Melamun di Kali Code: Melihat Sejarah Sehari-hari Kota Jogja yang Terabaikan

Ditulis oleh: Ken Penggalih

Kali Code adalah salah satu sungai yang membentangi Kota Jogja dari arah utara ke selatan, dan memegang fungsi besar untuk kehidupan warga Kota Jogja. Selain menjadi jalur aliran material erupsi Gunung Merapi, bantaran Kali Code juga menjadi tempat bermukim bagi banyak warga Kota Jogja. Dengan berbagai dinamikanya, Kali Code berperan sebagai saksi yang menyimpan beragam cerita dan sejarah manusia dan ruang hidupnya di Kota Jogja. Meski demikian, cerita dan sejarah di Kali Code kerap kali dinomorduakan, diabaikan oleh manusia yang melintasi jalanan di atasnya.

Dalam rangka menilik lebih dekat dinamika ruang kehidupan warga Jogja di Kali Code, Pamflet Generasi berkolaborasi dengan Kolektif Arungkala untuk mengadakan kegiatan Melamun pada hari Sabtu, tanggal 18 Januari 2025 lalu. Melamun sendiri adalah wadah diskusi yang meletakkan orang muda sebagai aktor utama proses produksi dan reproduksi pengetahuan yang berangkat dari pengalamannya. Pada edisi Kali Code, Pamflet dan Arungkala menyatukan dua metode reproduksi pengetahuan, Walk The Past dan Melamun. Walk The Past menawarkan tur berjalan kaki untuk menelusuri sejarah alternatif dari sudut pandang orang biasa. Lalu, informasi yang diperoleh selama tur direfleksikan dan diinterpretasikan ulang dalam berbagai konteks kekinian sesuai dengan pengalaman peserta. Semuanya kemudian diarsipkan dalam bentuk zine. 

Tur berjalan kaki Walk the Past kali ini menggunakan rute Mangkubumi-Jogoyudan, yang memiliki tiga titik pemberhentian utama untuk melihat sejarah sehari-hari Kali Code. Bersama Amos dan Lestari dari Kolektif Arungkala, sejarah yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala dan dibagikan melalui tur berjalan kaki Walk the Past berfungsi sebagai pemantik diskusi dan refleksi bagi para peserta. 

“Walk the Past ingin mencari sejarah sehari-hari dan sejarah orang biasa yang tidak ditulis di buku sejarah. Kita biasanya menggunakan kliping, koran-koran, dan arsip-arsip,” jelas Amos ketika membuka kegiatan tur berjalan kaki Walk the Past di titik pertama, yaitu kantor harian Kedaulatan Rakyat. Kantor harian Kedaulatan, yang berada di Jalan Mangkubumi, merupakan salah satu kantor berita terlama di Jogja. Harian Kedaulatan Rakyat merupakan salah satu koran sumber arsip yang menuliskan kisah sehari-hari orang biasa yang biasanya tidak ditulis di buku sejarah, salah satunya kisah keseharian warga Kali Code. Selain kantor harian Kedaulatan Rakyat, Kota Jogja juga memiliki Jogja Library Center sebagai institusi yang mengarsipkan berbagai sejarah orang biasa di Jogja dan Kali Code. Ternyata, sejarah sehari-hari yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala tidak selalu menggunakan media dengan format tulisan berita yang umumnya ditemukan, tetapi juga memakai media lain seperti iklan produk-produk sehari-hari.

Setelah melihat monumen sumber pengarsipan sejarah sehari-hari di Kota Jogja, peserta berjalan ke arah selatan untuk melihat Hotel Toegoe dengan “mengintip” melalui lubang-lubang kecil di pagarnya. “Mengintip” ke dalam Hotel Toegoe menjadi sebuah aktivitas yang menyimbolkan limitasi akses sejarah sehari-hari di Kali Code, dan juga Kota Jogja. Usut punya usut, limitasi akses sejarah sehari-hari yang terjadi di Hotel Toegoe berakar dari praktik privatisasi Hotel Toegoe sebagai situs cagar budaya. Hotel Toegoe merupakan hotel yang dibangun pada zaman kolonial dan merupakan salah satu hotel termewah di Kota Jogja pada zaman itu. Sejak zaman kemerdekaan, Hotel Toegoe berhenti beroperasi dan dinasionalisasi sampai tahun 1960-an, dan, setelahnya, diprivatisasi oleh sebuah yayasan milik keluarga di Jogja. Meski mendapatkan status sebagai cagar budaya, bangunan Hotel Toegoe dibiarkan rusak terbengkalai, dan akses umum untuk masuk ke dalam situsnya dijaga ketat oleh satpam dan dikelilingi dengan pagar yang menjulang tinggi. 

“Kalau mau lihat hotelnya, harus ada izin dari yayasan,” ucap salah seorang satpam yang menjaga lokasi Hotel Toegoe. Selain tentang privatisasi cagar budaya dan sumber sejarah, Hotel Toegoe juga menyimpan cerita tentang perjuangan buruh di Jogja dan ketimpangan sosial yang terjadi di Jalan Mangkubumi. Dalam salah satu arsip Kolektif Arungkala, pekerja Hotel Toegoe, yang saat itu disebut sebagai “djongos”, melakukan mogok kerja untuk menuntut upah lebih dari manajemen Hotel Toegoe, yang akhirnya tidak dipenuhi oleh pihak hotel. 

Cerita tentang ketimpangan sosial juga dialami oleh pemukiman sekitar Hotel Toegoe, yang tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan pembangunan hotel dan infrastruktur di daerah tersebut. “Jadi, jalan ini dari zaman kolonial selalu dipermak… Selalu dipermak dan dibangun infrastrukturnya, tapi sebenarnya yang jadi pekerja tidak dikasih perhatian yang sama dengan jalan ini. Mereka dibiarkan saja untuk membangun pemukiman di belakang jalan ini,” jelas Amos.

Perjalanan tur berjalan kaki Walk the Past dilanjutkan dengan menyusuri bantaran Kali Code untuk secara langsung melihat penataan ruang pemukiman bantaran Kali Code. Selama menyusuri pemukiman di bantaran Kali Code, peserta diminta untuk meminimalisir penggunaan HP agar dapat merasakan lebih dekat kehidupan warga yang bermukim di bantaran Kali Code dan juga keruangan di pemukiman tersebut. Di titik terakhir perjalanan tur berjalan kaki ini, restrukturisasi pemukiman di bantaran Kali Code menjadi titik berat perhatian dari cerita sehari-hari yang berusaha dialami secara langsung oleh peserta. 

