Melamun bersama Pamflet Generasi: Orang Muda dan Masa Depan Kopi di Tengah Krisis Iklim
Ditulis oleh: Anggita Raissa
Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang muda di Indonesia. Terlebih, menjamurnya gerai kopi nan estetik telah mewadahi tren minum kopi orang muda—menjadikan aktivitas “ngopi” sebagai sebuah gaya hidup.
Seturut data dari Jakpat, persentase Gen Z di Indonesia yang meminum kopi setiap harinya berjumlah 66%. Sebanyak 37% orang meminum kopi untuk meningkatkan fokus saat bekerja dan sebanyak 45% peminum kopi menjadikan ngopi sebagai sarana untuk bersosialisasi.
Namun, kopi, minuman yang begitu dicintai itu, kini menghadapi ancaman serius dari krisis iklim. Perubahan iklim memengaruhi produksi kopi secara signifikan, terutama di negara-negara produsen seperti Indonesia.
Merespons tantangan tersebut,, Pamflet Generasi mengadakan kegiatan “Melamun” dengan tema “Masa Depan dalam Cangkir Kopi” pada Minggu, 11 Agustus 2024. Melamun sendiri merupakan serangkaian ruang diskusi yang meletakkan peserta sebagai aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan, sembari mengajak untuk membayangkan ulang realita sosial di sekitar.
Acara ini menjadi bagian dalam rangkaian perayaan Hari Orang Muda Sedunia yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus. Tujuan dari kegiatan ini untuk memahami bagaimana krisis iklim dapat mengancam masa depan kopi di Indonesia dan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Dalam kegiatan Melamun, peserta yang hadir cukup beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, pegiat lingkungan, pegiat HAM, teman netra, dan teman Tuli.
Kegiatan melamun diawali dengan coffee cupping yang dijelaskan langsung oleh Zul (24), kurator kopi dari Libertad Union Coffee Roaster. Coffee cupping adalah metode yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi kualitas kopi. Metode ini digunakan untuk menganalisis berbagai aspek rasa dan aroma kopi.
“Kopi itu tidak konsisten secara kualitas dari tahun ke tahun dan setiap panen ke panen termasuk seduhannya. Nah, seduhan ini jadi jalan akhir untuk kita mengkurasi kopi. Metode ini digunakan dari hulu ke hilir, artinya dari petani sampai ke barista dengan tujuan mengevaluasi rasa kopi,” ujar Zul saat memaparkan materi coffee cupping kepada peserta melamun.

Gambar 1: Para peserta kegiatan terlihat antusias saat menyimak presentasi dari Zul mengenai materi coffee cupping.
Kata Zul, kondisi iklim juga berpengaruh terhadap kualitas kopi. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, dan curah hujan memainkan peran penting dalam menentukan kualitas biji kopi. Masih kata Zul, ketika iklim tidak stabil, tanaman kopi dapat mengalami stres, yang menyebabkan perubahan dalam rasa dan aroma biji kopi. Sebuah studi menunjukkan jumlah lahan yang cocok untuk budidaya kopi berpotensi berkurang sebesar 50% pada 2050 nanti akibat dari krisis iklim.
“Tanaman Kopi membutuhkan Ph tanah yang baik, curah hujan, ketinggian, suhu dan lainnya di lingkungan sekitar untuk tumbuh. jika hal tersebut tidak memenuhi standar, maka akan berpengaruh terhadap kualitas atau kuantitas panen,” ujarnya.
Setelah proses cupping selesai, Zul menerangkan kopi dapat dievaluasi menggunakan score sheet atau lembar penilaian. Score sheet dapat membantu menilai kualitas kopi berdasarkan aroma, rasa, tingkat keasaman (acidity), sampai rasa sisa setelah mencicipi kopi (aftertaste).

Gambar 2: Zul tengah mempresentasikan materi score sheet yang digunakan dalam proses coffee cupping untuk mencatat dan menilai berbagai aspek dari kopi.

Gambar 3: Peserta sedang melakukan cupping. Mereka mencicipi tiga origin kopi yang berbeda-beda.
“Karena metode ini terlalu rumit untuk kita lakukan. Jadi, hari ini kita akan menilai rasa kopi dari lidah kita sendiri,” imbuh Zul.
