Indonesia hari ini berdiri di atas kuburan massal satu juta orang yang dibunuh secara brutal pada 1965-1966—dibalut retorika anti-komunisme, dibensini kebencian berbasis kelompok sosial, etnis, dan gender, dilindungi dalam naungan propaganda Negara, dan didukung oleh imperialisme Amerika Serikat. Dilangsungkan sebagai salah satu agenda totalistik Amerika Serikat untuk berkuasa dengan ‘membersihkan’ dunia dari komunisme, trauma sejarah ini membentuk kontur kekuasaan dunia yang kita kenal hari ini.

Selepas mundurnya Orde Baru secara formal, elemen masyarakat sipil telah melakukan berbagai upaya untuk menuntut akuntabilitas Negara, pengakuan sejarah, dan pemulihan segenap penyintas serta keluarganya. Meskipun, hingga hari ini, hutang sejarah tersebut masih jauh dari lunas.

Sebagai generasi yang tumbuh setengah abad setelahnya, kami tidak menyaksikan tahun-tahun berdarah tersebut secara langsung maupun menjadi sasaran propaganda pembersihan sejarah setelahnya lewat pemutaran film di sekolah-sekolah.

Bagaimana pun, beruntungnya, banyak dari kami telah terpapar dengan perspektif kritis terhadap sejarah pembunuhan massal 1965 melalui media, ruang-ruang berkumpul masyarakat sipil, buku, film, sastra, hingga musik. Beberapa dari kami bahkan mempelajarinya dari sejarah lisan turun-temurun di keluarga.

Mengakhiri bulan September ini, Pamflet Generasi berdiskusi tentang karya-karya yang mengajak kami mengenal lebih dalam pembunuhan massal 1965. Ketika kurikulum pendidikan formal menutupi pembunuhan massal 1965 dan percakapan tentangnya menimbulkan ketegangan di ruang keluarga, apa yang membantu kami memahaminya?

Puisi ‘Tini dan Yanti’ oleh Ida Bagus Santosa

“Puisi ini ditulis di dalam sel tahanan oleh Ida Bagus Santosa, seorang sastrawan di Bali yang menjadi tahanan politik 1965. Setelah beberapa waktu dipenjara, ia hilang dan dibunuh. Puisi ini ditujukan untuk istrinya, Tini, dan Yanti, anak mereka yang baru saja dilahirkan.

‘Tini dan Yanti’ berisi salam kasih sayang dan perpisahan Pak Ida Bagus pada keluarganya, dengan pengasingan dan ajal yang seolah niscaya menanti dirinya. Meski ditulis dalam keterhimpitan, puisi singkat ini tetap penuh dengan mimpi ideologis akan pembebasan. Misalnya, dalam bagian “tiada bingkisan / hanya kecintaan akan kebebasan / mendatang.”

Aku terpapar dengan puisi ini saat masih berusia remaja awal. Puisi ini mungkin menjadi salah satu karya seni progresif dari Indonesia yang aku kenal. Sejak itu, tidak hanya tentang pembunuhan massal 1965, aku juga belajar bahwa imajinasi akan kebebasan bersama dan keadilan adalah daya hidup. Ia adalah sebuah gairah yang sepatutnya selalu dirawat—bahkan di hadapan krisis yang begitu mencekam.

Setelah penghilangan paksa atau kematian Pak Ida Bagus, konon puisi ini masih sering dinyanyikan di dalam sel tahanan untuk menularkan semangat bagi para tahanan politik. Saat ini, banyak proyek musikal yang menyadurnya jadi musikalisasi puisi, di antaranya Taman 65 dan Banda Neira.”

Lagu ‘Garuda Pancasila’ oleh Sudharnoto

“Aku atau kalian mungkin mengenal Garuda Pancasila jauh sebelum aku tahu siapa yang menciptakannya. Sejak kecil, lagu ini hadir di sekolah, upacara, dan berbagai ruang formal  yang mengajarkanku tentang Indonesia dan Pancasila.

Tapi, kemudian aku tahu bahwa lagu ini diciptakan oleh Sudharnoto, seorang seniman yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Lekra adalah organisasi kebudayaan yang berdiri pada 1950 dan mendorong seni agar dekat dengan kehidupan serta persoalan rakyat. Dalam perkembangannya, Lekra punya kedekatan politik dengan PKI. Setelah 1965, orang-orang yang dianggap terkait dengan Lekra mengalami berbagai bentuk represi. Setelah 1965, ia mengalami represi, diberhentikan dari RRI, dan sempat ditahan.

