Menenun Jaring di Sudut yang Tak Terawat: SIMPUL Rilis Riset Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda

Jakarta, 22 April 2026 – Pamflet Generasi bersama Kolektif Arungkala dan Dimusim mendiseminasikan hasil riset bertajuk Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid di Jakarta dan melalui Zoom Meeting, mempertemukan Jaring Kawan, partisipan riset, serta para peneliti dalam satu ruang reflektif  untuk membuka, mempertanyakan, dan merajut kembali hasil temuan sebagai bagian dari proses belajar kolektif.

Riset ini berlangsung sejak Agustus 2025 hingga awal 2026, melibatkan 24 orang muda dari 17 komunitas di Yogyakarta, Bali, Palangkaraya, dan Riau. Menggunakan pendekatanYouth-Led Participatory Action Research (PAR), riset ini menempatkan orang muda sebagai subjek penuh dalam proses penelitian, mulai dari perumusan pertanyaan, pengumpulan data melalui zine making, photovoice, transect walk, dan live-in, hingga pemaknaan temuan secara kolektif. 

Gerakan yang Tumbuh di Sudut yang Tak Terawat

Bayangkan seekor laba-laba yang menenun jaringnya di sudut ruangan yang jarang dibersihkan, di tempat yang terabaikan, yang luput dari perhatian. Itulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana gerakan iklim orang muda bekerja hari ini: hadir di celah-celah yang ditinggalkan negara, bergerak dengan sumber daya terbatas, dan seringkali berjalan sendiri-sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang muda peduli terhadap krisis iklim. Mereka sudah bergerak, tetapi bagaimana gerakan ini bisa bertahan dan tumbuh lebih kuat?

Dalam proses riset yang panjang, terpetakan 116 praktik keperawatan yang selama ini hidup diam-diam dalam keseharian gerakan iklim orang muda. Praktik ini terbagi dalam lima bentuk: merawat diri, merawat pengetahuan, merawat komunitas, merawat lingkungan, dan merawat sumber daya. Praktik yang paling dominan adalah merawat pengetahuan, yakni melalui produksi konten, pengarsipan, pelatihan, hingga diseminasi yang berfungsi sebagai alat edukasi dan strategi perlawanan terhadap narasi dominan. Sebaliknya, praktik merawat sumber daya menjadi yang paling minim akibat keterbatasan pendanaan dan akses, sehingga banyak komunitas akhirnya mengandalkan praktik urun daya dan saling menopang secara kolektif untuk menjaga keberlangsungan gerakan.

Jaring yang Tak Pernah Sama

Riset ini juga menemukan bahwa cara merawat dipengaruhi oleh lapisan identitas.  Komunitas Queer dan disabilitas cenderung menekankan produksi pengetahuan sebagai bentuk resistensi di tengah dunia yang cis-heteronormatif dan ableis. Sementara komunitas masyarakat adat menunjukkan praktik keperawatan yang lebih holistik: merawat lingkungan, budaya, pengetahuan, komunitas, dan sumber daya dalam satu napas yang tak terpisahkan. Selain itu, kedekatan dengan “titik destruksi” seperti kebakaran hutan, perampasan lahan, dan kerusakan ekosistem juga membentuk cara merawat. Semakin dekat dengan dampak krisis, semakin konkret dan mendesak bentuk keperawatannya.

Saatnya Beralih Rupa: Dari Laba-Laba Soliter Menjadi Laba-Laba Sosial

Dalam dunia laba-laba, sebagian kecil spesies berevolusi dari soliter menjadi sosial. Mereka menenun jaring secara kolektif, berbagi tangkapan, hingga merawat keturunan secara komunal. Perubahan ini bukan lahir dari kondisi yang ideal, melainkan dari tekanan lingkungan yang semakin keras menuntut strategi baru untuk bertahan. 

Gerakan iklim orang muda berada di titik serupa: ditekan dari luar oleh kebijakan represif dan sumber daya yang timpang, sekaligus ditekan dari dalam seperti burnout, kapasitas yang terbatas, dan kerja-kerja yang belum cukup terhubung satu sama lain. Dalam situasi ini, bertahan sebagai “laba-laba soliter” berarti terus menghadapi keterbatasan yang sama: jaring mudah putus, energi cepat habis, dan dampak sulit berkembang. Riset ini menjadi ajakan untuk beralih rupa: dari laba-laba soliter yang bergerak sendiri, menjadi laba-laba sosial yang menenun jaring bersama. 