“Di arsip, bisa dilihat ruang di Sungai Code itu rawan bencana secara kontur, dan banjir parah sering terjadi sebelum ada penataan ulang,” ucap Amos. Di sejarah sehari-hari pemukiman di bantaran Kali Code, terdapat satu tokoh penting, yaitu YB Romo Mangun, yang melakukan penataan ulang pemukiman sebagai salah satu upaya untuk menangani permasalahan tersebut. Penataan ulang pemukiman ini dilakukan dengan mengubah arah pintu depan rumah-rumah di pemukiman bantaran Kali Code, yang awalnya membelakangi Kali Code, menjadi menghadap ke arah Kali Code. Harapannya, ketika pintu pintu depan dibuka dan langsung memperlihatkan Kali Code, masyarakat akan mengetahui kondisi lingkungan Kali Code dengan melihat secara langsung melalui pintu depan sehingga terdorong untuk turut menjaga kebersihan Kali Code. Dengan dilakukannya penataan ulang pemukiman di bantaran Kali Code, banjir perlahan-lahan dapat tertangani.

Selepas menyusuri bantaran Kali Code untuk melihat keruangan permukiman warga, peserta berjalan ke VRTX Compound untuk melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu membuat zine. Sebagai wadah untuk merefleksikan pengalaman berjalan menyusuri Kali Code, sesi membuat zine di kegiatan Melamun kali ini diawali dengan mendiskusikan beberapa pertanyaan pemantik dari Pamflet Generasi sebagai fasilitator. Diskusi yang terbangun di forum Melamun kali ini berusaha untuk bertukar pengalaman pribadi sembari merefleksikannya dengan kompleksitas cerita sehari-hari yang ditemukan selama tur berjalan kaki.

Sejarah Sehari-Hari di Kali Code yang Terasa Dekat

Bagi Zefan, seorang warga Jogja yang juga bertempat tinggal di sekitar Kali Code, warga yang bermukim di daerah bantaran Kali Code memiliki tantangan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan terkecilnya, misalnya sumber air yang layak, udara bersih, dan tata letak pemukiman. Meski demikian, tantangan ini dapat berbeda-beda, bahkan antar pemukiman bantaran Kali Code di lokasi yang berbeda, seperti di daerahnya dengan daerah kampung Jogoyudan. Jika dibandingkan dengan kampung Jogoyudan, Zefan melihat bahwa daerah pemukiman yang ia tinggali terasa asri karena ditanami dengan berbagai pohon dan masih terdapat banyak sumur air bersih di pinggir sungai. 

Peserta lain yang juga berasal dari Jogja, Bima, menambahkan cerita lain tentang perbedaan realita di daerah Kali Code. Bima bercerita bahwa banyak kafe-kafe yang dibangun di bagian atas bantaran Kali Code, sedangkan pemukiman dibangun di bawahnya, yaitu di area yang langsung menghadap ke Kali Code. Sebagai warga Jogja, Bima merasa perbedaan penggunaan keruangan yang ada di Kali Code ini menjadi dinamika fungsi sosial tata ruang yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut.

Berbicara tentang ketimpangan, Rifki juga merefleksikan fenomena ketimpangan ekonomi yang masih terus terjadi di Jogja hingga saat ini. Bima kemudian menekankan kembali cerita perjuangan djongos-djongos di Hotel Toegoe yang melakukan mogok kerja untuk menuntut upah yang layak. Berkaca pada sejarah perjuangan tersebut, Bima menyimpulkan bahwa isu ketimpangan upah yang sering disuarakan di Jogja, sebagai salah satu provinsi dengan nominal upah terkecil di Indonesia, sudah terjadi bahkan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. 

Merefleksikan Pengalaman Pribadi di Tempat Asal dengan Cerita Sehari-Hari di Kali Code 

Randa, seorang teman Tuli yang berasal dari Kalimantan, menemukan perbedaan dan juga kesamaan antara fungsi sungai di tempat asalnya dengan Kali Code. Randa bercerita bahwa di Kalimantan, sungai memiliki kaitan yang erat dengan kegiatan ritus dan spiritual masyarakat. Berbeda dengan Kali Code yang berfungsi sebagai tempat bermukim, sungai-sungai di Kalimantan seringkali digunakan untuk melarung sesaji yang setelah digunakan untuk ritual. Menurut kepercayaan orang Kalimantan, melepaskan sesaji di sungai setelah ritual di sungai merupakan salah satu bentuk untuk mendapatkan perlindungan dari marabahaya. 

Peserta lainnya dari Banjarmasin, Box, menuturkan bahwa bagi masyarakat Banjar, sungai bukan sekadar sumber daya alam, tetapi juga dingsanak (saudara). Sungai memegang peranan yang begitu vital dalam kehidupan sehari-hari—tidak hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, tetapi juga sebagai jalur transportasi untuk membawa hasil panen. Bahkan, sungai menjadi pusat ekonomi dengan adanya Pasar Terapung, di mana masyarakat menjual hasil panen mereka langsung di atas air. Rumah-rumah di tepian sungai pun umumnya menghadap ke sungai, mencerminkan filosofi “Kedaulatan Atas Sungai” yang menjadikan masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian sungai.

Meskipun memiliki konteks sosial dan budaya yang berbeda, baik di Kalimantan maupun di Jogja, sungai tetap menjadi nadi kehidupan masyarakat, membentuk interaksi, ekonomi, dan bahkan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitarnya.

Tentang Resiliensi dalam Menghadapi Kerentanan di Ruang Hidup

Fai dan Flo menanggapi pertanyaan pemantik ini dengan mengangkat kembali berita “Korban Spoor”, salah satu sejarah sehari-hari tentang warga Kampung Jogoyudan yang tertabrak kereta di jembatan kampungnya yang diarsipkan oleh Kolektif Arungkala. Fai dan Flo mengobservasi bahwa banyak kompromi yang akhirnya harus dibuat dalam menghadapi tata ruang infrastruktur yang berdekatan dengan tempat hidup sehari-hari. Misalnya, banyak kecelakaan yang terjadi di rel kereta dekat pemukiman sehingga harus lebih berhati-hati dan menutup rel kereta tersebut.

