Melamun, Mencari Jalan Pulang, dan Catatan-catatan Orang Muda Bali Tentang Apa Yang Telah Berubah

Dalam tulisan ini, Komang bercerita tentang kesadaran ekologis yang lahir dari pengakuan atas pengalaman sehari-hari. Khususnya, pengalaman pulang, interaksi seseorang dengan rumah, dan segala yang berubah dalam ruang hidup tersebut. Tulisan ini adalah refleksi Komang terhadap kegiatan Melamun* edisi ‘Mencari Jalan Pulang’ yang berlangsung di Bali pada 5 Juli 2026.


Sore hari, di kawasan Denpasar Utara, saya, Ai, dan Raafi menyusuri lapangan Lumintang yang akan menjadi tempat diadakannya aktivitas Melamun. Saya sudah lupa kapan terakhir kali menyusuri lapangan ini, mendengar keramaian jalanan yang jauh dengan hilir mudik aktivitas manusia, dan merasakan terpaan sinar matahari juga hembusan angin sepoi—bukannya dengung pendingin udara.

Di sebuah titik di lapangan Lumintang yang dinaungi rimbun pepohonan, kami menggelar tikar seadanya dan mulai berkumpul dalam lingkaran yang berjumlah sekitar sembilan belas orang muda dari berbagai latar belakang, termasuk saya, Ai, dan Raafi. Di tengah-tengah kami, ada berbagai mainan yang bisa dipilih peserta untuk memberi stimulasi sensori sambil bersenda gurau dalam rangkaian Melamun kali ini.

Ada kebutuhan untuk berbagi yang begitu besar yang saya rasakan kala kami berkumpul dalam suasana keakraban yang amat saya rindukan. “Begini lah pulang,” pikir saya kala itu. Saya sudah lama meresahkan tentang pulang, rumah, dan definisinya. Karena, setiap kali pulang ke kampung halaman setelah menjalani perkuliahan di Kota Malang, saya hanya menemukan perubahan demi perubahan yang terjadi di rumah yang saya tinggali.

Perubahan itu acapkali tidak menyenangkan. Sedikit demi sedikit, terakumulasi setiap saya kembali, dan hanya semakin membuat saya resah dan tidak nyaman untuk kembali pulang.

Saya mulai menyadari bahwa ada begitu banyak alasan bagi saya untuk tidak pulang, sebanyak alasan untuk tetap pulang. Setiap jeda dan rentang waktu yang saya tempuh di luar sana, perlahan-lahan membuat saya menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang berubah tentang alasan saya pulang, tentang rumah yang berubah, dan tentang semua yang terjadi di antara dan setelahnya.

Kuliah, kerja, aktivisme—semuanya telah menyibukkan setiap dari kita dengan hari-hari yang penuh dan pekerjaan yang panjang. Pulang dan rumah adalah dua hal yang bisa membuat kita mengambil jeda dari segala hiruk pikuk semua kesibukan itu. Saya yakin, beberapa orang bisa mendefinisikan pulang dan rumah dengan mudah. Sebaliknya, beberapa orang lain sulit mendefinisikannya. Karena itu lah, saya kira betapa banyak hal yang bisa kita bagi dalam perjalanan kita mencari jalan pulang dan merasakan hal-hal yang telah berubah dari rumah kita sendiri.

Catatan-Catatan dan Lamunan

Melamun di sore itu dimulai dengan pemaparan singkat dari Ai perihal konsep dan gambaran singkat kegiatan Melamun, kemudian saya melanjutkan sesi dengan sepintas pengantar dan cerita tentang apa yang mendasari konsep Melamun kali ini. Saya bercerita tentang perasaan pulang yang berbeda setelah merantau, bagaimana saya terlepas dari segala informasi kebencanaan di Bali, dan bagaimana kepulangan akhirnya mengembalikan saya pada realitas yang selama ini hanya bisa saya amati dari kanal berita di ponsel.

Kemudian, moderator Melamun, yakni kak Nabila, memandu peserta untuk sesi Selanjutnya. Peserta diberikan pertanyaan pemantik pertama. Pertanyaannya adalah, “Apa makna pulang untukmu?” Setiap peserta berkesempatan untuk memberikan pendapat mereka tentang makna pulang dan menceritakan pandangan mereka.

Kemudian, setelah seluruh peserta membagikan pendapat mereka, Kak Nabila melanjutkan sesi dengan pertanyaan pemantik berikutnya, “apa yang baru kamu temukan dan berubah ketika pulang? Kenapa itu berubah?”

Di sesi kali ini, peserta dipandu untuk menggambar hal-hal yang telah berubah dalam kepulangan mereka, dan mengapa menurut mereka hal itu berubah. Setiap peserta menceritakan gambar yang mereka buat dengan penuh atensi. Seorang peserta yang berasal dari Papua menunjukkan gambar Pulau Papua dan membaginya dalam warna hijau dan cokelat. Ia menceritakan bagaimana deforestasi, yang terjadi akibat alih fungsi lahan, telah menghabiskan sebagian besar hutan di Papua.

Kemudian, salah seorang peserta menunjukan gambarnya dan bercerita tentang kampung halamannya yang berada di kawasan industri. Ia menjelaskan tentang lingkungan tempat tinggalnya yang selalu bersuhu panas dan langit yang kelabu setiap saat. Kemudian, ia bercerita tentang betapa berbedanya situasi di kampung halamannya dengan situasi di lingkungan tempat ia merantau.

Keenam belas peserta masing-masing  menceritakan gambar yang telah mereka buat. Baru lah menjelang petang, sesi kedua kemudian usai. oderator lantas memandu peserta untuk sesi terakhir, yakni Melamun itu sendiri.

“Saatnya melamun! Dari yang berubah dan hilang itu, apa bayangan pulang yang ideal untukmu?”

Seluruh peserta sejenak berada dalam momen kontemplatif, melamun dan membayangkan rumah dan lingkungan hidup yang lebih ideal dan lebih baik untuk mereka pulang.