Salah satu wujud nyata dari ajakan tersebut adalah Arisan Laba-Laba Sosial yang berlangsung di Yogyakarta dan Bali pada Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian riset aksi. Meminjam bentuk arisan namun menggeser maknanya, lapak ini bukan untuk barter uang, melainkan untuk membarter pengetahuan, pengalaman, dan praktik keperawatan yang selama ini tak terlihat. Sebuah eksperimen kolektif yang merayakan kerja-kerja intangible dalam gerakan. 

Menenun Jaring Lintas Generasi

Dalam sesi diseminasi, muncul pertanyaan perihal jaring lintas generasi: bagaimana “laba-laba muda” dan “laba-laba dewasa” bisa menenun jaring bersama? Jawaban yang muncul menekankan bahwa ruang pertemuan lintas generasi tidak terjadi secara alami, ia perlu diupayakan secara sadar, dengan desain yang memungkinkan percakapan setara, di mana pengalaman tidak menjadi otoritas tunggal dan pengetahuan baru tidak dianggap kurang valid. Pengalaman tim peneliti pun menunjukkan bahwa keterlibatan dengan mentor lintas generasi justru membuka perspektif baru dalam menentukan metodologi riset. Ketika dibangun dengan kesadaran dan kesetaraan, relasi ini menjadi sumber belajar, bukan hambatan.

Menenun Ulang yang Terus Koyak

Pada akhirnya, riset ini memperlihatkan bahwa kerja-kerja keperawatan tidak pernah benar-benar rapi atau linear. Ia hidup, berubah, penuh negosiasi, dan sering kali melelahkan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: pada kemampuannya untuk terus beradaptasi, bertahan, dan diperbarui.  Menjadi laba-laba sosial berarti menerima bahwa jaring akan terus koyak oleh waktu, konflik, dan keterbatasan. Tetapi selama kita masih saling terhubung, jaring itu selalu bisa ditenun kembali.

“Perawatan itu sekali saja nggak cukup. Pasti ada hal yang terjadi, dan semuanya harus dilakukan sebagai sebuah siklus yang mungkin nggak ada hentinya.”
– Nabila Auliani Ruray, Pamflet Generasi

Seperti laba-laba yang terus menenun ulang jaringnya, praktik keperawatan dalam gerakan juga bersifat siklik. Ia tidak selesai dalam satu kali perbaikan. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan kesediaan untuk kembali menenun lagi, lagi, dan lagi.

Riset ini tentu bukanlah sebuah panduan mutlak, melainkan dokumentasi atas keragaman taktik perlawanan dan siasat merawat yang secara organik dihidupi oleh Jaring Kawan di akar rumput. 

Unduh dan baca laporan utuh riset “Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda” melalui tautan berikut: https://pmflt.watify.id/produk/riset-laba-laba-sosial/# 

Melamun bersama Pamflet Generasi: Orang Muda dan Masa Depan Kopi di Tengah Krisis Iklim

Ditulis oleh: Anggita Raissa

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang muda di Indonesia. Terlebih, menjamurnya gerai kopi nan estetik telah mewadahi tren minum kopi orang muda—menjadikan aktivitas “ngopi” sebagai sebuah gaya hidup.

Seturut data dari Jakpat, persentase Gen Z di Indonesia yang meminum kopi setiap harinya berjumlah 66%. Sebanyak 37% orang meminum kopi untuk meningkatkan fokus saat bekerja dan sebanyak 45% peminum kopi menjadikan ngopi sebagai sarana untuk bersosialisasi.

Namun, kopi, minuman yang begitu dicintai itu, kini menghadapi ancaman serius dari krisis iklim. Perubahan iklim memengaruhi produksi kopi secara signifikan, terutama di negara-negara produsen seperti Indonesia.

Merespons tantangan tersebut,, Pamflet Generasi mengadakan kegiatan “Melamun” dengan tema “Masa Depan dalam Cangkir Kopi” pada Minggu, 11 Agustus 2024. Melamun sendiri merupakan serangkaian ruang diskusi yang meletakkan peserta sebagai aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan, sembari mengajak untuk membayangkan ulang realita sosial di sekitar. 

Acara ini menjadi bagian dalam rangkaian perayaan Hari Orang Muda Sedunia yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus. Tujuan dari kegiatan ini untuk memahami bagaimana krisis iklim dapat mengancam masa depan kopi di Indonesia dan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. 

Dalam kegiatan Melamun, peserta yang hadir cukup beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, pegiat lingkungan, pegiat HAM, teman netra, dan teman Tuli. 

