan validasi kepada para little monsters, sebutan untuk para penggemarnya, yang kebanyakan LGBT.

4. Mary Lambert – She Keeps Me Warm

Lagu ini adalah pengembangan dari kolaborasi Mary dengan Macklemore & Ryan Lewis dalam lagu Same Love. Dalam pengembangan ini ia menceritakan pengalamannya tubuh besar sebagai lesbian di lingkungan Kristen. 

Bait “I’m not crying on Sundays, I’m not crying on Sundays” mengutarakan kegelisahannya dalam menyatukan jati diri sebagai seorang penganut Kristen sekaligus lesbian.

Lagu ini mengambil tempo lebih lambat daripada Same Love, dan mungkin oleh karena itu liriknya menjadi lebih emosional. Oh iya, mungkin musik videonya bisa menginspirasi modus kamu untuk PDKT ke gebetan.

5. Christina Aguilera – Beautiful

Beautiful ditulis oleh Linda Perry, seorang penulis lagu lesbian. Lagu ini mengambil bahasan penilaian diri dan kegelisahan akibat kata-kata dan penilaian orang lain. Liriknya mengajak kita untuk tidak mengindahkan semua itu dan berfokus pada diri kita sendiri

You are beautiful

No matter what they say

Words can’t bring you down

Sementara itu, videonya menggambarkan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan kegelisahan mereka masing-masing, termasuk sepasang gay dan seorang transpuan. Dengan menampilkan dua gambaran LGBT tersebut, video ini termasuk berani pada zamannya. Sehingga tidak mengherankan kalau lagu ini menjadi LGBT anthem dan mendapatkan penghargaan Special Recognition dari GLAAD Media Award, sebuah ajang penghargaan untuk representasi LGBT dalam media.

6. Sara Bareilles – Brave

Jika kita dengarkan dengan santai, lagu ini mungkin akan dinikmati oleh sejuta telinga dan lebih. Musiknya bikin gerak, suara penyanyi merdu, dan vibe-nya positif–tanpa cela. Tapi, jarang yang tahu kalau Sara Bareilles menulis lagu ini setelah terinspirasi oleh seorang teman dekatnya yang mengalami kesulitan untuk coming out atau melela. Lagu ini adalah lambang dukungannya kepada kelompok LGBT untuk lebih berani mengekspresikan diri, yang ia ungkapkan dengan cara yang sangat kalem.

But I wonder what would happen if you

Say what you wanna say

And let the words fall out

Honestly, I wanna see you be brave

Nah, kira-kira berapa banyak pendengar yang meruqiyah telinga mereka ya setelah mendengar informasi di atas? Hahaha.

7. Janelle Monae – Make Me Feel

Dengan tempo cepat dan beat yang menempel di kepala, Make Me Feel adalah sebuah lagu yang seksi. Video yang menyertai single ini menggambarkan Janelle Monae yang kebingungan memilih laki-laki atau perempuan, lalu memutuskan untuk memilih keduanya. 

Liriknya sendiri mengandung ambiguitas: “It’s like I’m powerful with a little bit of tender“. Kalau kita rangkai dengan bait-bait yang lain, seperti “Can’t be explained, but I can try for you” serta “An emotional, sexual bender“, maka sepertinya lirik lagu ini sedang menceritakan seseorang yang baru saja keluar dari heteronormativitas. Dilengkapi dengan video yang tidak kalah seksi, lagu ini dijuluki bisexual anthem.

8. Hayley Kiyoko – Girls Like Girls

Musik dan suara Hayley Kiyoko dalam lagu ini sangat sensual. Hayley, yang seorang lesbian, membuat lagu ini untuk menantang narasi budaya pop mengenai para laki-laki yang saling rebut pacar perempuan dengan memutarbalikkan situasinya menjadi perempuan yang mencuri pacar perempuan dari seorang laki-laki. Musik videonya pun juga tidak kalah sensual, dan menggambarkan persis seperti liriknya. “Girls like girls like boys do, nothing new“.

9. Troye Sivan – Heaven (feat. Betty Who)

Menurut Troye Sivan dalam tweet-nya, ini adalah lagu paling penting miliknya karena mengungkapkan perjuangannya untuk melela dan bagaimana satu tindakan itu akan mengubah hidupnya seterusnya. Apakah Tuhan akan membencinya?

Without losing a piece of me

How do I get to heaven?

Without changing a part of me

How do I get to heaven?

Sementara itu, musik videonya menggambarkan Troye Sivan yang menyanyi sambil saling peluk dengan seorang laki-laki diselangi klip-klip Pride dan perjuangan pergerakan LGBT.

10. Panic! At The Disco – Girls / Girls / Boys

Lagu ini menceritakan hubungan segitiga antara seorang laki-laki dan dua perempuan. Mungkin ini adalah semesta paralel dari Girls Like Girls milik Hayley Kiyoko ketika masing-masing pihak sudah saling rekonsiliasi hahaha. Lagu ini sendiri terinspirasi dari pengalaman threesome pertama sang vokalis, Brendon Urie, yang juga pernah bereksperimen dengan laki-laki. Kalau sebelumnya mendengarkan lagunya saja sudah ingin gerak, setelah tahu inspirasi di baliknya kira-kira ingin apa lagi ya?

11. Rihanna – Te Amo

 

Saya suka jengkel ketika mendengar seseorang melakukan song cover lalu mengubah beberapa lirik lagu tersebut supaya sesuai dengan gender atau preferensi seksualnya, karena kadang lirik barunya terlihat maksa malah merusak lagu itu sendiri. Apakah menyanyikan liriknya aslinya akan otomatis mengubah gender atau orientasi si penyanyi?

Rihanna, di sisi lain, malah melakukan yang sebaliknya. Ia adalah seorang heteroseksual, tetapi lirik lagu ini menceritakan hubungan dua perempuan, satu mengejar yang lain (Rihanna) dan mengatakan, “Te Amo” (bahasa Spanyol, aku sayang kamu) tetapi Rihanna tidak merasakan hal yang sama. Alih-alih menjadi kaum pada paragraf sebelumnya, Rihanna malah bermain total dalam musik videonya (momen in your face banget).