Di sesi terakhir ini, Desi, sebagai peserta sekaligus perwakilan dari Koalisi Pulihkan Bali, membagikan upaya yang tengah diperjuangkan masyarakat Bali. Melalui mekanisme gugatan warga negara (Citizen Lawsuit), masyarakat Bali mendorong perubahan kebijakan dan tata kelola yang lebih berpihak pada lingkungan, serta keberlanjutan dan keselamatan warga Bali. Khususnya, setelah banjir besar (Blabar Agung) yang menewaskan sekitar delapan belas warga di seluruh Bali pada tahun 2025 yang lalu.

Data Koalisi Pulihkan Bali memperlihatkan hilangnya 6.522 hektare sawah dalam lima tahun terakhir. Sementara, ruang terbuka hijau Kota Denpasar hanya tersisa sekitar 3,2 persen, jauh di bawah standar minimal 30 persen. Dalam konteks ini, banjir telah memberikan konsekuensi bagi tata kelola ruang yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Upaya Pulihkan Bali mengajukan gugatan warga negara menjadi penanda bahwa persoalan ekologis telah bergeser menjadi tuntutan politik dan hukum.

Melamun edisi ‘Mencari Jalan Pulang’ menawarkan pendekatan reflektif yang menempatkan pengalaman hidup peserta sebagai sumber utama pengetahuan. Terinspirasi dari gagasan pendidikan kaum tertindas (Pedagogy of the Oppressed) oleh Paulo Freire, kegiatan ini mengajak orang muda memaknai ulang arti ‘pulang’ melalui pertanyaan tentang perubahan yang mereka saksikan, kehilangan yang mereka alami, dan bayangan mengenai rumah yang ideal. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya membangun kesadaran ekologis dari pengalaman sehari-hari, bukan semata melalui konsep besar yang sering dikampanyekan.

Kolaborasi SIMPUL, Koalisi Pulihkan Bali, dan Pamflet Generasi juga menunjukkan bagaimana ruang belajar warga dapat menjadi bagian dari gerakan advokasi lingkungan yang lebih luas. Dengan melibatkan sekitar dua puluh organisasi masyarakat sipil, komunitas, hingga kelompok mahasiswa, kegiatan ini berupaya mempertemukan refleksi personal dengan aksi kolektif. Dari sana, kita diingatkan  bahwa menjaga Bali adalah tentang keberanian untuk kembali mengingat, mempertanyakan, dan membayangkan masa depan yang layak dan lebih baik untuk semua.

Catatan Tentang Lapak Pamflet di AJW 2026 dan Duka Cita Mendalam Tentang Bali Kini

Sore itu, saya mengunjungi sebuah acara yang tak pernah saya sambangi sekali pun, kendati banyak kawan sering menyebut-nyebutnya: Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) oleh BaleBengong.

Ada banyak alasan mengapa saya, orang yang begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis ini, tidak pernah menyambangi AJW. Ah, alasan-alasan itu terlalu sentimental bila saya uraikan di sini, dan sekiranya tulisan ini tidak ditujukan untuk menjadi demikian.

Kalau bukan karena pertemuan dengan Ai, seorang kawan dari Pamflet Generasi, dua hari sebelum AJW, saya barangkali tidak akan pernah berani untuk datang ke sana. Pengetahuan bahwa akan ada seorang kawan baik di tempat yang saya tuju selalu memberikan rasa aman yang saya butuhkan untuk datang ke tempat asing dengan segambreng orang asing.

Suasana lapak komunitas dalam AJW 2026.

Ai membantu saya menavigasi dan mendeskripsikan ruang AJW hari itu, membuat saya menyesal mengapa selalu melewatkan acara-acara semacam ini sejak dulu. AJW, ternyata, semenyenangkan itu. Ai memberikan saya gambaran yang baik tentang berbagai produk jurnalisme warga yang dipamerkan hari itu.

Hingga, saya tiba di lapak Pamflet yang berisikan hasil kerja dari Jalan Jalin Ingatan, kolaborasi orang muda membangun politik keperawatan dalam jaringan laba-laba sosial. Ai bercerita dengan atentif, membantu saya berinteraksi dengan peta, papan interaktif, dan instalasi audio yang mereka pamerkan.

Dengan telaten, Ai mengarahkan jari-jari saya pada peta kebencanaan, menyusuri jalur-jalur evakuasi. Ai menunjukkan dan mendeskripsikan foto-foto yang menggambarkan sampah-sampah di pepohonan tinggi—kontras dengan bangunan Pura yang luhur, ajeg. Keluhuran yang habis disirami comberan akibat dari kemarahan alam, dan air—yang dengan amarahnya—terus mencari celah untuk keluar.

Dari cerita-cerita Ai, saya seakan dibawa ke dalam kilas balik. Cerita-cerita tersebut mereka ulang imajinasi saya tentang banjir bandang tahun lalu (2025), serta upaya pemulihan yang dilakukan oleh segenap koalisi masyarakat sipil Bali.

Ingatan saya berkelana ke waktu ketika berita-berita banjir bandang itu muncul di linimasa sosial media saya. Kala itu, saya sedang berada jauh, 420 km dari Bali, di tengah euforia sebagai mahasiswa baru di Kota Pelajar, Malang. Saya ingat, hari itu saya dihubungi oleh ayah dan beberapa kawan yang menanyakan apakah kabar saya baik-baik saja di perantauan sebab Bali sedang banjir besar. Ayah berpesan agar saya tidak keluar ketika hujan deras di luar.

Sekarang saya meringis sekaligus tertohok ketika mengingat pesan itu, sebab seharusnya saya lah yang menanyakan kabar keluarga dan teman-teman di Bali, bukannya sebaliknya.  Yang saya ingat dari derasnya informasi dan pemberitaan media hari itu hanya lah 18 korban jiwa dan kerugian yang hampir mencapai Rp100.000.000.000.

Angka-angka dan berita-berita terasa terpisah dari realitas saya waktu itu, di mana kesibukan sebagai mahasiswa baru menyita segenap atensi dan pikiran, sementara benak saya mencoba mengalkulasi ingatan tentang seberapa banyak bencana banjir yang pernah terjadi di Bali. Pernah kah sebesar dan separah ini?

Peta banjir Bali 2025 dalam AJW 2026.