Setelah melakukan cupping, peserta diajak untuk melamun lewat pertanyaan-pertanyaan reflektif yang kemudian didiskusikan bersama-sama, mulai dari pertanyaan, jika kopi hilang apa yang berubah dalam hidupmu? Kemudian ada juga pertanyaan terkait lingkungan seperti apa yang membuat pengalaman minum kopi menjadi lebih ideal?Diskusi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan pribadi peserta dengan kopi dan dampaknya terhadap keseharian mereka.
“Apa yang akan berubah dalam hidupmu jika kopi hilang?”
Nisa (21), salah seorang teman Tuli punya pendapat soal pertanyaan tersebut, baginya kopi dapat memengaruhi tingkat energi seseorang. Kopi jadi cara jitu Nisa untuk menghilangkan rasa kantuk saat belajar. Tanpa kopi, ia merasa sulit untuk mempertahankan konsentrasi dan produktivitasnya.
“Kopi membantu saya tetap terjaga dan fokus saat menghadapi banyak tugas kuliah dan ujian,” jelas Nisa.
Senada dengan Nisa, Ninies (29) juga mengungkapkan kekhawatirannya ketika kopi hilang akan memengaruhi caranya merencanakan dan menjalani hari-harinya. Ninies juga memikirkan kemungkinan harus menyesuaikan aktivitasnya dan menemukan cara baru untuk mengatasi stres.
“Saya khawatir saya akan kehilangan cara efektif untuk mengatasi kelelahan dan mungkin harus mencari metode lain yang tidak seefektif kopi,” katanya.
Keduanya, Nisa dan Ninies, menyadari betapa kopi memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, tidak hanya sebagai penyulut energi, tetapi juga sebagai bagian dari rutinitas yang memberikan kenyamanan yang membentuk aktivitas mereka sehari-hari. Diskusi ini menggambarkan betapa kedekatan dengan kopi bisa menjadi hal yang sangat pribadi dan memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari.
Kegiatan melamun ini juga menantang peserta untuk membayangkan lingkungan ideal yang dapat mendukung pengalaman minum kopi di masa depan. Tentu, dengan tantangan perubahan iklim yang mengancam keberadaan kopi.
“Dalam lamunanmu, lingkungan seperti apa yang menurutmu dapat membuat pengalaman minum kopi lebih ideal?”
Krisis Iklim Bikin Akses Ngopi Makin Terbatas
Kopi yang kita nikmati tentu tidak muncul begitu saja di meja kita. Ada rantai panjang mulai dari penanaman hingga pemrosesan yang melibatkan banyak pihak. Tanaman kopi membutuhkan kondisi iklim yang stabil untuk tumbuh dengan baik. Namun, perubahan iklim yang makin ekstrem mengancam kestabilan tanaman kopi.
Krisis iklim, seperti kenaikan suhu global dan perubahan pola hujan, dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen kopi. Ini bukan hanya tentang perubahan rasa atau aroma, tetapi juga tentang dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Tanaman kopi yang terancam oleh perubahan iklim bisa menjadi lebih sulit ditemukan, dan akibatnya, kopi bisa menjadi barang yang mahal atau bahkan berujung langka.

Gambar 4: Para peserta melamun sedang berdiskusi mengenai dampak yang ditimbulkan dari krisis iklim terhadap tanaman kopi yang juga berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
Eca (39), salah satu peserta dalam diskusi melamun berpendapat bahwa krisis iklim telah memengaruhi harga kopi secara signifikan. Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem dan suhu yang tidak menentu akibat hilangnya tutupan hutan, berpengaruh terhadap kelangsungan tanaman kopi.
“Hari gini, tuh, harga kopi di kota-kota besar makin mahal. Selain itu, tutupan hutan sudah berkurang, jadi mungkin ini juga yang membuat harga kopi mahal karena krisis iklim,” kata Eca.
Berbeda dengan Eca, Gemma (26) memandang kopi mahal sebagai akibat dari proses industrialisasi kopi yang membuat beberapa orang sulit untuk mengakses kopi dengan setara.