12. Katy Perry – I Kissed A Girl

Saya ingat sekali ketika masih SMP, lagu ini adalah favorit gebetan saya yang kebetulan sangat religius. Hmmmm wow. Tetapi sebenarnya lumrah saja kita tidak awas dengan makna lagu ketika pikiran kita kebanjiran dengan musiknya saja, misalnya Gloomy Sunday yang sebenarnya membicarakan dampak perang tetapi kita malah takut karena musiknya seram. Genre pop rock yang populer dan lagu ini sendiri yang enak diterima oleh setiap telinga mungkin menjadi alasan kenapa makna liriknya seolah kabur.

13. Brockhampton – Something About Him

Lagu ini adalah surat cinta pentolan Brockhampton, Kevin Abstrack, kepada pacarnya, Jaden Walker. Walaupun hanya sepanjang satu setengah menit, siapa yang tidak mau diberikan lagu yang khusus didedikasikan untuk kita?

Spotify Link:

https://open.spotify.com/playlist/1zfR8szm7VWwtttMDKIWGW?si=dMjRRXyRSMCdt756ZEOnJA

 

Karakter LGBTQ yang Perlu Kamu Tahu di Serial Ini

Menonton serial di kala pandemi sudah menjadi salah satu pelarian yang paling sering dilakukan. Melihat waktu luang yang lebih sudah seharusnya dimanfaatkan untuk menghibur diri dari tumpukan kerjaan yang tidak henti-henti.

Bulan Juni yang juga dikenal sebagai Pride Month bisa jadi referensi atau alasan untuk menentukan serial apa yang harus kamu tonton. Dari berbagai macam serial yang ada, kami memilih 5 serial berdasarkan karakter menarik dan dekat dengan isu LGBTQ versi kami. 5 Serial ini kami rasa bisa bersaing dengan daftar tontonan serial yang kalian harus habiskan di masa pandemi. Berikut 5 Serial rekomendasi kami (Spoilers alert!):

1. Manila (Money Heist)

Belén Cuesta in La Casa de Papel (2017)

Money Heist adalah salah satu serial yang cukup populer sejak pertama kali muncul di netflix pada tahun 2017. Serial ini berkisah soal perampokan bank yang direncanakan dengan matang oleh salah satu karakter  kunci  yang dikenal dengan julukan Profesor. Dalam menjalankan misi perampokan, Profesor memiliki geng kecil beragam yang masing-masing diberi nama kota sebagai aliasnya.

Salah satu karakter dari tim profesor yang cukup berbeda diantara anggota lainnya adalah Manilla. Manilla alias Julia alias Juanito adalah seorang transpuan yang direkrut atas rekomendasi Moscow (Paman) dan Denver (Saudara Sepupu). Setelah disetujui oleh Profesor, Manila pun diajak untuk bertemu. Dengan tampilan barunya sebagai transpuan Moscow dan Denver yang dahulunya mengenal Manila sebagai Juanito sempat tercengang saat kembali bertemu. Namun, tanpa sinis atau komentar jahat Moscow dan Denver langsung memeluk dan sangat menerima Manila seperti Ayahnya yang menerima dan sangat mendukung pilihannya.

Adegan yang paling menarik dari Manila adalah saat akhirnya dia mengakui penyamarannya. “You’re going to put that G36 on the floor on the next three seconds. If you don’t, you’re dead” kata Manila. “Who are you? If you don’t mind me asking” kata Arturo salah satu sandera. “Manila, undercover agent of the gang.” balas Manila. Adegan ini juga cukup intens karena mereka saling todong senjata, nampak juga Manila kesal ke Arturo karena mengelak telah melakukan pelecehan ke sesama sandera. Padahal hal yang sama hampir Arturo lakukan ke Manila dengan cara menawarkan obat penenang. Ini menunjukan rasa peduli Manila terhadap sesama perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual dari lelaki bejat seperti Arturo.

Nah dari serial ini kita bisa melihat bahwa karakter-karakter kunci dan menarik tidak hanya berasal dari kaum laki-laki saja. Melainkan bisa sangat beragam seperti Manilla seorang transpuan. Dan ini membuat ceritanya menjadi lebih seru dan menyenangkan.

2. Wendy Carr (Mindhunter)

Dari beberapa serial thriller yang ada, Mindhunter bisa menjadi pilihan untuk kamu tonton di akhir pekan. Berkisah mengenai dua agen FBI Holden Ford dan Bill Tench didampingi salah satu psikolog Wendy Carr bertemu para serial killer yang diangkat dari buku Mindhunter: Inside The FBI’s Elite Serial Crime Unit ditulis oleh John E. Doughlass dan Mark Olshaker.

Anna Torv in Mindhunter (2017)

Selain Holden Ford dan Bill Tench sebagai pemeran utama,Wendy Carr yang dikenal sebagai ahli psikologi sekaligus karakter pendukung di serial ini mempunyai kisah hidup yang cukup menarik. Wendy adalah seorang lesbian yang tidak menampilkan orientasi seksualnya ke khalayak bahkan ke rekannya sendiri agen Holden dan agen Bill. Kisah cintanya ditampilkan dengan cukup rumit, sebagaimana ketika seorang lesbian dalam sebuah instansi kepolisian saat memilih jalan hidup sebagai lesbian. Wendy sempat berpasangan dengan kepala fakultas psikologinya yang akhirnya mandat saat ia berpindah tugas ke Virginia bertugas di FBI dan menyadari kalau hubungannya kurang sehat. Jelang tidak lama, Wendy bertemu seorang bartender cantik bernama Kay di tempat bertugasnya. Wendy pun sempat berkencan dengan Kay sesekali sampai pada akhirnya berpisah karena Kay masih harus bergelut dengan masalah anak dan pernikahannya yang lama. Di salah satu episode juga diperlihatkan bagaimana realita seorang lesbian yang menyembunyikan identitasnya digoda oleh salah satu petinggi FBI dan itu cukup meresahkan.