Hingga akhirnya, saya sampai di hadapan hasil kerja kawan-kawan Pamflet bersama beberapa organisasi lain untuk benar-benar memahami sebesar apa dampak dari banjir tahun lalu. Apakah Bali telah belajar dan berkaca dari keruhnya Tukad Badung yang melemparkan segenap arusnya ke jalanan-jalanan? Genangan pada rute yang, dulu sekali, sering saya lalui bersama kawan untuk berburu penganan.

Ah, lokasi terparah banjir yang ditunjukkan oleh Ai begitu dekat dengan kos lama saya, sebelum kepindahan saya ke Kota Pelajar. Benar-benar sedekat itu. Meskipun teman-teman saya di kos lama itu tidak terkena banjir, namun sebersit rasa kecut tetap melintas dalam perasaan saya kala mengingat saya dan seorang kawan pernah berkendara di kawasan-kawasan itu.

Mengingat dan mendengarkan semua kisah banjir Bali tersebut membuat saya berkecil hati. Rasanya seperti mendengar berita duka dari jauh, lalu pulang hanya untuk berziarah ke makam kerabat dan mendengar cerita-cerita tentang betapa pahit dan getirnya kematian mereka.

Seluruhnya, pandangan dan visi masa depan saya tentang Bali mengabur lalu raib. Saya kehilangan gambaran tentang seperti apa kelak saya akan menavigasi hidup di dalam kota yang penuh kecemasan dan antisipasi ini. Bali dan Denpasar yang menjadi pusat hidup saya selama bertahun-tahun itu, terdampak banjir besar tahun lalu. Bagaimana dengan tahun ini? Bagaimana dengan tahun depan, dan tahun-tahun mendatang? Bagaimana jika saya harus mengalami bencana ini lagi?

Sebagai seorang perempuan penyandang disabilitas netra, saya bisa dengan mudah  mengimajinasikan betapa sukarnya bila saya harus menghadapi kebencanaan macam ini. Ini semudah membayangkan bahwa saya bisa menjadi korban bencana bila banjir ini terjadi lagi.

Saya mulai bertanya-tanya, apakah saya berlebihan dan paranoid? Tidak juga. Seorang kawan saya yang terdampak banjir tahun lalu, yang kehilangan buku-bukunya dan kerugian material akibat rumahnya terendam banjir, menyarankan agar saya jangan cepat-cepat pulang setelah kuliah.

“Pergi lah yang jauh, ke kota lain, bekerja, studi magister. Apa pun itu. Yang penting di luar Bali,” ujar kawan saya berapi-api.

Bali, ah, Bali. Baru dua semester saya berkuliah di seberang sana, mengapa sudah begitu banyak yang terjadi? Masih kah saya bisa menyebutmu sebagai rumah dan tempat pulang, bila hanya dengan sedikit imajinasi, saya dapat menggambarkan dengan jelas bagaimana hidup saya bisa saja berakhir di sini?

Ah, Bali, saya berduka begitu dalam mendengar cerita dari kawan-kawan yang terdampak banjir kemarin. Tidak kah kamu ingin pulih dan merawat anak-anakmu di dalamnya? Mengingat bagaimana keadaanmu sekarang, saya menjadi semakin enggan untuk kembali pulang. Tapi, keluarga dan kawan-kawan terbaik saya akan selalu memanggil saya kembali, segetir apapun perasaan saya padamu.

Melalui Bandang, Dialog Dini Hari sudah menyanyikan lagu paling jujur tentang Bali kini. Bali, saya masih akan terus berduka dengan semua yang terjadi padamu. Saya berduka terhadap korban, berduka terhadapmu yang sudah kepayahan menanggung keserakahan manusia.

Kelak, bila saya tahu apa yang bisa saya lakukan untukmu, saya akan pulang. Namun, jika tidak, saya akan mengembara ke tempat yang jauh, mencari keselamatan sendiri. Lebih baik begitu, bukan? Pergi jauh dan mencari keselamatan sendiri, daripada tetap di sini dan tetap harus mencari-mencari keselamatan sendiri.

Gianyar, 24 Juli 2026

Menenun Jaring di Sudut yang Tak Terawat: SIMPUL Rilis Riset Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda

Jakarta, 22 April 2026 – Pamflet Generasi bersama Kolektif Arungkala dan Dimusim mendiseminasikan hasil riset bertajuk Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid di Jakarta dan melalui Zoom Meeting, mempertemukan Jaring Kawan, partisipan riset, serta para peneliti dalam satu ruang reflektif  untuk membuka, mempertanyakan, dan merajut kembali hasil temuan sebagai bagian dari proses belajar kolektif.

Riset ini berlangsung sejak Agustus 2025 hingga awal 2026, melibatkan 24 orang muda dari 17 komunitas di Yogyakarta, Bali, Palangkaraya, dan Riau. Menggunakan pendekatanYouth-Led Participatory Action Research (PAR), riset ini menempatkan orang muda sebagai subjek penuh dalam proses penelitian, mulai dari perumusan pertanyaan, pengumpulan data melalui zine making, photovoice, transect walk, dan live-in, hingga pemaknaan temuan secara kolektif. 

Gerakan yang Tumbuh di Sudut yang Tak Terawat

Bayangkan seekor laba-laba yang menenun jaringnya di sudut ruangan yang jarang dibersihkan, di tempat yang terabaikan, yang luput dari perhatian. Itulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana gerakan iklim orang muda bekerja hari ini: hadir di celah-celah yang ditinggalkan negara, bergerak dengan sumber daya terbatas, dan seringkali berjalan sendiri-sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang muda peduli terhadap krisis iklim. Mereka sudah bergerak, tetapi bagaimana gerakan ini bisa bertahan dan tumbuh lebih kuat?

Dalam proses riset yang panjang, terpetakan 116 praktik keperawatan yang selama ini hidup diam-diam dalam keseharian gerakan iklim orang muda. Praktik ini terbagi dalam lima bentuk: merawat diri, merawat pengetahuan, merawat komunitas, merawat lingkungan, dan merawat sumber daya. Praktik yang paling dominan adalah merawat pengetahuan, yakni melalui produksi konten, pengarsipan, pelatihan, hingga diseminasi yang berfungsi sebagai alat edukasi dan strategi perlawanan terhadap narasi dominan. Sebaliknya, praktik merawat sumber daya menjadi yang paling minim akibat keterbatasan pendanaan dan akses, sehingga banyak komunitas akhirnya mengandalkan praktik urun daya dan saling menopang secara kolektif untuk menjaga keberlangsungan gerakan.