“Komunitas kopi setiap daerah itu berbeda-beda. Dari kopi sebenarnya kita bisa melihat bagaimana kemiskinan yang timpang juga memengaruhi kita untuk mengakses kopi. Kalo di daerah, segelas kopi itu masih dikisaran harga Rp10 ribu-Rp15 ribu. Tapi kalau di Jakarta secangkir kopi bisa dibandrol harga mulai dari Rp40 ribu,” kata Gemma.
Menjaga Secangkir Kopi Tetap Ada
Ebi (21) peserta dalam kegiatan melamun mengungkapkan pentingnya kesadaran terhadap dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.
“Kopi yang kita minum itu nggak tiba-tiba ada di meja kita. Ada proses panjang di sana, ada faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. kalau krisis iklim terus-terusan terjadi, dampak terhadap kualitas jenis-jenis kopi tersebut bisa kita rasain langsung, kopi bisa aja jadi barang langka. Terus nanti akan berdampak ke roda-roda perekonomian, petani kopi yang paling dirugikan di sana. Kopi nanti jadi mahal banget, kalau kopi mahal nggak semua orang bisa ngerasain nikmatnya kopi lagi. Makannya, aku percaya isu krisis iklim ini, isu yang penting buat dibahas sama siapapun,” kata Ebi.
Ebi juga berpendapat bahwa kenikmatan sederhana seperti secangkir kopi bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, karena perubahan iklim dapat mengancam keberadaan tanaman kopi dan aksesibilitas bagi siapa saja yang mengambil manfaat dari kopi. Ia juga berharap akan ada banyak orang yang semakin peduli dengan isu ini agar eksistensi kopi terus ada.
“Di dunia yang enggak ideal ini, di mana suhu bumi makin panas, polusi udara terus terjadi, semoga kita bisa terus ngerasain kenikmatan-kenikmatan kecil yang diberi langsung sama alam,” ungkap Ebi.
Dengan meningkatkan kesadaran dan bertindak secara kolektif, kita dapat melindungi kenikmatan-kenikmatan kecil yang kita nikmati dari alam, dan memastikan bahwa generasi mendatang juga dapat merasakannya.
Jadi, ayo ambil peranmu untuk kebaikan bumi, sekarang!
Orang Muda Multitasking
Diolah dari ilustrasi Sketchify/Canva
Artikel oleh: Elliah Ayu
Orang muda multitasking. Begitulah aku menyebut diriku. Di usiaku yang masih belasan, aku memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Melihat kerutan di wajah perempuan yang setiap hari tangannya kucium membuatku mengambil keputusan ini.
Multitasking memiliki makna tersendiri di kehidupanku yang tumbuh besar dengan seorang ibu yang berperan sekaligus sebagai ayah. Ini bukanlah hal yang mudah. Terkadang aku berpikir bahwa aku terpaksa melakukan semuanya dalam satu waktu dengan cepat untuk bertahan hidup. Memiliki “sejuta keinginan” kemudian menjadi kedokku untuk berperan sebagai orang muda multitasking. Aku adalah orang muda dengan sejuta keinginan dan aku telah membayangkan sedari dulu bahwa pasti akan ada banyak pengorbanan untuk keinginan-keinginan ini.
Tapi, tanpa disadari, berperan menjadi orang muda multitasking memiliki resiko. Salah satunya adalah beban stres yang lebih dari orang sepantaranku pada umumnya. Misalnya, dalam pengalamanku menjalani dua kegiatan berbeda bertahun-tahun, menjaga mood merupakan tuntutan yang besar dan berat. Ketika bekerja dari pagi sampai sore, aku mengalami banyak hal yang seringkali tidak sesuai ekspektasi dan berpengaruh besar pada energiku. Namun, terlepas dari apa saja yang terjadi selama bekerja, pada sore sampai malam hari, aku harus siap dengan mood yang baik untuk bisa menjalankan kuliah. Hal-hal yang terjadi dan tidak sesuai ekspektasi selama kuliah merupakan satu hal lain lagi yang menambah beban hari itu.