Dalam serial ini juga Wendy Carr sangat suportif kepada dua rekanannya, namun ada saat-saat tertentu yang membuat Wendy dilihat sebagai tantangan. Hal semacam ini seharusnya bisa dinilai wajar oleh Holden dan Bill karena latar belakangnya sebagai akademisi cenderung ilmiah dan sistematis. Karena seperti pada umumnya sebuah riset dan studi harus memiliki standar dan aturan tertentu saat dijalankan. Hal ini menunjukan bahwa sikap profesional seseorang itu tidak dipengaruhi oleh orientasi seksualnya dan pilihan itu tidak merugikan siapa-siapa.

3. Rosa Diaz dan Raymond Holt (Brooklyn Nine-Nine)

Brooklyn Nine-Nine merupakan sitkom yang berkisah mengenai perjalanan sekelompok polisi di Kantor Polisi 99 di New York. Setelah tayang sepanjang tujuh musim, Brooklyn Nine-Nine telah meraih berbagai penghargaan dan diterima dengan hangat oleh penonton di seluruh dunia. 

Meskipun berfokus kepada dilema kerja dan kondisi kehidupan sehari-hari para polisi, Brooklyn Nine-Nine juga memastikan representasi sosial dibawa dengan tepat melalui tayangannya. Rosa Diaz dan Kapten Raymond Holt merupakan dua karakter polisi yang bekerja dengan sepenuh hati dan berusaha keras untuk menangkap pelaku kriminal dan memecahkan kasus. Namun, ketika penonton melihat lebih jauh dari sekedar pencapaian karir keduanya, kita disuguhkan mengenai realita kehidupan komunitas LGBT di dunia profesional. 

Kapten Raymond Holt merupakan kapten di Kantor Polisi 99. Dengan ketertarikannya terhadap kebudayaan klasik, ketertiban dan keteraturan, para polisi yang ia kepalai sering sulit menangkap emosi dan intensi dibalik hal yang ia katakan dan lakukan. Kapten Holt secara terbuka memberitahu rekan kerjanya bahwa ia adalah gay. Menjadi polisi dengan latar belakang rasial Afrika-Amerika dan berorientasi seksual gay sangatlah tidak mudah. Berkali-kali Kapten Holt ditertawai dan bahkan didiskriminasi karena identitasnya tersebut. Namun, para polisi dan rekan kerjanya di Kantor Polisi 99 begitu menghormati Kapten Holt. Meski penuh tekanan, Kapten Holt senantiasa kembali berjuang untuk menangkap pelaku kriminal. Salah satu kutipan yang begitu menguatkan dari Kapten Holt adalah, “Saya sudah menjadi polisi yang terbuka akan identitasnya sebagai gay semenjak 1987, jadi Anda bukanlah satu-satunya atasan yang memberikan ancaman kepada saya. Anda tahu bagaimana saya masih bisa bertahan? Karena saya melakukan tugas saya, dan saya melakukannya dengan baik.”

Karakter unik lainnya adalah Rosa Diaz, seorang perwira polisi yang memiliki kepribadian dingin dan cenderung agresif. Pada awal kemunculannya di Brooklyn Nine-Nine, Rosa Diaz sempat berkencan dengan beberapa pria, namun pada perjalanannya, Rosa menyadari bahwa dirinya juga tertarik kepada perempuan dan mulai menjalin hubungan dengan kekasih perempuannya. Hal ini tentu sempat menimbulkan kebingungan, tidak hanya kepada rekan kerjanya tetapi juga kepada keluarganya. Melalui perjalanan Rosa Diaz, kita dapat melihat betapa pemahaman mengenai biseksualitas sangatlah terbatas. Kita cenderung mengkotak-kotakan manusia atas ketertarikannya kepada perempuan saja, atau laki-laki saja. Pada salah satu episode berjudul Game Night, orang tua Rosa datang berkunjung dan menanyakan mengenai kehidupan hubungan Rosa. Orang tua Rosa secara gamblang mengatakan bahwa mereka lebih bahagia jika Rosa merupakan pasangan selingkuh seorang laki-laki, daripada seorang biseksual. Mereka juga mencoba meyakinkan Rosa bahwa ketertarikannya kepada perempuan merupakan sebuah fase yang akan ia lewati. Hal ini membuat Rosa marah karena merasa tidak diterima oleh keluarganya sendiri. Meskipun tidak langsung menerima identitas Rosa sebagai seorang biseksual, orang tua Rosa perlahan mencoba memahami putrinya tersebut. Di masa-masa sulit inilah rekan-rekan kerja Rosa menjadi support system yang senantiasa mendukungnya. 

4. Ola Nyman dan Lily Iglehart (Sex Education)

Sex Education merupakan seri drama komedi yang tayang semenjak 2019. Berkisah mengenai Otis, seorang remaja laki-laki dengan ibu yang berprofesi sebagai terapis seks yang membuat Otis mendapatkan banyak pengetahuan mengenai seks dan seksualitas. Karena kegiatan di sekolah yang cenderung mengabaikan pendidikan seksual, teman-temannya mulai menanyakan dan menjalani sesi “konseling” mengenai perilaku seks mereka kepada Otis. 