Jaring yang Tak Pernah Sama

Riset ini juga menemukan bahwa cara merawat dipengaruhi oleh lapisan identitas.  Komunitas Queer dan disabilitas cenderung menekankan produksi pengetahuan sebagai bentuk resistensi di tengah dunia yang cis-heteronormatif dan ableis. Sementara komunitas masyarakat adat menunjukkan praktik keperawatan yang lebih holistik: merawat lingkungan, budaya, pengetahuan, komunitas, dan sumber daya dalam satu napas yang tak terpisahkan. Selain itu, kedekatan dengan “titik destruksi” seperti kebakaran hutan, perampasan lahan, dan kerusakan ekosistem juga membentuk cara merawat. Semakin dekat dengan dampak krisis, semakin konkret dan mendesak bentuk keperawatannya.

Saatnya Beralih Rupa: Dari Laba-Laba Soliter Menjadi Laba-Laba Sosial

Dalam dunia laba-laba, sebagian kecil spesies berevolusi dari soliter menjadi sosial. Mereka menenun jaring secara kolektif, berbagi tangkapan, hingga merawat keturunan secara komunal. Perubahan ini bukan lahir dari kondisi yang ideal, melainkan dari tekanan lingkungan yang semakin keras menuntut strategi baru untuk bertahan. 

Gerakan iklim orang muda berada di titik serupa: ditekan dari luar oleh kebijakan represif dan sumber daya yang timpang, sekaligus ditekan dari dalam seperti burnout, kapasitas yang terbatas, dan kerja-kerja yang belum cukup terhubung satu sama lain. Dalam situasi ini, bertahan sebagai “laba-laba soliter” berarti terus menghadapi keterbatasan yang sama: jaring mudah putus, energi cepat habis, dan dampak sulit berkembang. Riset ini menjadi ajakan untuk beralih rupa: dari laba-laba soliter yang bergerak sendiri, menjadi laba-laba sosial yang menenun jaring bersama. 

Salah satu wujud nyata dari ajakan tersebut adalah Arisan Laba-Laba Sosial yang berlangsung di Yogyakarta dan Bali pada Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian riset aksi. Meminjam bentuk arisan namun menggeser maknanya, lapak ini bukan untuk barter uang, melainkan untuk membarter pengetahuan, pengalaman, dan praktik keperawatan yang selama ini tak terlihat. Sebuah eksperimen kolektif yang merayakan kerja-kerja intangible dalam gerakan. 

Menenun Jaring Lintas Generasi

Dalam sesi diseminasi, muncul pertanyaan perihal jaring lintas generasi: bagaimana “laba-laba muda” dan “laba-laba dewasa” bisa menenun jaring bersama? Jawaban yang muncul menekankan bahwa ruang pertemuan lintas generasi tidak terjadi secara alami, ia perlu diupayakan secara sadar, dengan desain yang memungkinkan percakapan setara, di mana pengalaman tidak menjadi otoritas tunggal dan pengetahuan baru tidak dianggap kurang valid. Pengalaman tim peneliti pun menunjukkan bahwa keterlibatan dengan mentor lintas generasi justru membuka perspektif baru dalam menentukan metodologi riset. Ketika dibangun dengan kesadaran dan kesetaraan, relasi ini menjadi sumber belajar, bukan hambatan.

Menenun Ulang yang Terus Koyak

Pada akhirnya, riset ini memperlihatkan bahwa kerja-kerja keperawatan tidak pernah benar-benar rapi atau linear. Ia hidup, berubah, penuh negosiasi, dan sering kali melelahkan. Namun justru di situlah letak kekuatannya: pada kemampuannya untuk terus beradaptasi, bertahan, dan diperbarui.  Menjadi laba-laba sosial berarti menerima bahwa jaring akan terus koyak oleh waktu, konflik, dan keterbatasan. Tetapi selama kita masih saling terhubung, jaring itu selalu bisa ditenun kembali.

“Perawatan itu sekali saja nggak cukup. Pasti ada hal yang terjadi, dan semuanya harus dilakukan sebagai sebuah siklus yang mungkin nggak ada hentinya.”
– Nabila Auliani Ruray, Pamflet Generasi

Seperti laba-laba yang terus menenun ulang jaringnya, praktik keperawatan dalam gerakan juga bersifat siklik. Ia tidak selesai dalam satu kali perbaikan. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan kesediaan untuk kembali menenun lagi, lagi, dan lagi.

Riset ini tentu bukanlah sebuah panduan mutlak, melainkan dokumentasi atas keragaman taktik perlawanan dan siasat merawat yang secara organik dihidupi oleh Jaring Kawan di akar rumput. 

Unduh dan baca laporan utuh riset “Alih Rupa Menjadi Laba-Laba Sosial: Politik Keperawatan dalam Gerakan Iklim Orang Muda” melalui tautan berikut: https://pmflt.watify.id/produk/riset-laba-laba-sosial/# 

Menggelar Arisan, Merajut (je)Jaring, dan Bertukar Pengetahuan: Sebuah Kumpulan Fragmen dari ‘Arisan Laba-Laba Sosial’

Ditulis sebagai catatan refleksi partisipasi Khairunnisa Sholikhah (Kolektif Arungkala) dalam ‘Arisan Laba-Laba Sosial’ bersama Jaring Kawan SIMPUL Yogyakarta pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Dalam artikel tersebut, melalui pendekatan dramaturgis, Khairunnisa mencatat temuannya terkait politik perawatan dan jaringan solidaritas organik dalam gerakan orang muda yang tercuplik pada ‘Arisan Laba-Laba Sosial’. Khairunnisa pula mengajak kita untuk membongkar dan menyusun ulang ‘arisan’ sebagai sebuah metode dan peristiwa sosial yang secara historis lekat dengan konstruksi gender Orde Baru.