Kita tidak seharusnya memaksa diri untuk selalu baik-baik saja. Namun, siapa yang sempat untuk “tidak baik-baik saja” ketika waktu untuk rehat dan memulihkan mood saja sangat sulit didapat di keseharianku yang padat? “Tidak apa-apa melakukan dua hal dalam satu waktu, nanti pasti kamu akan terbiasa,” ujar seseorang kepadaku. Dan nyatanya, aku memang mulai terbiasa. Namun, ini tetap saja tidak membuat perjalanan multitasking-ku mudah. Ketika kamu melakukan kegiatan berat dalam satu waktu secara berturut-turut, beban di punggungmu jadi terasa jauh lebih berat.
Bertemu dengan teman-teman menjadi cara yang biasa aku lakukan jika sedang tidak baik-baik saja–entah karena bekerja atau kuliah. Mungkin ini mengherankan karena aku bisa saja menggunakan waktu ini untuk istirahat di rumah, mengingat besok harus beraktivitas lagi. Nyatanya, bertemu dengan teman-teman seringkali memulihkan rasa lelah dan bahkan mood-ku. Aku juga menyadari bahwa bertemu dengan orang yang sama-sama sedang “berjuang” justru menambahkan semangat tersendiri. Kami bahkan kerap saling membantu kesulitan satu sama lain ketika bertemu.
Bagaimanapun, di balik semua hal yang berat, kamu pasti akan menemukan makna yang luar biasa. Aku bisa merasa bangga dan hebat atas segala perjuanganku. Begitulah aku. Lagipula, hal berat itu akan terasa lebih mudah jika kamu melakukannya dengan senang hati. Yah, walaupun pada awalnya aku merasa kalau aku ‘terpaksa keadaan’ untuk berperan sebagai orang muda multitasking, nyatanya aku tetap bisa menikmati semuanya. Toh, bekerja sambil kuliah merupakan keputusan mutlak ku untuk bisa mencapai keinginanku.
Buat kamu orang muda yang sedang berjuang mengejar keinginan–ataupun sedang dipaksa oleh keadaan–jangan menyerah, yah. Multitasking bukanlah hal yang buruk. Jika kamu merasa lelah, tidak apa-apa. Beristirahat terlebih dahulu adalah jawabannya. Tapi, kamu harus selalu berpegang teguh pada keinginan yang selalu kamu semoga-kan. Selamat merayakan menjadi orang muda untukmu yang sedang berjuang!
Postulat Manusia Dewasa
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Artikel oleh: Mochammad Aldy Maulana Adha
I
mungkin begitulah manusia dewasa
gemar mengutuk manusia lainnya
& dirinya sendiri. sedang jantungnya
terus berdetak. sebuah jarum jam,
diam-diam niscaya berdetik;
& kepalanya menjadi bandara
paling sibuk. yang tak mengenal
apa itu titik. setelah koma. setelah
kata kerja kabur dari tawaran untuk
cuti. & pikirannya memilih kerja lembur.
setelah ingatan-ingatan subtil
lepas landas menuju langit lamunan.
menghantui langit-langit kamar mandi.
tanpa jawaban akan hujan. meski
pada gilirannya akan tercecer di trotoar,
di selokan, di kantor, di kampus, di tempat makan,
di dalam hatinya ia merasa makan hati—tapi
matahari pada pembuluh darahnya belum
memberi lampu hijau untuk segera mampus
& ia memilih untuk menyeduh kopi dengan
tambahan omong kosong hidup, lagi.
II
mungkin begitulah manusia dewasa
punya tendensi untuk melukis nostalgia.
dengan warna paling nyentrik. dengan
sentuhan majas-majas hiperbola.
sebab tak ada lagi yang menarik
dalam hidupnya. selain naik gaji,
naik jabatan & turun gunung mencari
tanggal paling seksi untuk liburan.
sedang ceruk-ceruk masa lalu pada
korpus memori masih menolak pergi.
seperti eksil masa kini;
hasrat paling purba untuk mengisi
kesadaran sebuah malam dengan
botol-botol alkohol pun mencuat
ke permukaan. bersembunyi di
batas-batas antara realitas & hiperealitas.
berusaha untuk tetap mabuk. semalam
suntuk. bunuh diri pikiran. lari, berlari
mencari pelarian. lari dari dunia yang berlari
lebih kencang. dari ruang waktu yang tak
memberi ruang bagi anak kecil dalam dirinya.
untuk barang sejenak bertanya-tanya:
apakah menunda kekalahan hidup
pada mati seperti ini sepadan dengan
kebahagiaan yang mungkin akan didapatkan?