Patricia Allison and Tanya Reynolds in Sex Education (2019)

Berbicara mengenai representasi, serial Sex Education memberikan tampilan yang sungguh beragam kepada penonton. Dimulai dari keberagaman suku dan ras, agama dan kepercayaan, hingga perilaku dan orientasi seksual. Salah satu tokoh yang menarik adalah Ola Nyman dan Lily Iglehart. Lily digambarkan sebagai karakter perempuan yang mengeksplorasi ketertarikan seksualnya melalui cerita fiksi yang ia buat. Ketertarikannya kepada perilaku seks role play bahkan menjadi bahan bakar baginya untuk menciptakan komik dan juga menulis naskah reinterpretasi dari Romeo dan Juliet untuk dipentaskan bersama teman-temannya. Di sisi lain, Ola merupakan siswa pindahan. Awalnya Ola menjalin hubungan dengan Otis yang kemudian kandas di tengah jalan. Setelah hubungannya dengan Otis usai, Ola menjadi berteman akrab dengan Lily. Melalui interaksi mereka sehari-hari, Ola akhirnya menyadari bahwa ia tertarik kepada Lily. Proses ini benar-benar menunjukkan periode dimana seorang remaja mencoba memahami dan mencari jati dirinya sendiri. Dengan dukungan yang suportif dari lingkungan dan keluarganya, Ola dengan mudah menerima identitasnya yang tertarik kepada perempuan. Hal ini berbeda dengan Lily yang awalnya menolak perasaan Ola karena berbagai alasan dan pikiran yang ia miliki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Lily dan Ola berusaha mengkomunikasikan perasaan mereka secara sehat, tanpa penolakan dan menghindari satu sama lain. Proses inilah yang membantu Lily untuk menerima dirinya dan membangun hubungannya dengan Ola. 

Melalui perjalanan Lily dan Ola, penonton dapat belajar mengenai proses pencarian jati diri dan penerimaan diri. Lily dan Ola juga tidak berusaha menjalani hidupnya dengan berfokus hanya kepada perilaku, orientasi seksual, ataupun status hubungan keduanya saja, melainkan menjalani hidup mereka layaknya remaja pada umumnya dan menjadikan orientasi seksual sebagai bagian yang membentuk diri mereka. 

5. dr. Casey Parker (Grey’s Anatomy)

Penggambaran mengenai transgender, khususnya translaki, tidak banyak kita saksikan di layar kaca. Padahal menurut Krista Vernoff, penulis naskah dari serial Grey’s Anatomy, representasi di layar kaca menjadi penting karena mengenalkan suatu kelompok dari kemunculan individu di tayangan televisi dapat memunculkan perasaan mengenai kelompok tertentu, yang kemudian meningkatkan pemahaman penonton akan kelompok tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan Krista membawa karakter Dokter Casey Parker ke dalam Grey’s Anatomy. 

Grey’s Anatomy merupakan serial televisi asal Amerika yang mengisahkan perjalanan sekelompok dokter untuk menjalani profesinya dengan berbagai tantangan pekerjaan dan juga personal. Pada musim keempat belas, serial ini membawakan cerita mengenai  keadaan darurat yang tiba-tiba dihadapi oleh rumah sakit Grey Sloan Memorial, dimana seluruh sistem digital rumah sakit diretas oleh orang tidak dikenal. Residen Kepala yang bertugas, dokter Miranda Bailey, saat itu kelimpungan dan mendapatkan bantuan dari dokter magang, dokter Casey Parker. Dokter Parker kemudian mengaku mampu membantu segera menyelesaikan masalah peretasan ini karena latar belakangnya pada ilmu keamanan siber, namun karena perilakunya di masa lalu yang pernah meretas server pemerintahan, dia dihukum untuk tidak memanipulasi atau membantu orang untuk memanipulasi sistem lagi. Tanpa diketahui petugas FBI yang sedang bertugas untuk mencari si peretas, dokter Parker dan dokter Bailey bekerja sama mengembalikan keadaan rumah sakit. 

Setelah keadaan sudah membaik, dokter Bailey yang tidak sanggup menahan rasa ingin tahunya akhirnya bertanya kepada dokter Parker mengenai alasannya meretas server pemerintahan. Dokter Parker bercerita bahwa pada data milik pemerintah tersebut, ia terdaftar sebagai perempuan, dan setelah membuat permohonan pemerintah tetap tidak mau mengubahnya. Pada momen ini, dokter Parker juga secara terbuka berkata kepada atasannya bahwa, “Saya bangga sebagai seorang translaki, dokter Bailey. Tetapi saya berharap orang-orang bisa mengenal saya sebelum mereka mengetahui mengenai sejarah penanganan medis pribadi saya.” 

Kisah mengenai dokter Casey Parker merupakan kisah yang menunjukkan bahwa keahlian dan kapabilitas seseorang seharusnya bisa menjadi fokus utama di dunia kerja, terlepas dari identitas gendernya. Hal menarik lainnya adalah karakter dokter Parker benar-benar diperankan oleh seorang translaki, yang semakin menegaskan adanya representasi komunitas transgender di layar kaca tidak hanya dari segi karakter fiksi, tetapi juga dari segi aktor yang memainkannya. 

Menjadi Sekutu yang Baik

Beberapa minggu ini isi feed media sosial kamu ramai dengan #PapuanLivesMatter. Unggahan-unggahan dalam tagar tersebut menyadarkanmu mengenai kekerasan dan rasisme yang dialami oleh orang-orang Papua. Kamu merasa terpanggil untuk turut menyuarakan keadilan, tapi kemudian kamu melihat beberapa orang mendapatkan kritikan dan amarah karena melakukannya dengan cara yang salah. Lalu kamu mengurungkan niatmu. Mending diam deh, kamu pikir.

Kamu mengira dengan diam kamu sudah mengambil sikap yang benar, sampai kamu menemukan tweet yang bilang kalau berdiam diri sama artinya dengan memihak penindas. Nah, loh, sekarang kamu bingung. Kamu mengakui kebenaran tweet tersebut, tapi kamu sendiri tidak tahu harus bagaimana.

Baiklah. Sekarang waktunya kamu belajar untuk menjadi sekutu yang baik.

Sekutu, atau ally, adalah seseorang yang mendukung kemajuan suatu kelompok terpinggirkan. Sekutu bukan bagian dari kelompok tersebut, tetapi ikut memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan. Kami menawarkan beberapa petunjuk yang bisa kamu gunakan untuk belajar menjadi sekutu yang baik dalam isu Papua.