Amos kemudian menambahkan isu krisis air di Jogja ke dalam bahan refleksi di pertanyaan pemantik ketiga. Amos menjelaskan bahwa isu krisis air merupakan salah satu krisis iklim yang wujud dan dampaknya paling dekat dan terasa jelas bagi masyarakat. Terlebih di Jogja, kondisi krisis air diperparah dengan praktik pembangunan massal, terutama hotel-hotel besar, yang tidak memperhatikan jarak dengan area pemukiman. Oleh karena itu, isu krisis air merupakan salah satu isu besar yang sedang gencar diadvokasikan oleh pegiat-pegiat di Jogja.

Zine sebagai Wadah Menuangkan Refleksi Sejarah Sehari-hari di Kali Code

“Bukan hanya tentang menangani banjirnya, tetapi juga tentang pengetahuan masyarakatnya, …, justru itu yang menurut aku juga penting,” ucap Wucha ketika membagikan hasil refleksi pengalamannya berjalan menyusuri pemukiman di bantaran Kali Code. Sebagai warga Jogja yang sering beraktivitas dengan kelompok anak-anak Kali Code, Wucha awalnya merasa sudah familiar dengan dinamika kehidupan di Kali Code. Meski demikian, Wucha merasa tersentil ketika menemukan sebuah tulisan yang menceritakan tentang hewan-hewan hanyut ketika Kali Code mengalami kebanjiran. Bagi Wucha, tulisan ini menjadi pengingat bahwa ruang hidup tidak melulu tentang infrastruktur fisik, melainkan juga ekosistem di dalamnya secara keseluruhan, termasuk berbagai makhluk hidup lain selain manusia. Wucha kemudian mengarsipkan refleksinya ke dalam zine dengan menggambar sebuah rumah dan kucing.

Refleksi dari Wucha menjadi penutup kegiatan Melamun edisi Kali Code sekaligus renungan bahwa kita terkadang mengabaikan cerita-cerita penting yang kita rasa dekat. Melamun edisi Kali Code kemudian menjadi wadah sederhana bagi orang muda untuk melihat kembali Kali Code sebagai salah satu ikon kota Jogja. Tidak hanya menilik infrastruktur pendukung yang ada Kali Code, tetapi juga merefleksikan Kali Code sebagai ruang hidup yang kompleks, dan memiliki ekosistemnya tersendiri dan berbagai lapisan cerita sehari-hari di dalamnya.

Melamun bersama Pamflet Generasi: Menciptakan Aksi Lingkungan yang Inklusif dan Ramah Disabilitas

Ditulis oleh: Annisa Nurul Hidayah Surya

Melamun kerap diasosiasikan sebagai aktivitas yang membuang waktu, tidak menghasilkan sesuatu, hingga tidak berguna. Saat ini, dunia bergerak bersama kecepatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seolah-olah setiap detik penuh dengan tuntutan dan peluang. Melamun pun terasa seperti kemewahan yang tak lagi memiliki tempat dalam keseharian kita. 

Pamflet Generasi menjadikan Melamun menjadi serangkaian diskusi yang meletakkan peserta sebagai aktor utama proses produksi dan reproduksi pengetahuan yang berangkat dari pengalamannya. Dalam Melamun, setiap orang yang terlibat adalah sumber pengetahuan tersebut. Nama Melamun mewakili semangat menciptakan ruang aman bagi orang muda untuk membayangkan ulang realita sosial, terutama di tengah masalah sistemik yang mengakar. Pada Jumat, 9 Agustus 2024, Melamun mengangkat tema “Aksi Ramah Lingkungan, Sudahkah Ramah Disabilitas?” yang dilangsungkan di Neha Hub, Jakarta Selatan. 

Melamun kali ini merefleksikan berbagai aksi ramah lingkungan yang dilakukan nyatanya belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas. Konsep “eco-ableism,” atau diskriminasi terhadap disabilitas dalam kebijakan dan aktivisme lingkungan, menjadi sorotan utama dalam acara ini. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, termasuk aktivis lingkungan, penyandang disabilitas, dan penggiat masyarakat sipil.

Bersama Rifka dan Ai sebagai fasilitator dari Pamflet Generasi, Melamun diawali dengan menyepakati nilai-nilai bersama (shared values). Rifka menjelaskan pentingnya menciptakan lingkungan diskusi yang inklusif dan ramah bagi semua peserta. Dia menekankan bahwa setiap pembicara harus menyebutkan nama terlebih dahulu sebelum berbicara, agar teman-teman Tuli dapat mengikuti dengan baik. “Saya sangat menyukai diskusi yang inklusif, sehingga saya ingin memastikan semua peserta dapat berpartisipasi dengan nyaman,’’ terang Rifka.

Selain itu, Rifka juga mengingatkan pentingnya berbicara pelan-pelan dan menghindari penggunaan kata-kata yang tidak spesifik seperti “ini” atau “itu,” untuk memastikan teman-teman disabilitas netra dapat memahami konteks diskusi dengan jelas. Ai kemudian melanjutkan dengan menambahkan aturan-aturan lainnya yang perlu diikuti selama diskusi berlangsung. Ia mencontohkan ‘’Peserta diminta untuk mengangkat tangan sebelum berbicara dan berbicara dengan ritme yang tidak begitu cepat agar Juru Bahasa Isyarat (JBI) dapat mengikuti percakapan dengan baik.’’

Dengan memperkenalkan budaya diskusi ini, Rifka dan Ai memastikan bahwa semua peserta merasa dihargai dan didengarkan, serta mampu menyampaikan pendapat mereka tanpa hambatan. Budaya ini tidak hanya mendukung inklusivitas, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dan penuh makna dari semua peserta.

Tantangan dalam Menerapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Memasuki sesi diskusi, para peserta diminta untuk menunjukkan dan menceritakan barang sekali pakai yang paling sering digunakan. Selain itu, peserta juga diminta menunjukan gaya khas mereka. Rika Ayudia, salah satu peserta diskusi dari Sanggar Seroja, Jakarta Barat. Ia memiliki gaya khas suka bernyanyi dan sering karaoke, bahkan dia pernah mendapat juara satu dalam kontes menyanyi. Adapun barang sekali pakai yang kerap ia bawa adalah masker. “Sejak Covid, aku terbiasa memakai masker, meskipun sekarang sudah tidak Covid lagi, aku tetap menggunakan masker,’’ ujar Rika.

