Melamun, Mencari Jalan Pulang, dan Catatan-catatan Orang Muda Bali Tentang Apa Yang Telah Berubah

Dalam tulisan ini, Komang bercerita tentang kesadaran ekologis yang lahir dari pengakuan atas pengalaman sehari-hari. Khususnya, pengalaman pulang, interaksi seseorang dengan rumah, dan segala yang berubah dalam ruang hidup tersebut. Tulisan ini adalah refleksi Komang terhadap kegiatan Melamun* edisi ‘Mencari Jalan Pulang’ yang berlangsung di Bali pada 5 Juli 2026.


Sore hari, di kawasan Denpasar Utara, saya, Ai, dan Raafi menyusuri lapangan Lumintang yang akan menjadi tempat diadakannya aktivitas Melamun. Saya sudah lupa kapan terakhir kali menyusuri lapangan ini, mendengar keramaian jalanan yang jauh dengan hilir mudik aktivitas manusia, dan merasakan terpaan sinar matahari juga hembusan angin sepoi—bukannya dengung pendingin udara.

Di sebuah titik di lapangan Lumintang yang dinaungi rimbun pepohonan, kami menggelar tikar seadanya dan mulai berkumpul dalam lingkaran yang berjumlah sekitar sembilan belas orang muda dari berbagai latar belakang, termasuk saya, Ai, dan Raafi. Di tengah-tengah kami, ada berbagai mainan yang bisa dipilih peserta untuk memberi stimulasi sensori sambil bersenda gurau dalam rangkaian Melamun kali ini.

Ada kebutuhan untuk berbagi yang begitu besar yang saya rasakan kala kami berkumpul dalam suasana keakraban yang amat saya rindukan. “Begini lah pulang,” pikir saya kala itu. Saya sudah lama meresahkan tentang pulang, rumah, dan definisinya. Karena, setiap kali pulang ke kampung halaman setelah menjalani perkuliahan di Kota Malang, saya hanya menemukan perubahan demi perubahan yang terjadi di rumah yang saya tinggali.

Perubahan itu acapkali tidak menyenangkan. Sedikit demi sedikit, terakumulasi setiap saya kembali, dan hanya semakin membuat saya resah dan tidak nyaman untuk kembali pulang.

Saya mulai menyadari bahwa ada begitu banyak alasan bagi saya untuk tidak pulang, sebanyak alasan untuk tetap pulang. Setiap jeda dan rentang waktu yang saya tempuh di luar sana, perlahan-lahan membuat saya menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang berubah tentang alasan saya pulang, tentang rumah yang berubah, dan tentang semua yang terjadi di antara dan setelahnya.

Kuliah, kerja, aktivisme—semuanya telah menyibukkan setiap dari kita dengan hari-hari yang penuh dan pekerjaan yang panjang. Pulang dan rumah adalah dua hal yang bisa membuat kita mengambil jeda dari segala hiruk pikuk semua kesibukan itu. Saya yakin, beberapa orang bisa mendefinisikan pulang dan rumah dengan mudah. Sebaliknya, beberapa orang lain sulit mendefinisikannya. Karena itu lah, saya kira betapa banyak hal yang bisa kita bagi dalam perjalanan kita mencari jalan pulang dan merasakan hal-hal yang telah berubah dari rumah kita sendiri.

Catatan-Catatan dan Lamunan

Melamun di sore itu dimulai dengan pemaparan singkat dari Ai perihal konsep dan gambaran singkat kegiatan Melamun, kemudian saya melanjutkan sesi dengan sepintas pengantar dan cerita tentang apa yang mendasari konsep Melamun kali ini. Saya bercerita tentang perasaan pulang yang berbeda setelah merantau, bagaimana saya terlepas dari segala informasi kebencanaan di Bali, dan bagaimana kepulangan akhirnya mengembalikan saya pada realitas yang selama ini hanya bisa saya amati dari kanal berita di ponsel.

Kemudian, moderator Melamun, yakni kak Nabila, memandu peserta untuk sesi Selanjutnya. Peserta diberikan pertanyaan pemantik pertama. Pertanyaannya adalah, “Apa makna pulang untukmu?” Setiap peserta berkesempatan untuk memberikan pendapat mereka tentang makna pulang dan menceritakan pandangan mereka.