Catatan Pembuka

Tulisan ini lahir bukan dari keberjarakan, namun dari keterlibatan. Ia berangkat dari tubuh yang hadir–duduk di lantai, berpindah dari satu lingkar percakapan ke lingkar yang lain, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan sesekali ikut terlibat dalam pertukaran yang tidak selalu terencana. Sejak awal, “Arisan Laba-Laba Sosial” dirancang untuk dinikmati sebagai pengalaman bersama. Tulisan ini pun tumbuh dari posisi yang sama: tidak netral, tidak sepenuhnya di luar, dan tidak berpretensi merangkum semuanya secara objektif. 

Menulis refleksi ini berarti mengakui bahwa banyak hal yang terasa penting justru terjadi di sela-sela: dalam jeda sebelum diskusi dimulai, dalam tawa kecil yang menyertai barter pengetahuan, atau dalam kebingungan ketika peran tiba-tiba berubah. Ada momen ketika struktur yang disiapkan bekerja dengan baik, ada pula saat-saat ketika ia perlu dilonggarkan agar percakapan bisa bernapas.

Pengalaman-pengalaman ini lah yang ingin dirawat dalam tulisan ini. Sebagai ingatan yang masih hangat, tulisan ini lebih menyerupai memoar perjalanan–sebuah upaya memahami apa yang bekerja di balik perjumpaan singkat, pertukaran pengetahuan, dan rencana-rencana kecil yang lahir dari satu hari berkumpul. 

Dari titik ini, tulisan akan bergerak perlahan dari konteks arisan sebagai imaji sosial yang akrab, menuju bagaimana wacana akan arisan itu dipelintir, dipentaskan, dan dijalani bersama dalam ‘Arisan Laba-Laba Sosial’. Catatan pembuka ini menjadi penanda bahwa apa yang dibaca selanjutnya bukan merupakan kesimpulan yang final. Ia adalah ajakan untuk turut menelusuri proses bersama. 

Prolog: Arisan dalam Imaji Sosial dan Sejarah

Dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia, arisan hidup dalam imaji sosial sebagai praktik keseharian yang akrab, repetitif, dan nyaris tak perlu dipertanyakan ulang. Ia diasosiasikan dengan ruang-ruang domestik, pertemuan ibu-ibu, obrolan ringan, dan sirkulasi uang dalam skala kecil. Namun, di balik kesederhanaan itu, arisan menyimpan lapisan ideologis yang membentuk cara perempuan ditempatkan, dibayangkan, dan diatur dalam kehidupan sosial masyarakatnya. 

Bahkan pada masa tertentu, terutama era Orde Baru Soeharto, arisan menjadi bagian dari narasi domestik yang jinak: ruang berkumpul perempuan yang diposisikan aman, tidak politis, dan jauh dari urusan publik. Imaji ini begitu kuat sehingga arisan kerap direduksi maknanya menjadi sekadar aktivitas merumpi dan memutar uang keluarga.

Dalam arsip surat kabar Berita Yudha (20 Juli 1984), terdapat sebuah kolom berjudul “Arisan sebagai Lembaga Sosial (Social Institution)” yang secara eksplisit memosisikan arisan sebagai mekanisme pembentukan tatanan sosial. Kolom tersebut menuliskan:

“Arisan bahkan semakin menjamur, tidak saja di lingkungan masyarakat kampung atau kelompok-kelompok bersama horizontal, akan tetapi telah merembes ke kantor-kantor menuntut kaum ibu membuang waktu pentingnya di rumah untuk bergaul dalam arisan itu lalu barangkali saja ada manfaatnya bagi kepentingan karir suami tercinta.” 

Pembacaan atas arsip ini membuka gambaran terang mengenai bagaimana arisan pernah dipromosikan sebagai alat pendukung peran domestik perempuan. Bahkan, ketika arisan berlangsung di ruang publik seperti kantor. Perempuan dalam arisan pun diposisikan bukan sebagai subjek yang otonom, melainkan sebagai perpanjangan tangan kepentingan rumah tangga dan karir laki-laki. 

Logika semacam ini kemudian berkelindan dengan apa yang dikemukakan Julia Suryakusuma tentang State Ibuism, yakni ideologi yang menempatkan perempuan semata sebagai istri pendamping, ibu pengasuh, dan pengelola harmoni domestik demi stabilitas negara (Suryakusuma, 2011).

Dalam kerangka ini, aktivitas sosial perempuan, termasuk arisan, diterima sejauh tidak mengganggu, lebih-lebih mendukung, fungsi negara dalam mempertahankan stabilitas. Arisan menjadi ruang yang “aman”, selama ia tidak berubah menjadi ruang politik, ruang kritik, maupun ruang produksi pengetahuan yang otonom.  

Dengan membaca arsip ini, arisan tampak tidak lagi sebatas sebagai  praktik kultural semata. Ia juga merupakan bagian dari arena pendisiplinan yang membentuk etika pergaulan, mengatur waktu perempuan, sekaligus menetapkan batas tentang jenis kebersamaan yang dianggap pantas. Imaji arisan sebagai ruang merumpi yang jinak dan tidak berbahaya bukan lah sesuatu yang netral, namun hasil dari konstruksi sosial-historis. 

Di titik ini lah, kehadiran “Arisan Laba-Laba Sosial” menjadi menarik. Kegiatan yang diselenggarakan pada Minggu, 31 Januari 2026 ini tidak sekadar menghidupkan kembali format arisan warisan Orde Baru Soeharto, namun juga memelintir maknanya. Jika dalam imaji lama arisan dilekatkan pada uang, domestisitas, dan sopan santun perempuan, maka dalam konteks ini arisan justru dibingkai sebagai ruang pertukaran pengetahuan, perjumpaan lintas komunitas, dan eksperimen kolektif tanpa uang. Arisan tidak lagi berfungsi sebagai alat penjinakan, melainkan sebagai siasat perjumpaan. 

“Arisan Laba-Laba Sosial” hadir sebagai mekanisme untuk membajak ulang ritus sosial yang dominan itu. Uang disingkirkan dari pusat pertukaran, digantikan oleh pengetahuan dalam pengertian yang luas: cerita, pengalaman, siasat bertahan, metode kerja, dan praktik kolektif. Dengan demikian, kegiatan ini menempatkan arisan sebagai medan tarik-menarik antara warisan historis yang sarat bias gender dan kemungkinan pembacaan ulang yang lebih emansipatoris. 