Kegiatan melamun diawali dengan coffee cupping yang dijelaskan langsung oleh Zul (24), kurator kopi dari Libertad Union Coffee Roaster. Coffee cupping adalah metode yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi kualitas kopi. Metode ini digunakan untuk menganalisis berbagai aspek rasa dan aroma kopi.

“Kopi itu tidak konsisten secara kualitas dari tahun ke tahun dan setiap panen ke panen termasuk seduhannya. Nah, seduhan ini jadi jalan akhir untuk kita mengkurasi kopi. Metode ini digunakan dari hulu ke hilir, artinya dari petani sampai ke barista dengan tujuan mengevaluasi rasa kopi,” ujar Zul saat memaparkan materi coffee cupping kepada peserta melamun.

Gambar 1: Para peserta kegiatan terlihat antusias saat menyimak presentasi dari Zul mengenai materi coffee cupping.

Kata Zul, kondisi iklim juga berpengaruh terhadap kualitas kopi. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, dan curah hujan memainkan peran penting dalam menentukan kualitas biji kopi. Masih kata Zul, ketika iklim tidak stabil, tanaman kopi dapat mengalami stres, yang menyebabkan perubahan dalam rasa dan aroma biji kopi. Sebuah studi menunjukkan jumlah lahan yang cocok untuk budidaya kopi berpotensi berkurang sebesar 50% pada 2050 nanti akibat dari krisis iklim.

“Tanaman Kopi membutuhkan Ph tanah yang baik, curah hujan, ketinggian, suhu dan lainnya di lingkungan sekitar untuk tumbuh. jika hal tersebut tidak memenuhi standar, maka akan berpengaruh terhadap kualitas atau kuantitas panen,” ujarnya.

Setelah proses cupping selesai, Zul menerangkan kopi dapat dievaluasi menggunakan score sheet atau lembar penilaian. Score sheet dapat membantu menilai kualitas kopi berdasarkan aroma, rasa, tingkat keasaman (acidity), sampai rasa sisa setelah mencicipi kopi (aftertaste).

Gambar 2: Zul tengah mempresentasikan materi score sheet yang digunakan dalam proses coffee cupping untuk mencatat dan menilai berbagai aspek dari kopi. 

Gambar 3: Peserta sedang melakukan cupping. Mereka mencicipi tiga origin kopi yang berbeda-beda.

“Karena metode ini terlalu rumit untuk kita lakukan. Jadi, hari ini kita akan menilai rasa kopi dari lidah kita sendiri,” imbuh Zul.

Setelah melakukan cupping, peserta diajak untuk melamun lewat pertanyaan-pertanyaan reflektif yang kemudian didiskusikan bersama-sama, mulai dari pertanyaan, jika kopi hilang apa yang berubah dalam hidupmu? Kemudian ada juga pertanyaan terkait lingkungan seperti apa yang membuat pengalaman minum kopi menjadi lebih ideal?Diskusi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan pribadi peserta dengan kopi dan dampaknya terhadap keseharian mereka.

“Apa yang akan berubah dalam hidupmu jika kopi hilang?”

Nisa (21), salah seorang teman Tuli punya pendapat soal pertanyaan tersebut, baginya kopi dapat memengaruhi tingkat energi seseorang. Kopi jadi cara jitu Nisa untuk menghilangkan rasa kantuk saat belajar. Tanpa kopi, ia merasa sulit untuk mempertahankan konsentrasi dan produktivitasnya. 

 “Kopi membantu saya tetap terjaga dan fokus saat menghadapi banyak tugas kuliah dan ujian,” jelas Nisa. 

Senada dengan Nisa, Ninies (29)  juga mengungkapkan kekhawatirannya ketika kopi hilang akan memengaruhi caranya merencanakan dan menjalani hari-harinya. Ninies juga memikirkan kemungkinan harus menyesuaikan aktivitasnya dan menemukan cara baru untuk mengatasi stres.

“Saya khawatir saya akan kehilangan cara efektif untuk mengatasi kelelahan dan mungkin harus mencari metode lain yang tidak seefektif kopi,” katanya. 

Keduanya, Nisa dan Ninies, menyadari betapa kopi memainkan peran penting dalam kehidupan mereka, tidak hanya sebagai penyulut energi, tetapi juga sebagai bagian dari rutinitas yang memberikan kenyamanan yang membentuk aktivitas mereka sehari-hari. Diskusi ini menggambarkan betapa kedekatan dengan kopi bisa menjadi hal yang sangat pribadi dan memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari.