Saat itu lah aku mulai mendengar lagu ini dengan cara yang berbeda.

Ada sesuatu yang terasa ganjil: sebuah lagu tentang Pancasila dan kecintaan pada Indonesia terus hidup dan dinyanyikan oleh banyak generasi, sementara orang yang menciptakannya justru mengalami penyingkiran karena pilihan politik dan kebudayaannya.

Buatku, Garuda Pancasila akhirnya bukan cuma lagu tentang nasionalisme. Ia juga mengingatkanku bahwa sejarah Indonesia tidak selalu sesederhana cerita tentang siapa yang nasionalis dan siapa yang dianggap bukan bagian dari bangsa.

Ada orang-orang yang pernah ikut membayangkan Indonesia dengan caranya sendiri, menciptakan karya, menyumbangkan gagasan, lalu sejarah membuat mereka seolah-olah tidak pernah ada.

Mungkin karena itu, setiap kali mendengar Garuda Pancasila, aku jadi tidak hanya memikirkan Pancasila sebagai sesuatu yang harus dihafalkan. Aku juga memikirkan manusia-manusia yang pernah hidup, berkarya, dan bermimpi tentang Indonesia—termasuk mereka yang kemudian dipaksa diam.

Mengingat 1965, buatku, juga berarti berusaha mengembalikan mereka ke dalam cerita Indonesia.”

Ukir Kayu oleh Simbah Buyut

Foto: Makam Simbah Buyut, Klaten, April 2025 (Ai/Pamflet)

“Tidak ada dokumentasi visual atau arsip karya Ukir Kayu oleh Simbah Buyutku yang bisa aku temukan selain ingatan Mbah Putriku (Nenek). Sejarah lisan itu ia tuturkan tahun 2015 di teras rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Simbah Buyut, bapak dari Mbah Putri, adalah pengrajin kayu, ia membuat lemari, kursi, mengukir kayu—berjiwa seni kalau kata Mbah Putri. Beberapa bulan pasca 1 Oktober 1965, rumah Mbah Putri didatangi sekelompok orang yang mencari bapaknya. Latar belakang Simbah Buyut sebagai pengrajin kemudian dilekatkan dengan afiliasinya ke kelompok Lekra di Klaten. Aku tidak ingat betul apa yang kemudian terjadi, namun Mbah Putri cerita kalau Simbah Buyut berhasil sembunyi dan selamat. 

Kabupaten Boyolali dan Klaten merupakan salah satu basis PKI yang cukup terorganisasi, sehingga banyak korban penghilangan paksa yang dianggap berafiliasi dengan partai tersebut berasal dari area ini. Hari-hari penuh kecemasan pun dihidupi keluarga Mbah Putri selama beberapa tahun berikutnya.

“Mbengi kuwi, Mbah Kakung ngajak ndelik ning sawah, budhemu isih 3 bulan.”

(“Malam itu, Mbah Kakung (Kakek/suami Mbah Putri) mengajak sembunyi di sawah, budhemu masih usia 3 bulan.”)

Mbah Putri juga bercerita, suatu hari sungai di dekat rumah meluap setelah hujan semalaman. Keesokan harinya, di pinggir sungai sampai ke jalanan, ditemukan sisa-sisa bagian tubuh manusia. Semua orang jadi lebih diam sejak hari itu. Desa semakin senyap, berkumpul lebih dari 3 orang menjadi berisiko. Pada tahun-tahun mendatang, Mbah Putri menandai titik-titik pemakaman massal di sekitar area rumahnya.

Sejarah lisan serta pengalaman ketubuhan ini mampu Mbah Putri rilis setelah lima puluh tahun berlalu. Mbah Putri sudah berpulang di September 2024 lalu, namun arsip sejarah orang biasa ini akan terus anak cucunya upayakan untuk hidup.”

Pameran ‘Objects that Remember’ (2026) di Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis (IISG) di Amsterdam, Belanda

Pameran “Objects that Remember,“ tanggal 15-19 Juni 2026 di Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis (IISG) di Amsterdam, Belanda (Sumber: Ayu Purwaningsih/DW)

“Kalau dengar kata ‘eksil’, yang langsung terlintas di kepala kita biasanya adalah manusia—tentang orang-orang yang terpaksa angkat kaki dari tanah airnya, dibuang, dan mengorbankan hidup jauh dari tempat yang mereka sebut rumah. Tapi, di pameran itu, konsep ‘eksil’ gak cuma milik manusia. Barang-barangnya pun ikut menjadi eksil.