1. Dengarkan

Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mendengarkan orang Papua. Ini penting karena pemberitaan isu Papua oleh media kerap kali memakai sumber dari aparat dan otoritas negara yang melanggengkan narasi tunggal seperti separatisme atau pembuat onar. Narasi tunggal merampas martabat, karena membuat susah cara kita melihat kemanusiaan dalam pihak yang dinarasikan. Bagaimana cara mengembalikan martabat tersebut? Kamu bisa mulai dari Suara Papua, Tabloid Jubi, dan Papuan Voices.

2. Edukasi diri kamu

Selain mendengarkan suara orang Papua, kamu juga bisa membekali diri dengan informasi dan pengetahuan mengenai bagaimana kita (orang Indonesia dan orang Papua) sampai pada masalah di titik ini dari sumber-sumber yang bisa kamu akses. Kita Harus Bicara tentang Papua adalah awalan yang bagus untuk membuka pikiran mengenai isu Papua.

3. Unlearn

Karena akses informasi dari dan mengenai Papua terus dibatasi, lumrah jika banyak orang Indonesia yang gagal paham mengenai segala persoalan di Papua. Ditambah dengan narasi tunggal, bukan tidak mungkin banyak dari kita memiliki prasangka negatif mengenai Papua dan orang-orangnya. Untuk menjadi sekutu yang baik, kamu harus berhadapan dengan dirimu sendiri mengenai hal ini. Project Implicit dari Universitas Harvard bisa membantumu mengurai apa saja prasangka yang ada di dalam diri kamu (agar sesuai dengan konteks isu Papua, ambil race test dan skin-tone test).

4. Gunakan privilesemu untuk membela orang Papua

Sebagai teman berjuang bagi orang-orang Papua, tidak cukup untuk hanya menjadi tidak rasis. Kamu harus anti-rasis, yakni dengan cara menentang rasisme yang kamu saksikan serta mengupayakan toleransi. Sikap anti-rasis dari sekutu sangat penting karena upaya advokasi anti-rasis dari orang Papua sendiri rentan dikriminalisasikan. Hal ini disebabkan oleh adanya paranoia mengenai Papua, sehingga, meminjam ekspresi Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Asfinawati, “Aksi di Papua dan oleh orang Papua, apa pun isunya, akan dituduh makar.” Di sinilah privilese yang datang dari warna kulitmu dan cara berbahasamu bisa membawa perubahan.

5. Donasi

Ini adalah salah satu wujud paling nyata dalam menjadi sekutu, karena hasilnya jelas terukur, sekecil apapun nominal yang kamu keluarkan. Hangatnya diskusi #PapuanLivesMatter diiringi oleh tautan-tautan donasi untuk isu tersebut. Yang perlu kamu lakukan adalah mengecek validitas program donasi yang akan kamu tuju, seperti halnya ketika kamu ingin mendonasikan uang ke hal lain supaya kamu tidak terjebak dalam penipuan.

6. Jangan mendominasi ruang diskusi

Kamu harus selalu sadar bahwa kamu adalah sekutu. Sebanyak apapun buku yang telah kamu baca dan sedalam apapun pengetahuan kamu mengenai isu Papua, kamu tidak lebih ahli mengenai isu ini daripada orang Papua sendiri. Oleh karena itu, kamu harus selalu memberikan panggung utama untuk orang Papua. Selain itu kamu juga tidak boleh bersikap seakan mewakili orang Papua. Orang Papua bisa mewakili diri mereka sendiri, dan tugas kita sebagai sekutu adalah memastikan suara mereka didengar.

7. Menjadi sekutu tidak melulu di media sosial

Jangan terperangkap dalam pemikiran bahwa perjuangan melawan kekerasan dan rasisme terhadap orang Papua hanya bisa dilakukan melalui media sosial. Bagus sekali jika banyak orang yang kemudian sadar mengenai isu Papua akibat ramainya bahasan isu tersebut di media sosial. Namun, jika hanya itu saja yang kita lakukan, kita tidak akan ke mana-mana. Lalu, kamu juga tidak harus melaporkan semua kontribusi yang kamu berikan di media sosial. Jika semua yang kamu lakukan harus terunggah di media sosial, maka kamu harus mempertanyakan kembali niatmu: menjadi sekutu karena solidaritas, atau untuk keuntungan pribadi?

8. Mulai dari hal kecil

Segala kecaman dan ekspresi kemarahan yang kamu teriakkan mengenai ketidakadilan yang terjadi kepada orang Papua tidak akan berarti sama sekali jika kamu memilih untuk tidak melakukan apapun mengenai hal-hal kecil yang bisa kamu kerjakan. Mulailah dengan menyalurkan pengetahuan yang telah kamu dapatkan kepada orang-orang di sekitarmu. Bantu mereka untuk pelan-pelan meninggalkan prasangka mereka kepada orang Papua. Hadapi dan koreksi setiap tindakan rasis yang kamu saksikan dengan mata kepalamu sendiri dengan cara yang baik. Beri donasi semampu yang kamu bisa.  Dan masih banyak lagi. Selamat berusaha!

Sejarah Pride Month

Sejak tahun 1970, bulan Juni diperingati sebagai periode perayaan Pride Month. Kalau teman-teman belum tahu, perayaan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan perlawanan komunitas gay terhadap polisi yang terjadi di Stonewall Inn, New York.

Stonewall Inn adalah nama sebuah bar di Christopher Street yang menjadi tempat khusus bagi komunitas gay, lesbian, crossdresser untuk berkumpul atau sering disebut sebagai gay bar. Mengapa ada bar khusus gay? Pada masa itu, terdapat sebuah aturan yang tidak memperbolehkan laki-laki atau perempuan gay untuk berkumpul di tempat umum. Berangkat dari logika ini, mereka juga tidak boleh disajikan minuman beralkohol di tempat umum seperti bar. Untuk bisa berkumpul di tempat umum, muncullah bar-bar seperti Stonewall Inn ini.