Prolog ini berfungsi sebagai pijakan wacana sebelum pembaca diajak masuk ke babak-babak pergelaran selanjutnya. Dengan memahami bagaimana arisan hidup dalam imaji sosial dan sejarah, kita dapat melihat dengan lebih jernih apa yang sebenarnya sedang dipelintir, ditantang, dan dirayakan dalam Arisan Laba-Laba Sosial. Dari sini lah dramaturgi perjumpaan itu dimulai.

Babak-babak Pergelaran dalam Pertukaran Pengetahuan 

Awal Perjumpaan, Rumah Tua, dan Sarang Laba-Laba

Babak pertama “Arisan Laba-Laba Sosial” dimulai dengan sebuah gestur sederhana: duduk dan menyaksikan bersama film dokumenter “Purun”. Film ini merupakan sebuah dokumentasi kerja dari komunitas Youth Act Kalimantan yang merekam praktik kepengrajinan lokal berbasis purun di Palangkaraya dan sekitarnya. Tidak ada panggung yang ditinggikan, tidak ada jarak yang tegas antara “penampil” dan “penonton”. Dengan layar proyektor sebagai titik temu, proses saling membuka diri secara perlahan dan tanpa tergesa sedang berlangsung. 

Film yang diputar menghadirkan kisah warga yang merawat material, ingatan, dan keberlanjutan hidup melalui kerja-kerja yang kerap dianggap remeh: menganyam, mengolah, dan menjaga. “Purun” kemudian tampil sebagai simpul dari relasi ekologis, ekonomi, dan kultural. Dalam keheningan ruang pemutaran, film tersebut bekerja seperti pintu masuk. Mengundang setiap orang untuk mengingat tubuhnya sendiri, pengalamannya sendiri, dan kedekatannya dengan kerja-kerja perawatan. 

“Siapa pun kamu, terutama orang muda, kenali budayamu–maka kamu akan mengenali dirimu.”

(Purun, Youth Act Kalimantan)

Menonton kemudian menjadi praktik kehadiran. bell hooks (1922) menyatakan bahwa menonton dapat menjadi tindakan politis ketika ia membuka ruang empati dan kesadaran kritis. Di sini, layar berfungsi menjadi pintu masuk menuju percakapan yang lebih personal. Melalui “Purun”, partisipan diajak memahami bagaimana krisis iklim tidak hanya berdampak pada ekologi. Lebih jauh, krisis iklim berdampak pada praktik seni, kehidupan sehari-hari, dan ekspresi budaya vernakular masyarakat lokal. Babak pertama ini kemudian berfungsi sebagai pijakan kegiatan, bahwa kerja komunitas, pengarsipan pengetahuan lokal, dan pertukaran praktik merupakan strategi yang penting dalam merespon isu krisis iklim dan ketimpangan pengetahuan. 

Secara formal, babak pertama “Arisan Laba-Laba Sosial” dibuka melalui pemaparan Lestari (Kolektif Arungkala) yang memperkenalkan dua metafora kunci, yakni “rumah tua” dan “sarang laba-laba sosial”. Metafora ini bukan hiasan bahasa semata. Ia hadir sebagai cara membaca kondisi jejaring komunitas hari ini.

“Rumah tua” merepresentasikan pengetahuan dan akses yang terbatas, sedang “sarang laba-laba sosial” menghadirkan imaji yang lebih lentur. “Sarang laba-laba sosial” tidak memiliki pusat tunggal. Ia bekerja melalui simpul-simpul yang saling terhubung. Dalam konteks orang muda dan kerja komunitas, metafora ini menjadi relevan: relasi dibangun bukan melalui struktur hierarkis, namun melalui perjumpaan, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling menopang. 

Dari titik ini, percakapan kemudian bergerak pada praktik nyata. Lestari menyampaikan ketertarikannya pada siasat Deti dari Youth Act Kalimantan dalam mengarsipkan pengetahuan lokal melalui dokumentasi dan keterlibatan langsung dengan warga. Kerja Youth Act Kalimantan memperlihatkan bahwa arsip tidak selalu hadir sebagai bagian dari institusi yang kaku. Ia dapat tumbuh dari relasi yang intim dengan komunitas. Ketertarikan ini kemudian bersambung dengan praktik Kolektif Arungkala yang mengembangkan zine sebagai medium pengarsipan warga, termasuk kerja mereka membaca budaya rewang ibu-ibu sebagai arsip sosial yang hidup dan kerap luput dari pencatatan formal. 

Di babak ini pula, muncul kesadaran akan perbedaan latar belakang: urban dan non urban. Alih-alih diposisikan sebagai jurang, perbedaan ini justru menjadi titik tawar. Keinginan untuk berkolaborasi dalam kerja bersama warga terdampak iklim, seperti kebakaran hutan di Kalimantan, tidak dibingkai sebagai proyek heroik. Ia hadir sebagai kemungkinan yang perlu dirawat secara perlahan. 

Secara dramaturgis, babak pertama menandai dimulainya pertukaran. Beberapa komunitas (Kolektif Arungkala, FeminisThemis, dan Lelaku Studio) membuka lapak awal sebagai pemantik, sedang komunitas lain (Youth Act Kalimantan, Kolektif Tanpa Nama, Pamflet Generasi, dan Matrahita) dan pengunjung bergerak bebas. Barter tidak dimaknai semata sebagai pertukaran objek, namun juga persebaran gagasan, metode dan pengalaman. Di sini, peran mulai bergeser: siapa yang berbicara, siapa yang mendengar, siapa yang menawarkan, dan siapa yang menerima—semuanya cair dan dapat berubah seiring percakapan berlangsung. 

Script Barter dan Latihan Unlearning Capitalism

Jika babak pertama membangun konteks dan relasi awal, babak kedua menjadi ruang eksperimen yang lebih eksploratif. Keseluruhan skema kegiatan diposisikan sebagai sebuah script. Script ini lah yang menjadi panduan untuk memberi arah tanpa menutup ruang improvisasi. Dalam script ini, ada satu hal yang disepakati bersama, yakni tidak ada uang yang akan digunakan sepanjang pertukaran. 

