Catatan Tentang Lapak Pamflet di AJW 2026 dan Duka Cita Mendalam Tentang Bali Kini

Sore itu, saya mengunjungi sebuah acara yang tak pernah saya sambangi sekali pun, kendati banyak kawan sering menyebut-nyebutnya: Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) oleh BaleBengong.

Ada banyak alasan mengapa saya, orang yang begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis ini, tidak pernah menyambangi AJW. Ah, alasan-alasan itu terlalu sentimental bila saya uraikan di sini, dan sekiranya tulisan ini tidak ditujukan untuk menjadi demikian.

Kalau bukan karena pertemuan dengan Ai, seorang kawan dari Pamflet Generasi, dua hari sebelum AJW, saya barangkali tidak akan pernah berani untuk datang ke sana. Pengetahuan bahwa akan ada seorang kawan baik di tempat yang saya tuju selalu memberikan rasa aman yang saya butuhkan untuk datang ke tempat asing dengan segambreng orang asing.

Suasana lapak komunitas dalam AJW 2026.

Ai membantu saya menavigasi dan mendeskripsikan ruang AJW hari itu, membuat saya menyesal mengapa selalu melewatkan acara-acara semacam ini sejak dulu. AJW, ternyata, semenyenangkan itu. Ai memberikan saya gambaran yang baik tentang berbagai produk jurnalisme warga yang dipamerkan hari itu.

Hingga, saya tiba di lapak Pamflet yang berisikan hasil kerja dari Jalan Jalin Ingatan, kolaborasi orang muda membangun politik keperawatan dalam jaringan laba-laba sosial. Ai bercerita dengan atentif, membantu saya berinteraksi dengan peta, papan interaktif, dan instalasi audio yang mereka pamerkan.

Dengan telaten, Ai mengarahkan jari-jari saya pada peta kebencanaan, menyusuri jalur-jalur evakuasi. Ai menunjukkan dan mendeskripsikan foto-foto yang menggambarkan sampah-sampah di pepohonan tinggi—kontras dengan bangunan Pura yang luhur, ajeg. Keluhuran yang habis disirami comberan akibat dari kemarahan alam, dan air—yang dengan amarahnya—terus mencari celah untuk keluar.

Dari cerita-cerita Ai, saya seakan dibawa ke dalam kilas balik. Cerita-cerita tersebut mereka ulang imajinasi saya tentang banjir bandang tahun lalu (2025), serta upaya pemulihan yang dilakukan oleh segenap koalisi masyarakat sipil Bali.

Ingatan saya berkelana ke waktu ketika berita-berita banjir bandang itu muncul di linimasa sosial media saya. Kala itu, saya sedang berada jauh, 420 km dari Bali, di tengah euforia sebagai mahasiswa baru di Kota Pelajar, Malang. Saya ingat, hari itu saya dihubungi oleh ayah dan beberapa kawan yang menanyakan apakah kabar saya baik-baik saja di perantauan sebab Bali sedang banjir besar. Ayah berpesan agar saya tidak keluar ketika hujan deras di luar.

Sekarang saya meringis sekaligus tertohok ketika mengingat pesan itu, sebab seharusnya saya lah yang menanyakan kabar keluarga dan teman-teman di Bali, bukannya sebaliknya.  Yang saya ingat dari derasnya informasi dan pemberitaan media hari itu hanya lah 18 korban jiwa dan kerugian yang hampir mencapai Rp100.000.000.000.

Angka-angka dan berita-berita terasa terpisah dari realitas saya waktu itu, di mana kesibukan sebagai mahasiswa baru menyita segenap atensi dan pikiran, sementara benak saya mencoba mengalkulasi ingatan tentang seberapa banyak bencana banjir yang pernah terjadi di Bali. Pernah kah sebesar dan separah ini?

Peta banjir Bali 2025 dalam AJW 2026.