Pada Jumat malam, tanggal 28 Juni 1969, polisi melakukan penggerebekan ke Stonewall Inn. Ini adalah kali kedua polisi mendatangi bar tersebut. Namun, pada hari itu komunitas gay memilih untuk melawan polisi dan menolak diperlakukan seperti kriminal. Perlawanan awalnya dimulai oleh beberapa orang dari kerumunan yang terbentuk di depan halaman bar. Teriakan seperti “Gay Power” dan “We shall overcome!” mulai terdengar dan menyulut ratusan orang lain untuk turut melawan. Insiden ini berujung pada kerusuhan yang kemudian berlanjut sampai selama tiga hari. Kerusuhan Stonewall Inn akhirnya dijadikan momentum sejarah untuk memperingati kemenangan gerakan LGBT di Amerika Serikat.

Preseden

Kalau kita melihat lebih luas lagi, kerusuhan yang terjadi pada 28 Juni 1969 malam di Stonewall Inn bukanlah perlawanan pertama yang muncul pada masa itu. Gerakan gay rights sudah mulai digalakkan beberapa tahun sebelumnya. Berbagai hal yang terjadi di tahun 1960-an mendorong semakin kuatnya pergerakan LGBT pada masa itu, seperti Black power movement, feminisme gelombang kedua, dan protes melawan Perang Vietnam. Generasi muda pada masa itu banyak mendorong perubahan sosial termasuk dalam hal kebebasan ekspresi seksual.

Penggerebekan oleh polisi adalah bentuk rutin opresi terhadap komunitas LGBT pada masa itu. Di balik opresi ini, terdapat budaya korupsi yang juga merajalela pada saat itu. Stonewall Inn dan beberapa gay bar lainnya biasanya dimiliki oleh mafia yang kemudian menjadi “pelindung” kaum LGBT dari polisi namun dengan satu syarat, mereka harus membayar biaya keamanan. Biasanya, mereka yang belum membayar keamanan akan menjadi target penggerebekan polisi selanjutnya.

Beberapa kali, komunitas LGBT berhasil melangsungkan protes terhadap penggerebekan bar oleh polisi.

Di Kota San Fransisco, para aktivis melakukan aksi protes terhadap polisi pada malam tahun baru Desember 1965. Setahun berikutnya, terjadi kerusuhan di Compton’s Cafetaria sebagai bentuk protes terhadap kolusi antara pihak restoran dengan kepolisian.

Di Kota Los Angeles, komunitas LGBT juga pernah melakukan protes kepada polisi pada tahun 1967. Sebanyak empat ratus orang berkumpul dan berdemonstrasi menolak penggerebekan yang dilakukan di bar Black Cat. Beberapa waktu kemudian, polisi membubarkan klub malam The Patch yang kemudian direspon dengan aksi berjalan ke alun-alun kota, dengan membawa bunga dan menyanyikan lagu pergerakan hak sipil “We shall overcome.”

Dikenang sebagai Kemenangan

Stonewall Inn memang bukan protes yang pertama kali dilakukan oleh komunitas LGBT. Beberapa kali, telah terjadi aksi-aksi lokal di berbagai kota. Bahkan, komunitas LGBT di Philadelphia telah melaksanakan protes tahunan sejak awal 1965. Protes ini dilakukan dengan picketing di depan Aula Kemerdekaan 4 Juli, untuk menentang perlakukan diskriminatif oleh negara.

Lalu apa yang berbeda dengan kerusuhan Stonewall Inn?

Sebagai sebuah insiden, Stonewall Inn juga memiliki karakteristik khusus yang membuat momentumnya berbeda dari protes-protes lain. Saat kerusuhan muncul, berita bahwa komunitas LGBT melakukan perlawanan kepada polisi dengan mudah tersebar ke banyak tempat karena lokasi bar yang dekat dengan beberapa telepon umum. Ditambah lagi, posisi Christopher Street yang menghubungkan banyak noda transportasi antarkota membuat orang-orang yang ingin melihat langsung kerusuhan bisa datang dengan cepat di pagi harinya. Kelebihan ini membuat Stonewall Inn mendapat banyak perhatian aktivis dan juga media.

Namun, satu alasan penting mengapa Stonewall Inn dilihat sebagai titik balik pergerakan LGBT adalah karena para aktivis memilih untuk bersama-sama mengenang momentum kerusuhan tiga hari tersebut sebagai wujud gerakan. Kota New York memiliki banyak sosok aktivis LGBT yang terhubung satu sama lain dalam jaringan gerakan dan telah melakukan banyak aksi protes. Kelebihan ini membuat mereka mampu secara serentak menyepakati peringatan Stonewall Inn. Pada bulan November 1969, para aktivis yang telah menggelar protes tahunan di Philadelphia sepakat untuk mengubah tanggalnya sesuai dengan waktu kerusuhan Stonewall Inn. Rencana peringatan ini kemudian disebarkan ke komunitas aktivis LGBT di kota-kota lain, seperti Chicago dan Los Angeles yang juga sudah mendengar kabar mengenai kerusuhan tersebut.

Akhirnya, parade gay pride pertama dilaksanakan di Los Angeles, New York, dan Chicago pada tahun 1970. Aksi serentak ini menyulut bukan hanya kota lain di Amerika Serikat tapi juga tiga puluh negara lain untuk turut melakukan perayaan “gay liberation.”

Parade Pride Month yang mendunia dan masih dirayakan hingga saat ini adalah hasil kemenangan dari aksi terkoordinasi oleh para aktivis 1960-an di Amerika Serikat. Kalau bisa disimpulkan, keberhasilan ini merupakan hasil perpaduan dari momentum perlawanan yang luas dan besar dengan kesiapan aktivis untuk mengorganisasikan diri.

Referensi:

Ann Basum, 2015, “Stonewall: Breaking Out in the Fight for Gay Rights,” Viking Books for Young Readers: New York.
Elizabeth A. Armstrong dan Suzanna M. Crage, “Movements and Memory: The Making of the Stonewall Myth,” American Sociological Review Vol. 71, No. 5 (Oct., 2006), pp. 724-751.
Greggor Mattson, “The Stonewall Riots Didn’t Start the Gay Rights Movement, ” JSTOR Daily, 12 Juni 2019, diakses dari https://daily.jstor.org/the-stonewall-riots-didnt-start-the-gay-rights-movement/.

