Menenun Jaring di Sudut yang Tak Terawat: SIMPUL Rilis Riset Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda

Jakarta, 22 April 2026 – Pamflet Generasi bersama Kolektif Arungkala dan Dimusim mendiseminasikan hasil riset bertajuk Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid di Jakarta dan melalui Zoom Meeting, mempertemukan Jaring Kawan, partisipan riset, serta para peneliti dalam satu ruang reflektif  untuk membuka, mempertanyakan, dan merajut kembali hasil temuan sebagai bagian dari proses belajar kolektif.

Riset ini berlangsung sejak Agustus 2025 hingga awal 2026, melibatkan 24 orang muda dari 17 komunitas di Yogyakarta, Bali, Palangkaraya, dan Riau. Menggunakan pendekatanYouth-Led Participatory Action Research (PAR), riset ini menempatkan orang muda sebagai subjek penuh dalam proses penelitian, mulai dari perumusan pertanyaan, pengumpulan data melalui zine making, photovoice, transect walk, dan live-in, hingga pemaknaan temuan secara kolektif. 

Gerakan yang Tumbuh di Sudut yang Tak Terawat

Bayangkan seekor laba-laba yang menenun jaringnya di sudut ruangan yang jarang dibersihkan, di tempat yang terabaikan, yang luput dari perhatian. Itulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana gerakan iklim orang muda bekerja hari ini: hadir di celah-celah yang ditinggalkan negara, bergerak dengan sumber daya terbatas, dan seringkali berjalan sendiri-sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang muda peduli terhadap krisis iklim. Mereka sudah bergerak, tetapi bagaimana gerakan ini bisa bertahan dan tumbuh lebih kuat?

Dalam proses riset yang panjang, terpetakan 116 praktik keperawatan yang selama ini hidup diam-diam dalam keseharian gerakan iklim orang muda. Praktik ini terbagi dalam lima bentuk: merawat diri, merawat pengetahuan, merawat komunitas, merawat lingkungan, dan merawat sumber daya. Praktik yang paling dominan adalah merawat pengetahuan, yakni melalui produksi konten, pengarsipan, pelatihan, hingga diseminasi yang berfungsi sebagai alat edukasi dan strategi perlawanan terhadap narasi dominan. Sebaliknya, praktik merawat sumber daya menjadi yang paling minim akibat keterbatasan pendanaan dan akses, sehingga banyak komunitas akhirnya mengandalkan praktik urun daya dan saling menopang secara kolektif untuk menjaga keberlangsungan gerakan.

Jaring yang Tak Pernah Sama

Riset ini juga menemukan bahwa cara merawat dipengaruhi oleh lapisan identitas.  Komunitas Queer dan disabilitas cenderung menekankan produksi pengetahuan sebagai bentuk resistensi di tengah dunia yang cis-heteronormatif dan ableis. Sementara komunitas masyarakat adat menunjukkan praktik keperawatan yang lebih holistik: merawat lingkungan, budaya, pengetahuan, komunitas, dan sumber daya dalam satu napas yang tak terpisahkan. Selain itu, kedekatan dengan “titik destruksi” seperti kebakaran hutan, perampasan lahan, dan kerusakan ekosistem juga membentuk cara merawat. Semakin dekat dengan dampak krisis, semakin konkret dan mendesak bentuk keperawatannya.

Saatnya Beralih Rupa: Dari Laba-Laba Soliter Menjadi Laba-Laba Sosial

Dalam dunia laba-laba, sebagian kecil spesies berevolusi dari soliter menjadi sosial. Mereka menenun jaring secara kolektif, berbagi tangkapan, hingga merawat keturunan secara komunal. Perubahan ini bukan lahir dari kondisi yang ideal, melainkan dari tekanan lingkungan yang semakin keras menuntut strategi baru untuk bertahan. 

Gerakan iklim orang muda berada di titik serupa: ditekan dari luar oleh kebijakan represif dan sumber daya yang timpang, sekaligus ditekan dari dalam seperti burnout, kapasitas yang terbatas, dan kerja-kerja yang belum cukup terhubung satu sama lain. Dalam situasi ini, bertahan sebagai “laba-laba soliter” berarti terus menghadapi keterbatasan yang sama: jaring mudah putus, energi cepat habis, dan dampak sulit berkembang. Riset ini menjadi ajakan untuk beralih rupa: dari laba-laba soliter yang bergerak sendiri, menjadi laba-laba sosial yang menenun jaring bersama. 

Salah satu wujud nyata dari ajakan tersebut adalah Arisan Laba-Laba Sosial yang berlangsung di Yogyakarta dan Bali pada Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian riset aksi. Meminjam bentuk arisan namun menggeser maknanya, lapak ini bukan untuk barter uang, melainkan untuk membarter pengetahuan, pengalaman, dan praktik keperawatan yang selama ini tak terlihat. Sebuah eksperimen kolektif yang merayakan kerja-kerja intangible dalam gerakan. 

Menenun Jaring Lintas Generasi

Dalam sesi diseminasi, muncul pertanyaan perihal jaring lintas generasi: bagaimana “laba-laba muda” dan “laba-laba dewasa” bisa menenun jaring bersama? Jawaban yang muncul menekankan bahwa ruang pertemuan lintas generasi tidak terjadi secara alami, ia perlu diupayakan secara sadar, dengan desain yang memungkinkan percakapan setara, di mana pengalaman tidak menjadi otoritas tunggal dan pengetahuan baru tidak dianggap kurang valid. Pengalaman tim peneliti pun menunjukkan bahwa keterlibatan dengan mentor lintas generasi justru membuka perspektif baru dalam menentukan metodologi riset. Ketika dibangun dengan kesadaran dan kesetaraan, relasi ini menjadi sumber belajar, bukan hambatan.

Menenun Ulang yang Terus Koyak

Pada akhirnya, riset ini memperlihatkan bahwa kerja-kerja keperawatan tidak pernah benar-benar rapi atau linear. Ia hidup, berubah, penuh negosiasi, dan sering kali melelahkan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: pada kemampuannya untuk terus beradaptasi, bertahan, dan diperbarui.  Menjadi laba-laba sosial berarti menerima bahwa jaring akan terus koyak oleh waktu, konflik, dan keterbatasan. Tetapi selama kita masih saling terhubung, jaring itu selalu bisa ditenun kembali.

“Perawatan itu sekali saja nggak cukup. Pasti ada hal yang terjadi, dan semuanya harus dilakukan sebagai sebuah siklus yang mungkin nggak ada hentinya.”
– Nabila Auliani Ruray, Pamflet Generasi

Seperti laba-laba yang terus menenun ulang jaringnya, praktik keperawatan dalam gerakan juga bersifat siklik. Ia tidak selesai dalam satu kali perbaikan. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan kesediaan untuk kembali menenun lagi, lagi, dan lagi.

Riset ini tentu bukanlah sebuah panduan mutlak, melainkan dokumentasi atas keragaman taktik perlawanan dan siasat merawat yang secara organik dihidupi oleh Jaring Kawan di akar rumput. 

Unduh dan baca laporan utuh riset “Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda” melalui tautan berikut: https://pmflt.watify.id/produk/riset-laba-laba-sosial/#