Setelah genosida ’65 meletus, para eksil Indonesia cuma sempat membawa barang-barang seadanya yang muat di dalam koper. Benda-benda sederhana itu, mulai dari kaset, jurnal-jurnal seperti Mimbar, Kreasi, API, sampai catatan harian, menempuh perjalanan melintasi negara dan dekade, sama seperti pemiliknya. Dan bukan cuma itu, ada juga barang-barang yang ‘dibuang’ dari Indonesia karena dianggap berbahaya oleh rezim: buku-buku pemikiran kiri, atribut perlawanan PRD dan JAKER, karya-karya Taring Padi, hingga poster aktivis yang dihilangkan. Barang-barang ini terpaksa mengungsi ke Belanda agar tidak dimusnahkan, agar memorinya tidak dihanguskan.

Aku gak lihat pameran itu langsung di Belanda (tentu saja bos, gak ada duit!), tapi saat aku baca konteks inisiasi dan katalognya, aku agak kena tuh di situ. “DEG!”—kurang lebih begitu kalau dadaku dibunyikan.

Benda-benda ini mengingatkan aku betapa kayanya pemikiran dan kapasitas intelektual orang muda serta para seniman di masa lalu. Mereka memikirkan masa depan bangsa dengan sangat dalam, kritis, dan berani. Tapi di saat yang sama, betapa mirisnya karena kita telah kehilangan mereka. Bangsa ini kehilangan satu generasi intelektual dan seniman terbaiknya. Sebagian dibantai, sebagian diasingkan, sebagian lagi dihilangkan tanpa jejak sampai hari ini.

Apa-apa yang dipajang di ‘Objects That Remember’ tuh bukan cuma artefak acak dan berdebu, tapi juga bukti kalau ada masa lalu yang belum selesai. Luka ’65 gak berhenti di tahun itu saja. Ia menjalar lewat warisan otoritarianisme Orba yang dampaknya masih kita rasakan hari ini. Saat melihat katalognya, aku lagi-lagi tersadarkan bahwa ruang demokrasi yang tersisa hari ini dibangun di atas keberanian mereka yang dibungkam. Demokrasi gak pernah dinikmati sebagai hadiah gratis kebaikan penguasa, melainkan selalu direbut dan diperjuangkan oleh rakyat.  

Terakhir, pameran ini menegaskan kembali pentingnya merawat ingatan. Mengingat adalah bentuk perlawanan paling sunyi yang bisa kita lakukan hari ini. Benda-benda eksil itu seolah berbisik pada kita yang hidup di masa sekarang: bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan belum selesai, dan tugas kita lah untuk terus memelihara ingatan itu agar sejarah tak berulang.”

Mural ‘Ya Viene Djakarta’

“Sebagai seseorang yang tumbuh besar dan kemudian dipinggirkan, Jakarta sebagai kata punya banyak definisi di kepala saya.

Pada momen tahunan seperti lebaran, Jakarta berarti ziarah dan napak tilas. Lain pada waktu menjadi remaja penuh krisis eksistensi, Jakarta punya arti gaul dan keren. Ketika kuliah, saya juga berjumpa dengan seorang kawan perantau yang memaknai Jakarta sebagai kota yang mesti ditaklukan sebelum menua dan kembali ke peraduan.

Di suatu waktu pada 2022, satu sisi tembok di dalam ruang pameran Galeri Nasional seolah divandal dengan tulisan besar “YA VIENE DJAKARTA” yang berarti “Jakarta Datang.” Tulisan besar itu adalah replikasi mural yang marak di tembok Santiago, Chile pada akhir 60an sebagai ancaman pembunuhan massal dari muralis bayaran pendukung sayap kanan kepada pendukung Salvador Allende—mantan presiden sosialis Chile—saat itu.

Carmen Hertz, seorang kader perempuan Partai Komunis Chile, mendapatkan kartu pos bertuliskan “Yakarta se acerca” dan kemudian mengalami percobaan pembunuhan.

Istilah “Operacao Jacarta” bagi seorang perwira di Brasilia sana enam puluh tahun lalu berarti perintah untuk menjalankan teror negara kepada anggota Partai Komunis. Sejak hari itu, di kepala saya, Jakarta juga punya arti sebagai pembantaian massal oleh negara kepada banyak orang tidak bersalah di banyak belahan dunia. Apa yang terjadi di Jakarta pada akhir September tahun 1965 diekspor, direplikasi, dan didayagunakan berulang mulai dari Solo, Gianyar, Medan, Pontianak, Santiago, dan Brasilia. Sampai hari ini, Jakarta terus diam.”