Peserta lainnya ialah Annisa dari Go Green Indonesia. Ia memiliki gaya khas suka bergumam saat mengerjakan sesuatu. Barang yang sering dia bawa adalah botol plastik air mineral. Karena meski ia membawa tumbler dan tempat makan sendiri, ia kerap kesulitan menemukan tempat untuk mengisi ulang air minumnya. “Aku sering mendapat diskon karena membawa tempat makan sendiri dan tetapi kadang sulit menemukan air isi ulang.’’ Bekas botolnya ia kerap gunakan untuk makanan kucing atau ia berikan pada bank sampah.

Selain Rika dan Annisa, peserta lain juga memperkenalkan dirinya, gaya khasnya, dan barang sekali pakai yang kerap mereka bawa.

Setelah semua peserta selesai berkenalan dan menjelaskan barang bawaannya serta menunjukkan gaya khasnya, Ai sebagai fasilitator diskusi kemudian mengarahkan diskusi dengan melontarkan sebuah pertanyaan kunci: “Masing-masing kita kan masih terikat dengan barang sekali pakai itu ya, nah, kalau dari teman-teman sendiri, bagaimana tantangan teman-teman dalam mengupayakan gaya hidup supaya lebih ramah lingkungan?”

Tantangan Diri dalam Mengupayakan Aksi Ramah Lingkungan

Retha, salah peserta diskusi mengatakan barang yang ia kerap bawa adalah celana dalam kertas yang dapat digulung. Saat travelling ia karap membawanya, karena barang itu membawa kenyamanan padanya. 

Peserta lain, Dede, mengatakan bahwa sebagai penyandang disabilitas fisik dan sosial, ia kesulitan celana memakai pembalut kain. “Aku mengalami tantangan saat menstruasi, di mana nyeri haid sangat kuat hingga membuatku lumpuh sementara dari H-7 hingga 3-4 hari. Ini menguras energi dan membuatku sulit bahkan untuk duduk’’ keluh Dede. Baginya pembalut sekali pakai menjadi pilihan yang lebih efisien.

Menariknya Dede menyadari mahalnya produk pembalut ramah lingkungan. Hal tersebut baginya menunjukan bahwa produsen belum memberikan belum memberikan pilihan produk yang ramah lingkungan dan ramah perempuan. Bagi perempuan pengguna kursi roda, menggunakan pembalut kain sangat sulit karena turun dari kursi roda dan mencucinya menjadi tantangan besar.

“Persoalan ekologi tidak hanya soal solusi individual, tetapi juga melibatkan peran produsen dan kebijakan negara. Perusahaan besar yang memproduksi kemasan sekali pakai sering kali tidak bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Regulasi dan korporasi jarang disorot sebagai penyebab kerusakan lingkungan yang besar. Kebanyakan solusi hanya fokus pada individu, padahal kita harus memperhatikan kebijakan dan regulasi yang dapat mencegah masalah ini secara lebih luas,’’ tegas Dede untuk memperjelas pendapatnya.

Bagi Annisa, penggunaan plastik sekali pakai tidak bisa dihindari. Satu hal yang penting baginya adalah bagaimana kita sendiri menghindari atau mengelola hal itu. Penting bagi Annisa agar ada regulasi dari pemerintah untuk pengelolaan sampah. “Di rumahku juga masih dicampur, seharusnya dipisah supaya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak menumpuk. Kita perlu memilahnya sendiri,’’ tuturnya.

Menurut Rika, di Sanggar Seroja, mereka pernah melakukan upaya untuk menjaga lingkungan dengan membersihkan Kampung Duri yang padat penduduk. “Kami berhasil mengumpulkan berkarung-karung sampah. Dari limbah plastik yang kami kumpulkan, kami membuat baju-baju yang kemudian kami gunakan untuk pawai. Ini merupakan cara kami memanfaatkan limbah plastik secara kreatif”.

Chintya dari Koneksi Indonesia Inklusif melihat hal tersebut dari dua sisi, yaitu  perspektif internal dan eksternal. Baginya salah satu tantangan utama adalah kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Masih banyak orang masih membuang sampah sembarangan dan merokok sembarangan. “Memang penting ada regulasi dan pengelolaan sampah, tetapi masyarakat juga perlu menyadari bahwa kita semua bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan karena dampaknya akan dirasakan oleh semua,’’ tegas Chintya.

Refleksi Visual dalam Diskusi

Sesi selanjutnya dalam Melamun, peserta diminta untuk memberikan kesan pada gambar yang ditampilkan pada layar. Beberapa gambar di antaranya mengenai sedotan plastik, transportasi hijau, dan aksesibilitas.

Ketika gambar sedotan plastik ditampilkan, Anto merespons dengan mengaitkan penggunaan sedotan plastik dengan faktor ekonomi, mengamati bahwa sedotan plastik lebih murah dan praktis, meskipun merusak lingkungan. Yael dari Perempuan Mahardhika menambahkan bahwa beberapa disabilitas lebih memilih sedotan plastik karena ketidaknyamanan saat menggunakan alternatif yang lebih keras, seperti sedotan stainless. “Gambar ini menyoroti bagaimana penggunaan sedotan plastik lebih ekonomis dan praktis, tetapi beberapa kawan disabilitas merasa tidak nyaman dengan sedotan stainless atau besi, sehingga mereka lebih memilih plastik,’’ kata Yael. Senada dengan Yael, Dhiba menyatakan bahwa sedotan plastik adalah alternatif dari sedotan stainless yang lebih beresiko. Senada dengan Dhiba, Rika menganggap bahwa penggunaan sedotan plastik oleh pria tersebut lebih efektif dan memudahkan.