III
mungkin begitulah manusia dewasa
setiap malam, ia mengheningkan cipta
pada cita-citanya. yang sudah membias
bersama bendera putih: ya sudahlah
mau bagaimana lagi, ucap hatinya lirih.
tapi resign pun bukan pilihan, kata otaknya
ikut menimpali. seperti sebuah konvensi
antara pikiran & perasaan. yang tak pernah
memiliki jalan tengah untuk menampung
kata kesepakatan yang hampir selalu resah.
: konon, di dalam kamus maupun tesaurus
bahasa mana pun di muka bumi yang jelek
ini manusia dewasa pantang hukumnya
mengeja kata lelah dengan suara lantang.
tiba-tiba manusia dewasa teringat
buku absurd yang pernah ia baca
& hati kecilnya pun berdoa agar suatu
pagi ia terbangun dalam tubuh seekor kecoak.
ingatan itu seperti bekerja untuk memperluas
konteks sebuah teks kanon abad yang tak
pernah ia alami seumur hidupnya:
konon, ia masih berlari. demi mengaburkan
kesadaran tentang betapa menyedihkan
hidupnya sekarang. agar hatinya bisa
melupakan kenyataan bahwa saat ini
ia ingin menjungkirbalikkan waktu
yang bahkan sebelum purbakala
telah berubah jadi lautan lepas
yang tak dapat diselami manusia.
(2022)
Tentang Penulis
Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Seorang Pengarang; Penerjemah; Ilustrator; Redaktur Omong-Omong Media; & Periset Baitul Falsafah. Dapat dihubungi melalui: Email-genrifinaldy@gmail.com; Instagram-@genrifinaldy; Twitter-@mochaldyma
Kolaborasi Lintas Generasi
Diolah dari ilustrasi alphavector/Canva
Artikel oleh: Neka Rusyda Supriatna
“Ah, millennials tuh apa-apa healing, kerja sebentar udah mau healing.”
“Duh boomers, masa update Instagram story aja gak bisa, sih.”
Mungkin kamu sering mendengar kata-kata seperti itu. Beradu pandangan saling membanggakan generasinya dan menjelek-jelekan generasi lainnya. Tapi, apakah memang seharusnya seperti itu?
***
Aku baru saja lulus dari perguruan tinggi sekitar dua bulan lalu, tanpa menunggu terlalu lama aku akhirnya diterima bekerja di sebuah media. Hari ini aku mendapat tugas untuk membuat sebuah berita karena beberapa hari lagi ada perayaan 16 HAKtP (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan). Seperti biasa jika ada hari besar atau perayaan, media harus menjadi garda terdepan untuk memberikan informasi. Tentu sudah sepatutnya berita yang diulas adalah data dan fakta terpercaya, bukan hanya hoax belaka.
Untuk mencari sebuah data dan fakta, salah satu bahan referensiku kali ini adalah sebuah booklet berjudul “Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021” milik sebuah lembaga bernama IJRS. Bisa dibilang booklet ini tidak terlalu tebal, mudah dipahami juga untuk orang awam sepertiku karena banyak sekali ilustrasi di dalamnya. Dalam riset tersebut dikatakan bahwa 72,1% korban kekerasan seksual adalah anak muda dan anak-anak berusia 6-18 tahun. Fakta ini sungguh miris!
Selain itu, ada informasi menarik yang baru aku ketahui di dalam booklet ini. Ada istilah 5D’s Bystander Intervention. Sepertinya aku pernah mendengar sekilas ulasan ini di Instagram Mbak Nana (Najwa Shihab) bersama dengan USS Her. Ternyata aku mendapatkan penjelasan lebih lengkap dalam booklet milik IJRS ini. Ada 5 cara yang dapat kita lakukan ketika kita melihat pelecehan seksual terjadi di depan kita, yaitu:
- Direct (merespon/menegur langsung)
- Distract (melakukan distraksi atau interupsi ke pelaku)
- Delay (menenangkan korban)
- Document (merekam atau mendokumentasikan kejadian)
- Delegate (meminta bantuan pada pihak ketiga)
Selesai membaca booklet ini aku mendapat ide. Selain membuat sebuah liputan berita, aku ingin membuat sebuah infografis tentang fakta dan data kekerasan seksual. Infografis ini nantinya akan menjadi pelengkap dari liputan beritaku. Aku berencana menghubungi Bu Sarah (tokoh fiktif belaka), pemimpin redaksi di kantorku, untuk meminta persetujuan beliau atas ide membuat infografis. Semua liputan berita beserta ide-ide terkait visual, harus atas persetujuan beliau.