Keputusan ini hadir bukan sebagai gimmick semata. Ia merupakan latihan kecil untuk membongkar kapitalisme yang telah mengakar dalam pikiran (unlearning capitalism) selama satu hari. Bukan dalam pengertian menolak realitas ekonomi secara total, namun lebih kepada menciptakan ruang sementara di mana nilai tidak ditentukan oleh harga. Dalam ruang ini, cerita personal, pengalaman komunitas, ide mentah, strategi bertahan hidup, hingga pengetahuan yang sangat situasional diperlakukan sebagai sesuatu yang layak untuk dipertukarkan. 

Barter dalam babak kedua kemudian meluas maknanya. Proses berbagi cerita, kegagalan, dan siasat kerja yang biasanya tidak masuk ke dalam laporan formal menjadi bahan bakar dalam sesi barter. Di titik ini, praktik pertukaran menjadi terasa dekat dengan apa yang disebut Michel de Certeau sebagai praktik sehari-hari–cara-cara kecil yang kerap tidak terlihat, namun justru menopang kehidupan sosial (de Certeau, 1984).

Peran partisipan terus berubah. Komunitas yang sebelumnya membuka lapak kini menjadi pengunjung, sementara yang semula datang untuk melihat-melihat perlahan ikut terlibat dalam percakapan. Tidak ada posisi yang benar-benar tetap. Pertukaran berlangsung dua arah, menegaskan bahwa setiap komunitas hadir sebagai subjek pengetahuan. 

Momen-momen ini memperlihatkan bagaimana kehidupan sosial bekerja melalui peran-peran yang dinegosiasikan secara situasional. Selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Erving Goffman, individu dan kelompok terus menyesuaikan penampilan dan tindakannya sesuai dengan konteks dan audiens yang hadir (Goffman, 1959). “Arisan Laba-Laba Sosial” memberi ruang bagi negosiasi itu untuk berlangsung tanpa tekanan hasil yang instan. 

Collective Matchmaking dan Perawatan Jejaring

Babak ketiga berfokus pada upaya menjajaki kolaborasi yang lebih nyata. Setelah berbagai pertukaran berlangsung, partisipan diberi waktu untuk berdiskusi secara internal. Pembahasan dalam diskusi internal ini mencakup apa yang mungkin dikerjakan bersama, apa yang realistis, dan apa yang perlu dirawat lebih lanjut. Waktu yang singkat, sekitar lima belas menit, justru menuntut kejelasan dan kejujuran dalam membaca kapasitas masing-masing komunitas yang terlibat. 

Sesi kemudian berlanjut ke mekanisme yang dengan sengaja disebut “mak comblang” atau collective matchmaking. Melalui pendekatan yang ringan dan tidak mengintimidasi, tiap komunitas menempelkan logo komunitas lain yang menarik minat mereka. Dari pilihan yang saling bertemu, terbukalah ruang negosiasi awal. Negosiasi ini dilakukan untuk saling mengenali irisan kepentingan dari masing-masing komunitas yang terlibat. 

Dari proses ini, muncul berbagai rencana kolaborasi berskala kecil yang konkret. Ada keinginan untuk mengarsipkan pengetahuan perempuan adat melalui zine bersama; upaya membuat konten yang lebih aksesibel bagi teman Tuli dengan melibatkan juru bahasa isyarat; pertukaran pengetahuan antara bahasa isyarat dan pengelolaan limbah; eksperimen edukasi keberagaman gender melalui permainan (board game); hingga upcycling pakaian sebagai ekspresi identitas dan pengarsipan narasi “orang biasa” dari perspektif queer.

Percakapan dan proses collective matchmaking ini turut memantik kebutuhan penting atas aksesibilitas bagi teman Tuli. Kebutuhan ini disampaikan langsung oleh komunitas terkait (Pamflet Generasi) dan segera ditanggapi sebagai bagian dari kemungkinan kolaborasi ke depan. Di sini politik perawatan bekerja secara nyata sebagai sebuah praktik mendengarkan dan menyesuaikan diri. 

Collective matchmaking yang menandai berakhirnya babak ketiga ini disusun untuk membuka ruang bagi perawatan jejaring. “Jaring laba-laba sosial” yang semula menjadi metafora mewujud nyata melalui simpul-simpul sederhana. Dalam inisiasi komunitas skala kecil, terbuka kemungkinan jeda untuk bernapas dan merajut perjuangan sehari-hari yang kontekstual. 

Epilog: Residu Pergelaran dan Jaring yang Terus Dirajut

Ketika kegiatan berakhir, pergelaran tidak serta-merta selesai. Seperti banyak praktik performatif lainnya, apa yang tertinggal adalah residu—atas percakapan lanjutan, pesan yang saling dikirim, rencana kecil yang belum sepenuhnya matang, dan rasa keterhubungan yang sulit untuk diukur. “Arisan Laba-Laba Sosial” kemudian menunjukkan bahwa jejaring tidak selalu dibangun melalui struktur yang besar dan formal. Ia dapat mewujud melalui kepercayaan dan perawatan yang dirajut secara perlahan. 

Dalam konteks ini, arisan tidak lagi dibaca sebagai praktik ekonomi mikro atau ritus sosial yang jinak. Ia berfungsi sebagai struktur dramaturgis yang memungkinkan pertemuan, pertukaran, dan transformasi peran. Dengan menyingkirkan uang dari pusat pertukaran, kegiatan ini membuka ruang untuk membayangkan bentuk-bentuk relasi yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika kapitalisme, meski hanya sementara dan dalam skala kecil. 

Sebagai sebuah pergelaran sosial, “Arisan Laba-Laba Sosial” tidak menawarkan solusi tunggal atas krisis iklim, ketimpangan pengetahuan, atau fragmentasi gerakan anak muda. Ia menawarkan hal yang tidak kalah penting: ruang untuk berkumpul, mendengar, dan merajut kemungkinan bersama. Jaring laba-laba sosial yang terbentuk hari itu mungkin rapuh, namun justru karena kerapuhannya, ia menuntut untuk terus dirawat. Tulisan ini pun berhenti di titik yang sama. Sebagai jeda, tulisan ini menjadi pengingat bahwa kerja-kerja komunitas dapat pula tercermin dari keberanian untuk memulai, berbagi, dan merawat apa yang ada di dalam jaring.