Selanjutnya, terdapat gambar poster himbauan dari Dinas Perhubungan Aceh tentang transportasi hijau. Terdapat gambar kendaraan listrik, beserta bis, dan beberapa detail lainnya. Mengenai hal ini, menurut Dede kendaraan listrik bisa menjadi “solusi palsu” jika tidak mempertimbangkan dampak dari ekstraksi bahan baku seperti nikel. “Kita harus melihat lebih dalam dari sekadar kendaraan listriknya itu sendiri dan mempertimbangkan dampak dari bahan tambang yang digunakan,’’ ujar Dede. Sementara itu, Retha mengkritik kendaraan listrik karena kurang ramah bagi disabilitas netra, yang merasa terancam oleh kendaraan yang tidak bersuara. “Saya mewakili teman-teman netra, dan kendaraan listrik bisa berbahaya karena tidak bersuara, membuatnya sulit dideteksi. Di masa lalu, kendaraan yang berbunyi memberikan peringatan, yang lebih aman bagi kami,’’ kata Retha.

Gambar lainnya, menunjukkan seorang lansia menggunakan tongkat untuk naik bus, memperlihatkan kekurangan dalam aksesibilitas transportasi umum. Rika menekankan pentingnya adanya petugas yang membantu mempermudah akses bagi disabilitas. Yael menyoroti bahwa kebijakan pemerintah sering kali tidak melibatkan kelompok disabilitas dalam proses perencanaan, sementara Dede menyebutkan bahwa fasilitas transportasi di Jakarta masih kurang, meskipun beberapa perbaikan telah dilakukan. “Di negara lain, seperti di Sydney, ada fasilitas ramah yang memudahkan akses bagi kursi roda’’ keluh Dede.

Diskriminasi dalam Aksi Ramah Lingkungan terhadap Disabilitas

Selanjutnya, fasilitator mengalihkan diskusi ke pertanyaan kunci kedua, “Apakah peserta pernah membayangkan bentuk aksi ramah lingkungan yang mendiskriminasi disabilitas?’. Dede dari PJS menjawab bahwa dalam krisis iklim, banyak penyandang disabilitas psikososial, seperti yang terjadi di Kudus dan Demak, malah terpinggirkan.

Mereka diisolasi dan tidak dievakuasi saat bencana alam terjadi, yang menurut Dede hal ini memperkuat diskriminasi yang ada. “Krisis iklim memperkuat diskriminasi terhadap disabilitas, terutama disabilitas psikososial yang sering dianggap tidak manusiawi. Ketika terjadi bencana, hanya orang yang dianggap “non disabilitas” yang diselamatkan,’’ ujarnya.

Yasmine menyoroti bahwa aksi ramah lingkungan, seperti slow fashion yang tidak melibatkan teman-teman Tuli, sering kali hanya memperkuat diskriminasi yang ada. Becca menambahkan bahwa upaya pengurangan plastik dan promosi pangan berkelanjutan sering kali tidak mempertimbangkan keterbatasan teman-teman autoimun, yang berdampak pada aksesibilitas mereka terhadap makanan.

Retha juga mencatat bahwa sering kali bahasa yang digunakan dalam kebijakan lingkungan terlalu teknis dan tidak mudah dipahami, bahkan oleh penyandang disabilitas sendiri. Sedangkan Annisa menekankan pentingnya melibatkan ragam disabilitas dalam komunikasi dan edukasi untuk memastikan inklusi yang lebih baik  “Kadang-kadang, bahasa yang digunakan terlalu tinggi dan tidak mudah dipahami, bahkan oleh kami sendiri yang memiliki disabilitas,” ujar Retha.

Kondisi Ideal Bagi Penyandang Disabilitas

Sampailah pada pertanyaan kunci ketiga yang dipandu oleh fasilitator, “Seperti apa kondisi ideal lingkungan yang ramah disabilitas?” Untuk menjawab pertanyaan penutup ini, peserta diminta untuk menggambarkan serta menuliskan beberapa kata yang mencerminkan gambar tersebut. Setelahnya, peserta dapat memaparkan dengan singkat tentang maksud gambar, simbol, atau kata-kata yang mereka tulis dan gambarkan secara individu.

Aneu, pemagang dari Pamflet Generasi menggambar simbol-simbol yang mencerminkan panduan aksesibilitas: “Tanyakan, bunyikan, visualisasikan, dan mudahkan aksesnya.”  Dalam gambarnya, ada gambar toa, subtitle, dan panah arah. Ini menunjukkan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dalam proses pembuatan kebijakan ramah lingkungan, serta menyoroti kebutuhan spesifik seperti sensor pada motor listrik yang sunyi dan visualisasi informasi di transportasi umum bagi penyandang Tuli.

Becca, dengan gambar semburat warna-warni, berharap dunia ideal yang dia bayangkan berbeda secara signifikan dari dunia sekarang. “Aku berharap dunia ideal ini banyak berbeda dari dunia sekarang,” ujarnya, menekankan keinginan untuk perubahan yang nyata dan mendalam.

Annisa menekankan pentingnya aksesibilitas dengan mengatakan, “Setiap orang berhak mendapat aksesibilitas. Perlu teman-teman disabilitas ini terlibat dalam kebijakan pemerintah.” Ini menegaskan bahwa integrasi penyandang disabilitas dalam proses pengambilan keputusan adalah langkah kunci menuju inklusivitas yang lebih besar.

Gambar 1: Yael menunjukkan gambarnya.

Yael memilih bunga matahari sebagai simbol ruang aman, menggambarkan bagaimana elemen yang sederhana namun menyenangkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas. “Bunga matahari itu seperti ruang aman bagi orang-orang,” katanya, menyoroti pentingnya menciptakan ruang yang menyenangkan dan menenangkan bagi semua individu. 

Chintya menambahkan perspektif mengenai bunga matahari, yang juga menjadi lambang dari invisible disability di Amerika Serikat. Ia sendiri tidak menggambar karena merasa sulit memvisualisasikan idenya. Namun ia menulis “Semua orang berhak hidup aman dan layak.” Hal ini menunjukkan kesadaran akan kebutuhan untuk menyertakan berbagai jenis disabilitas dalam diskusi dan kebijakan.

Dhiba menggambar taman inklusi dengan akses untuk berbagai jenis disabilitas dan bus yang belum memiliki ram. “Saya gambar itu, dan beberapa simbol yang dipahami kawan-kawan disabilitas intelektual,” ujarnya, menunjukkan upaya untuk memvisualisasikan solusi nyata dan praktis untuk masalah aksesibilitas.