Kemudian, setelah seluruh peserta membagikan pendapat mereka, Kak Nabila melanjutkan sesi dengan pertanyaan pemantik berikutnya, “apa yang baru kamu temukan dan berubah ketika pulang? Kenapa itu berubah?”

Di sesi kali ini, peserta dipandu untuk menggambar hal-hal yang telah berubah dalam kepulangan mereka, dan mengapa menurut mereka hal itu berubah. Setiap peserta menceritakan gambar yang mereka buat dengan penuh atensi. Seorang peserta yang berasal dari Papua menunjukkan gambar Pulau Papua dan membaginya dalam warna hijau dan cokelat. Ia menceritakan bagaimana deforestasi, yang terjadi akibat alih fungsi lahan, telah menghabiskan sebagian besar hutan di Papua.

Kemudian, salah seorang peserta menunjukan gambarnya dan bercerita tentang kampung halamannya yang berada di kawasan industri. Ia menjelaskan tentang lingkungan tempat tinggalnya yang selalu bersuhu panas dan langit yang kelabu setiap saat. Kemudian, ia bercerita tentang betapa berbedanya situasi di kampung halamannya dengan situasi di lingkungan tempat ia merantau.

Keenam belas peserta masing-masing  menceritakan gambar yang telah mereka buat. Baru lah menjelang petang, sesi kedua kemudian usai. oderator lantas memandu peserta untuk sesi terakhir, yakni Melamun itu sendiri.

“Saatnya melamun! Dari yang berubah dan hilang itu, apa bayangan pulang yang ideal untukmu?”

Seluruh peserta sejenak berada dalam momen kontemplatif, melamun dan membayangkan rumah dan lingkungan hidup yang lebih ideal dan lebih baik untuk mereka pulang.

Di sesi terakhir ini, Desi, sebagai peserta sekaligus perwakilan dari Koalisi Pulihkan Bali, membagikan upaya yang tengah diperjuangkan masyarakat Bali. Melalui mekanisme gugatan warga negara (Citizen Lawsuit), masyarakat Bali mendorong perubahan kebijakan dan tata kelola yang lebih berpihak pada lingkungan, serta keberlanjutan dan keselamatan warga Bali. Khususnya, setelah banjir besar (Blabar Agung) yang menewaskan sekitar delapan belas warga di seluruh Bali pada tahun 2025 yang lalu.

Data Koalisi Pulihkan Bali memperlihatkan hilangnya 6.522 hektare sawah dalam lima tahun terakhir. Sementara, ruang terbuka hijau Kota Denpasar hanya tersisa sekitar 3,2 persen, jauh di bawah standar minimal 30 persen. Dalam konteks ini, banjir telah memberikan konsekuensi bagi tata kelola ruang yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Upaya Pulihkan Bali mengajukan gugatan warga negara menjadi penanda bahwa persoalan ekologis telah bergeser menjadi tuntutan politik dan hukum.

Melamun edisi ‘Mencari Jalan Pulang’ menawarkan pendekatan reflektif yang menempatkan pengalaman hidup peserta sebagai sumber utama pengetahuan. Terinspirasi dari gagasan pendidikan kaum tertindas (Pedagogy of the Oppressed) oleh Paulo Freire, kegiatan ini mengajak orang muda memaknai ulang arti ‘pulang’ melalui pertanyaan tentang perubahan yang mereka saksikan, kehilangan yang mereka alami, dan bayangan mengenai rumah yang ideal. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya membangun kesadaran ekologis dari pengalaman sehari-hari, bukan semata melalui konsep besar yang sering dikampanyekan.

Kolaborasi SIMPUL, Koalisi Pulihkan Bali, dan Pamflet Generasi juga menunjukkan bagaimana ruang belajar warga dapat menjadi bagian dari gerakan advokasi lingkungan yang lebih luas. Dengan melibatkan sekitar dua puluh organisasi masyarakat sipil, komunitas, hingga kelompok mahasiswa, kegiatan ini berupaya mempertemukan refleksi personal dengan aksi kolektif. Dari sana, kita diingatkan  bahwa menjaga Bali adalah tentang keberanian untuk kembali mengingat, mempertanyakan, dan membayangkan masa depan yang layak dan lebih baik untuk semua.