Kegiatan melamun ini juga menantang peserta untuk membayangkan lingkungan ideal yang dapat mendukung pengalaman minum kopi di masa depan. Tentu, dengan tantangan perubahan iklim yang mengancam keberadaan kopi.

“Dalam lamunanmu, lingkungan seperti apa yang menurutmu dapat membuat pengalaman minum kopi lebih ideal?”

Krisis Iklim Bikin Akses Ngopi Makin Terbatas

Kopi yang kita nikmati tentu tidak muncul begitu saja di meja kita. Ada rantai panjang mulai dari penanaman hingga pemrosesan yang melibatkan banyak pihak. Tanaman kopi membutuhkan kondisi iklim yang stabil untuk tumbuh dengan baik. Namun, perubahan iklim yang makin ekstrem mengancam kestabilan tanaman kopi.

Krisis iklim, seperti kenaikan suhu global dan perubahan pola hujan, dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen kopi. Ini bukan hanya tentang perubahan rasa atau aroma, tetapi juga tentang dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Tanaman kopi yang terancam oleh perubahan iklim bisa menjadi lebih sulit ditemukan, dan akibatnya, kopi bisa menjadi barang yang mahal atau bahkan berujung langka.

Gambar 4: Para peserta melamun sedang berdiskusi mengenai dampak yang ditimbulkan dari krisis iklim terhadap tanaman kopi yang juga berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari.

Eca (39), salah satu peserta dalam diskusi melamun berpendapat bahwa krisis iklim telah memengaruhi harga kopi secara signifikan. Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem dan suhu yang tidak menentu akibat hilangnya tutupan hutan, berpengaruh terhadap kelangsungan tanaman kopi.

“Hari gini, tuh, harga kopi di kota-kota besar makin mahal. Selain itu, tutupan hutan sudah berkurang, jadi mungkin ini juga yang membuat harga kopi mahal karena krisis iklim,” kata Eca.

Berbeda dengan Eca, Gemma (26) memandang kopi mahal sebagai akibat dari proses industrialisasi kopi yang  membuat beberapa orang sulit untuk mengakses kopi dengan setara.

“Komunitas kopi setiap daerah itu berbeda-beda. Dari kopi sebenarnya kita bisa melihat bagaimana kemiskinan yang timpang juga memengaruhi kita untuk mengakses kopi. Kalo di daerah, segelas kopi itu masih dikisaran harga Rp10 ribu-Rp15 ribu. Tapi kalau di Jakarta secangkir kopi bisa dibandrol harga mulai dari Rp40 ribu,” kata Gemma.

Menjaga Secangkir Kopi Tetap Ada

Ebi (21) peserta dalam kegiatan melamun mengungkapkan pentingnya kesadaran terhadap dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.

“Kopi yang kita minum itu nggak tiba-tiba ada di meja kita. Ada proses panjang di sana, ada faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. kalau krisis iklim terus-terusan terjadi, dampak terhadap kualitas jenis-jenis kopi tersebut bisa kita rasain langsung, kopi bisa aja jadi barang langka. Terus nanti akan berdampak ke roda-roda perekonomian, petani kopi yang paling dirugikan di sana. Kopi nanti jadi mahal banget, kalau kopi mahal nggak semua orang bisa ngerasain nikmatnya kopi lagi. Makannya, aku percaya isu krisis iklim ini, isu yang penting buat dibahas sama siapapun,” kata Ebi.

Ebi juga berpendapat bahwa kenikmatan sederhana seperti secangkir kopi bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, karena perubahan iklim dapat mengancam keberadaan tanaman kopi dan aksesibilitas bagi siapa saja yang mengambil manfaat dari kopi. Ia juga berharap akan ada banyak orang yang semakin peduli dengan isu ini agar eksistensi kopi terus ada.

“Di dunia yang enggak ideal ini, di mana suhu bumi makin panas, polusi udara terus terjadi, semoga kita bisa terus ngerasain kenikmatan-kenikmatan kecil yang diberi langsung sama alam,” ungkap Ebi.

Dengan meningkatkan kesadaran dan bertindak secara kolektif, kita dapat melindungi kenikmatan-kenikmatan kecil yang kita nikmati dari alam, dan memastikan bahwa generasi mendatang juga dapat merasakannya. 

Jadi, ayo ambil peranmu untuk kebaikan bumi, sekarang!

Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino: Menyimak Tantangan dan Harapan Orang Muda di Bali

Ditulis oleh: Zariqoh Ainnayah Silviah

Aktivitas melamun seringkali dipandang sebagai kebiasaan yang tidak produktif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa melamun memiliki manfaat penting. Kalina Christoff, seorang peneliti dari University of British Columbia, menemukan bahwa melamun melibatkan beberapa area otak yang berhubungan dengan pemecahan masalah, pemrosesan memori, dan perencanaan masa depan. Pada Sabtu, 15 Juni 2024, Pamflet Generasi dan Minikino mengadakan kegiatan “melamun” untuk merespons pesatnya pembangunan di Bali. 

Melamun merupakan serangkaian diskusi yang diinisiasi Pamflet Generasi di mana peserta menjadi aktor utama dalam proses produksi dan reproduksi pengetahuan dengan berangkat dari pengalamannya masing-masing. Melamun memungkinkan setiap peserta berbagi keresahan serta membangun ide bersama untuk kehidupan yang lebih ideal bagi mereka. 

Melamun edisi ketiga ini diselenggarakan di Micro Art Shop House (MASH) Denpasar dengan mengusung tema “Saat semua semakin cepat, mari melamun”. Difasilitasi oleh Wilsa dari Pamflet Generasi dan Ozi dari Minikino, Melamun mendiskusikan bagaimana orang muda yang tinggal dan tumbuh besar di Bali memaknai dan menavigasikan hidupnya di tengah pembangunan yang sangat pesat. Mereka juga diajak untuk bersama-sama membayangkan ulang realita yang lebih baik.

Peserta melamun kali ini beragam, mulai dari orang muda yang sedang mencari kampus untuk berkuliah, mahasiswa, relawan di organisasi masyarakat sipil maupun lembaga pemerintah, jurnalis, pekerja yang sehari-hari bekerja di laut, hingga penulis. Isu-isu yang ditekuni juga beragam, mulai dari disabilitas, hak kesehatan seksual reproduksi, lingkungan, hingga kemiskinan.

Gambar 1: Ragam peserta Melamun saling berbaur saat makan siang bersama.

Kegiatan melamun diawali dengan pemutaran film pemantik berjudul Air untuk Wasa (2015) yang disutradarai oleh I Made Suarbawa atau akrab disapa Birus. Film ini bercerita mengenai seorang anak yang memiliki tantangan dalam mengakses air bersih di desanya. Meski diproduksi pada tahun 2015, film ini dianggap masih relevan hingga saat ini, mengingat air masih menjadi permasalahan serius di sebagian wilayah di Provinsi Bali. 

“Bali itu sedang tidak baik-baik saja, kita sedang tidak dalam persediaan air yang mencukupi. Mungkin kita bisa sangat mudah menikmati di daerah-daerah Denpasar atau Bali Selatan. Tetapi masih banyak banget di Bali Utara, Bali Timur, Bali Barat, itu susah sekali yang namanya air,” terang Juni dari Bale Bengong saat menanggapi film Air untuk Wasa.

Setelah menonton film bersama dan berdiskusi tentang film Air untuk Wasa, sesi selanjutnya adalah sesi utama yaitu melamun. Proses melamun mengacu pada tiga pertanyaan pemantik yang telah disiapkan. Pada setiap sesi pertanyaan, fasilitator mengajak peserta merenungkan pertanyaan dan menggambar atau menuliskan kata konsep dari hasil renungannya. Fasilitator juga meminta beberapa peserta menceritakan gambar atau kata konsep yang telah ditulis. Dengan cara ini, melamun tidak hanya membantu peserta merefleksikan keresahan pribadi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi keresahan dengan orang lain. 

Bali dalam Lensa Orang Muda

Peserta memotret Bali dari berbagai sisi. Komang, seorang perempuan penulis menggambarkan Bali dengan simbol perempuan yang menggunakan cepol atau konde, dengan batu di atasnya. Hal ini menggambarkan sistem patriarki di Bali yang tetap menuntut perempuan berperan dalam ekonomi. Ia mengatakan, “Patriarki di Bali itu bukan patriarki absolut. Jadi walaupun patriarkis, perempuan memegang kendali untuk ekonomi, untuk perdagangan. Bahkan ada yang bekerja sebagai tukang bangunan.” Pengamatan ini menyoroti beban perempuan Bali yang berlipat, karena selain harus menjalankan peran domestik sebagai tuntutan dari sistem patriarki, mereka juga memegang tanggung jawab ekonomi. 