Dede menggambar sesi diskusi Melamun kali ini bersama Pamflet Generasi, yang dalam percakapan diskusi sedari awal, telah menekankan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dari awal. “Disabilitas atau kelompok marjinal itu harus diawali dengan dilibatkan, lalu sediakan aksesnya,” ungkapnya, menyoroti pentingnya keterlibatan dan pemenuhan kebutuhan spesifik dalam proses perencanaan dan implementasi.

Retha menggambarkan lokasi hijau dengan berbagai jenis tanaman dan aksesibilitas yang berbeda. “Lingkungan, hijau, mudah diakses, dan ramah,” katanya, menekankan perlunya ruang yang memenuhi kebutuhan beragam individu dan menyediakan akses yang memadai.

Rika menggambar jalan dan kursi prioritas, menyoroti pentingnya aksesibilitas dalam kebijakan pemerintah. “Penting bagi pemerintah untuk memberi akses ini kepada kawan-kawan disabilitas,” katanya, sambil mengingatkan tentang pentingnya kebijakan yang adil dan inklusif.

Yasmin menggarisbawahi pentingnya fasilitas untuk mendukung kebiasaan buang sampah yang baik dan aksesibilitas HAM. “Keinginan saya lebih dari lima kata, ribuan kata, tapi itu saja,” ungkapnya, menekankan perlunya fasilitas yang mendukung kebiasaan ramah lingkungan sambil memastikan aksesibilitas bagi semua orang. 

Gambar 2: Anto sedang menggambar.

Anto menggambarkan rumah yang melindungi dari bencana dan diskriminasi. “Saya menggambar jalan yang bisa digunakan untuk semua orang,” katanya, menunjukkan bagaimana aksesibilitas dan perlindungan harus menjadi prioritas dalam desain lingkungan.

Teli menggambar pohon dengan kata-kata  “Agensi. Kondisi ideal lingkungan yang ramah disabilitas berawal dari akar yang kokoh, misal teman-teman disabilitas bisa dilibatkan,” ujarnya, menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam menciptakan perubahan. 

Rifka menggambarkan bangunan tinggi dikelilingi matahari, awan, dan warna-warna. Ia juga menggambarkan dirinya yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Serta orang-orang yang melepas Alat Bantu Dengar (ABD) dan kemudian berbahasa isyarat. “Itu yang saya inginkan dan sudah saya cerminkan,” katanya. 

Ai menggambar matahari, yang menurutnya hangatnya bisa diterima banyak orang. Matahari dengan harapan agar lingkungan yang hangat bisa dirasakan oleh semua orang dengan ragam disabilitas.

Kemudian Rifka menutup diskusi ini dengan menyampaikan harapannya, agar kelak dapat melanjutkan kolaborasi yang lebih inklusif. Ia mengingatkan kembali tentang pentingnya untuk selalu mengingat konsep eco-ableism, agar tidak terjebak dalam diskriminasi yang tidak kita sadari. “Kita perlu terus mengingatkan diri sendiri untuk berefleksi dan bertindak dengan bijak”, tegasnya.

Lewat diskusi melamun kali ini, kita dapat melihat pentingnya menciptakan aksi lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas. Dari berbagai perspektif yang telah disampaikan, jelas langkah-langkah aksi lingkungan keberlanjutan harus mempertimbangkan keberagaman kebutuhan banyak orang, termasuk penyandang disabilitas.

Gambar 3: Foto bersama di akhir acara.

Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino: Menyimak Tantangan dan Harapan Orang Muda di Bali

Ditulis oleh: Zariqoh Ainnayah Silviah

Aktivitas melamun seringkali dipandang sebagai kebiasaan yang tidak produktif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa melamun memiliki manfaat penting. Kalina Christoff, seorang peneliti dari University of British Columbia, menemukan bahwa melamun melibatkan beberapa area otak yang berhubungan dengan pemecahan masalah, pemrosesan memori, dan perencanaan masa depan. Pada Sabtu, 15 Juni 2024, Pamflet Generasi dan Minikino mengadakan kegiatan “melamun” untuk merespons pesatnya pembangunan di Bali. 

Melamun merupakan serangkaian diskusi yang diinisiasi Pamflet Generasi di mana peserta menjadi aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan dengan berangkat dari pengalamannya masing-masing. Melamun memungkinkan setiap peserta berbagi keresahan serta membangun ide bersama untuk kehidupan yang lebih ideal bagi mereka. 

Melamun edisi ketiga ini diselenggarakan di Micro Art Shop House (MASH) Denpasar dengan mengusung tema “Saat semua semakin cepat, mari melamun”. Difasilitasi oleh Wilsa dari Pamflet Generasi dan Ozi dari Minikino, Melamun mendiskusikan bagaimana orang muda yang tinggal dan tumbuh besar di Bali memaknai dan menavigasikan hidupnya di tengah pembangunan yang sangat pesat. Mereka juga diajak untuk bersama-sama membayangkan ulang realita yang lebih baik.

Peserta melamun kali ini beragam, mulai dari orang muda yang sedang mencari kampus untuk berkuliah, mahasiswa, relawan di organisasi masyarakat sipil maupun lembaga pemerintah, jurnalis, pekerja yang sehari-hari bekerja di laut, hingga penulis. Isu-isu yang ditekuni juga beragam, mulai dari disabilitas, hak kesehatan seksual reproduksi, lingkungan, hingga kemiskinan.

Gambar 1: Ragam peserta Melamun saling berbaur saat makan siang bersama.

Kegiatan melamun diawali dengan pemutaran film pemantik berjudul Air untuk Wasa (2015) yang disutradarai oleh I Made Suarbawa atau akrab disapa Birus. Film ini bercerita mengenai seorang anak yang memiliki tantangan dalam mengakses air bersih di desanya. Meski diproduksi pada tahun 2015, film ini dianggap masih relevan hingga saat ini, mengingat air masih menjadi permasalahan serius di sebagian wilayah di Provinsi Bali. 

“Bali itu sedang tidak baik-baik saja, kita sedang tidak dalam persediaan air yang mencukupi. Mungkin kita bisa sangat mudah menikmati di daerah-daerah Denpasar atau Bali Selatan. Tetapi masih banyak banget di Bali Utara, Bali Timur, Bali Barat, itu susah sekali yang namanya air,” terang Juni dari Bale Bengong saat menanggapi film Air untuk Wasa.