Ku kirimkan pesan WhatsApp kepada Bu Sarah.
“Selamat siang, Bu Sarah. Saya ingin mengajukan ide untuk liputan kegiatan 16 HAKtP nanti. Rencananya selain membuat liputan berita, saya juga ingin membuat infografis. Kira-kira bagaimana pendapat, Ibu?”
Setelah 15 menit berlalu, pesanku baru dibalas.
“Gak usahlah pakai infografis begitu, buat apa? Yang penting itu data-data!”
Aku terkejut dan agak sedikit kecewa dengan respons dari Bu Sarah. Maklum, beliau ini boomers sehingga beliau tidak mengerti bahwa zaman sekarang infografis itu menjadi salah satu daya tarik supaya tulisan atau informasi yang kita sampaikan bisa dibaca oleh kalangan anak muda. Biasanya kan anak muda lebih menyukai melihat gambar atau ilustrasidibandingkan membaca teks saja.
Tekadku sudah bulat, aku akan tetap membuat infografis untuk liputan beritaku. Aku berencana bertemu langsung dengan Bu Sarah dan memberikan beliau referensi infografis itu seperti apa serta data traffic pengunjung portal berita yang menggunakan infografis. Semoga dengan cara ini Bu Sarah yang boomers itu bisa memahami urgensi pembuatan infografis ini.
Keesokan harinya aku memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk masuk ke ruangan Bu Sarah. Jantungku berdegup kencang, rasanya mirip seperti memasuki ruangan sidang waktu sidang skripsi. Aku pun mengetuk pintu ruangan Bu sarah.
“Silahkan masuk!” Ucap Bu Sarah.
“Permisi, Bu. Saya ingin diskusi soal infografis kemarin, Bu. Saya ingin menunjukan beberapa referensi serta data, Bu.”
“Mana sini coba saya lihat!”
Aku mulai mempresentasikan berbagai macam bentuk infografis, tujuan infografis, serta menunjukan data traffic pengunjung portal berita kepada Bu Sarah. Wajah Bu Sarah yang tadinya terlihat agak “dingin” kini sudah berubah, ku lihat ada sedikit senyuman di wajahnya.
“Wah, bagus ya ini. Bisa ini dibuat ke dalam berita kita nanti. Nanti kamu banyakin data-data kekerasan seksualnya. Grafiknya nanti dibuat bentuk unik, misalnya bentuk siluet anak perempuan, atau semacamnya.”
“Iya betul, Bu. Wah idenya menarik, Bu.”
Aku cukup terkejut, Bu Sarah yang tadinya menolak mentah-mentah infografis ini malah memberikan masukan visual infografis. Tidak hanya itu, Bu Sarah juga memberikan masukan terkait warna infografisnya seperti apa, serta data apa yang perlu masuk ke infografis aku nanti.
“Nanti kalau infografis dan beritanya sudah rampung, saya bantu sebar nanti di grup supaya traffic kamu tinggi. Biar dapat bonus kamu.”
“Ya ampun, Bu Sarah. Terima kasih banyak, Bu,” jawabku terharu.
Betapa baiknya Bu Sarah ini. Aku tahu beliau mempunyai jaringan pertemanan yang luas. Sekali dia menyebarkan tautan berita, pasti banyak rekan-rekannya yang langsung merespon dan mengunjungi tautantersebut. Secara tidak langsung, pembuatan infografis ini menjadi kolaborasi pertamaku dengan Bu Sarah. Selama satu bulan aku bekerja, beliau sebagai pemimpin redaksi hanya mengoreksi tulisanku. Kini kami saling berdiskusi dan saling berkolaborasi menyusun pembuatan dan penyebarluasan sebuah infografis. Selesai diskusi, aku pamit untuk segera menuju ke meja kerjaku.