Hingga akhirnya, saya sampai di hadapan hasil kerja kawan-kawan Pamflet bersama beberapa organisasi lain untuk benar-benar memahami sebesar apa dampak dari banjir tahun lalu. Apakah Bali telah belajar dan berkaca dari keruhnya Tukad Badung yang melemparkan segenap arusnya ke jalanan-jalanan? Genangan pada rute yang, dulu sekali, sering saya lalui bersama kawan untuk berburu penganan.

Ah, lokasi terparah banjir yang ditunjukkan oleh Ai begitu dekat dengan kos lama saya, sebelum kepindahan saya ke Kota Pelajar. Benar-benar sedekat itu. Meskipun teman-teman saya di kos lama itu tidak terkena banjir, namun sebersit rasa kecut tetap melintas dalam perasaan saya kala mengingat saya dan seorang kawan pernah berkendara di kawasan-kawasan itu.

Mengingat dan mendengarkan semua kisah banjir Bali tersebut membuat saya berkecil hati. Rasanya seperti mendengar berita duka dari jauh, lalu pulang hanya untuk berziarah ke makam kerabat dan mendengar cerita-cerita tentang betapa pahit dan getirnya kematian mereka.

Seluruhnya, pandangan dan visi masa depan saya tentang Bali mengabur lalu raib. Saya kehilangan gambaran tentang seperti apa kelak saya akan menavigasi hidup di dalam kota yang penuh kecemasan dan antisipasi ini. Bali dan Denpasar yang menjadi pusat hidup saya selama bertahun-tahun itu, terdampak banjir besar tahun lalu. Bagaimana dengan tahun ini? Bagaimana dengan tahun depan, dan tahun-tahun mendatang? Bagaimana jika saya harus mengalami bencana ini lagi?

Sebagai seorang perempuan penyandang disabilitas netra, saya bisa dengan mudah  mengimajinasikan betapa sukarnya bila saya harus menghadapi kebencanaan macam ini. Ini semudah membayangkan bahwa saya bisa menjadi korban bencana bila banjir ini terjadi lagi.

Saya mulai bertanya-tanya, apakah saya berlebihan dan paranoid? Tidak juga. Seorang kawan saya yang terdampak banjir tahun lalu, yang kehilangan buku-bukunya dan kerugian material akibat rumahnya terendam banjir, menyarankan agar saya jangan cepat-cepat pulang setelah kuliah.

“Pergi lah yang jauh, ke kota lain, bekerja, studi magister. Apa pun itu. Yang penting di luar Bali,” ujar kawan saya berapi-api.

Bali, ah, Bali. Baru dua semester saya berkuliah di seberang sana, mengapa sudah begitu banyak yang terjadi? Masih kah saya bisa menyebutmu sebagai rumah dan tempat pulang, bila hanya dengan sedikit imajinasi, saya dapat menggambarkan dengan jelas bagaimana hidup saya bisa saja berakhir di sini?

Ah, Bali, saya berduka begitu dalam mendengar cerita dari kawan-kawan yang terdampak banjir kemarin. Tidak kah kamu ingin pulih dan merawat anak-anakmu di dalamnya? Mengingat bagaimana keadaanmu sekarang, saya menjadi semakin enggan untuk kembali pulang. Tapi, keluarga dan kawan-kawan terbaik saya akan selalu memanggil saya kembali, segetir apapun perasaan saya padamu.

Melalui Bandang, Dialog Dini Hari sudah menyanyikan lagu paling jujur tentang Bali kini. Bali, saya masih akan terus berduka dengan semua yang terjadi padamu. Saya berduka terhadap korban, berduka terhadapmu yang sudah kepayahan menanggung keserakahan manusia.

Kelak, bila saya tahu apa yang bisa saya lakukan untukmu, saya akan pulang. Namun, jika tidak, saya akan mengembara ke tempat yang jauh, mencari keselamatan sendiri. Lebih baik begitu, bukan? Pergi jauh dan mencari keselamatan sendiri, daripada tetap di sini dan tetap harus mencari-mencari keselamatan sendiri.

Gianyar, 24 Juli 2026