Setelah menonton film bersama dan berdiskusi tentang film Air untuk Wasa, sesi selanjutnya adalah sesi utama yaitu melamun. Proses melamun mengacu pada tiga pertanyaan pemantik yang telah disiapkan. Pada setiap sesi pertanyaan, fasilitator mengajak peserta merenungkan pertanyaan dan menggambar atau menuliskan kata konsep dari hasil renungannya. Fasilitator juga meminta beberapa peserta menceritakan gambar atau kata konsep yang telah ditulis. Dengan cara ini, melamun tidak hanya membantu peserta merefleksikan keresahan pribadi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi keresahan dengan orang lain. 

Bali dalam Lensa Orang Muda

Peserta memotret Bali dari berbagai sisi. Komang, seorang perempuan penulis menggambarkan Bali dengan simbol perempuan yang menggunakan cepol atau konde, dengan batu di atasnya. Hal ini menggambarkan sistem patriarki di Bali yang tetap menuntut perempuan berperan dalam ekonomi. Ia mengatakan, “Patriarki di Bali itu bukan patriarki absolut. Jadi walaupun patriarkis, perempuan memegang kendali untuk ekonomi, untuk perdagangan. Bahkan ada yang bekerja sebagai tukang bangunan.” Pengamatan ini menyoroti beban perempuan Bali yang berlipat, karena selain harus menjalankan peran domestik sebagai tuntutan dari sistem patriarki, mereka juga memegang tanggung jawab ekonomi. 

Dayu Sri, seorang mahasiswa, dan Pradnya, seorang pekerja sosial, menyoroti perkembangan pesat yang mengubah wajah Bali. Dayu Sri menyatakan keprihatinannya terhadap pembangunan yang berlebihan, “Menurut aku orang-orang dari luar itu sebenarnya mencari yang namanya kultur atau budayanya. Tetapi ketika melihat review di Icon Bali, sebenarnya mall-mall yang berdiri sekarang itu kayak kebanyakan.” Pradnya menambahkan, “Sekarang orang-orang itu ingin mendapat cuan yang instan dari pariwisata Bali. Mereka menggunakan segala cara yang eksploitatif biar lebih cepat cuan, tetapi itu merugikan banget khususnya untuk orang Bali itu sendiri.” Kedua perspektif ini menunjukkan betapa modernisasi dan kapitalisme telah mempengaruhi dan sering kali merusak esensi budaya dan tradisi Bali yang sebenarnya dicari oleh para wisatawan.

Gambar 2: Ragam ekspresi wajah peserta dalam mencerna gambar satu sama lain terkait Bali.

Oka, orang muda yang saat ini sedang sibuk mencari kampus untuk berkuliah, menggambarkan pengalaman sehari-hari yang kurang menyenangkan akibat kemacetan dan suhu yang meningkat, “Ekspektasi saya kan yang dari Jembrana melihat Denpasar adalah kota yang aktif dan produktif, tetapi aksesnya yang malah mempersulit, bikin tidak nyaman.” Pengalaman ini menggambarkan dampak negatif dari urbanisasi yang cepat tanpa perencanaan yang matang, yang berujung pada ketidaknyamanan baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan. 

Sementara itu, Lingga seorang perempuan pekerja menggambar timbangan dengan dua sisi yang berbeda, simbol modernisasi dan budaya, dan menyatakan kekagumannya pada kemampuan orang Bali dalam menyeimbangkan keduanya: “Satu hal yang masih membuat saya kagum dengan orang-orang Bali adalah mereka itu sangat balancing antara modernisasi sama culture gitu.” Namun, ia juga mencatat bahwa belakangan ini keseimbangan tersebut mulai goyah, lebih condong ke arah modernisasi.

Narasi-narasi ini menggambarkan bagaimana keunikan dan tantangan Bali dirasakan oleh penduduknya sendiri. Dari beban berlipat perempuan dalam sistem patriarki, keprihatinan terhadap pembangunan berlebihan yang merusak esensi budaya, hingga dampak urbanisasi yang mengurangi kenyamanan hidup, serta situasi keseimbangan kultur dan modernisasi saat ini. Semua perspektif ini memberikan gambaran menyeluruh tentang realitas yang dihadapi Bali, baik dari sisi positif maupun negatif. 

Pengaruh Pembangunan Pesat di Bali bagi Orang Muda

Pradnya menggambarkan pengaruh pembangunan di Bali melalui pengalamannya yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup mahal yang dituntut oleh pariwisata di Bali. “Bali itu sangat mahal dan sebagai orang Bali kalau misalnya kita nggak punya uang, kita nggak bisa menikmati Bali,” ujarnya, menggambarkan kesulitan yang dihadapi oleh penduduk lokal dalam menikmati fasilitas di daerah mereka sendiri.

Gambar 3: Gambar-gambar peserta ditampilkan untuk didiskusikan bersama.

Perasaan kebingungan dan kesedihan juga dirasakan oleh peserta lain, seperti Teli, seorang staf di Pamflet Generasi. Ia merasa miris melihat masyarakat Bali yang kesulitan mengakses fasilitas dasar seperti air bersih. Teli berbagi pengalamannya melihat ketimpangan antara kawasan wisata yang mewah dengan kondisi masyarakat di daerah pedalaman Bali yang kekurangan air. “Gue lihat ini dengan mata kepala gue, dan gue gak bisa ngapa-ngapain,” kata Teli. Ketimpangan ini juga disorot oleh Rista, orang muda yang aktif di Forum GenRe Provinsi Bali. Ia menggambarkan perasaannya dengan emoji fake smile. Rista mengkritik kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat lokal dan dampak pembangunan yang merugikan warga Bali sendiri. Rista juga memiliki kekhawatiran akan menurunnya pariwisata Bali karena kehilangan daya tariknya.

Sementara itu, Haris memberikan perspektif dari sudut pandang seorang difabel. Ia mengkritik buruknya infrastruktur yang ada, terutama trotoar yang tidak ramah bagi pejalan kaki dan difabel. “Terus ada motor banyak lewat dan sebagai seorang difabel saya merasa ini tidak safe untuk teman teman difabel terutama disabilitas netra, karena guiding block pun tidak menjamin.” Ia juga menambahkan kekesalannya pada minimnya pelibatan difabel dalam perencanaan Pembangunan. “Lebih ke kesal, dan mungkin ini kan sebenarnya sudah direncanakan pembangunannya, dan saya yakin tidak melibatkan difabelnya langsung untuk berdiskusi tentang ini.”