Referensi

bell hooks. (1922). “The Oppositional Gaze: Black Female Spectators”, dalam Black Looks: Race and Representation. Boston: South End Press. 

Berita Yudha. “Arisan sebagai Lembaga Sosial (Social Institution). Jum’at, 10 Juli 1984. 

Erving Goffman. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.

Julia Suryakusuma. (2011). State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in New Order Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu. Michel de Certeau. (1984). The Practice of Everyday Life. Berkeley: University of California Press.

Berat Sama Dipikul, Senang Sama di SIMPUL: Komitmen Orang Muda untuk Bergerak di Isu Iklim

Yogyakarta, 25 Juni 2025 — Di tengah krisis iklim yang makin mengancam dan ketimpangan sosial yang terus berlangsung, sebanyak 23 orang muda dari pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan berkumpul dalam Kemah SIMPUL di kawasan lereng Merapi, DI Yogyakarta. Mengusung semangat “Berat Sama Dipikul, Senang Sama di SIMPUL”, pertemuan  ini menjadi ruang temu bagi pegiat muda lintas isu, ragam identitas, dan latar gerakan untuk memperkuat jejaring, bertukar pengetahuan, dan menyusun strategi kolektif menuju keadilan iklim yang interseksional.

SIMPUL adalah ruang kolaboratif dan inklusif bagi orang muda lintas identitas, yang berfungsi sebagai ekosistem untuk saling belajar dan menyuarakan isu keadilan iklim melalui perspektif orang muda. Dalam semangat membangun ekosistem ini, SIMPUL berlandaskan pada prinsip kepemilikan bersama, tidak terpusat, lentur, dan adaptif terhadap keberagaman konteks sosial dan budaya tempat anggotanya berada. SIMPUL membayangkan bisa merawat ruang-ruang ini dengan dua jaring yang saling terhubung. Jaring kolaborator, yaitu kolektif-kolektif yang saling berinisiatif untuk membangun aksi dalam SIMPUL, dan jaring kawan yang terdiri dari individu maupun kolektif yang menerima informasi dan terlibat pada kegiatan-kegiatan SIMPUL. 

Selama empat hari, jaring kawan mendiskusikan dinamika gerakan sosial melalui berbagai pendekatan, termasuk metode storytelling, refleksi visual, serta analisis peran berdasarkan kerangka “Four Roles of Social Activism” dari Bill Moyer. Diskusi ini memperlihatkan bahwa orang muda bukan sekadar korban dari krisis iklim, namun juga aktor penting dalam proses transformasi: sebagai pembangkang, reformer, pengorganisir, maupun masyarakat sipil yang kritis.

Salah satu benang merah yang mengemuka adalah pentingnya pendekatan interseksional dalam merespons krisis iklim. Hal ini tercermin dari keberagaman latar para jaring kawan yang datang dari organisasi seperti Aku Juga Terdampak, Baga Raksa Alas Mertajati, BaleBengong, Climate Rangers Jogja, Dimusim, Feminis Themis, KISARA PKBI Bali, Sanggar Puan, Yayasan Teratai, XR Indonesia, Youth Act Kalimantan, Kolektif Tanpa Nama, dan Kolektif Arungkala. Melalui sesi yang mempertemukan pengalaman dari orang muda dengan disabilitas, pegiat isu gender, media alternatif warga, komunitas adat, hingga pekerja seni, terungkap bahwa krisis iklim berdampak berbeda pada setiap lapisan identitas. Oleh karena  itu, strategi gerakan harus berakar pada keberagaman identitas dan kebutuhan. Gerakan yang kuat bukan tentang siapa yang paling lantang bersuara, tetapi tentang siapa saja yang diberi ruang untuk didengar.

Tak sekadar pertemuan, Kemah SIMPUL menjadi proses bersama untuk menenun kembali hubungan lintas identitas dan menciptakan ruang konsolidasi melalui urun daya kolektif. Kesadaran bahwa semua orang muda memiliki kerentanan dan lapisan identitas yang berbeda dan membentuk pengalaman yang beragam membuka kemungkinan urun daya yang beragam pula. Proses ini menjadi praktik berbagi kekuatan, pengetahuan, dan sumber daya dari posisi yang berbeda-beda tersebut, agar semua orang bisa bergerak bersama tanpa meninggalkan siapa pun. Dengan kata lain, urun daya kolektif memungkinkan interseksionalitas menjadi nyata dalam kerja-kerja gerakan. Ia mendorong partisipasi yang setara dan saling melengkapi antar identitas.

Dengan semangat saling jaga dan tumbuh bersama, jaring kawan menyepakati bahwa perjuangan atas keadilan iklim tidak bisa dilakukan sendirian. Ia butuh gerakan orang muda yang terkonsolidasi, inklusif, dan interseksional. Jaring kawan SIMPUL menguatkan komitmen jangka panjangnya melalui peta jalan yang merangkum kolaborasi dan aksi bersama. Selama satu tahun ke depan, Jaring Kolaborator dan Jaring Kawan akan mendorong pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas di komunitas masing-masing melalui pelatihan fasilitator inklusif, riset partisipatif, produksi materi pembelajaran yang mudah diakses, hingga kampanye digital seputar keadilan iklim. Langkah-langkah ini tidak hanya memperluas jangkauan, tetapi juga memperdalam keterlibatan orang muda dalam isu-isu yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Prinsip ini tercermin dari semangat yang dipegang bersama:

“Karena perubahan tidak cukup dimulai dari individu; ia tumbuh dari jaringan yang saling menguatkan.”

Tertarik turut menjadi bagian keseruan SIMPUL dalam menyuarakan isu keadilan iklim? Ikuti kami untuk berkenalan lebih jauh dengan Jaring Kawan SIMPUL yang ada di sekitarmu!

Terima kasih kepada Jaring Kawan SIMPUL yang sudah bergabung di Kemah SIMPUL dan membawa semangat kolaborasi dari berbagai wilayah dan latar belakang:

Terima kasih kepada kawan-kawan Organising Institute yang telah memfasilitasi Kemah SIMPUL, dan memungkinkan pertemuan ini berlangsung secara hangat, reflektif, dan penuh makna.