Ternyata bekerja sama dengan boomers tidak sesulit itu. Kita hanya perlu memberikan penjelasan secara rinci kepada mereka dengan bahasa yang sopan juga tentunya supaya mudah dimengerti. Kita sebagai millennials harus bisa menjadi jembatan untuk mendukung terjadinya sebuah kolaborasi lintas generasi. Baik millennials dan juga boomers harus bisa saling membuka hati dan pikiran untuk saling menerima masukan dan kelebihan dari masing-masing generasi. Contohnya seperti Bu Sarah, meskipun boomers, beliau mau menerima ide kreatifkudan memiliki kelebihan tersendiri, yaitu punya jaringan pertemanan yang luas.
Selesai diskusi dengan Bu Sarah, aku kembali ke meja kerjaku. Sebelum mulai membuat infografis dan berita, terpikir olehku untuk menuliskan cerita yang aku alami hari ini ke dalam blog pribadiku. Aku lanjut membuka laptopku, dan mulai ku ketikkan sebuah kalimat pembuka: “Kolaborasi Lintas Generasi”.
Referensi
- Najwa Shihab X USS Her: https://www.instagram.com/reel/CfTY1aCjDyV/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
- Data dan Fakta Kekerasan Seksual di Indonesia 2021: https://ijrs.or.id/data-dan-fakta-kekerasan-seksual-di-indonesia-2021/
Tentang Penulis
Neka Rusyda Supriatna merupakan seorang pustakawan dan staf media komunikasi di salah satu NGO. Neka memiliki hobi menulis dan sudah mempublikasikan beberapa karyanya.
Curang dan Telanjang
Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva
Ditulis oleh: Tsamarah Atikah Nurdiyanah
aku adalah anak ibuku yang tidak suka curang
aku lebih suka menanam kepahitan
lalu menelannya menjadi kenyataan
maka dari itu, aku selalu telanjang
sambil memasang peringatan
mayat hidup di rumah ini hafal ayat-ayat televisi
mana yang sumbang
mana yang jalang
ibuku sangat senang sampai
ia merancang perayaan paling pahit
yang disajikan di depan kitab anti-totalitarianisme
“biar saja anakku telanjang
tapi dia kan tidak curang, Pak!”
aku diantarkan pada suatu tempat aman
dimana aku hanya bisa berfirman
dan telanjang
tanpa harus curang
“aku abadi
dan kau
adalah dunia yang tidak mampu
membeli kemerdekaanku
selayaknya manusia”
(2022)
Tentang Penulis
Tsamarah Atikah Nurdiyanah, atau biasa dipanggil Rara, adalah seorang penulis puisi dan mahasiswa ilmu hukum dari Universitas Terbuka.
Tolong Ajari Aku
Diolah dari ilustrasi sparklestroke/Canva
Ditulis oleh: Vanny
Seorang puan duduk termenung di kursi belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan online yang tak kunjung selesai. Banyak kritik dan tak ada apresiasi keluar dari setiap senior yang telah membaca naskah puan. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, puan hanya bisa menangis dan menangis. Serasa segala upaya telah dikeluarkan lewat setiap dialog yang benar-benar ia pikirkan tidak sebanding dengan ekspektasi para seniornya. Seruan dan perintah untuk berupaya lebih keras sudah berkali-kali puan dengar. Puisi di tisunya menjadi kesedihan yang abadi:
Aku seorang yang bodoh mengharap pembelajaran
Anda seorang yang mahir berharap kesempurnaan
Tak bisakah ajari aku dengan perlahan
Aku tidak membutuhkan cerita kerja kerasmu
Aku hanya butuh ajaranmu
Memang benar, zamanmu segalanya tak pasti
Tapi tolong untuk kali ini jangan bandingkan dengan zamanku
Jangan mencela orang-orang di dalamnya
Aku sudah berusaha keras
Seluruh imajinasi menjadi buram
Hargai aku, hargai karyaku, hargai kerja kerasku
Tentang penulis
Vanny adalah seorang puan yang berusaha mencari makna hidup. Setiap pelajaran dalam hidup akan ia abadikan dalam diarynya.