Dayu Sri, seorang mahasiswa, dan Pradnya, seorang pekerja sosial, menyoroti perkembangan pesat yang mengubah wajah Bali. Dayu Sri menyatakan keprihatinannya terhadap pembangunan yang berlebihan, “Menurut aku orang-orang dari luar itu sebenarnya mencari yang namanya kultur atau budayanya. Tetapi ketika melihat review di Icon Bali, sebenarnya mall-mall yang berdiri sekarang itu kayak kebanyakan.” Pradnya menambahkan, “Sekarang orang-orang itu ingin mendapat cuan yang instan dari pariwisata Bali. Mereka menggunakan segala cara yang eksploitatif biar lebih cepat cuan, tetapi itu merugikan banget khususnya untuk orang Bali itu sendiri.” Kedua perspektif ini menunjukkan betapa modernisasi dan kapitalisme telah mempengaruhi dan sering kali merusak esensi budaya dan tradisi Bali yang sebenarnya dicari oleh para wisatawan.

Gambar 2: Ragam ekspresi wajah peserta dalam mencerna gambar satu sama lain terkait Bali.

Oka, orang muda yang saat ini sedang sibuk mencari kampus untuk berkuliah, menggambarkan pengalaman sehari-hari yang kurang menyenangkan akibat kemacetan dan suhu yang meningkat, “Ekspektasi saya kan yang dari Jembrana melihat Denpasar adalah kota yang aktif dan produktif, tetapi aksesnya yang malah mempersulit, bikin tidak nyaman.” Pengalaman ini menggambarkan dampak negatif dari urbanisasi yang cepat tanpa perencanaan yang matang, yang berujung pada ketidaknyamanan baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan. 

Sementara itu, Lingga seorang perempuan pekerja menggambar timbangan dengan dua sisi yang berbeda, simbol modernisasi dan budaya, dan menyatakan kekagumannya pada kemampuan orang Bali dalam menyeimbangkan keduanya: “Satu hal yang masih membuat saya kagum dengan orang-orang Bali adalah mereka itu sangat balancing antara modernisasi sama culture gitu.” Namun, ia juga mencatat bahwa belakangan ini keseimbangan tersebut mulai goyah, lebih condong ke arah modernisasi.

Narasi-narasi ini menggambarkan bagaimana keunikan dan tantangan Bali dirasakan oleh penduduknya sendiri. Dari beban berlipat perempuan dalam sistem patriarki, keprihatinan terhadap pembangunan berlebihan yang merusak esensi budaya, hingga dampak urbanisasi yang mengurangi kenyamanan hidup, serta situasi keseimbangan kultur dan modernisasi saat ini. Semua perspektif ini memberikan gambaran menyeluruh tentang realitas yang dihadapi Bali, baik dari sisi positif maupun negatif. 

Pengaruh Pembangunan Pesat di Bali bagi Orang Muda

Pradnya menggambarkan pengaruh pembangunan di Bali melalui pengalamannya yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup mahal yang dituntut oleh pariwisata di Bali. “Bali itu sangat mahal dan sebagai orang Bali kalau misalnya kita nggak punya uang, kita nggak bisa menikmati Bali,” ujarnya, menggambarkan kesulitan yang dihadapi oleh penduduk lokal dalam menikmati fasilitas di daerah mereka sendiri.

Gambar 3: Gambar-gambar peserta ditampilkan untuk didiskusikan bersama.

Perasaan kebingungan dan kesedihan juga dirasakan oleh peserta lain, seperti Teli, seorang staf di Pamflet Generasi. Ia merasa miris melihat masyarakat Bali yang kesulitan mengakses fasilitas dasar seperti air bersih. Teli berbagi pengalamannya melihat ketimpangan antara kawasan wisata yang mewah dengan kondisi masyarakat di daerah pedalaman Bali yang kekurangan air. “Gue lihat ini dengan mata kepala gue, dan gue gak bisa ngapa-ngapain,” kata Teli. Ketimpangan ini juga disorot oleh Rista, orang muda yang aktif di Forum GenRe Provinsi Bali. Ia menggambarkan perasaannya dengan emoji fake smile. Rista mengkritik kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat lokal dan dampak pembangunan yang merugikan warga Bali sendiri. Rista juga memiliki kekhawatiran akan menurunnya pariwisata Bali karena kehilangan daya tariknya.

Sementara itu, Haris memberikan perspektif dari sudut pandang seorang difabel. Ia mengkritik buruknya infrastruktur yang ada, terutama trotoar yang tidak ramah bagi pejalan kaki dan difabel. “Terus ada motor banyak lewat dan sebagai seorang difabel saya merasa ini tidak safe untuk teman teman difabel terutama disabilitas netra, karena guiding block pun tidak menjamin.” Ia juga menambahkan kekesalannya pada minimnya pelibatan difabel dalam perencanaan Pembangunan. “Lebih ke kesal, dan mungkin ini kan sebenarnya sudah direncanakan pembangunannya, dan saya yakin tidak melibatkan difabelnya langsung untuk berdiskusi tentang ini.”