Gambar 4: Beberapa gambar peserta menunjukkan impian untuk kota yang aksesibel bagi siapa saja, khususnya warga dengan disabilitas.

Dari berbagai pandangan ini, terlihat bahwa pembangunan pesat di Bali membawa dampak yang kompleks dan beragam. Di satu sisi, ada perkembangan ekonomi dan infrastruktur, namun di sisi lain, banyak penduduk lokal yang merasa terpinggirkan dan tidak dapat menikmati manfaat dari pembangunan tersebut karena perencanaan yang tidak matang dan minimnya pelibatan masyarakat.

Ruang Hidup yang Ideal menurut Orang Muda di Bali

Berbeda dengan dua sesi pertanyaan sebelumnya, pada sesi ini selain menggambarkan hasil renungannya, fasilitator mengajak peserta untuk menambahkan gambar atau kata konsep pada hasil renungan teman sekelompoknya. Hal ini mendorong peserta untuk saling berkolaborasi, membangun imajinasi bersama tentang lingkungan ideal yang diimpikan.

Dita, seorang perempuan yang bekerja di Tsinghua South East Asia Center, dan Dewi, yang aktif di Ubud Writers and Readers Festival, mengungkapkan berbagai ide untuk mengatasi kemacetan. Dita menyoroti pentingnya memperbaiki transportasi publik sebagai salah satu solusi mengurangi kemacetan. “Sepertinya baik untuk mengurangi kemacetan itu mungkin salah satunya dengan membenahi transportasi publik,” kata Dita. Dewi menambahkan bahwa anggaran pemerintah, khususnya APBD, harus dialokasikan untuk membangun fasilitas pendukung transportasi tersebut. Ia juga menggambar lingkungan yang asri sebagai simbol kenyamanan dan keberlanjutan di masa depan.

Juni menggambarkan kelimpahan air yang merata untuk semua orang, dan menekankan pentingnya menjaga pohon sebagai penjaga sumber air. Ia menjelaskan bahwa air adalah sumber kehidupan dan menginginkan semua orang dapat mengaksesnya secara merata. Juni juga mendapat tambahan elemen eco-tourism tanpa pembangunan yang tinggi dari teman sekelompoknya. Sementara pada gambar Dewi, ia menambahkan pasar terbuka untuk menggambarkan adanya ruang untuk berinteraksi dan saling berbagi.

Kelompok selanjutnya mengungkapkan visi mereka tentang menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, yang mencerminkan kehidupan di pedesaan dengan akses yang lebih baik terhadap fasilitas dasar. Widi, dari East Bali Poverty Project (EBPP), menggambarkan suasana tenang di lereng Gunung Abang yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Ia membayangkan adanya rumah sakit dan sekolah yang dilambangkan dengan adanya simbol bendera, serta sumur yang melambangkan kerinduan akan akses air bersih. “Jujur, di lereng Gunung Abang di Desa Manik Aji itu mereka menampung air hujan. Bisa dibayangkan kita menggunakan itu untuk segala macam keperluan mereka,” ungkapnya. Widi berharap infrastruktur di tempat tersebut bisa diperbaiki, sehingga kehidupan di sana menjadi lebih nyaman dan layak.

Gambar 5 & 6: Proses menggambar teman Netra yang ditemani dengan teman bisik selama kegiatan; Peserta mengungkapkan harapan mengenai ruang hidup yang ideal.

Cika dari Minikino menambahkan bahwa ia menggambar jalan dan pasar dengan banyak orang serta hewan. Ia memimpikan tempat publik yang dinamis dan inklusif. “Pada intinya, aku memimpikan tempat-tempat publik yang bisa berkegiatan bersama, tempat-tempat musik, menikmati alam, melamun, dan masih bisa diisi akses gitu buat semua orang,” jelas Cika. Sementara itu, Eka menggambar rumah dan kata tenang yang mencerminkan ketenangan hidup di Karangasem yang jauh dari perkotaan. Ia juga konsisten menambahkan gambar pohon dan rumah pada hasil gambar temannya untuk menekankan suasana tenang.

Selanjutnya, Jayanti, anggota GenRe Provinsi Bali, menjelaskan bahwa ia menggambarkan lingkungan yang asri dan bebas polusi, dengan gunung berapi sebagai simbol kelimpahan alam yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Gambar gunung yang mendeskripsikan menurut pribadi saya menggambarkan lingkungan yang nyaman, dan itu asri tanpa adanya polusi dan padatnya pembangunan. Dan ini cukup ada gunungnya yang berapi, kita bisa memanfaatkan kelimpahan alam dengan sebaik-baiknya,” kata Jayanti.

Sementara itu Hendra, seorang mahasiswa, fokus pada pendidikan. Ia menggambarkan sekolah untuk menggambarkan pentingnya pendidikan untuk mewujudkan generasi emas 2045. Ia juga berharap generasi muda dapat menjaga pembangunan dan budaya di Bali serta mewariskannya kepada generasi berikutnya. 

Sesi ini ditutup dengan kesimpulan dari Ozi yang merasa bahwa gambaran-gambaran peserta saling melengkapi dan bisa membentuk sesuatu yang ideal jika dikombinasikan. “Imajinasi kita itu bisa dibangun bersama-sama meskipun beberapa fokus berbeda,” kata Ozi. Wilsa juga menambahkan, “Harapannya semua keluhan dan lamunannya enggak cuma jadi lamunan aja kedepannya. Tapi bisa jadi kenyataan,” ujar Wilsa, mengakhiri sesi dengan ajakan untuk bertindak lebih lanjut.

Gambar 7: Foto bersama seusai kegiatan Melamun.

Dari melamun kita dapat melihat betapa pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk bersuara dan berpartisipasi aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi sehari-hari. Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino merupakan sebuah upaya untuk merangkul aspirasi yang diharapkan dapat menghadirkan perubahan yang bermakna untuk mewujudkan masa depan Bali yang lebih baik. Jadi, saat semua semakin cepat, mari melamun!