Sejarah Pride Month

Sejak tahun 1970, bulan Juni diperingati sebagai periode perayaan Pride Month. Kalau teman-teman belum tahu, perayaan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan perlawanan komunitas gay terhadap polisi yang terjadi di Stonewall Inn, New York.

Stonewall Inn adalah nama sebuah bar di Christopher Street yang menjadi tempat khusus bagi komunitas gay, lesbian, crossdresser untuk berkumpul atau sering disebut sebagai gay bar. Mengapa ada bar khusus gay? Pada masa itu, terdapat sebuah aturan yang tidak memperbolehkan laki-laki atau perempuan gay untuk berkumpul di tempat umum. Berangkat dari logika ini, mereka juga tidak boleh disajikan minuman beralkohol di tempat umum seperti bar. Untuk bisa berkumpul di tempat umum, muncullah bar-bar seperti Stonewall Inn ini.

Pada Jumat malam, tanggal 28 Juni 1969, polisi melakukan penggerebekan ke Stonewall Inn. Ini adalah kali kedua polisi mendatangi bar tersebut. Namun, pada hari itu komunitas gay memilih untuk melawan polisi dan menolak diperlakukan seperti kriminal. Perlawanan awalnya dimulai oleh beberapa orang dari kerumunan yang terbentuk di depan halaman bar. Teriakan seperti “Gay Power” dan “We shall overcome!” mulai terdengar dan menyulut ratusan orang lain untuk turut melawan. Insiden ini berujung pada kerusuhan yang kemudian berlanjut sampai selama tiga hari. Kerusuhan Stonewall Inn akhirnya dijadikan momentum sejarah untuk memperingati kemenangan gerakan LGBT di Amerika Serikat.

Preseden

Kalau kita melihat lebih luas lagi, kerusuhan yang terjadi pada 28 Juni 1969 malam di Stonewall Inn bukanlah perlawanan pertama yang muncul pada masa itu. Gerakan gay rights sudah mulai digalakkan beberapa tahun sebelumnya. Berbagai hal yang terjadi di tahun 1960-an mendorong semakin kuatnya pergerakan LGBT pada masa itu, seperti Black power movement, feminisme gelombang kedua, dan protes melawan Perang Vietnam. Generasi muda pada masa itu banyak mendorong perubahan sosial termasuk dalam hal kebebasan ekspresi seksual.

Penggerebekan oleh polisi adalah bentuk rutin opresi terhadap komunitas LGBT pada masa itu. Di balik opresi ini, terdapat budaya korupsi yang juga merajalela pada saat itu. Stonewall Inn dan beberapa gay bar lainnya biasanya dimiliki oleh mafia yang kemudian menjadi “pelindung” kaum LGBT dari polisi namun dengan satu syarat, mereka harus membayar biaya keamanan. Biasanya, mereka yang belum membayar keamanan akan menjadi target penggerebekan polisi selanjutnya.

Beberapa kali, komunitas LGBT berhasil melangsungkan protes terhadap penggerebekan bar oleh polisi.

Di Kota San Fransisco, para aktivis melakukan aksi protes terhadap polisi pada malam tahun baru Desember 1965. Setahun berikutnya, terjadi kerusuhan di Compton’s Cafetaria sebagai bentuk protes terhadap kolusi antara pihak restoran dengan kepolisian.

Di Kota Los Angeles, komunitas LGBT juga pernah melakukan protes kepada polisi pada tahun 1967. Sebanyak empat ratus orang berkumpul dan berdemonstrasi menolak penggerebekan yang dilakukan di bar Black Cat. Beberapa waktu kemudian, polisi membubarkan klub malam The Patch yang kemudian direspon dengan aksi berjalan ke alun-alun kota, dengan membawa bunga dan menyanyikan lagu pergerakan hak sipil “We shall overcome.”

Dikenang sebagai Kemenangan

Stonewall Inn memang bukan protes yang pertama kali dilakukan oleh komunitas LGBT. Beberapa kali, telah terjadi aksi-aksi lokal di berbagai kota. Bahkan, komunitas LGBT di Philadelphia telah melaksanakan protes tahunan sejak awal 1965. Protes ini dilakukan dengan picketing di depan Aula Kemerdekaan 4 Juli, untuk menentang perlakukan diskriminatif oleh negara.

Lalu apa yang berbeda dengan kerusuhan Stonewall Inn?

Sebagai sebuah insiden, Stonewall Inn juga memiliki karakteristik khusus yang membuat momentumnya berbeda dari protes-protes lain. Saat kerusuhan muncul, berita bahwa komunitas LGBT melakukan perlawanan kepada polisi dengan mudah tersebar ke banyak tempat karena lokasi bar yang dekat dengan beberapa telepon umum. Ditambah lagi, posisi Christopher Street yang menghubungkan banyak noda transportasi antarkota membuat orang-orang yang ingin melihat langsung kerusuhan bisa datang dengan cepat di pagi harinya. Kelebihan ini membuat Stonewall Inn mendapat banyak perhatian aktivis dan juga media.

Namun, satu alasan penting mengapa Stonewall Inn dilihat sebagai titik balik pergerakan LGBT adalah karena para aktivis memilih untuk bersama-sama mengenang momentum kerusuhan tiga hari tersebut sebagai wujud gerakan. Kota New York memiliki banyak sosok aktivis LGBT yang terhubung satu sama lain dalam jaringan gerakan dan telah melakukan banyak aksi protes. Kelebihan ini membuat mereka mampu secara serentak menyepakati peringatan Stonewall Inn. Pada bulan November 1969, para aktivis yang telah menggelar protes tahunan di Philadelphia sepakat untuk mengubah tanggalnya sesuai dengan waktu kerusuhan Stonewall Inn. Rencana peringatan ini kemudian disebarkan ke komunitas aktivis LGBT di kota-kota lain, seperti Chicago dan Los Angeles yang juga sudah mendengar kabar mengenai kerusuhan tersebut.