Gambar 4: Beberapa gambar peserta menunjukkan impian untuk kota yang aksesibel bagi siapa saja, khususnya warga dengan disabilitas.

Dari berbagai pandangan ini, terlihat bahwa pembangunan pesat di Bali membawa dampak yang kompleks dan beragam. Di satu sisi, ada perkembangan ekonomi dan infrastruktur, namun di sisi lain, banyak penduduk lokal yang merasa terpinggirkan dan tidak dapat menikmati manfaat dari pembangunan tersebut karena perencanaan yang tidak matang dan minimnya pelibatan masyarakat.

Ruang Hidup yang Ideal menurut Orang Muda di Bali

Berbeda dengan dua sesi pertanyaan sebelumnya, pada sesi ini selain menggambarkan hasil renungannya, fasilitator mengajak peserta untuk menambahkan gambar atau kata konsep pada hasil renungan teman sekelompoknya. Hal ini mendorong peserta untuk saling berkolaborasi, membangun imajinasi bersama tentang lingkungan ideal yang diimpikan.

Dita, seorang perempuan yang bekerja di Tsinghua South East Asia Center, dan Dewi, yang aktif di Ubud Writers and Readers Festival, mengungkapkan berbagai ide untuk mengatasi kemacetan. Dita menyoroti pentingnya memperbaiki transportasi publik sebagai salah satu solusi mengurangi kemacetan. “Sepertinya baik untuk mengurangi kemacetan itu mungkin salah satunya dengan membenahi transportasi publik,” kata Dita. Dewi menambahkan bahwa anggaran pemerintah, khususnya APBD, harus dialokasikan untuk membangun fasilitas pendukung transportasi tersebut. Ia juga menggambar lingkungan yang asri sebagai simbol kenyamanan dan keberlanjutan di masa depan.

Juni menggambarkan kelimpahan air yang merata untuk semua orang, dan menekankan pentingnya menjaga pohon sebagai penjaga sumber air. Ia menjelaskan bahwa air adalah sumber kehidupan dan menginginkan semua orang dapat mengaksesnya secara merata. Juni juga mendapat tambahan elemen eco-tourism tanpa pembangunan yang tinggi dari teman sekelompoknya. Sementara pada gambar Dewi, ia menambahkan pasar terbuka untuk menggambarkan adanya ruang untuk berinteraksi dan saling berbagi.

Kelompok selanjutnya mengungkapkan visi mereka tentang menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, yang mencerminkan kehidupan di pedesaan dengan akses yang lebih baik terhadap fasilitas dasar. Widi, dari East Bali Poverty Project (EBPP), menggambarkan suasana tenang di lereng Gunung Abang yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Ia membayangkan adanya rumah sakit dan sekolah yang dilambangkan dengan adanya simbol bendera, serta sumur yang melambangkan kerinduan akan akses air bersih. “Jujur, di lereng Gunung Abang di Desa Manik Aji itu mereka menampung air hujan. Bisa dibayangkan kita menggunakan itu untuk segala macam keperluan mereka,” ungkapnya. Widi berharap infrastruktur di tempat tersebut bisa diperbaiki, sehingga kehidupan di sana menjadi lebih nyaman dan layak.

Gambar 5 & 6: Proses menggambar teman Netra yang ditemani dengan teman bisik selama kegiatan; Peserta mengungkapkan harapan mengenai ruang hidup yang ideal.

Cika dari Minikino menambahkan bahwa ia menggambar jalan dan pasar dengan banyak orang serta hewan. Ia memimpikan tempat publik yang dinamis dan inklusif. “Pada intinya, aku memimpikan tempat-tempat publik yang bisa berkegiatan bersama, tempat-tempat musik, menikmati alam, melamun, dan masih bisa diisi akses gitu buat semua orang,” jelas Cika. Sementara itu, Eka menggambar rumah dan kata tenang yang mencerminkan ketenangan hidup di Karangasem yang jauh dari perkotaan. Ia juga konsisten menambahkan gambar pohon dan rumah pada hasil gambar temannya untuk menekankan suasana tenang.