Lagu ‘Salam Harapan’ oleh Dialita

“‘Salam Harapan’ adalah lagu yang ditulis oleh Zubaedah Nungtjik AR dan Murtiningrum, lalu dibawakan oleh Paduan Suara Dialita—kelompok musikal yang berisi para perempuan tahanan politik Orde Baru dan para keluarganya.

Jika kita setahun sekali dinyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’, kawan-kawan tahanan politik ‘65 merasa lagu Selamat Ulang Tahun ‘rasanya kurang pantas bagi mereka yang telah dikurung bertahun-tahun,’ terang bu Uchi, salah satu anggota Dialita. Karena itu lah lagu ‘Salam Harapan’ diciptakan. Lagu ini kemudian kerap dinyanyikan saat ada tahanan politik yang berulang tahun. 

‘bagai gunung karang di tengah lautan / tetap tegar didera gelombang / laju lah laju / perahu kita laju / pasti kan mencapai pantai cita’

Lirik ini terdengar sangat hangat karena ada ketabahan berupa keyakinan bahwa keadaan penuh ketidakadilan ini tidak akan selamanya berlangsung. Akan ada kebebasan dan perjumpaan kembali, setelah ketercerabutan hidup yang terjadi pada para tahanan politik. 

Selama ditahan, tak banyak cara tahanan politik bisa mengekspresikan diri, bahkan untuk menulis pun tidak diperbolehkan. Mereka sembunyi-sembunyi menggubah lagu di balik jeruji besi, merawat kecintaan mereka terhadap anak, keluarga, komunitas, dan rumah yang ditinggalkan. 

Saat ini, ‘Salam Harapan’ sudah menjadi judul dari album terbaru Dialita yang berisikan dua belas lagu. Album ini dinyanyikan tidak hanya oleh Dialita, tapi juga beragam musisi muda. ‘Kalau orang-orang muda menemukan lagu, lalu dicatat lagi—entah kapan ada yang menemukan—dan iseng mau menyanyikannya, kan bagus,’ harap bu Utati, Dialita.”

Film ‘You and I’ (2020)

“‘You & I’ (2020) meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan emosional bagiku. Aku kesulitan memberikan rating karena dokumenter ini terasa terlalu personal. Kisah ini berpusat pada hubungan sejati Mbah Kaminah dan Mbah Kusalini, dua mantan tahanan politik yang bertemu di penjara pada masa ’65.

‘Please do it for me, we only have each other.’

Mereka hidup satu sama lain dan untuk satu sama lain, menunjukkan resiliensi dan cinta sejati di tengah tragedi, stigma politik, dan pengabaian negara. Lewat kisah mereka, isu kelas juga terasa begitu kental—bagaimana rakyat kecil harus menanggung beban sejarah yang paling berat, sementara negara menutup mata (atau bahkan merancang ini). 

Kekuatan utama film ini terletak pada pendekatannya yang sangat intim dan jujur. Aku diajak melihat kehidupan sehari-hari mereka yang sederhana, penggunaan bahasa jawa yang medok, hingga kesabaran Mbah Kaminah dalam merawat Mbah Kusalini yang pendengarannya mulai berkurang. Interaksi natural dan gurauan di antara mereka menjadi penghangat hati, meskipun seringkali menyesakkan.

Di sini, aku benar-benar merasakan betapa mereka seperti diasingkan oleh negara, meski secara fisik mereka tinggal di indonesia. Film ini sukses mengingatkan generasi muda sepertiku untuk tidak melupakan sejarah kelam bangsa. Bahwa, di balik kejam dan liciknya skenario politik, tetap ada ketangguhan cinta, kemanusiaan, dan kesetiaan yang tumbuh.

Yang paling menusuk bagiku adalah bagaimana film ini secara diam-diam menunjukkan betapa tidak ramahnya negara terhadap lansia, terlebih lagi jika mereka juga hidup dengan disabilitas. Mbah Kusalini yang pendengarannya menurun dan Mbah Kaminah yang harus merawatnya seorang diri adalah potret nyata bahwa negara ini belum hadir untuk mereka yang paling rentan. Film ini berhasil merangkum esensi dari saling jaga hingga renta dan bagiku adalah tontonan wajib yang berat secara emosional, namun sangat kurekomendasikan karena keaslian dan keberaniannya dalam mengangkat kisah yang selama ini terpinggirkan.”