Akhirnya, parade gay pride pertama dilaksanakan di Los Angeles, New York, dan Chicago pada tahun 1970. Aksi serentak ini menyulut bukan hanya kota lain di Amerika Serikat tapi juga tiga puluh negara lain untuk turut melakukan perayaan “gay liberation.”

Parade Pride Month yang mendunia dan masih dirayakan hingga saat ini adalah hasil kemenangan dari aksi terkoordinasi oleh para aktivis 1960-an di Amerika Serikat. Kalau bisa disimpulkan, keberhasilan ini merupakan hasil perpaduan dari momentum perlawanan yang luas dan besar dengan kesiapan aktivis untuk mengorganisasikan diri.

Referensi:

Ann Basum, 2015, “Stonewall: Breaking Out in the Fight for Gay Rights,” Viking Books for Young Readers: New York.
Elizabeth A. Armstrong dan Suzanna M. Crage, “Movements and Memory: The Making of the Stonewall Myth,” American Sociological Review Vol. 71, No. 5 (Oct., 2006), pp. 724-751.
Greggor Mattson, “The Stonewall Riots Didn’t Start the Gay Rights Movement, ” JSTOR Daily, 12 Juni 2019, diakses dari https://daily.jstor.org/the-stonewall-riots-didnt-start-the-gay-rights-movement/.

Rasisme di Indonesia: Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Pada tanggal 25 Mei kemarin, George Floyd kehilangan nyawanya setelah seorang polisi menindih lehernya dengan lutut selama kurang lebih sembilan menit. Rekaman momen kematiannya tersebar ke seluruh dunia dan menyulut protes besar-besaran, tidak hanya di Amerika Serikat tapi juga di berbagai negara. Ratusan ribu orang bergabung dengan gerakan #BlackLivesMatter, mengutuk kekerasan sistematis yang dilakukan dan dilanggengkan melalui aparat kepolisian.

Momentum #BlackLivesMatter juga turut bergaung di Indonesia. Persoalan rasisme dan kekerasan oleh aparat terhadap masyarakat Papua adalah salah satu masalah paling nyata yang bisa kita lihat di negara ini. Upaya menaikkan kesadaran mengenai masalah ini pun kemudian mulai dinaikkan melalui tagar #PapuanLivesMatter.

Berbagai tulisan dan diskusi mulai digalakkan di Indonesia. Salah satunya adalah diskusi oleh #BlackLivesMatter dan Papua, yang diselenggarakan oleh Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-West Papua), dengan pembicara Cisco, Mikael Kudiai, dan Veronica Koman (tonton diskusinya lewat sini). Cisco menceritakan pengalamannya menghadapi rasisme sebagai salah satu mahasiswa Papua yang belajar di Jawa. Ia menceritakan insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta pada 2016, yang dipenuhi dengan tindak kekerasan oleh aparat dan juga ormas. “Obby Kogoya,… dia diperlakukan kurang lebih sama seperti Floyd… dikejar sama aparat, lalu ditarik, diseret, ditendang jatuh, kepalanya diinjak, dan pas mau diangkat hidungnya ditarik… lalu dia dikriminalisasi,” jelas Cisco mengenai tindakan aparat terhadap mahasiswa Papua. Ia menjelaskan bahwa ini bukanlah hal baru. Kriminalisasi terhadap mahasiswa Papua memang sangat sering terjadi, tapi saat mereka yang menjadi korban kekerasan dan mengadukan kepada pihak yang berwenang justru sulit mendapat keadilan.

Di akhir sesi pemaparan, pengacara Veronica Koman memberikan rekomendasi mengenai hal-hal konkret yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat Indonesia untuk memahami isu rasisme di Indonesia dan bersikap dengan baik. Kami merangkum beberapa rekomendasi tersebut dan menambahkan beberapa sumber lain yang bisa membantu menambah pemahaman.

Pertama, kita harus mendengarkan.

Dengarkan orang Papua saat bercerita pengalaman mereka menghadapi rasisme. Ingat, cerita pengalaman orang Papua tentang diskriminasi rasial bukan untuk didebatkan kebenarannya. Yang menghadapi dan merasakan buruknya perlakuan rasisme setiap hari di Indonesia adalah orang Papua, bukan orang Indonesia.

Kedua, tanyakan informasi tentang Papua kepada orang Papua.

Pastikan pengetahuanmu mengenai isu Papua datang dari informasi yang benar, bukan berdasarkan asumsi-asumsi yang pastinya lekat dengan sikap rasis.

Ketiga, edukasi diri.

Seperti yang dijelaskan dalam artikel Tirto.id, rasisme adalah masalah Indonesia, bukan orang Papua. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk mengedukasi diri mengenai rasisme pun ada di kita. Orang Papua tidak punya kewajiban untuk mengedukasi kita tentang trauma dan kepedihan yang mereka alami. Ada banyak kanal yang bisa membantu kita mengedukasi diri.

Dengan mengedukasi diri, kita bisa jadi lebih paham mengapa perlu mendukung penjaminan HAM bagi orang Papua.

Keempat, suarakan.

Setelah mendapat informasi dan cerita dari orang Papua, kita bisa mulai bersuara. Sebagai orang Indonesia, kita perlu menyuarakan dan menuntut pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah kita sendiri. Tidak cukup dengan menjadi ‘tidak rasis,’ kita juga perlu bersuara. Tekan pemerintah kita untuk berhenti melakukan pelanggaran HAM di Papua kalau memang mengaku diri sebagai negara demokratis.

Keempat poin di atas adalah contoh beberapa hal mudah yang bisa kita semua lakukan. Permasalahan rasisme terhadap orang Papua begitu kompleks dan berkelindan dengan banyak masalah lain seperti korupsi dan eksploitasi alam. Selain itu, ia sudah terjadi sejak pertama kali Papua dimasukkan ke dalam kekuasaan Indonesia. Belajar dan mulai menyuarakan kebenaran isu rasisme negara Indonesia adalah kewajiban kita sebagai warga negaranya.