Selanjutnya, Jayanti, anggota GenRe Provinsi Bali, menjelaskan bahwa ia menggambarkan lingkungan yang asri dan bebas polusi, dengan gunung berapi sebagai simbol kelimpahan alam yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Gambar gunung yang mendeskripsikan menurut pribadi saya menggambarkan lingkungan yang nyaman, dan itu asri tanpa adanya polusi dan padatnya pembangunan. Dan ini cukup ada gunungnya yang berapi, kita bisa memanfaatkan kelimpahan alam dengan sebaik-baiknya,” kata Jayanti.

Sementara itu Hendra, seorang mahasiswa, fokus pada pendidikan. Ia menggambarkan sekolah untuk menggambarkan pentingnya pendidikan untuk mewujudkan generasi emas 2045. Ia juga berharap generasi muda dapat menjaga pembangunan dan budaya di Bali serta mewariskannya kepada generasi berikutnya. 

Sesi ini ditutup dengan kesimpulan dari Ozi yang merasa bahwa gambaran-gambaran peserta saling melengkapi dan bisa membentuk sesuatu yang ideal jika dikombinasikan. “Imajinasi kita itu bisa dibangun bersama-sama meskipun beberapa fokus berbeda,” kata Ozi. Wilsa juga menambahkan, “Harapannya semua keluhan dan lamunannya enggak cuma jadi lamunan aja kedepannya. Tapi bisa jadi kenyataan,” ujar Wilsa, mengakhiri sesi dengan ajakan untuk bertindak lebih lanjut.

Gambar 7: Foto bersama seusai kegiatan Melamun.

Dari melamun kita dapat melihat betapa pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk bersuara dan berpartisipasi aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi sehari-hari. Melamun bersama Pamflet Generasi dan Minikino merupakan sebuah upaya untuk merangkul aspirasi yang diharapkan dapat menghadirkan perubahan yang bermakna untuk mewujudkan masa depan Bali yang lebih baik. Jadi, saat semua semakin cepat, mari melamun!

Curang dan Telanjang

Diolah dari ilustrasi pixabay/Canva

Ditulis oleh: Tsamarah Atikah Nurdiyanah

aku adalah anak ibuku yang tidak suka curang
aku lebih suka menanam kepahitan
lalu menelannya menjadi kenyataan 
maka dari itu, aku selalu telanjang 
sambil memasang peringatan

mayat hidup di rumah ini hafal ayat-ayat televisi 
mana yang sumbang 
mana yang jalang

ibuku sangat senang sampai 
ia merancang perayaan paling pahit 
yang disajikan di depan kitab anti-totalitarianisme 
“biar saja anakku telanjang 
tapi dia kan tidak curang, Pak!”

aku diantarkan pada suatu tempat aman
dimana aku hanya bisa berfirman 
dan telanjang 
tanpa harus curang

“aku abadi 
dan kau
adalah dunia yang tidak mampu
membeli kemerdekaanku 
selayaknya manusia”

(2022)

Tentang Penulis

Tsamarah Atikah Nurdiyanah, atau biasa dipanggil Rara, adalah seorang penulis puisi dan mahasiswa ilmu hukum dari Universitas Terbuka.

Tolong Ajari Aku

Diolah dari ilustrasi sparklestroke/Canva

Ditulis oleh: Vanny 

Seorang puan duduk termenung di kursi belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan online yang tak kunjung selesai. Banyak kritik dan tak ada  apresiasi keluar dari setiap senior yang telah membaca naskah puan. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, puan hanya bisa menangis dan menangis. Serasa segala upaya telah dikeluarkan lewat setiap dialog yang benar-benar ia pikirkan tidak sebanding dengan ekspektasi para seniornya. Seruan dan perintah untuk berupaya lebih keras sudah berkali-kali puan dengar. Puisi di tisunya menjadi kesedihan yang abadi:

Aku seorang yang bodoh mengharap pembelajaran

Anda seorang yang mahir berharap kesempurnaan 

Tak bisakah ajari aku dengan perlahan 

Aku tidak membutuhkan cerita kerja kerasmu

Aku hanya butuh ajaranmu 

Memang benar, zamanmu segalanya tak pasti 

Tapi tolong untuk kali ini jangan bandingkan dengan zamanku 

Jangan mencela orang-orang di dalamnya 

Aku sudah berusaha keras

Seluruh imajinasi menjadi buram 

Hargai aku, hargai karyaku, hargai kerja kerasku

Tentang penulis

Vanny adalah seorang puan yang berusaha mencari makna hidup. Setiap pelajaran dalam hidup akan ia abadikan dalam diarynya.